
Batuk beberapa kali terdengar bahkan suara serak lagi-lagi terlontar dari mulut Jo sejak beberapa jam yang lalu mereka sampai di sebuah reruntuhan gedung. Hampir saja Jo muntah jika ia tidak menahan gejolak di perutnya. Sekarang, ia hanya bisa bersandar lemah di dinding gedung yang sudah penuh dengan retakan itu.
Singkat cerita, Jo membawa serta Jun dan Adara kabur dari kamp saat penyerangan beberapa waktu lalu. Mereka lari tanpa tahu arah. Jo hanya berharap jika ia bisa menyelamatkan adik dan gadis yang bahkan tidak pernah ia sangka bisa bertemu dengannya. Beruntungnya, masih tersisa beberapa botol obat penawar—Jo tidak tahu sebutannya apa—sehingga Jun bisa disembuhkan.
“Kakak tidak apa-apa, ‘kan?” Jun mendekati tubuh Jo yang semakin lemah. Napas pemuda itu kian memburu bersama degup jantungnya. Keringat dingin sudah mulai mengucur deras sejak beberapa menit yang lalu. “Kakak minum obatnya, ya?”
“Kau harus meminumnya juga, Jo.”
Adara mengambil sebuah botol mungil dari dalam ransel yang dibawa Jo.
“Tidak. Tidak usah.”
Jo membuang muka, menghindari botol tersebut dan berusaha bangkit sekuat tenaga. Namun lagi-lagi ia ambruk.
Lunglai dan mati rasa mulai merambati sendi indera geraknya perlahan.
“Sudah kubilang, kau harus meminumnya!”
“Kak, diminum obatnya.” Jun menyahut cemas. Netra bulat gadis kecil itu mulai berkaca-kaca menatap Jo.
Adara menggigit tepi bibirnya. Merasakan betapa sulit situasinya kini. “Kau harus meminumnya, Jo. Jika tidak ....”
“Jika tidak?” Jo menyela sembari meringis mengontrol napasnya yang kian sesak. “Kau sendiri belum meminumnya
sejak tadi. Aku hanya bawa lima dan kau harus minum dua botol jika tak mau efek gas beracun tadi menyakiti tubuhmu.”
Gadis itu tersentak. Bibirnya mengunci sekejap.
“Berikan aku satu saja!”
Jo merebut kasar botol mungil di genggaman Adara dan bergegas meneguk habis isinya. Beberapa menit ia bergeming, mengatur ritme napas dan degup jantung. Pikirannya kian merumit, tapi ia berusaha untuk mengabaikan hal tersebut. Bagi Jo, tidak seharusnya seorang pria turut kalut terbawa perasaan jika sedang bersama wanita, atau bahkan anak-anak. Setidaknya, ia harus berani dan mampu membawa Adara dan Jun ke spot lain di wilayah yang sudah seperti neraka abadi ini.
“Aku akan mencari air,” ucap Adara sembari bangkit.
“Kau mau cari ke mana, huh?” sahut Jo. “Jangan pergi sendirian! Kau tak tahu jika selama ini aliansi barat telah
mengirim pasukan untuk menyerang laten rumpun aliansi timur yang masih hidup. Tak ada suara dalam penyerangan, dan itu cukup berbahaya. Jadi jangan ke mana-mana selagi aku mengatur napas, Adara.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” lirih gadis berkucir itu. Setengah menunduk untuk menunjukkan betapa cemas dan takut dirinya saat ini.
Jo memandang gadis itu, meresapi setiap detik rasa yang tersalur padanya. Embus napas panjang menyembul dari
kedua lubang hidungnya sesaat kemudian. “Duduklah!” titahnya melirih. “Ada banyak hewan liar yang berkeliaran di luar sana. Duduklah di dekatku jika kau tak ingin mereka memancing orang-orang licik itu kemari.”
Adara berbalik dan memandang Jo penuh kegetiran. Jun sudah tertidur dalam pelukan hangat kakaknya itu. Untuk
sekian kalinya, Adara kembali kalut melihat situasi ini. Getir penuh pengharapan. Ia menoleh keluar sejenak, melihat senja yang kian meluas. Disusul kicau burung yang tengah bermanuver ria di langit.
Gadis itu tertunduk. Sirat harap kembali meraut di rupanya. Ia kembali mengigit tepi bibir. Perasaannya teramat
kacau, mengharapkan seseorang yang tidak tahu keberadaannya kini.
“Adnan. Kau di mana?”
***
Adnan duduk tepat di sebelah jendela kaca tebal yang bisa membuat dirinya memandang kekosongan ruang tidak
terbatas di luar sana. Hanya ada padang tandus dengan beberapa runtuhan bangunan masih terlihat. Berbagai tanaman dan pohon masih bisa tumbuh dan bertahan hidup dengan sisa-sisa zat gizi di sana. Masih berjarak beberapa bulan sejak bencana mega itu terjadi, dan wilayah ini sama sekali belum terlihat perkembangan yang pasti untuk bangkit dari keterpurukan, bahkan ditambah dengan kuasa aliansi barat yang berhasil menduduki beberapa bagiannya.
Pemuda bersurai hitam itu masih mengenakan setelan militer usai melaksanakan tugas. Tidak bisa menolak, dan
juga tidak bisa dianggap pasrah. Adnan melakukannya semata-mata karena ia sendiri pun tidak ingin dua aliansi yang selalu dilanda kontra itu menghakimi dirinya. Memegang identitas dua kewarganegaraan adalah yang tersulit untuk saat ini, dan hal itu harus benar-benar disembunyikan jika ia tidak ingin situasi semakin kacau.
Lagi. Ingatannya mengenang pada seorang gadis. Ya, gadis yang ia kenal sejak lama. Seseorang yang ia kasihi dan tidak tahu keberadaannya kini. Adnan menunduk, meratap pada secangkir kopi susu hangat di depannya. Matanya menyelisik setiap gelembung busa yang masih tersisa di sana.
“Adnan?”
“Kau sedang apa?” Erick bertanya sembari menempatkan dirinya di kursi yang berseberangan dengan kursi milik
rekannya itu. “Akhir-akhir ini kau banyak melamun,” imbuhnya.
Adnan terdiam. Ia mengangguk lemah membenarkan pernyataan Erick.
“Kau masih memikirkannya?” tanya pemuda berambut cokelat itu lagi.
Adnan mengangguk kembali. Dibalas anggukan pula oleh Erick.
“Aku sedang mencari data yang valid mengenai warga negaramu yang masih hidup. Seharusnya mereka mengirimnya ke Cosmo untuk pendataan. Tapi ... aku sama sekali tak menemukannya,” papar Erick sedikit ragu. “Apa aliansi timur merencanakan sesuatu untuk mengubah keadaan?”
Pemuda bersurai hitam itu masih bergeming.
“Adnan?”
Erick mengerutkan kening, mencoba untuk memahami setiap jengkal pemikiran rekannya. Semenjak peristiwa besar itu, Adnan jauh lebih sering mengunci mulut dan seakan menyembunyikan sesuatu darinya. Padahal jelas-jelas ia tahu mengenai identitas asli pemuda itu.
Apa ... karena ini menyangkut Adara—gadis yang selalu diracau olehnya?
***
Mata terang yang kini sedikit sayu itu memandang ke langit dunia. Gelap dengan bintang-kemintang bertebaran
mengisi kekosongan malam. Kedua netra itu kini menunduk sendu, seraya memikirkan setiap detik kehidupan yang dijalaninya. Setidaknya—untuk malam ini—ia berhasil mengumpulkan dingin yang semakin menusuk pori-pori kulit.
Adara bergidik, semakin kedinginan. Kedua lengannya saling bersilang memeluk tubuhnya. Sesekali ia
mengembuskan napas untuk mengatur suhu tubuh agar tidak hipotermia. Sementara, tidak jauh dari tempatnya meringkuk, Jo terlelap memeluk Jun yang sejak tadi ingin menangis. Beberapa kali Jo terlihat berusaha menenangkan adik kecilnya yang tampak ketakutan itu. Untuk bocah seusia Jun memang tidak seharusnya
merasakan getir pahit kehidupan semacam ini. Ditinggalkan oleh orangtua dan hidup terlunta-lunta. Orang dewasa pun acap kali merasa duka dan ingin mengakhiri hidupnya.
Gadis berkucir itu kini kembali menghadap langit. Memikirkan lagi bagaimana kehidupannya selanjutnya. Salah
satu tangannya terangkat, seperti hendak menggapai langit. Jemarinya melingkar layaknya membentuk sebuah teropong. Selang beberapa detik kemudian, telunjuk dan jempolnya seperti sedang menggapai sebuah bintang besar yang bersinar paling terang di langit.
Adara tersenyum getir. “Kau sudah seperti bintang. Menggapai pun aku tak bisa. Lalu bagaimana aku bisa bersama
denganmu?” gumamnya.
Di lain tempat, pada detik yang sama, Adnan turut memandang ke arah langit setelah ia menyelesaikan obrolannya
dengan Erick. Ia memilih untuk bersandar pada tepi pangkalan yang ditinggalinya kini. Sebuah bintang besar menarik perhatiannya, semakin membuat pikirannya lagi-lagi melanglang buana merujuk pada gadis yang masih ia cari sampai sekarang.
Sial sekali jika aku jadi bintang itu. Aku akan selalu jauh dan tidak bisa bersama denganmu. Adara.
Adnan menatap kilau bintang tersebut. Embus angin malam menerpa helai surai hitamnya sampai menyibak,
menutupi sebagian wajahnya. Helaan napas tercipta sepersekian detik selanjutnya. Kesal, dan juga ingin rasanya melarikan diri saat ini juga.
Akankah aku jadi bintang yang selalu menyinarimu? Aku terlalu bodoh untuk menyayangimu di saat-saat seperti ini. Bahkan kuanggap jika rasa ini hanyalah kecemasan belaka.
Namun, Adnan kembali memandang langit berhias serabut galaksi di atasnya. Kedua netranya menyelisik kerlip
bintang di sana.
“Cemas dan rindu,” gumamnya, “apa aku sedang merasakan keduanya?”
***