
Adnan lantas mengikuti langkah pria itu diiringi orang-orang bawaannya. Pria itu sepertinya tidak main-main padanya kini. Adnan sudah bisa membaca dengan jelas pikirannya.
“Bagaimana keadaan di pangkalan?”
Pria berpenampilan klimis itu memecah keheningan. Adnan yang berjalan di belakangnya, mengangkat pandangan sejenak, sesekali melirik ke sekitar di mana rekan-rekan pria itu justru mengawasinya detik ini.
“Sangat baik dari perkiraan ..., Morgan,” jawabnya setengah melirih.
Sebastian Morgan—nama pria itu—sepertinya mengingat sesuatu saat pemuda di belakangnya itu terdengar menyebutkan nama panggilannya. Diaberdecih sambil terus melangkah menyusuri koridor.
“Kau benar-benar tidak beretika,” ucap pria itu. “Sama seperti ayahmu yang brengsek itu.”
Adnan menggigit sedikit bibirnya, berusaha meredam gejolak emosinya. Ia baru saja datang dan tidak mungkin langsung memulai semuanya dengan baku hantam. Sungguh, ia benar-benar menghindari hal itu sekarang.
Morgan membawanya ke sebuah ruangan yang tampak asing. Seluruh dindingnya berwarna gelap, hanya ada beberapa percikan cahaya berwarna merah berkilau yang menerangi ruangan itu. Sementara itu, seorang bocah laki-laki yang kebetulan saja melewati ruangan itu mendadak berhenti. Kedua mata birunya menelisik dari balik celah pintu yang sedikit terbuka.
“Apa yang Ayah lakukan, ya?” gumamnya.
Adnan terus melangkah mendekati sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah benda berukuran besar yang tidak jelas bentuknya—karena ruangan yang terlalu gelap—berdiri kokoh tidak jauh dari posisi pemuda itu kini. Dua buah sorot kemerahan dengan sesuatu yang berkilauan terletak di antaranya. Adnan mengernyit, mencoba membuat penglihatannya fokus pada benda besar tersebut.
Sama halnya dengan bocah laki-laki yang mengintip dari balik pintu ruangan. Bola matanya berbinarseketika. Mulutnya menganga, takjub akan pesona dari sesuatu yang ia lihat kini. Namun, sebuah suara mengurai fokusnya.
Morgan mengayunkan ujung kakinya dengan kasar tepat ke punggung pemuda yang berdiri tidak jauh darinya itu hingga tersungkur. Sama seperti saat Hubert mendaratkan tungkainya ke punggung Adnan sebelum mengirim pemuda itu ke Cosmo. Perlakuan itu kembali didapatkan olehnya di tempat ini.
“A—” Bocah itu hampir saja berteriak, sebelum seseorang berhasil menutup mulutnya. Ia melihat sejenak ke arah sang penguncinya dan mengangguk takut. Sosok itu membawanya menyingkir dari pintu ruangan dengan cepat.
Sementara itu, Morgan kembali memberikan senyum kecut pada pemuda yang tertelungkup di bawah kakinya. “Kau harus bersyukur Hubert tidak membunuhmu,” ucap pria itu, lalu sedikit merunduk hingga Adnan bisa melihat wajahnya. “Bukankah dia masih merindukan sahabat lamanya itu, huh? Apa kau tak sadar kalau wajahmu itu sangat mirip dengan Si Brengsek sahabatnya itu?”
Tangan Morgan beralih menarik beberapa helai rambut Adnan hingga membuat pemuda itu benar-benar memandang jelas raut wajahnya kini. “Kalau saja bukan kau, aku pasti sudah membuangmu jauh-jauh dari sini ...,” desisnya kemudian, lalu bangkit ke posisi awal dan melepas cekatan tungkainya di punggung Adnan.
“Di ... mana ....” Adnan mendesis dengan jemarinya berusaha bergerak. “A ... yah ... ku ....”
Morgan memicing menatap pemuda yang terkulai lemas itu. Ia berdecih merespons desisan Adnan sebelum melenggang pergi dari ruangan. “Beri dia pelajaran,” titahnya pada beberapa orang yang sejak tadi mengekori dirinya.
Adnan tidak tahu persis bagaimana kaki tangan Morgan berhasil menghancurkan setengah kendali tubuhnya. Rasa sakit itu seperti tidak dirasa olehnya. Sungguh, hantaman bertubi yang dilayangkan anak buah pria itu semakin membuat pergerakannya melambat. Ia tidak bisa bergerak, apalagi menyerang balik mereka yang habis-habisan menghujani bekas luka dan beberapa bagian tubuhnya dengan tendangan bak pemain bola.
Kedua netra Adnan menangkap sorot kemilau merah dari sesuatu yang berdiri kokoh di hadapannya—seperti tengah berbisik di telinganya. Namun, ia tidak bisa mendengar, apalagi menafsirkan setiap desisan itu. Hanya gelap yang perlahan menghampiri dirinya.
***
Erick tergesa-gesa menyusuri koridor pangkalan usai memarkirkan Analemma beberapa saat yang lalu. Wajahnya memerah dengan keningnya yang sudah hampir menyatu. Kedua tangannya tampak mengepal sempurna, diiringi degup jantung dan napasnya yang saling memburu. Ia bergegas masuk ke sebuah ruangan di mana seorang pria
tengah memandang layar monitor di hadapannya.
“Apa Ayah tak punya hati, hah?!” hardik pemuda itu tanpa basa-basi. Matanya memelotot ke arah pria yang duduk tidak jauh darinya.
Hubert mengangkat kedua alisnya sejenak, lalu bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri putranya. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan tampang tidak berdosa.
Erick lantas melempar remasan memo di tangannya kepada sang ayah dengan gusar. “Aku bukanlah orang brengsek yang rela membunuh temannya hanya karena sebuah perjanjian,” ucapnya tanpa jeda.
Pria di hadapan Erick terdiam. Matanya memandang lurus ke arah putranya. Ia masih berdiri kokoh, bahkan tanpa mengambil remasan memo yang mendarat di dekat kakinya beberapa detik yang lalu. Beberapa saat kemudian, dia terkekeh.
“Sesuai dugaanku, kau tidak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu tadi,” katanya.
“Ayah!” gertak Erick. “Apa Ayah sudah gila, hah?!”
“Ya.” Hubert mendekatkan wajahnya tepat beberapa inci dari wajah Erick. “Aku gila karenamu.”
Pemuda itu bungkam. Bola mata sang ayah yang berada tepat di hadapannya mendadak membuatnya kehilangan kontrol. Ia seperti terkunci oleh sesuatu yang tentu saja dipahami olehnya. Sampai akhirnya, Hubert mengubah posisinya kembali ke semula, masih menatap sang putra.
“TAPI ADNAN SAHAB—“
Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi kiri Erick. Pemuda itu hampir saja tersungkur. Satu tangannya memegangi bekas telapak tangan Hubert yang mulai meninggalkan jejak di pipinya. Matanya melebar, tidak percaya dengan perlakuan sang ayah barusan.
“Pikirkan apa yang seharusnya menjadi prioritasmu,” ucap Hubert. Ia beralih, berdiri di depan Erick dengan tatapan mengintimidasi teraut di wajahnya. “Sarkan ... atau bocah brengsek itu.”
Erick bergeming. Rasa sakit di pipinya tidak lebih perih daripada ucapan sang ayah barusan. Ia tidak percaya dan bahkan otaknya merumit merespons pungkasan Hubert, seperti sebuah pesawat yang kehilangan arah terbang.
Hubert beralih saat sebuah panggilan mendadak mengurai fokusnya. Dia buru-buru menghadap monitor kerjanya yang menampakkan sosok seorang pria berambutpirang. Keningnya mengerut seketika.
“Ada urusan apa kau menghubungiku?” tanyanya tergesa-gesa.
Pria berpenampilan klimis itu terkekeh merespons Hubert. “Santai saja, Komandan Frederick Hubert,” timpalnya amat santai. “Kau tak ingin melihat apa yang kudapat di sini?”
Hubert memicingkan matanya saat satu tangan pria di monitor itu terarah pada sesuatu yang berada di belakangnya. Pria itu menyeringai kala netra Hubert menyalang sempurna.
“Apa kau tak ingat? Saat kau membuang sampah yang katamu tidak berguna itu, maka orang lain akan memungutnya, lalu merubahnya menjadi sebuah permata.”
Ucapan pria itu sukses membuat Hubert bergeming seribu kata. Matanya lurus menatap monitor di hadapannya di mana ia bisa melihat dengan jelas wajah sang lawan bicara dengan sosok yang dikenal tampak bersamanya.
“Morgan ...,” geramnya seraya mengepalkan tangannya.
Erick yang menyadari sesuatu bergegas menghampiri meja kerja sang ayah. Namun, niatnya gagal dilakukan tatkala Hubert langsung mematikan monitor tersebut.
“Ayah!”
Hubert kembali memandang Erick. Tatapannya penuh arti sampai pemuda itu tidak bisa menafsirkan setiap inci raut wajahnya.
“Sebastian Morgan, ‘kan, yang menghubungi Ayah barusan?” selisik Erick.
“Sejak kapan etikamu hilang dan memanggilnya seperti itu, huh?!” sergah pria itu sembari memandang tajam ke arah putranya sendiri.
“Ayah, sambungkan kembali panggilannya. Aku mohon ....”
“Kau hanya ingin menanyakan bocah brengsek itu, ‘kan?” Hubert semakin menajamkan tatapannya pada Erick hingga membuat pemuda itu kembali bergeming.
Hubert berjalan meninggalkan meja kerjanya dengan Erick masih berdiri mematung di sana.
“Perjanjian apa yang Ayah buat dengannya?” Erick mulai membuka mulutnya kembali.
Sementara itu, Hubert langsung menghentikan langkahnya meski tidak berbalik menghadap sang anak. “Tutup mulutmu dan laksanakan kewajibanmu sebagai kapten, Erick,” timpal pria itu masih membuang muka.
“Aku dengar apa yang diucapkan Morgan tadi, Ayah! Apa Ayah pikir aku tuli!” hardik Erick memelotot ke arah pria yang telah berdiri di dekat pintu ruangan itu.
Hubert kembali bergeming. Ritme napasnya tertahan sejenak.
“Apa Ayah benar-benar ingin membunuh Adnan tanpa harus mengotori tangan Ayah sendiri? Apa Ayah sebegitu bencinya pada Tuan Harris sampai ingin melenyapkan Adnan juga?” Erick tertunduk memandang lantai yang dipijakinya kini. “Apa perjanjian yang kita lakukan hanya sebuah bualan—”
“Kau takkan pernah mengerti, Erick,” potong Hubert masih berada di posisi tubuh yang sama. “Orang-orang mengincar sebuah permata hanya karena mereka indah, tapi tidak melihat bagaimana batu hitam yang berusaha menyembunyikannya di balik tumpukan pasir dan tanah liat. Sama seperti saat kau melihat sesuatu yang bernilai,
lalu meninggalkan semua hal yang lebih berharga darinya. Karena sebuah kekuasaan, kau jadi lupa bagaimana ... dan dengan siapa kau mendapatkannya.”
Pria itu berbalik memalingkan wajahnya kepada Erick yang kini menatap lurus ke arahnya. Ia hanya terdiam memandang putranya itu, sebelum akhirnya berpaling dan berlalu ke luar ruangan.
Erick bergeming. Dia tidak pernah mendapatkan tatapan sang ayah barusan. Sesuatu tampak disembunyikan pria itu darinya. Tentu tidak mudah mengetahuinya, tapi ia yakin jika Hubert tidak mungkin berbohong dengan ekspresi sendu yang dilayangkannya barusan.
***