
Adnan berdecap kasar, menarik perhatian Alan yang sudah siap dengan peralatan minim yang akan dibawanya untuk Adara. Pria itu menatap pemuda di seberang ranjang Adara.
“Ada apa?” tanyanya.
Pemuda berambut hitam itu terdiam. “Erick,” lirihnya.
“Kenapa dia?”
“Dia meminta kita untuk pergi terlebih dahulu.”
Netra Alan memelotot. “Hah?”
“Kita tidak bisa pergi tanpa dia,” ucap Adnan.
“Ada apa dengan bocah itu? Apa ada yang mengganggunya?”
Adnan menatap mata sang dokter di balik kacamatanya itu. Salivanya terteguk sempurna. Namun, ketika dirinya
hendak berbalik ke arah pintu, Alan menghentikannya.
“Kita tidak punya banyak waktu, Ad!”
Pemuda itu menoleh. Dia bergeming dengan isi pikiran yang berkecamuk.
“Jika sudah begini, kakakmu pasti sudah mendapatkan informasi keberadaannya,” ujar Alan. “Kita harus bergegas!”
Adnan menahan napas, lalu melepaskannya dengan cekatan. Dia mengangguk, lantas kembali ke ranjang Adara.
“Apa yang harus kulakukan?”
Alan tampak menyampirkan sebuah tas punggung berisi peralatan medis di punggungnya. “Bia raku yang gendong Adara,” katanya. “Kau pimpinlah jalan!”
Tanpa banyak cakap, Adnan mengangguk dan langsung melaksanakan permintaan dokter berkacamata tersebut.
Alan segera menggendong gadis yang belum sadarkan diri itu sebelum akhirnya mengekori langkah Adnan. Keduanya kini kembali dekat meski sebenarnya Adnan masih berada dalam dilema. Jika saja bukan karena Adara, dia mungkin sudah meninggalkan pria itu di sini dan membiarkan Oscar atau Morgan menangkapnya.
Mereka menyusuri lorong kosong. Dengan arahan yang diberikan Alan—yang tentu dipercayai Adnan—mereka
melangkah menuju pintu tempat di mana mengarah ke hangar Black Death-333 berada.
“Kau punya rencana setelah ini?” tanya Alan di tengah perjalanan.
Adnan terdiam tak membalasnya.
“Apa kita akan kembali ke pangkalan? Di sana tidak akan aman.”
Pemuda bermata biru itu masih bergeming.
“Ssst!”
Ucapan Alan terpotong sekejap ketika Adnan bersuara. Mata biru pemuda itu menelisik sesuatu dari balik lorong
persimpangan. Sesuatu mendekat ke arah mereka. Saat Adnan mengarahkan pistolnya dengan tajam ke sasaran, tiba-tiba saja seorang pemuda menyalang padanya. Pistol Adnan turun sekejap, diiringi Alan yang melangkah di sisinya.
“Kalian?!” ucap mereka bersamaan.
Erick menghela napas. Dia menoleh pada gadis yang mengarahkan pistol ke kepalanya. “Aku sudah bilang, kan, kita akan bertemu dengannya,” ujarnya.
Megan, gadis yang memergoki Erick di ruangan kontrol tadi lantas menurunkan revolvernya. Dia menatap pemuda
bermata biru dan sedikit terkejut ketika mendapati Alan bersama dengan pemuda itu—tentunya dengan gadis berambut hitam di punggungnya.
“Jadi ….”
“Kita akan kabur dari sini,” ucap Erick, lalu menatap Adnan dengan beribu isyrat. “Ad, kau ingat rencana awal?”
Adnan bergeming. Sorot matanya berubah sendu. “Aku tidak yakin.”
“Hanya itu satu-satunya cara!” balas Erick.
“Masalahnya, tidak ada yang tahu di mana ruangan itu, Erick. Kau pikir aku akan membiarkanmu ke sana, hah?”
Erick tercekat, membuat Megan dan Alan saling bersemuka.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Alan.
“Api dibalas api,” jawab Adnan. “Kami berencana akan meledakkan torus ini dan kembali ke Bumi.”
Megan dan Alan sontak terkejut bukan main. Ini bukanlah seperti permainan yang biasa mereka mainkan di ruang
simulasi. Ini kenyataan dan dua remaja itu seperti tidak takut mati saja!
“KAU GILA!” seloroh Megan. “Kau pikir kau siapa bisa meledakkan tempat ini?!”
“Hanya itu satu-satunya cara,” ucap Erick. “Jika kita meledakkan tempat ini, maka tidak akan ada lagi yang namanya peperangan. Hanya tinggal kelompok aliansi barat di Bumi yang tersisa dan jika kita berhasil meledakkan torus, lalu kembali ke Bumi dan bergabung dengan aliansi timur, maka kita bisa membereskan sisanya.”
“Lalu bagaimana dengan Paladin dan Sarkan?” sahut Alan.
Erick lantas memandang Adnan.
“Kita akan meledakkan keduanya bersama dengan torus ini.”
***