
Alan meneguk saliva. Black Death-333 sebenarnya bukanlah pesawat siluman, pengangkut, ataupun semacam Analemma dan Falcon. Pesawat itu adalah hybrid yang dirancang hanya untuk saat-saat tertentu. Namun, darimana Adnan tahu soal hal itu, sepertinya Alan tidak bisa menebaknya.
“Ke mana lagi?” tanya pemuda di samping Alan.
“Lewat sini.”
Alan menuntun Adnan melewati sebuah koridor yang menghubungkannya dengan ruang rawat. Mereka berhenti di
depan sebuah ruangan. Adnan yang melihat sosok gadis yang tengah berbaring di ranjang rawat lantas menurunkan pistolnya. Alan langsung membuka pintu kamar rawat dan membiarkan pemuda itu masuk terlebih dahulu.
“Adara!”
Adnan menyentuh tangan gadis itu. Dingin. Beberapa peralatan masih menjerat tubuhnya termasuk infus dan alat
pacu jantung. Dan yang membuat hati Adnan teriris adalah kondisi lengan kanan Adara. Hanya ada perban yang melilit bagiannya yang tersisa.
“Dia mengalami bleeding yang cukup parah,” ujar Alan yang berdiri di dekat ranjang. “Aku meminta Oscar untuk
merawatnya dan beruntungnya kakakmu itu tidak menaruh curiga padaku.”
Napas Adnan yang memburu lantas terhenti. Pemuda itu merunduk, meratapi kondisi kekasihnya yang tidak
sadarkan diri.
“Biusnya masih cukup lama. Kalau kita membawanya keluar dari sini sekarang, ini akan memperparah keadaannya—”
“Bagaimana.” Adnan menoleh dan menatap pria di dekatnya itu. “Bagaimana caranya aku bisa membawanya lari dari sini tanpa sedikitpun terluka?”
Alan langsung terdiam. Dia melihat ke arah peralatan yang ada di sana. “Sebentar.”
Pria itu beralih kepada peralatan dan seolah mencari sesuatu yang bisa dipergunakannya untuk waktu limit detik ini. Melihat kesibukan pria tersebut, tiba-tiba saja earphone yang dipakai Adnan terdengar mengeluarkan suara kemeresak. Adnan menekan tombol mungil yang sudah sangat dihapalnya mengingat desain earphone di manapun selalu sama.
“Ad,” panggil Erick.
Adnan masih terdiam. Napasnya masih sedikit tersengal.
“Aku berada di ruang kontrol dan jangan tanya bagaimana aku bisa kemari, tapi ….”
“Bawalah apa yang seharusnya kau bawa,” ucap Erick. “Jangan pikirkan aku ….”
***
Erick berlari menuju ke sebuah lorong yang disinyalir menuntunnya ke arah ruang kontrol. Dua sampai lima petugas berhasil dilumpuhkannya dan memang bukan perkara mudah mengingat kemampuan bela dirinya tidak sekuat Adnan. Sebuah pintu besi menyambutnya di ujung anak tangga teratas. Pemuda itu lantas membukanya.
Kosong.
Erick bergegas menuju dashboard dan mengutak-atik semua tombol di sana. Mempertaruhkan segala hal seharusnya bisa membuatnya membayar hutang budinya kepada Adnan selama ini. Ayahnya pun mungkin akan melakukan hal yang sama jika saja dia masih hidup sekarang.
Namun, tiba-tiba saja pergerakannya terhenti. Sebuah ujung senjata api mengarah langsung di pelipisnya.
Pemuda itu mengangkat kedua tangan dan sedikit melihat melalui ekor matanya tentang siapa sosok yang
mengarahkan revolver itu padanya. Gadis itu, si tikus yang berkhianat!
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Erick menoleh lantas menyeringai. “Apa yang kau lakukan di sini?” balasnya retorik.
“Kau berusaha kabur?” Gadis itu makin menempelkan ujung senjata api yang dibawanya ke kepala pemuda di
depannya. “Kau berusaha menyelamatkan temanmu yang bodoh itu?”
Erick berdecih. “Bodoh? Kau yang bodoh.”
“Jika pelatuknya kulepas, maka kau akan kehilangan nyawamu detik ini.”
Pemuda berambut cokelat itu tersenyum kecut. “Izinkan aku memberikan kata-kata terakhir pada temanku sebelum kau melepas pelatuknya.”
Gadis itu terdiam, sedikit mengernyit. Dia memberi kode lewat sorot matanya dan membiarkan Erick menyalakan saluran komunikasi pada earphone di telinganya.
“Bawalah apa yang seharusnya kau bawa,” ucap Erick. “Jangan pikirkan aku ….”
***