
Beberapa burung besi tampak bermanuver, berakrobatik menyusuri bentangan permadani biru. Sebagian menembus gumulan kapas putih dan membuatnya berpendar menjadi serabut putih tidak terbatas. Gemuruh mesin tidak terelakkan, meramaikan sunyi angkasa yang mulanya didominasi oleh burung-burung. Sebagian pesawat bermoncong tajam itu bermanuver cepat, menyusuri setiap jengkal udara dan menyisir angin dengan cermat.
Luncuran misil terdengar, berkali-kali, dan menghebohkan langit. Terus-menerus, tanpa henti. Tanpa jeda. Beberapa lontaran balik kembali terdengar. Kali ini membuat langit seperti sebuah tempat para bintang meledak secara beruntun.
Pandangan Jason mengangkasa. Tidak hanya dirinya, orang-orang di spot itu juga terturut memandang ke arah yang sama. Ia berbalik tatkala seorang gadis bersurai hitam memekikkan namanya. Beberapa detik, sebelum tungkainya melangkah menuju ke sebuah ruangan besar di mana banyak tombol pengontrol bertaut di sana.
Jason membuka sebuah pesan yang baru saja masuk hingga netranya bisa melihat dengan jelas tulisan balasan dari pusat aliansi timur tersebut. Sekian detik, jeda merangkul seluruh fokusnya
demi memahami tiap kata pada kalimat di pesan itu.
Liur terteguk sempurna, melewati celah kerongkongannya yang mencekat seketika. Bola matanya masih memandang kaku ke arah tulisan tersebut. Sementara, Adara—gadis yang memekikkan namanya tadi—berdiri di dekatnya dan sesekali menatap cemas pria tersebut.
“Adara,” panggilnya.
Gadis di dekatnya itu menoleh, berusaha menerka pikiran Jason. Namun pria itu menggantung responsnya sebelum akhirnya ia berbalik dengan tangkas.
“Status siaga dikonfirmasi!” seru Jason kepada beberapa teknisi di ruangan itu seraya memasang earphone pada salah satu telinganya. Mereka menimpali dan bergegas melaksanakan tugasnya. “Hubungkan saluranku dengan pusat!”
“Siap, Letnan!” sahut seluruh teknisi di ruangan itu serempak.
Jason berbalik hendak keluar ruangan. “Adara, kita harus bersiap. Aliansi barat telah melancarkan penyerangan
ke beberapa spot besar dan membawa orang-orang kita ke pangkalan mereka,” ucapnya pada gadis yang masih berdiri di depan monitor besar itu.
Adara terkejut. Ia bergegas menyusul langkah pria itu hingga keluar ruangan.
“Kau tetaplah di sini, sementara kami melindungi spot!” titah Jason pada gadis itu.
“Hah? Aku harus menunggu sementara kalian bertempur?” tanya gadis itu. Jason tidak menanggapinya.
“Jason!” seru Kei seraya menghampiri pria bersurai acak-acakan itu. “Apa yang terjadi?” tanyanya kemudian.
Jason meneguk liur sejenak. “Perang,” jawabnya, “aliansi barat telah mengirimkan pasukan untuk menyerang spot yang tersisa dan membawa orang-orang kita ke pangkalan mereka.”
“Apa?!” Kei sontak melebarkan bola matanya. Salivanya tertelan cepat.
“Sam!” seru Jason kepada seorang pemuda yang berdiri di dekat hanggar—sejenak tidak menghiraukan dokter itu.
Sam melemparkan pandangannya pada Jason. Sorot matanya mengisyaratkan sesuatu, seperti ketika ia menghadapi situasi yang sama dengan pria tersebut dulu. Mereka saling bertatap muka, sejenak mengangguk bersamaan, sebelum kemudian ia kembali memasuki hanggar dan menitahkan sesuatu kepada orang-orang yang berada di sana.
Jason berbalik kepada Kei. Dokter itu masih setia menunggu dirinya bersama dengan gadis berkucir yang sejak tadi
mengekorinya—meminta penjelasan. Sementara, seorang gadis kecil menarik sedikit pakaian gadis tersebut.
“Ada apa?” tanya gadis kecil itu. “Kak Jo di mana?”
Adara memalingkan wajahnya menghadap bocah itu. Gadis kecil seperti Jun tidaklah mengerti apa pun tentang
semua yang terjadi detik ini.
“Kei, bawa semua perempuan dan anak-anak ke tempat yang aman!” titah Jason kepada dokter muda itu.
“Tapi, apa tidak sebaiknya kita meninggalkan spot ini untuk sementara waktu?” tanya Kei cekatan. “Kau bisa lihat para burung besi itu, ‘kan? Kau sudah pernah melihat dan mengalami sendiri bagaimana kekuatannya.”
Jason meneguk liur. Ia terdiam sejenak. “Kuserahkan mereka padamu,” titahnya, “aku butuh bantuanmu, Kei.”
Kei tersentak. Mudah sekali bagi Jason menunjuk langsung dirinya. Namun, di lain sisi, dirinya menyetujui demi
keselamatan para penghuni spot tersebut. Sepersekian detik selanjutnya, ia mengangguk mantap dan bergegas menjalankan amanah dari pria itu.
“Aku ikut kau,” sahut Adara pada Jason.
Jason beralih memandang Adara. Sesekali ia memandang Jun dengan raut wajah cemas.
“Ini bukan situasi yang baik, Adara,” katanya. “Kau dan Jun harus berada di tempat yang aman.”
“Tapi ....” Adara mencoba menyela ucapan pria itu, tetapi urung setelah Jun kembali menarik pakaiannya.
Sejenak, Adara memperhatikan bocah itu., lalu kembali menatap Jason. “Bagaimana dengan Jo?” tanyanya cemas.
“Kau tak perlu khawatir,” timpal Jason. “Jo tak akan mengontrol Clibanarii untuk sekarang.”
Adara memandang Jason amat lama, sebelum akhirnya ia mengangguk dan membawa serta Jun ke tempat yang aman. Ia juga turut membantu Kei untuk mengamankan beberapa orang lainnya.
Jason kembali ke hanggar di mana ia bisa melihat beberapa orang telah siap siaga. Sebagian memasuki kokpit Clibanarii mereka, dan yang lain terlihat menuju ke hanggar lainnya demi menyiapkan Artileri Swa-gerak*.
“Letnan!” seru Jo sembari menghampiri Jason yang hendak masuk ke kokpit salah satu Clibanarii.
Jason mengurungkan niatnya dan berbalik memandang pemuda itu. “Ada apa?” tanyanya.
sudah belajar, kok!”
Pria itu bergeming dan berpikir sejenak. “Tidak, Jo,” jawabnya, “ini bukanlah permainan genre survival yang biasa
kau mainkan.”
“Tapi, Letnan—”
“Tidak.” Jason kembali menimpali. “Lebih baik kau lindungi adikmu. Ia mencarimu sejak tadi.”
Jo terkesiap. Tangannya seperti tidak berhenti gemetar. Ia setengah tertunduk meratapi dirinya. Sementara, Jason malah justru menghampiri pemuda itu dan sigap mendaratkan kedua tangannya ke pundak Jo dengan mantap.
“Berlatihlah yang cukup,” kata pria itu, “giliranmu pasti akan tiba.”
Jo mengangkat pandangannya. Matanya membinar diiringi anggukan kukuhnya.
“Tapi ....” Jason berpikir sejenak. “Apa kau bisa mengendarai APC**?” tanyanya kemudian.
“Iya, tentu saja aku bisa,” jawab Jo tangkas. “Sebelumnya, aku pernah membawa APC untuk mengangkut korban
pascabencana dan membawa mereka ke spot yang aman.”
Jason tersenyum tipis, berhasil mendapatkan sesuatu yang ia inginkan detik ini. “Baiklah!” timpalnya sembari berkacak pinggang dan memandang binar pemuda di depannya, “aku punya tugas untukmu.”
***
Derap langkah kaki big humanoid robot mulai terdengar meninggalkan hanggar. Para Clibanarii tersebut keluar spot demi melindungi area yang berisi penduduk aliansi timur dari serbuan misil beberapa burung besi aliansi barat. Misil mulai diluncurkan, berturut-turut sejak beberapa menit yang lalu. Beruntung sekali Jason yang merupakan satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas spot itu bergerak cepat. Ia mampu mengulur waktu agar para penduduk spot bisa naik APC untuk menuju ke tempat yang aman. Beberapa Clibanarii tampak mengiringi lima kendaraan pengangkut tersebut.
Jason menghela napas sejenak. Bola matanya tersorot serius menatap ke depan. Beberapa tombol di meja kokpit dan tuas pengontrol telah siaga di dekatnya. Salivanya tertelan sejenak, membasahi kerongkongannya yang mengering. Ia sadar, sejak tadi dirinya belum meneguk satu pun minuman yang bisa melegakan organ pentingnya itu.
Beberapa detik ia bergeming. Netranya terus bergerak memandang ke segala arah memantau keadaan. Sesekali kedua tangannya menarik dan menggeser tuas di dekat kursinya demi menembak misil atau bergerak tangkas di tanah tandus itu. Sementara, burung besi milik aliansi barat masih terus bermanuver sembari meluncurkan misil mereka dan hampir mengenai Clibanarii milik Jason.
“Cih! Sial!” sungut pria itu geram.
Ia kembali meluncurkan misilnya, berkali-kali. Sampai akhirnya, sebuah layar muncul di hadapannya dan memancing fokusnya.
“Kapten!” seru seorang wanita dari balik earphone yang dikenakan Jason.
“Ada apa?” tanya pria itu, masih sembari menembakan misil melalui tuas pengontrol di dekatnya.
“Kami mengirimkan sinyal pelacak pada Anda,” ucap wanita itu. “Anda bisa melacak keberadaan kami berdasarkan
sinyal tersebut.”
Jason mengerutkan keningnya. “Kalian ... sudah pergi?” tanyanya ragu.
Gemerisik sejenak menghampiri alat pendengarannya, dan kemudian berganti menjadi suara pria yang Jason kenal.
“Pusat mengirimkan pesan kepada kita lagi,” ucap pria itu.
“Kei?” tebak Jason.
“Ya,” timpal dokter tersebut.
“Apa isi pesannya?” tanya Jason lagi.
“Pusat telah mengirimkan bantuan. Tapi kita harus bergegas ke pangkalan cabang untuk memberitahukan titik lokasi spotnya,” jawab Kei tangkas, “aku dan yang lain akan berjalan ke sana untuk memberitahukannya.”
“Bersama para pengungsi?”
“Hm,” jawab Kei seraya mengangguk.
Jason berpikir sejenak. “Kami akan mengawal kalian,” ucapnya, “sebaiknya kita ke pangkalan cabang bersama-sama.”
***
*Artileri Swa-gerak: Meriam artileri yang merupakan alat transportasi terintegrasi dengan roda rantai atau roda biasa. Ia bisa mengikuti kecepatan meriam berlapis baja lain, dan bisa bergerak demi mencapai jangkauan
dengan cepat, serta menghindari serangan artileri balasan dan serangan senjata ringan.
**APC :Armoured Personnel Carrier atau kendaraan tempur lapis baja yang digunakan untuk mengangkut personel/pasukan. Dalam cerita ini APC digunakan untuk mengangkut pengungsi/warga spot dan membawa mereka ke tempat yang aman.