
Adnan berdiri memaku, menunggu seseorang keluar dari hanggar. Pandangannya lurus menatap kesibukan orang-orang di luar sana. Sementara, seorang pemuda mendadak menghentikan langkah tatkala melihat Adnan berdiri di hadapannya. Tentunya dengan pandangan yang tidak mengarah kepadanya sekarang.
“Kuharap Analemma senang kau berkesempatan mengontrolnya,” ucap Adnan. Tampaknya, ia telah menyadari seseorang yang ia kenal berdiri tidak jauh dari posisinya.
Erick—pemuda itu—bergeming dalam posisinya kini. Sampai akhirnya, Adnan berbalik menatapnya.
“Katakan pada Komandan jika aku menyetujui keputusannya,” kata Adnan.
Erick tersentak. Netranya melebar dan mulutnya tercekat seketika.
“Aku tak tahu keinginannya ... dan juga keinginanmu,” ucap Adnan kembali. “Mungkin ini kesalahanku, karena
seharusnya aku tidak di sini.”
“Tidak!” sergah Erick tiba-tiba. “Tidak akan.”
Adnan mengerutkan keningnya. “Hm? Ada apa?” tanyanya.
“Jangan berlagak bodoh! Kau tahu apa yang akan ayahku lakukan jika kau menerima keputusannya, ‘kan?! Jangan seperti orang bodoh di hadapanku, Adnan!” bentak Erick tanpa jeda.
Pemuda berambut hitam itu masih memandangi Erick. Helai surainya yang diterpa embusan angin hampir menutupi separuh wajahnya.
“Kalau kau menyetujuinya, kau ....” Erick menggantung ucapannya. Emosinya kian meledak di tengah kalut pikiran yang semakin memenuhi otaknya.
Adnan berpikir sejenak. “Aku akan dikembalikan ke Cosmo,” katanya, “iya, ‘kan?”
Erick bergeming. Tubuhnya seakan lemas tiba-tiba. Adnan benar-benar sudah mengetahui resiko yang akan ia hadapi. Berbeda dengan dirinya yang kini masih berusaha mencari jati diri yang seolah lenyap tanpa jejak.
“Yah, mungkin sudah waktunya, sih.” Adnan kembali membuka mulutnya. “Aku juga tak tahu apa yang akan
kulakukan di sini jika aku saja tak boleh menyentuh perangkat ataupun mengakses jalur ke mana pun di pangkalan ini. Dan juga ... perlahan, pasti aku akan berpisah dengan Analemma—”
“Tidak!” hardik Erick. “Kau takkan aman di Cosmo, Adnan. Orang-orang akan menghakimimu di sana!”
“Lalu ... apa? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Adnan. “Apa kau akan memohon pada ayahmu seperti seorang
bocah?”
Erick meneguk ludah. Ia terpaku.
“Kita bukan bocah lagi. Kita juga bukan pelajar lagi, Erick,” kata pemuda di hadapan Erick itu. “Kita adalah prajurit. Pejuang. Ada kalanya kita rekan, dan ada waktu kita menjadi rival.”
“Sejak awal, aku tahu resiko dari semua hal yang kulakukan. Entah itu baik, ataupun buruk bagiku tak masalah,
karena aku sudah mempersiapkan semuanya,” ujar Adnan kemudian. “Perang ini pun bagiku tak ada artinya. Untuk apa aku menyerang kelompok asalku, dan untuk apa aku membela musuhku sendiri. Dan untuk kebencianmu terhadap aliansimu ... kuharap kau menanggalkannya.”
Embusan napas sejenak keluar dari hidung Erick. “Adnan,” panggilnya.
Pemuda bersurai hitam itu menatap lurus kepada Erick. Emosinya yang bergejolak sengaja ia tahan. Saliva
berkali-kali ia teguk seperti kerongkongannya sudah mengering lama. Tangannya mengepal, dan entah kenapa ia malah menahannya agar tidak melayang ke kepala pemuda di hadapannya itu.
Adnan kesal. Berkali-kali kesal karena rekannya itu malah menjauh darinya kini. Ia sudah merasa jika Erick benar-benar akan mengkhianatinya. Namun ia berusaha mengurung perasaan buruknya itu dan menganggap seolah semua yang terjadi karena kesalahannya.
Pemuda itu berlalu, melenggangkan tungkai pergi dari posisinya. Sementara, Erick yang belum sempat mengucapkan sesuatu pada Adnan, kini hanya menganga menatap kepergian pemuda tersebut. Erick terpaku dalam posisinya kini. Terdiam, bergeming dalam cekat yang ia rasakan.
“Dia berada di Cosmo. Kuharap kau tak mengetahui soal Clibanarii itu, Adnan,” desisnya miris.
***
“Kau benar-benar tak tahu terima kasih!” sergah Hubert.
Pria itu bangkit dari kursi. Sorot matanya tajam menatap lurus ke arah pemuda bersurai hitam yang berdiri tidak
jauh darinya.
“Mudah saja mengembalikanmu ke Cosmo. Tapi apa kau tidak lupa dengan tanggung jawabmu, huh?!” bentaknya lagi.
Adnan bergeming. Tatapannya setengah tertunduk dengan perasaan yang sudah bercampur-aduk memenuhi relung hatinya.
“Saya akan melakukan yang terbaik, yang bisa saya lakukan di Cosmo nanti,” katanya masih setengah tertunduk.
Hubert mendecih di sela seringainya yang terbentuk sempurna. “Kalian sama saja,” ucapnya seraya melangkah mendekati pemuda tersebut.
“Kau pikir untuk tujuan apa kau bergabung dengan kami, lalu berada di sini, huh?” selisiknya tajam. “Merebut
semua hak kami seperti yang dilakukan ayahmu, ‘kan, Tuan muda Harris?”
Adnan sigap mengangkat pandangan. Matanya hampir saja melebar tatkala mendapati kedua netra Hubert yang sudah berada tepat di depannya. Ia baru menyadari kalau pria itu telah berdiri cukup dekat dengannya.
Hubert kembali mengernyih. “Miris sekali jika aku tahu tujuanmu adalah itu,” katanya, “menurutmu, memangnya kau
bisa apa jika kau kembali ke Cosmo? Hm?”
Saliva Adnan tertelan sejenak. Dirinya terpaku amat kuat, kokoh pada posisinya. Sementara, matanya masih memandang dengan cermat pria bersurai cokelat yang kini berjalan mengelilinginya itu.
Sebuah hantaman keras mengenai punggung pemuda itu dan membuatnya tersungkur seketika. Adnan hampir saja
mengerang karena hantaman itu mengenai bekas lukanya yang belum sembuh total. Ia meringis menahan rasa sakit. Nyeri hebat merambati seluruh tubuhnya seketika.
Adnan tidak tahu apakah dirinya bisa bangkit sekarang, atau tidak sama sekali, karena detik ini Hubert mendaratkan salah satu kakinya tepat di bekas luka yang tersembunyi di balik seragam pemuda itu.
“Lima tahun lalu ... kuharap kau tak lupa kenapa aku membenci ayahmu,” ucap pria berambut cokelat itu.
Adnan meneguk liur dengan paksa, membasahi kerongkongannya yang tercekat akibat menahan rasa sakit. Ia lebih memilih untuk bungkam dan membiarkan pria itu berbicara sambil menyiksanya. Ini lebih baik, daripada harus menguping pembicaraan orang lain dari balik bilik rawatnya.
Beberapa menit, Hubert bergeming. Ia membiarkan tungkainya berada di punggung pemuda itu, sebelum sekian detik kemudian seseorang menghentikan aksinya. Putranya—Erick— tiba-tiba masuk ruangan dan memekik ke arahnya.
“AYAH!!!”
Hubert lantas melepas jeratan sakit pada punggung pemuda yang ia injak barusan.
Sementara, putranya langsung menghampiri dan memeriksa keadaan Adnan. Erick tahu benar kondisi pemuda itu kini. Akibat tingkah konyol ayahnya tadi, Adnan kini melemah tidak berdaya. Ia bisa membayangkan jika tulang punggung yang belum sembuh benar, dihantam kembali, berkali-kali, dan rasa sakitnya bisa saja merangsang ke saraf sumsum tulang belakang hingga melemahkan kemampuan motorik pemuda tersebut.
Hubert mendecih, tidak tahan melihat putranya masih peduli kepada pemuda yang ia benci itu. “Pernyataanmu
telah disetujui,” ucapnya merujuk pada Adnan, “kau bisa menunggu sampai kami mengembalikanmu ke Cosmo—”
“Ayah!!!” hardik Erick sekejap. Matanya menyalang ke arah ayahnya sendiri.
Sementara, pria bersurai cokelat itu sepersekian detik menoleh menatap tajam pada Erick. “Kau harus tetap berada
di sini sampai perang usai,” titahnya. “Jangan lupa kalau kau seorang kapten kini.”
Hubert memungkasi ucapan, sebelum sekian detik selanjutnya ia berlalu meninggalkan ruangan kerjanya itu. Erick kembali meratapi Adnan yang masih bergeming di dekatnya. Tubuh pemuda itu tidak bergerak sedikit pun. Dalam kesakitannya, ia masih bisa melirik tipis ke arah Erick yang hampir saja menangis.
“Jangan cengeng, Bodoh!” cela Adnan serak. Ia masih meringis menahan kesakitan yang mungkin saja kini telah mematikan saraf perasa di tiap sendi pertulangannya.
Erick bergeming. Ia menunduk, tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Celaan Adnan bahkan tidak berefek
padanya detik ini.
“Mungkin ... aku akan mencari Adara ... dengan cara lain,” ucap Adnan.
Pemuda bersurai cokelat itu sontak mengangkat pandangan, menatap Adnan yang terbaring di dekatnya.
“Kenapa kau masih memikirkan gadis itu, huh?” cercanya. “Bodoh sekali!”
Adnan tersenyum tipis. “Dia adalah sahabatku sejak kecil,” katanya, “aku ... tak mungkin melupakannya begitu saja.”
Erick bergeming. Bola matanya masih tegar menatap pemuda itu.
“Aku tak peduli ia hidup ... atau mati,” ucap Adnan kembali. “Aku harus yakin ... kalau aku bisa menemukannya.”
Adnan memejamkan netra, merangkul seluruh hal yang bisa ditangkap kesadarannya kini. Harum aroma ruangan,
tubuhnya, dan Erick, semuanya menyatu dalam satu embusan napas. Ia kembali tersenyum.
“Aku merindukannya,” lirihnya, “Yusagi ... Adara.”
***
Adara lantas melemparkan pandangannya keluar jendela. Gadis itu masih terduduk di dekat sebuah monitor besar di ruangan yang sama ketika ia mencoba menghubungi orangtuanya di pusat. Manik mata terangnya yang sejak beberapa waktu lalu fokus memandangi layar, kini bagai terarah oleh sesuatu yang menarik perhatiannya.
Dari luar sana.
Di balik bentangan mega biru tersebut.
Di belahan wilayah lain yang tidak ia ketahui keberadaannya.
Kedua telinganya mendengar seseorang memanggil namanya.
Amat lengkap.
Amat jelas.
Gadis itu tidak bisa menerka pemanggilnya. Tangannya mengepal, menyentuh dada. Degup jantungnya lantas bergemuruh. Ia pun tidak bisa menebak sesuatu yang kini tengah dirinya rasakan. Semuanya seperti bercampur-aduk dalam sebuah kekalutan yang tiada terbatas.
Ia berpikir sejenak. Sesekali mengarahkan matanya keluar jendela, dan juga beralih ke ruangan di mana hanya ada dirinya dan beberapa teknisi tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Sampai akhirnya, sesuatu menyurai fokusnya.
Sebuah notifikasi muncul dengan jelas di monitor besar yang ada di dekatnya. Matanya melebar, sebelum sekian
detik kemudian ia berlari keluar ruangan demi menemui seseorang.
“Letnan Jason!!!” pekiknya, “ada pesan balasan dari pusat!”
***