AST

AST
PHASE 3



Aku kan bilang ingin menjemputmu, bukan ingin ketemuan denganmu.


Kalimat itu masih bersenandung dalam ingatan. Seorang gadis yang kini rambutnya telah acak-acakan terbangun


dari lelapnya. Kedua bola matanya perlahan terbuka lebar, sebentar menyelisik setiap hal yang bisa dijangkau oleh pandangannya. Ia mendengkus kasar. Aroma keringat akibat panas alam itu masih terhidu olehnya. Bukan hanya keringat, kini bertambah dengan belerang dan bau gosong yang tertangkap indera penciumannya. Amat tajam.


Adara—gadis itu—berdecih dan mengusap hidungnya sejenak. Pikirannya saling bertaut, bertanya sudah berapa


lama ia nongkrong di rak kayu gantung itu. Ia ingat sekali—entah beberapa hari yang lalu—naik ke rak tersebut demi menyelamatkan diri dari amukan lava panas. Dan kini, pikirannya seperti kosong, selain hanya beberapa memori kecil yang ia ingat.


Perutnya bernyanyi. Memaksa gadis itu untuk tersadar bahwa dirinya sudah beberapa hari tak mendapat asupan pengganjal perut di sana. Ia hanya membawa sebotol air mineral di ranselnya yang kini sudah habis tak bersisa. Adara kembali mendengkus kasar.


“Aku lapar,” katanya serak.


Gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu menunduk ke lantai ruangan yang sudah dipenuhi oleh


genangan berwarna cokelat pekat. Ia mengernyit sejenak, mengambil  sebuah buku dari dalam ranselnya dan menjatuhkannya ke genangan tersebut untuk mendeteksi sesuatu. Kering. Buku itu tak tenggelam ataupun terbakar di genangan itu.


“Apa tak apa?” gumam Adara.


Tanpa pikir panjang, gadis itu melompat dan mendaratkan kedua tungkainya di atas genangan cokelat pekat yang


telah memadat sempurna itu. Dingin. Adara memijakkan telapak kakinya yang masih berbalut sepatu itu berkali-kali.


“Aman,” gumamnya mantap.


Bola matanya menyebarkan pandangan ke segala arah. Mendapati sesuatu yang menarik perhatiannya, Adara bergegaskeluar ruangan. Ia terkejut. Matanya melebar. Semuanya telah lenyap, tertimbun oleh amukan lava panas. Ia berjalan menjauhi gedung sekolahnya dan melihat bahwa seluruh bagian gedung itu telah berada di bawah lava yang kini memadat.


“Apakah ini mimpi?”


***


Adnan berkali-kali memandangi arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Matanya sesekali melihat


keluar jendela. Batuan dan benda asing melayang, serta aroma luar angkasa telah ia nikmati selama sebulan di tempat ini—setelah sebelumnya ia gagal pulang ke kampung halamannya di Bumi.


Cosmo seharusnya menjadi torus perdamaian bagi umat manusia. Tapi kini, pangkalan militer dan pusat perdamaian dunia itu malah memihak pada salah satu aliansi di Bumi; aliansi barat. Sejak deklarasi perang itu diumumkan ke publik, banyak jiwa merasa gelisah, cemas, bahkan ketakutan. Terlebih saat mereka dihadapkan pada permasalahan Bumi yang semakin menua. Ini menjadi konflik berkepanjangan jika salah satu dari aliansi


di Bumi itu tak ada yang mau mengalah.


Tapi ... bagaimana jika mengalah hanya untuk menjadi budak bagi aliansi lain yang haus akan kekuasaan?


“Kau sudah siap?”


Lamunan Adnan terurai seketika saat seorang pemuda bertanya padanya. Ia menoleh ke arah pemuda bersurai cokelat itu. Erick.


“Satu bulan lagi,” kata Erick. Ia tersenyum tipis pada pemuda bersurai hitam di depannya.


Adnan diam sejenak. Ia mengangguk, memandang kembali keluar jendela yang menampakkan planet biru itu, lalu berlalu setelah Erick mendorong kursi rodanya.


***


Adara menengadah, menatap hamparan langit. Semburat jingga mulai jelas menampak di ufuk barat. Ia kembali


menebarkan pandangan ke sekeliling. Hamparan tanah kosong dengan reruntuhan bangunan tak berbentuk yang bagai batu itu seakan membuat dirinya berada di tempat lain di Bumi ini. Seperti di Mars, atau di planet alien di luar galaksi sana. Langkahnya yang terhuyung bergerak tak tentu. Baterai ponselnya sudah hampir habis dan ia tak tahu harus ke mana lagi jika saja ponselnya mati dan melenyapkan kompasnya.


Gelap sudah mulai merambat perlahan. Embusan angin bersuhu rendah menerobos tubuh gadis itu hingga membuatnya bergidik. Adara mendengkus panjang sambil kedua tangannya bersilang dan saling


mengusap—berusaha menghangatkan.


“Kompasnya rusak atau bagaimana, sih?” celotehnya, “dari tadi aku tak menemukan orang-orang di sekitar sini.”


Kembali bola matanya menyebarkan pandangan. Lagi-lagi hanya hamparan kosong dengan beberapa reruntuhan bangunan di sekitarnya. Tanpa hewan. Tanpa manusia. Angin kembali berhembus, kini lebih kencang dari sebelumnya. Adara bergidik gemetar. Cemas dan takut. Namun kesemua rasa itu seketika tertahan saat ia melihat sebuah reruntuhan bangunan yang unik. Ia bergegas berlari menuju bangunan itu dan masuk. Sejenak, ia menyapu ke sekitar. Yah, walaupun hanya seluas 1x2 meter persegi, setidaknya bisa melindungi dirinya dari kegelapan malam ini.


Adara meringkuk, merangkul kedua tungkainya yang bertekuk agar mendekati dadanya. Tubuhnya gemetaran. Ia


bergeming cukup lama. Selang beberapa saat, bulir air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Gadis itu kembali menduka dalam kegetirannya kini. Ia menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya. Isak tangis kembali bersua.


Kacau. Benar-benar kacau. Ia hanya seorang diri sekarang. Kehilangan rumah, teman, dan segalanya sekaligus. Ia tak tahu harus melakukan apa selain merenungi nasibnya kini dan sambil berharap seseorang menolongnya. Pikirnya bergelayut pada bayangan seorang pemuda yang tersenyum ke arahnya.


Aku akan menjemputmu, Adara!


Adara tersentak. Pandangannya terangkat sebelum akhirnya ia dikejutkan oleh deru suara yang menggangu pendengaran. Sejenak ia mendongak ke arah langit dan mendapati beberapa pesawat bermanuver di sana. Ia ingin berteriak, tapi tertahan saat pikirannya mulai berputar bahwa tak seharusnya ia berteriak detik ini. Terlebih saat ia


memfokuskan penglihatannya.


Ketiga pesawat yang bermanuver di langit adalah milik aliansi barat. Dan untuk dirinya yang merupakan warga


negara aliansi timur tak mungkin meminta tolong jika ia tidak ingin mati sekarang. Air liurnya meluncur, menerobos kerongkongannya seketika. Embusan napas keluar dari lubang hidungnya. Sementara kedua manik matanya masih


memandang tiga pesawat yang bermanuver perlahan meninggalkan wilayah tersebut.


“Kau bodoh sekali, Adara,” gumamnya, “apa kau ingin mati sebelum Adnan menjemputmu?”


Ia terdiam dan kembali duduk di posisinya semula dan kembali menangis.


“Bodoh!”


***


Deru meriam dan juga peluru saling memburu. Teriakan menggema sesekali, menambah haluan nada di atas tanah kosong dengan berbagai reruntuhan di sekitarnya. Lengking sesuatu yang meluncur dari beberapa burung besi yang bermanuver ria di langit menambah kekacauan di area tersebut.


“Sial! Aliansi barat menggempur wilayah kita tanpa isyarat. Bagaimana kita bisa menghentikannya?” celetuk salah


seorang pria dengan senapan yang ia bawa. Dirinya bersembunyi di balik sebuah reruntuhan setinggi satu meter bersama seorang rekannya.


“Dan menurutmu, apa kita bisa menghalau mereka dengan senjata lama ini, huh?” timpal rekannya kesal. Sesekali


ia menyelisik dari balik reruntuhan itu untuk mengamati pergerakan musuh.


Debum besar kembali bersua, disambung teriakan massal dari banyak pejuang yang meledak dan langsung


terbakar habis di tempat. Pria ini meringis ngeri. Tubuhnya gemetar bergidik, merasakan kecemasan dan takut yang teramat sangat. Terlebih saat melihat koyakan daging milik para manusia yang meledak itu terlontar sejauh beberapa meter dan hampir mendekati lokasi persembunyiannya.


“Kita akan mati,” bisiknya gemetar.


Rekannya yang berambut hitam itu memandangi sebentar. Menyelisik rupa pria yang sudah seperti gelandangan itu, lalu menyiapkan senapannya.


pernah tahu apa yang terjadi di depanmu kalau kau melihat mereka yang telah kalah. Mereka adalah pemacu semangat, bukan pemicu ketakutan.”


“Hah?”


Si pria tadi mendadak geming. Saling berpandangan dengan rekannya yang bersurai hitam itu. Sekian detik


kemudian, bahunya ditepuk hingga lamunannya terurai. Rekannya tersenyum simpul.


“Aku akan memirang rambutku jika aku tidak mati di perang ini,” katanya sebelum akhirnya ia bangkit dan berlari


menuju musuh.


“Hah? Ja ....”


Pria itu berbalik dan memandang punggung rekannya yang malah berlari mendekati musuh. Sebuah gumulan kabut


pasir menutup keberadaan pria bersurai hitam itu. Sampai akhirnya, sebuah ledakan tak terelakkan.


“JASON!!!”


***


Adara membuka cepat kedua matanya. Netra terangnya itu amat lebar terbuka, dan semakin terang saat temaram cahaya rembulan menyorotnya. Ia bangun dari lelapnya dan menyebarkan pandangan ke sekitar. Sejak pagi tadi, ia masih terpaku di ruang reruntuhan itu tanpa tahu harus ke mana. Otaknya sudah bagai kosong tak berisi saja. Hanya serpihan ingatan masa lalu yang masih terngiang olehnya. Bencana besar itu benar-benar telah merusak jati dirinya.


Gadis itu menelan liur melalui kerongkongannya yang telah mencekat kasar. Organ yang berbentuk selang itu


rasanya amat panas. Sesekali Adara menggaruk lehernya sembari melakukan salivasi, mencoba menahan gejolak dehidrasi yang mungkin telah menjalari tubuhnya. Mulutnya terasa kering dan bibir mungilnya juga sudah pecah-pecah bagai retakan tanah di musim kemarau panjang. Jantung dan napasnya kadang saling memburu. Dan


juga, Adara kini mudah sekali mengantuk. Tubuhnya benar-benar lemas karena kekurangan cairan.


Adara meringkuk sambil merangkul ranselnya. Selama beberapa detik ia mengatur napasnya agar kembali normal—meski gagal. Selang beberapa saat, sebuah dentuman mengejutkannya.


“Apa itu?”


Ia mengeluarkan sedikit tubuhnya dan menyebarkan pandangan ke sekitar. Ada sebuah kepulan asap tebal di salah


satu arah yang membuat kedua netranya mendelik aneh.


“Asap?” gumamnya.


Deru suara kendaraan berat didengar samar olehnya beberapa detik setelah ia melihat kepulan asap tadi.


Kedua bola matanya yang sudah sendu layu lantas kembali dilebarkan olehnya—fokus dan terus fokus.


Beberapa kendaraan pengangkut milik tentara lewat tak jauh dari tempat Adara berada. Mulut Adara terbuka.


Menganga lebar. Tapi anehnya, ia tak bisa berteriak. Adara berdeham, mencoba mengatur pita suara dan kerongkongannya, lalu kembali berteriak.


Sial.


Satu teriakan saja tak berhasil ia suarakan. Adara melambaikan kedua tangannya sekuat tenaga. Entah apa yang


dipikirkannya saat ini, dan bahkan ia tak tahu dari mana kendaraan pengangkut itu berasal. Napas dan denyut jantungnya kian memburu ganas. Dan kini semakin menyempit.


Adara tersungkur. Lemah dan tak berdaya. Mata buramnya masih mencoba melihat ke arah kendaraan itu pergi.


Barat. Ya, arah barat. Ke arah sana pun seharusnya ia pergi. Tapi dengan kondisinya kini, Adara hanya tersungkur dalam kegemingan. Merangkul pasir dalam genggaman tangannya dan sambil berpikir—apakah ia akan mati detik ini juga.


Seorang pria tengah mengamati sekitar dari balik teropong mungil yang dibawanya. Sementara di atas kendaraan


pengangkut itu telah banyak penduduk dengan berbagai usia, mulai dari lanjut usia, ibu hamil, bahkan anak-anak. Salah seorang anak perempuan turut mengamati sekitar seperti pria tersebut. Sepersekian detik kemudian, bola matanya melebar. Ia melonjak terkejut dan sigap menarik baju pria itu.


“Aku melihat sesuatu di sana!” serunya di sela deru kasar kendaraan yang ia tumpangi. “Coba lihat lebih jelas!”


Pria tadi segera menajamkan fokus teropongnya sejenak. “Berhenti!” serunya pada sang pengendara. “BERHENTI!!!”


Kendaraan pengangkut itu berhenti sejenak, menuruti titah dari si pria tadi.


“Ayo ke sana!” ajak si gadis kecil sambil turun dari kendaraan tersebut dan berlari menuju sesuatu yang ia lihat.


“Hey! Tunggu!”


Bola mata mungil itu menyalang. Melihat sesuatu di depannya, sampai akhirnya seorang pria menghampiri dirinya.


“Jun. Aku, kan, sudah bilang, tetaplah di sana!”


“Ssst.” Jun—si gadis kecil itu—mendesis sejenak sambil menunjuk ke arah depannya berkali-kali. “Dia masih


hidup, Kak,” bisiknya.


Pria itu tersentak. Terlebih saat ia melihat sesosok tubuh tergeletak di depannya kini. Seorang gadis berseragam


sekolah yang tengah tak sadarkan diri.


“Kau yakin?” tanyanya pada Jun.


“Instingku selalu benar, Kak Jo!” jawab Jun setengah berseru, berusaha meyakinkan sang kakak.


Jo bergegas memeriksa denyut nadi gadis bersurai hitam itu. Ia harus berkali-kali pindah area untuk mencari nadi


kehidupan pada gadis itu, sampai akhirnya di bagian lehernyalah denyut nadi terasa. Amat lemah.


“Dehidrasi berat,” ucap Jo. Ia bangkit dan memberi isyarat pada pengendara kendaraan pengangkut agar lebih


mendekat ke lokasinya, lalu kembali pada sosok gadis yang tak sadarkan diri itu.


“Kita akan membawanya?” tanya Jun penasaran. “Benar?”


Jo memandangi adik perempuannya sejenak, lalu mengangguk sembari mengusap rambut gadis kecil itu. Ia tersenyum simpul.


“Tentu saja,” katanya menimpali.


***