
Megan dan Alan dengan sigap memasuki sebuah ruangan khusus. Alan mengedarkan pandangan ke luar sejenak
sebelum akhirnya menutup pintu. Dia menghampiri gadis berambut hitam yang kini sedang memainkan jemarinya di sebuah keyboard. Ini adalah ruangan yang sama dengan ruangan tempat Alan memantau Adara melalui Erick waktu itu. Dia hanya bisa memasukinya ketika Megan mengijinkannya.
Sebuah layar semut muncul di hadapan mereka, berangsur jelas sampai seorang pria duduk di hadapannya.
Alan mengernyit seolah pernah melihat pria itu sebelumnya. “Har ….” Dia menggeleng. Tidak mungkin pria itu adalah sosok yang berada dalam ingatannya. Namun, mereka tampak mirip.
“Tidak biasanya kau melapor,” ucap pria bermata biru tersebut.
Megan tersenyum. “Lama tidak bicara, Pak,” balasnya.
“Pak?” sahut Alan menggumam.
Pria di layar lantas mengerutkan kening. “Siapa dia?” tanyanya.
“Oh, dia adalah Dokter Alan. Dokter pribadi adik Anda selama di sini.”
“Hah? Adik?” Alan, masih dengan wajah inosennya menatap Megan, lalu ke layar.
Pria di layar mengangguk. “Salam kenal, Dokter Alan,” katanya. “Aku Oscar Harvey. Staf khusus militer di Cosmo. Aku adalah kakak Adnan Harris.”
Manik hitam Alan membola sekejap. Ingatannya menguar tentang memori beberapa tahun yang lalu. Cukup lama, tetapi dia masih mengingatnya dengan jelas. Sosok anak dari Profesor Harris yang digadang-gadang akan menggantikan perannya di Cosmo. Pewaris yang ditinggalkan, begitulah orang-orang menyebutnya. Dan kini, sosok itu telah tumbuh dewasa dan berhadapan secara tidak langsung dengannya.
Saliva Alan terteguk. “Kau … putra pertama Harris?” selisiknya.
Oscar mengangguk pelan. “Anda pasti sudah tahu saya berkat orang-orang di pangkalan.”
“Ah, tidak, bukan begitu,” ucap Alan. “Aku mengenal ayahmu. Dan kau mirip dengannya.”
Pria bermata biru itu tidak menanggapi dan hanya tersenyum getir. Namun, sekian detik kemudian, Megan mengubah topik pembicaraan.
“Maaf, Pak, tapi … situasi di sini sangat genting sekarang,” kata gadis itu. “Frederick Add ditangkap.”
Kening Oscar tampak menyatu dengan cepat. “Dia?”
Megan berdeham dan mengangguk. “Saya hanya takut kalau kedok kita untuk menangkap tersangkanya terbongkar.”
Kali ini, alis Alan yang bertumbuk. Tersangka? Apa cuma dia yang tidak tahu?
Oscar menghela napas panjang. “Teruslah bersikap waspada,” titahnya. “Biar aku yang urus sisanya. Dan juga …
pertimbangkan satu hal, Anthony Cristian akan bertandang ke pangkalan beberapa hari lagi.”
Tidak hanya Megan, Alan pun melebarkan matanya. Siapa pun tahu dan mengenal Anthony Cristian. Mereka saling bersemuka.
“Untuk apa, Pak?” tanya Megan pada Oscar.
“Biasalah, politik. Tidak ada hubungannya dengan kita,” jawab pria berambut hitam itu. “Kalau kau ingin bergerak, pastikan yang ada di hadapanmu benar-benar Frederick Add yang asli. Bukan hasil brainwash dari komandanmu.”
Megan terdiam sejenak. Dia mengangguk. “Baik, Pak. Dimengerti.”
Saluran komunikasi berakhir beberapa menit kemudian usai Oscar menyerahkan sebuah tugas kepada Megan.
Sementara itu, Alan bersandar pada tepi meja dan menatap gadis tersebut.
“Jadi, orang yang menyuruhmu selama ini adalah dia?” tanyanya.
Gadis itu mengangkat pandangan dengan senyuman kuda. Sebuah rahasia memang tidak bisa dibendung terlalu lama.
Alan menghela napas panjang. “Kupikir, ada orang lain yang berada di balik semua ini. Ternyata dia …,” gumamnya.
“Apa?”
Megan sontak meneguk saliva. “Frederick Hubert,” ucapnya. “Orang-orang di pangkalan pasti belum ada yang tahu soal dalang di balik peristiwa 5 tahun lalu. Bahkan sebelum itu terjadi, Oscar Harvey memberitahuku soal kenyataan yang … pahit. Yang berkaitan dengan dua Clibanarii tersebut.”
“Paladin dan Sarkan?” selisik Alan hingga kacamatanya tampak berkilat misterius.
Gadis itu mengangguk. Dia tidak punya waktu lagi untuk menyimpan semua ini. Bagaimanapun, tikus sepertinya juga punya andil secara tidak langsung untuk mengungkap kebenaran. Dan dokter di depannya itu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang dulunya memiliki peran.
Akhirnya, Megan Crush menceritakan semuanya.
***
Sementara itu, di balik sebuah jeruji besi, di dalam ruangan gelap, seorang pemuda bertelanjang dada baru saja
terbangun dari pingsannya. Dia meringis. Seluruh tubuhnya sakit, terlihat dari banyaknya lebam dan sedikit cairan merah mengalir telah kering. Kedua tangannya diikat oleh rantai dan dirinya dibiarkan bersimpuh di permukaan lantai yang dingin.
“Aku … di mana?” lirihnya.
Netra cokelat terangnya menatap ke depan. Tidak ada siapa pun, kecuali dua buah cctv yang dipasang di sudut jeruji. Dia tersenyum kecut. Rasa-rasanya, hubungan ayah dan anak tidak sesakit ini, tetapi kenapa dirinya seolah berbeda?
Erick mengingat masa kecilnya yang bahkan tidak mengenal yang namanya kasih sayang. Dia tumbuh menjadi anak yang berbakti karena trauma akan pukulan dan suara keras yang acapkali diberikan ayahnya sendiri. Ayah kandungnya.
Entah apa yang ada di pikiran Frederick Hubert ketika mendidik putranya. Sayangnya, Erick terus-menerus berada dalam dilema. Dia tidak pernah punya tujuan hidup yang pasti, antara menuruti ucapan ayahnya atau menuruti kata hatinya sendiri.
Dia tidak ingin menjadi anak durhaka meski Semesta memintanya untuk berbuat demikian.
Bayang-bayang mendiang sang ibu terngiang, membuat Erick membisu. Cukup sudah penderitaannya selama ini
tanpa kehadiran orang terkasihnya itu. Dan yang bisa memberikannya kasih sayang sepenuh cinta hanyalah sosok pemuda bermata biru. Pemuda yang membuat pikiran dan hatinya terbuka.
“Adnan …,” desisnya.
Napasnya tertahan, seiring butiran air mata yang mengaliri pipi, lalu menetes ke lantai. Percikannya menyebar, membasahi permukaan yang lain.
Sebagai seorang lelaki, siapa pun pasti akan menangis ketika dihadapkan pada kenyataan pahit yang tidak
sesuai dengan ekspetasi selama ini. Semua pria bisa menangis kapan pun itu. Erick bahkan tidak peduli kalau Adnan melihatnya menangis sekarang dan menertawainya.
Namun, demi klan manapun, pemuda itu tidak pernah sekalipun menertawakan kecengengannya selama ini. Adnan
adalah orang baik dan Hubert tidak pernah menganggapnya begitu. Hubert selalu membuat Adnan menjadi satu-satunya orang paling bersalah di aliansi barat. Erick ingin membela, tetapi tidak bisa. Dia hanya anak laki-laki yang pengecut, bahkan setelah ayahnya mendidik ala militer sejak kecil.
Erick tahu bagaimana kebusukan sang ayah. Namun, dia bisa apa selain berbakti dan menjadi anak yang baik? Dia
hanya bisa menyimpan semua keburukan ayahnya selama ini.
Tentang pembunuhan berencana seorang professor di Cosmo. Dan juga tentang sabotase lima tahun lalu.
Erick tahu semuanya.
Namun, bagaimana dia bisa menceritakan semua kejujuran itu? Monster-monster di kepalanya selalu saja
mengajaknya untuk berpikir berlebihan tentang peristiwa yang belum dijalaninya.
Erick takut Adnan tidak akan menerimanya sebagai sahabat lagi. Dia takut pemuda itu meninggalkannya dan dia
kembali dalam kesendirian.
Selama ini, Erick sangat takut. Takut dengan kesendirian. Bahkan untuk detik ini, dia takut akan sesuatu yang menantikannya di depan sana.
Sorot mata yang mirip sepertinya telah berdiri tegap seolah hendak memangsa pemuda tersebut.
***