
“Ah, sial! Kenapa terputus, sih?” gerutu Adnan saat sambungan teleponnya terputus. Matanya menangkap sebuah bus yang baru saja datang. Ia segera naik dan duduk di salah satu kursi dalam bus tersebut.
Bola matanya sesekali memandang ke berbagai arah, mencerna segala hal yang dilakukan oleh penumpang bus. Ada yang tertidur pulas, bermain game di ponselnya, dan adapula yang asyik mengobrol. Tak jarang, Adnan menangkap keluh-kesah dan juga gerutuan penumpang terhadap sesuatu yang baru saja membuatnya mendengkus kesal pula.
“Sinyal di sini seringkali putus secara mendadak. Sial! Aku jadi tak bisa menghubungi atasanku kalau seperti ini
terus!”
“Apa aliansi barat yang memutus salurannya? Beberapa tahun belakangan ini mereka seperti sedang memusuhi kita.”
“Jika mereka memutus salurannya, apa kau pikir mereka sudah membuat saluran sendiri, huh? Jalur kabel optik
dunia telah saling berhubungan. Mana mungkin mereka memutus jalur yang nantinya akan membunuh mereka sendiri!”
“Apa yang terjadi selama empat tahun di sini?” pikir Adnan aneh.
Kedua netranya melempar pandangan keluar jendela bus. Memandangi jalanan kota dan gedung bertingkat di
sekitarnya. Fokusnya juga sempat tertuju pada sebuah gunung di salah satu sisi kota. Cukup jauh jaraknya dari posisi bus yang ia naiki saat ini. Adnan kembali melihat arlojinya. Sebuah perasaan aneh tiba-tiba menggelayuti pikirannya. Dadanya terasa sesak—tapi ia berusaha mengabaikannya.
“Mau ke mana?” tanya seorang pria yang baru saja naik bus dan duduk di sebelah Adnan. Keriput jelas menampak pada raut wajahnya. Ia tersenyum ramah.
“Kantor catatan sipil,” jawab pemuda bersurai hitam itu—membalas senyum si pria tua.
Hening sejenak. Helai surai Adnan sesekali terhempas anggun diterpa embusan angin yang menyeruak dari jendela yang sedikit terbuka. Ia menarik napas panjang sejenak. Menikmati udara yang bahkan tak pernah ia hirup sejak empat tahun yang lalu. Sebuah peristiwa membuatnya harus pindah ke tempat yang berbeda dan menempa segala sesuatu di sana. Pendidikan, serangkaian kehidupan, dan bahkan karir. Namun, hanya ada satu yang membuatnya harus kembali ke kota ini. Gadis itu.
“Kantor catatan sipil cukup jauh dari sini. Kau harus menaiki kereta untuk sampai ke sana.” Pria tua itu kembali
berucap. “Tapi tadi pagi kulihat di berita, stasiun menghentikan aktivitasnya sementara.”
Adnan menoleh kepada pria itu. “Kenapa?” tanyanya penasaran.
“Entahlah. Pria tua sepertiku sangat jarang mengerti berita di televisi, Nak.”
Pemuda itu kembali bergeming aneh.
“Banyak bencana telah meluluhlantakan Bumi selama beberapa tahun belakangan ini. Banjir, gunung meletus, gempa bumi. Dan bahkan ada isu yang bermunculan kalau aliansi barat mendeklarasikan perang,” ujar pria itu. “Ah, pria tua sepertiku ini lebih baik mati sekarang saja daripada harus merasakan kematian karena perang ataupun
bencana,” keluhnya mengimbuhkan.
“Tapi ... kudengar kota ini baik-baik saja ....”
“Aku menghidu anyir sejak tadi pagi. Ini apa, ya, artinya?”
Pria itu menggumam sambil menyisir helai jenggot putih dengan jemarinya. Sementara Adnan, ia kembali terdiam
sambil memikirkan ucapan pria tua itu. Ya, ucapan yang dilontarkan orang yang sudah lanjut usia biasanya benar dan akan menjadi kenyataan. Firasat buruk mungkin saja telah pria itu rasakan. Begitu pun Adnan yang kini merasa cemas. Kecemasannya semakin meningkat tatkala bus berhenti mendadak dan menyurai lamunannya.
“Ada apa ini?”
“Kenapa berhenti?”
Seluruh penumpang saling bertanya, memandang ke berbagai arah. Teriakan menggema saat sang sopir bus memutar laju kendaraan yang ia kemudikan. Penumpang saling berjatuhan. Mereka bertanya-tanya alasan sang sopir memutarbalikkan bus dan bahkan bermanuver kilat di jalan raya yang kini berubah riuh.
“Pak! Apa yang terjadi?” seru salah satu penumpang.
“Apa kalian pikir aku mau mati, huh? Ada lava panas di sana!” Sang sopir berteriak menimpali.
Adnan tersentak. Ia berbalik dan melihat ke arah belakang. Sungai merah menyala dengan kepul asap di sekitarnya
mulai menuruni gunung yang ia lihat beberapa saat yang lalu. Delikannya tertahan saat sebuah dentuman terdengar dan menyurai fokusnya. Tubuh Adnan mengguling beberapa kali, bertabrakan dengan tubuh para penumpang lain dan mendarat secara tak wajar.
Roda bus yang ia tumpangi terjerembab ke sebuah retakan besar, membuat bus itu terguling beberapa kali
dan berakhir setelah menerobos beberapa bangunan. Dentum yang berasal dari satu-satunya gunung di kota terdengar keras. Diiringi dengan raung tangis para penduduk yang menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Adnan tersadar saat ponselnya berdering. Matanya membuka perlahan, memandang ponsel yang telah terlempar dari saku celananya dan mendarat tak jauh dari posisinya kini. Sejenak ia berusaha meraih ponsel itu sembari meringis menahan sakit karena tubuhnya tertimpa bilah besi kerangka bus. Sementara di sekitarnya, banyak jasad bergelimpangan bagai bangkai ikan. Netranya melonjak kaget saat melihat pria tua yang mengobrol dengannya tadi tengah meregang nyawa mendelik ke arahnya. Mulutnya menganga seperti hendak mengatakan sesuatu pada pemuda itu—tapi tertahan.
Adnan kembali meraih ponselnya dengan susah payah dan bergegas mengangkat panggilan yang sejak tadi telah
meributkan telinganya.
“Kapten!” Seseorang berseru dari balik telepon. “Aku baru tahu kalau kau mengundurkan diri. Apa kau kembali ke
sana? Kau akan pindah ke sana?”
Pemuda bersurai hitam itu tahu betul siapa yang menghubunginya sekarang. Ia mendengkus di sela ringis sakitnya. Berusaha untuk membalas ucapan lawan bicaranya.
“Kapten, aku mendeteksi adanya gempa bermagnitudo besar di rumah lamamu barusan. Kau sudah berada di sana?”
“Bocah brengsek ini ....” Adnan menggerutu kesal dalam batinnya. “Aku kan sudah mengirim surat resign padanya, sudah pasti aku berada di sini sekarang. Memangnya aku ini penipu sampai dia tidak percaya begitu? Bodoh sekali!”
Seandainya saja Adnan bisa membuka mulut, pasti ia langsung memarahi lawan bicaranya itu. Namun ia lebih baik
mematikan panggilan dan segera menekan sebuah icon di layar ponselnya. Sementara pemuda yang menjadi lawan bicara Adnan barusan mendapat sebuah notifikasi pada ponselnya.
“Share location?” gumamnya. Sepersekian detik kemudian matanya memelotot.
“ADNAN!!!”
***
Iris kecokelatan itu menampak jelas di kelopak mata yang baru saja terbuka perlahan. Pemuda itu menggeliat. Merasakan persentimeter tubuhnya yang mendadak seperti remahan kerupuk. Hampir saja ia mati rasa. Pandangannya menyapu sekitar ruangan bercat putih tempatnya terbaring kini, dan berakhir pada beberapa selang infus yang mengekangnya.
“Anda sudah sadar?” tanya seseorang yang baru saja masuk ruangan. “Kapten Unit 3—Adnan Harris.”
Adnan berdeham sejenak. “Di mana ... aku?” tanyanya serak.
“Ruang perawatan Cosmo Unit 1,” jawab wanita berpakaian serba putih itu. “Anda mengalami kecelakaan akibat
bencana yang terjadi di kota tempat tinggal lama Anda, Kapten.”
Pemuda itu mengernyit. “Bencana?” telisiknya. Sepersekian detik kemudian, ia melonjak—teringat sesuatu—dan hampir saja terjatuh dari ranjang sebelum akhirnya wanita itu menolongnya.
“Anda masih dalam perawatan dan dilarang untuk bergerak, Kapten.”
“Aku bukan kapten lagi!” serunya kesal sembari meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. “Aku harus keluar,”
katanya.
“Tapi, Kapten ....”
“Sudah kubilang, aku bukan kapten lagi!”
Wanita yang merupakan seorang perawat itu lantas tercekat sejenak. “Maaf, Tuan muda. Tapi Anda dilarang untuk keluar selama masa perawatan,” ucapnya gidik, “besi kerangka bus yang menimpa tubuh Anda menyebabkan beberapa ruas tulang punggung Anda hancur.”
Adnan tersentak, memelotot. “Apa?” tanyanya lirih—tidak percaya.
“Itu benar, Tuan muda. Saya adalah perawat di sini, jadi saya tidak mungkin menipu Anda. Anda bahkan sudah satu
minggu tak sadarkan diri sejak peristiwa itu.”
Pemuda bersurai hitam itu kembali melonjak kaget. Membungkam dalam keterpakuannya. “Bagaimana ... bagaimana aku bisa kembali ke sini lagi?” tanyanya lagi, masih sedikit melirih.
Suara pintu ruangan yang terbuka menyurai fokus Adnan dan perawat tersebut. Seorang pemuda berambut cokelat
tampak memasuki ruangan dan sigap menghampiri ranjang Adnan. Sedetik kemudian, ia mengernyit aneh pada pemuda yang baru saja tersadar dari tidur panjangnya itu.
“Kau sudah sadar?” tanyanya.
“Kau mengirim titik lokasimu padaku saat itu, Kapten. Jadi kami langsung bisa mengirim bantuan untukmu. Lagi pun, kenapa kau mengundurkan diri dari pekerjaanmu?”
Adnan masih bergeming dan membuang muka.
“Kapten.”
Detik ini, Adnan mengembuskan napas panjang yang amat kasar. “Aku, kan, sudah resign kemarin. Kenapa masih memanggilku seperti itu?” tanyanya masih tak mau memandang pemuda bersurai cokelat itu.
“Komandan memintamu untuk kembali setelah kau sehat nanti,” timpal pemuda itu menghiraukan pertanyaan Adnan.
“Frederick Add.”
Pemuda itu tersentak saat Adnan menyebutkan namanya. Terlebih saat Adnan memandang ke arahnya dengan kedua mata misterius itu.
“Erick,” panggil Adnan. “Jelaskan padaku, kenapa Komandan memintaku untuk kembali?”
Erick menundukkan pandangannya sejenak. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menarik sebuah kursi dan duduk di dekat ranjang Adnan.
“Bumi hancur,” katanya.
“Hah?”
“Peristiwa yang terjadi satu minggu yang lalu telah meluluhlantakkan banyak wilayah, termasuk tempat tinggal
lamamu. Aliansi timur berada di ambang kehancuran saat ini. Setidaknya itulah yang kudapat dari berita yang tersebar di Cosmo sampai detik ini,” ujar Erick. “Pemimpin aliansi barat melihat momen ini sebagai kesempatan untuk melancarkan deklarasi itu. Ia menghubungi Cosmo dan meminta kita untuk mendukung keputusannya. Kupikir, tadinya Komandan mengacuhkannya. Tapi ternyata semua di luar dugaan. Komandan menyetujui hal itu dan ia menghubungiku untuk memintamu kembali ke militer lagi.”
Kedua mata Adnan melebar—terkejut. “Apa? Jadi ....”
Erick mengangguk. “Seperti yang kau sadari sekarang. Komandan hanya memutuskan hal itu secara sepihak. Dan ... perdamaian mungkin sudah tak berlaku lagi sekarang.”
“Tch.” Adnan mendecih kesal. Pikirannya seketika kacau.
“Lalu ... mengenai jumlah korban di tempat tinggal lamamu, tercatat sekitar 25.000 jiwa meninggal ....”
“Apa ada nama Adara di daftar itu?” Adnan menyerobot bertanya hingga membuat Erick sedikit mengernyit
padanya. “Adara. Yusagi Adara namanya.”
“Yusagi ... Adara ....” Erick menggumam sambil berpikir sejenak. “Kurasa ... tidak ada,” lanjutnya kemudian.
“Wilayah mana yang terparah di kotaku?” Adnan kembali menyerobot tak sabar. Cemas telah meraut di wajahnya.
“Cepat katakan!”
Erick mendelik kepada Adnan. Pemuda itu sepertinya mencemaskan sosok bernama Yusagi Adara sampai harus
mencecarnya seganas ini. “Aku kurang tahu, Adnan. Tapi ... sekolah dan juga kantor pusat pemerintahan masuk ke dalam daftar. Aku melihatnya di berita tadi pagi,” jawabnya gemetar.
Adnan mendadak lemas. Pandangannya menyendu sayu. Gurat senyum setengah terbentuk di bibirnya yang bergetar. Otaknya kacau parah. Mengingat sosok seseorang dan juga kejadian yang menimpanya merupakan hal yang tak bisa ia percayai kini. “Tak mungkin, kan?” gumamnya seorang diri. Ia terkekeh sejenak, lalu kembali diam. “Aku baru akan menjemputnya. Aku telah berjanji padanya,” gumamnya lagi.
Sementara, Erick memilih untuk membiarkan pemuda itu menduka sejenak. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuknya di Cosmo, dan kali ini—saat Adnan kembali ke kampung halamannya—semua impian pemuda itu seakan lenyap begitu cepatnya. Terlebih saat ia menyebutkan nama Yusagi Adara. Erick sangat yakin kalau Yusagi Adara adalah sosok yang sangat ingin Adnan temui seminggu yang lalu—tapi gagal.
Sesuatu menyurai lamunan Erick. Sebuah kode terdengar dari earphone yang dipasang di salah satu telinganya. Erick bangkit dari kursi dan bergegas menjauh dari ranjang Adnan.
“Di sini Frederick Add,” ucapnya lirih.
“Kau sudah mengatakannya pada Harris?” tanya seseorang dari balik panggilan. “Bagaimana tanggapannya?”
Erick berpikir sejenak. “Adnan belum menjawabnya, Pak,” jawabnya masih melirih—berharap Adnan tak
mendengarnya.
“Kenapa? Kenapa lama sekali?” gertak sang lawan bicara Erick tersebut.
“Maaf, Pak. Adnan baru saja tersadar dan masih butuh waktu perawatan yang lama baginya untuk kembali ke militer.”
Pria yang menjadi lawan bicara Erick mendecih sejenak. “Katakan padanya, jika ia tak menyetujui rencana ini
maka sampai kapanpun dia takkan bisa kembali ke Bumi. Katakan pula, kalau orang seperti dia tidak akan bisa bertahan hidup dengan kondisi tubuh seperti itu,” tegasnya, “dia harus menyetujui rencananya jika ingin kembali hidup normal.”
Dada Erick sesak sekejap. Ia hanyalah rekan Adnan, tapi entah kenapa dirinya seperti disambar petir setelah
mendengar ucapan pria itu barusan. Ia bahkan hampir membenturkan kepal tangannya ke tembok sesaat setelah pria itu menutup panggilan—namun gagal. Erick ingat bahwa Adnan kini sedang terpukul dan tak mungkin baginya
memberitahukan tentang hal ini. Tapi, titah tetaplah titah. Ia harus segera mengatakannya pada Adnan sebelum terlambat.
“Adnan,” panggil Erick. Adnan kembali membuang muka enggan menatapnya.
“Apa yang barusan dia katakan padamu?”
Erick tersentak. Ia sudah mengecilkan volume suaranya saat menerima panggilan tadi, tapi kenyataannya Adnan mendengar pembicaraan mereka. Ia menghela napas dan menelan saliva-nya sejenak.
“Komandan bilang, kau tidak akan bisa kembali ke Bumi dengan kondisi seperti ini. Ada banyak cara untuk
membuatmu normal, tapi dengan satu syarat,” katanya, “kau ... harus menyetujui rencananya.”
Hening. Adnan bergeming. Sementara Erick, ia tak tahu harus melakukan apalagi setelah ini. Atau bahkan, ia bisa
saja langsung keluar ruangan dan menyalahkan dirinya sendiri karena mengatakan kejujuran itu pada Adnan.
“Dua bulan,” kata Erick lagi. “Jika kau menyetujui rencananya, maka hanya butuh waktu dua bulan sampai kita
dikirim ke Bumi.”
“Apa hanya dengan cara itu aku bisa bertemu Adara?” Adnan masih enggan menatap Erick.
Erick kembali tersentak. Pemuda bersurai cokelat itu bahkan tak kenal pada sosok yang dicemaskan oleh rekannya
itu. “Kapten sepertimu pasti memiliki banyak cara gila,” ucapnya, “jika kau bisa mengendalikan situasinya, aku akan mendukungmu untuk bertemu dengannya. Bahkan jika harus mengorbankan nyawaku juga.”
Adnan menoleh. Membuat bola mata sendunya tampak jelas oleh Erick. “Aku tidak menyuruhmu untuk berkorban,”
lirihnya .
“Aku tahu.” Erick gesit menimpali. “Sejak aku tinggal di sini, hanya kaulah satu-satunya orang yang mau
menolongku, Adnan. Kau adalah temanku. Sahabatku ....”
“Jangan bilang pengorbananmu hanya untuk membalas hutang budiku,” sela Adnan.
“Tidak! Aku serius!”
“Hutang budiku tak perlu kau balas. Lagipun, kau rekanku selama empat tahun di sini.”
Erick terdiam.
“Jadi, kapan aku bisa mengatakan pada Komandan jika aku menyetujui rencananya?”
Pemuda bersurai cokelat itu kembali tersentak. Napasnya sempat tercekat sepersekian detik.
“Ng ... biar aku saja yang mengatakannya pada Komandan,” kata Erick menjawab. “Tapi ... jika kau menyetujuinya, maka kau akan menghancurkan negara asalmu, Adnan,” tegurnya lirih, “kau ... apa kau setega itu, sedang kau masih memiliki status kewarganegaraan ganda kini.”
Adnan bergeming. Bola matanya terpejam dengan embus napas keluar dari lubang hidungnya sejenak.
“Entahlah.”
***