AST

AST
PHASE 17



 


 


“Apa kita akan kembali sekarang, Kapten?” tanya seorang wanita yang merupakan rekan Erick—untuk saat ini.


Erick, pemuda bersurai cokelat itu, masih menerbangkan posisi burung besi miliknya di dekat koloni aliansi timur yang mereka serang sejak tadi. Matanya memandang dengan cermat keadaan orang-orang aliansi timur dengan APC dan Clibanarii milik mereka tersebut. Fokusnya menajam kala tertuju pada seorang gadis yang memunculkan setengah tubuhnya keluar dari APC demi berkomunikasi dengan rekannya di salah satu Clibanarii.


Gadis berkucir itu tampak aneh. Ia seperti memberi perintah pada sang pengontrol Clibanarii di dekatnya dengan


tegas. Padahal, yang Erick tahu kini, gadis itu tidak berpakaian prajurit seperti yang ia lihat pada orang-orang militer lainnya. Hanya pakaian putih biasa yang bahkan terlihat seperti seragam sekolah, dengan dasi yang masih melingkari kerahnya. Untuk beberapa saat, pesawat Erick bermanuver di dekat APC tersebut, sampai di detik-detik terakhir, gadis itu memandang lurus ke arah pesawatnya.


Mereka bersemuka. Kaca kokpit yang amat bening membuat Adara—gadis itu—bisa melihat rupa Erick dengan amat jelas.


‘Siapa dia?’ pikir Erick dan Adara bersamaan.


Mereka saling memicingkan mata. Fokus pada rupa satu sama lain sejenak. Sepersekian detik kemudian, Erick


memanuverkan burung besinya meninggalkan titik tersebut, disusul oleh rekan-rekannya yang lain. Sementara Adara, matanya masih memandang ke arah perginya pesawat-pesawat milik aliansi barat yang telah menghancurkan Spot Ankaa yang seharusnya menjadi pelindung mereka.


***


Erick berjalan masuk ke salah satu bangunan di pangkalan usai memarkirkan pesawatnya di hanggar. Sosok pertama yang ditangkap oleh bola matanya adalah seseorang yang bahkan tidak ia ingin muncul di hadapannya. Dokter yang setiap harinya memantau kondisi Adnan itu berdiri sembari berkacak pinggang tidak jauh di depannya. Pria itu menyunggingkan senyum lebar, entah untuk memberi selamat pada Erick, atau untuk melecehkan pemuda berambut cokelat itu. Erick sendiri hampir saja melewatinya, sebelum dokter itu berhasil mencekal lengannya.


“Aku ingin bicara denganmu,” kata Alan, dokter tersebut.


Pemuda bersurai cokelat itu masih mengunci mulutnya.


“Ini mengenai Adnan,” lanjut Alan.


Alan berbalik memandang Erick penuh keseriusan. Ia yakin jika pemuda itu mungkin saja menolak permintaannya


kali ini. Lain hal dengannya, Erick malah berpikir jika Alan malah ingin meledeknya sekarang dan membanding-bandingkan kinerjanya dengan Adnan. Pemuda itu menatap tajam ke arah Alan, sampai membuat dokter itu terkekeh melihatnya.


“Jangan berpikiran buruk tentangku,” tegur Alan setelahnya.


Pria berkacamata itu menyeruput kopinya, beberapa saat usai ia dan Erick memutuskan untuk membicarakan semuanya di kantin pangkalan. Ruangan besar itu tidak begitu ramai detik ini, mengingat banyak pasukan yang diutus untuk menjalankan misi. Hanya ada beberapa orang, salah satunya mereka berdua, dan seorang gadis yang tengah menikmati makan siangnya.


“Ayah masih egois,” ucap Erick memulai obrolan. Sementara Alan mulai menyimak semua kata-katanya.


“Ia masih ingin memulangkan Adnan ke Cosmo,” lanjutnya, “ini bukan berarti ia melepasnya begitu saja. Antek-anteknya meninggali Cosmo cukup lama, setelah perang itu terjadi. Kemungkinan besar Adnan disiksa di sana amatlah besar jika ini semua terjadi.”


“Tapi kenapa kau menyetujuinya?” tanya Alan. Kedua tangannya menggenggam cangkir kopi, menghangatkan diri dari suhu dingin ruangan tersebut.


“Ayah bilang, jika aku mampu menyelesaikan misinya, ia berjanji takkan menyiksa Adnan selama di Cosmo,” jawab Erick melirih.


Alan bergeming sejenak. “Kau hanya tak ingin semua yang kau pikirkan terjadi, ‘kan?” selisiknya kembali.


Erick mengepalkan tangannya yang berada di meja. Pandangannya setengah tertunduk, menahan suatu gejolak dalam dirinya. Ia menggeleng sejenak.


“Aku hanya tak ingin perang terjadi,” katanya. “Perang hanya akan membuat semuanya pergi, ‘kan?”


Alan kembali membisu. Dipandanginya cangkir kopi hitam yang sejak tadi ia genggam. Ia mafhum benar yang dirasakan oleh pemuda itu kini.


“Ayah benar-benar menginginkan perang. Hanya demi kekayaan, hanya demi kekuasaan,” lirih Erick kemudian.


“Perang memang sudah berkecamuk setelah bencana besar itu terjadi, Erick,” ucap Alan mulai membuka mulutnya.


“Dan juga, bukankah ini adalah momen terbaik kau bisa mengontrol Sarkan, ‘kan?” cetusnya kemudian, “itu, ‘kan, yang kau inginkan?”


Erick sontak mengangkat pandangannya hingga mereka bertatap muka. “Kau tahu aku tak bisa mengontrol


Clibanarii mana pun, Alan,” timpalnya begitu serius. “Aku melakukan semua ini karena Adnan. Bukan karena atas dasar keinginanku sendiri.”


“Benarkah?” Alan menunjukkan kernyih pada salah satu tepi bibirnya. “Kupikir, buah jatuh tak jauh dari pohonnya,” sambungnya, “apa kau bisa menjamin ucapanmu barusan, hm?”


Erick melebarkan bola matanya sejenak. Bibirnya terkatup rapat. Alan seperti tengah melempar paku yang


membuatnya harus menelan bulat-bulat benda tajam itu. Selang beberapa saat, Alan menghela napas panjang, mencoba mencairkan suasana yang mulai menegang.


Pemuda bersurai cokelat itu sontak meneguk liurnya. Ia terpaku dalam diam, memikirkan setiap kata yang dilontarkan sang dokter.


“Kupikir, kau sudah tahu bagaimana perang lima tahun lalu bisa berkecamuk dan akhirnya membuat ego ayahmu memegang kendali dirinya,” ucap Alan melanjutkan. Ia kembali memandang cangkir kopi miliknya. “Orang seperti Harris ... seharusnya tak mati konyol dalam peperangan itu. Dan kini ... aku sudah bisa menduga kelanjutannya seperti apa.”


Pria itu memandang lurus ke arah Erick. “Hubert akan memanfaatkan putra Harris demi memunculkan perang besar kembali,” sambungnya, “dan kini ... demi melancarkan egonya itu, ia memanfaatkan putranya sendiri.”


Erick bangkit dari kursinya dan menggebrak meja seketika. Matanya memelotot ke arah Alan. Napas dan degup


jantungnya saling memburu. Ucapan dokter itu membuat emosinya meledak. Sementara, seorang gadis yang menguping pembicaraan mereka sejak tadi turut terkesiap. Padahal, ia sudah berakting sedemikian rupa supaya gerak-geriknya tidak disadari oleh kedua orang tersebut.


“Jangan berkata seakan ayahku adalah dalang dari semua peristiwa ini,” tegur Erick menekankan setiap kata-katanya. “Kau hanya mengetahui dan menyimpulkan semuanya hanya berdasarkan persepsimu saja—”


“Hey.” Alan turut menegur, memotong ucapan Erick dengan sengaja. Ia menyandarkan punggungnya dan memandang pemuda itu dengan santai. “Aku hidup dan bertahan di antara konflik yang sengaja dibuat oleh mereka yang haus kekuasaan, Erick. Dan Hubert, ayahmu, adalah satu dari beberapa orang yang membuat perang lima tahun lalu terjadi. Jadi ... apa menurutmu aku masih menyimpulkan semuanya hanya berdasarkan opiniku saja, huh?”


Erick mengerutkan kening, memandang tajam Alan dengan kesal. Kedua tangannya mengepal erat dan siap


meninju wajah pria itu kapan pun dia menginginkannya, tapi urung kala matanya menangkap sosok gadis yang ia kenal tengah duduk dan berpura-pura menikmati makan siang. Ia kembali memandang pria yang masih duduk di hadapannya itu.


“Terserah apa katamu! Tapi aku tak memercayai semua ucapanmu yang terlalu menyudutkan ayahku, Dokter Alan,”


pungkasnya sengit, sebelum sepersekian detik selanjutnya ia beringsut meninggalkan tempat tersebut. Auranya semakin panas, dan tentu saja ia tidak mau orang-orang di kantin serta gadis yang ia lihat tadi menjadi saksi atas


tingkah lakunya barusan.


Alan mengernyih seraya menegapkan tubuhnya. Ia kembali meneguk, menghabiskan sisa cairan kopinya sejenak.


“Kau mendengarnya sejak tadi, ‘kan?” tanyanya pada seorang gadis yang detik ini tersentak merespons dirinya,


“prajurit Divisi 1, Megan Crush?”


Alan menoleh, beralih memandang gadis yang duduk tidak jauh di belakang kursinya. Gadis itu menatapnya sejenak, sebelum akhirnya bangkit dari kursi dan menghampiri Alan. Dokter itu menyambutnya dengan senyum lebar.


“Kau pasti masih mengingatku, ‘kan?” tanya Alan sok akrab.


“Kau adalah dokter senior di sini. Tikus kecil sepertiku sudah pasti mengenal dirimu,” jawab Megan terdengar merendah.


Alan sontak tertawa terbahak-bahak, mendengar kata tikus kecil yang merujuk pada prajurit seperti Megan membuatnya berpikir keras.


“Apa maksud perkataanmu tadi?” tanya gadis itu tanpa basa-basi.


“Hm?” Alan mengangkat kedua alisnya seketika. “Perkataanku yang mana? Aku banyak membuat buih dalam mulutku tadi.”


Megan memandang lurus ke arah dokter tersebut. Ia tidak menanggapi pertanyaan Alan barusan. Sampai akhirnya,


pria itu bangkit dan sigap menepuk pundaknya.


“Tak ada yang menarik dari ucapanku,” katanya seraya melangkahkan tungkainya hendak pergi.


“Benarkah?” selisik Megan menghentikan langkah dokter itu seketika, “kalau tidak menarik, kenapa Erick sampai begitu emosi padamu?”


Alan tersenyum tipis dan menghela napas panjang sejenak, lalu berbalik menghadap Megan. “Tikus kecil sepertimu mana paham jika kuceritakan semuanya?” ledeknya sembari menelengkan kepala.


Megan terdiam. Bibirnya hampir mengerucut kala mendengar ucapan pria itu barusan. Sampai beberapa detik


kemudian, ia menangkap sorot berbeda pada mata Alan. Pria itu seperti memberikan sebuah isyarat padanya untuk tidak membicarakan semuanya di kantin. Megan mengangguk dan bergegas menuruti langkah pria itu keluar dari kantin.


“Bagaimana?” tanya gadis itu seketika setelah mereka keluar dari kantin dan berjalan di koridor.


“Apa kau tak bisa menunggu sampai di ruanganku?” sahut Alan sedikit kesal.


Megan memutuskan untuk mengunci mulut. Ia sadar, betapa tidak baik dirinya berceloteh pada hal yang mungkin


saja bukan urusannya. Namun, demi sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya, ia tetap harus mengetahui maksud pembicaraan Alan dan Erick beberapa waktu yang lalu.


***