AST

AST
PHASE 44 . RAPAT DADAKAN (2)



Selama rapat berlangsung, Adnan menyimak dengan saksama. Kehadirannya di meja itu rupanya hanya untuk


dikenalkan kepada Anthony meski setelahnya dia hanya bisa mendengarkan obrolan mereka saja. Apalagi, dia juga menyadari kalau ternyata orang-orang di Cosmo jauh dari apa yang dirinya pikirkan selama ini. Mereka justru menginginkan perdamaian, bukan peperangan. Berbeda dengan ambisi Hubert yang selalu mendoktrin dirinya dan Erick kalau aliansi barat benar-benar membenci aliansi timur.


Namun, berkat rapat kali ini, Adnan jadi mengetahui kalau ternyata selama ini ayah rekannya itulah yang menyebabkan semua konflik berkepanjangan. Tentang sabotase yang dilakukannya, bahkan pembunuhan berencana dengan korban Yusagi Richard dengan menggunakan Sarkan.


“Apa selain ini masih ada lagi?” Anthony bersuara, lalu menghela napas. Dia menyandarkan diri di sandaran sofa. “Pasti ada motif lain kenapa dia melakukannya.”


“Motif lain?” tanya Oscar. “Bagaimana jika motifnya hanya satu. Dia hanya ingin mengambil alih kepemimpinan Cosmo. Apakah itu masih tidak bisa dipercaya oleh Anda?”


Anthony terdiam. Matanya yang sebiru langit itu memandang ke arah cangkir-cangkir di meja. “Kita masih perlu bukti untuk membuktikannya, Oscar.”


Oscar hanya bisa menghela napas. Dia beralih memandang Adnan yang sejak tadi menyimak diskusi mereka. “Bagaimana denganmu, Ad?”


“Hah?” Pemuda berambut hitam itu tersentak. “A-aku ….”


“Kalau saja Hubert terbukti bersalah, apa kau akan tetap memberitahu hal ini pada Erick?” tanya Oscar lagi.


Adnan tercenung. Benar saja, bagaimana jika hasil penyelidikan tersebut terbukti benar? Bagaimana dia bisa


memberitahukan hal ini kepada Erick? Setelah mendengar cerita soal Oscar di ruangan kerjanya beberapa waktu lalu dan rapat hari ini, seolah membuka tabir kalau dia akan menghadapi sesuatu yang lebih beresiko nantinya.


“Apa putra Hubert juga bertugas dalam agresi militer kali ini?” tanya Anthony.


Morgan berdeham sembari mengangguk. “Namanya Frederick Add. Dan dia menggantikan Adnan menjadi kapten


aliansi barat saat ini,” jawabnya.


“Baiklah kalau begitu,” ucap Anthony seraya menegapkan tubuh. “Jadwalkan kunjunganku ke pangkalan aliansi barat di Bumi. Aku ingin bertamu ke markas mereka besok.”


***


Adnan menghela napas panjang. Cangkir kopinya masih mengepulkan asap tipis ke udara. Dia meneguk saliva, memandang ruang hampa di luar Cosmo. Hanya terlihat sampah-sampah antariksa di sana, mengelilingi planet biru tempat tinggalnya.


Perhatian pemuda itu teralih pada tangan kanannya yang masih diperban. Luka bekas jeratan gelang EWF itu masih terasa sakit meski sudah diobati sedemikian rupa. Ingatannya pada sosok Adara kembali terngiang.


“Apa yang sedang dilakukannya sekarang, ya?” gumamnya.


Adnan menggigit sedikit bibir, kembali melihat ke luar jendela kaca. Pikirannya penuh dengan berbagai prasangka tentang banyak hal—tidak hanya soal Adara. Apalagi soal masa depan mereka. Semuanya seolah tidak bisa digenggamnya lagi.


“Sedang melamunkan apa?”


Suara seorang pria mengaburkan lamunan pemuda bermata biru itu. Dia menoleh, melihat Oscar membawa secangkir kopi dan duduk di seberangnya. Pria itu terturut memandang ke luar jendela. Sorot matanya berubah sendu, menyesap sebagian atmosfer duka yang berada di planet biru di luar sana.


“Bagaimana?” tanyanya. “Bagaimana situasi di sana?”


“Chaos,” jawab Adnan singkat. “Seperti sampah-sampah satelit itu.”


Oscar sedikit tersenyum kecut. “Apa masih bisa dikembalikan seperti dulu?” tanyanya lagi, kini menatap sang adik.


“Aku tidak tahu.” Adnan mengendik sesaat. “Semuanya hancur karena bencana besar waktu itu dan perlu waktu lama bagi Bumi untuk memulihkan diri.”


“Bagaimana dengan Adara? Kau berhasil bertemu dengannya, ‘kan?”


Kali ini, pemuda 17 tahun itu tersenyum tipis. Tidak menimpali.


Adnan melayangkan pandangan aneh pada sang kakak. “Kau ingin mengincarnya?” sinisnya.


Oscar sontak tergelak. “Mana bisa aku merebut kekasih adikku sendiri, huh?” ledeknya.


Pemuda di depan Oscar itu hanya bisa menghela napas. Dia kembali menatap ribuan sampah satelit di luar Cosmo. “Ngomong-ngomong, boleh kutanya sesuatu?” Dia beralih menatap Oscar yang berdeham menimpali. “Bagaimana caramu mengetahui soal Adara? Kau sebelumnya belum pernah mengenalnya, ‘kan?”


Kernyih tipis terukir di sudut bibir pria bernama lengkap Oscar Harvey tersebut. “Sepertinya, seumur hidup, Ayah tidak pernah memberitahukannya padamu, ya?” sarkasnya. “IDMC. Identification Microchip. Sebulan setelah dua bayi dilahirkan di tahun yang sama, Ayah menanamkan teknologi ini ke tubuh bayi-bayi itu dan membiarkan mereka bisa dilacak oleh siapa pun yang paham penggunaannya.”


Adnan mengerutkan kening, berusaha memahami setiap kata yang diucapkan Oscar.


“Sebenarnya, teknologi ini sudah digunakan sejak lama, tapi hanya diperuntukkan untuk hewan demi meneliti


tingkah laku mereka saja,” lanjut pria 25 tahun tersebut. “Tapi, dengan ambisi Ayah dan sahabatnya, keduanya sepakat untuk membuat putra-putri mereka menjadi kelinci percobaan.”


“Apa yang kau maksud itu adalah … aku dan Adara?” selisik Adnan.


Oscar mengangguk seraya menjentikkan jemari. “Aku bisa mengidentifikasi lokasi kalian menggunakan teknologi


yang ditinggalkan Ayah. Makanya, aku bisa tetap memantau kalian meski seumur hidup aku akan terus berada di tempat ini.”


Adnan termenung. “Tapi, kenapa?”


“Kenapa? Mereka sangat saying pada kalian, itu saja.”


Jawaban yang tidak masuk akal dan terlalu memaksakan naluri untuk mengatakan ‘iya’ detik ini. Adnan hanya bisa menghela napas panjang. Kelakuan ayahnya dan ayah Adara ternyata lebih absurd ketimbang Hubert yang menginginkan kekuasaan.


Pemuda itu menyesap kopinya. Aroma harum khas menguar dari cangkir tersebut, melegakan pernapasannya. Dia


bahkan baru menyadari kalau kakaknya juga penyuka kopi. Sejak mereka bertemu, Adnan acap kali melihat pria itu duduk memandang ke luar jendela sambil menikmati secangkir kopi. Bisa dipastikan dalam sehari saja, Oscar bisa


menghabiskan hingga lima cangkir kopi murni. Persediaan kopi sendiri bisa didapat dengan mudah di Cosmo karena di sana dibudidayakan tanaman bersangkutan. Tidak hanya kopi, torus tersebut juga menanam berbagai macam tanaman yang memang keberadaannya mulai langka di Bumi.


Sesaat kemudian, lampu di earphone yang dikenakan Oscar berkedip merah. Pria itu menekan salah satu tombol dan mulai mendengarkan sang lawan bicara.


“Apa yang kau dapat?” tanyanya. Dia kembali mendengarkan lawan bicaranya lagi selama beberapa menit. “Jangan gegabah,” katanya kemudian, lalu ditimpali lagi. Dia melirik ke arah Adnan. “Iya, aku sedang bersamanya saat ini.”


Kening Adnan lantas mengerut tipis. Sangat aneh mendapati Oscar melayangkan tatapan ambiguitas padanya sekarang.


“Dia sangat baik,” ucap Oscar. “Lebih baik daripada di pangkalan.”


Pria itu kembali mendengarkan penjelasan lawan bicaranya.


“Siapa? Erick?” tanyanya. “Ah ….” Oscar lagi-lagi menatap Adnan, lalu menyeringai. “Baiklah kalau memang


menurutmu ini tidak akan diketahui oleh komandanmu di sana. Aku akan membuka salurannya nanti.”


Sekian menit selanjutnya, Oscar mematikan saluran komunikasi di earphone-nya. Dia memandang sang adik yang sejak tadi melayangkan pandangan aneh padanya.


“Aku ingin membertahukanmu sesuatu,” ucapnya dengan wajah semringah. “Habiskan kopimu dan ikut ke ruanganku!”


***