AST

AST
PHASE 31 . PUSAT ALIANSI TIMUR



Koloni yang dipimpin oleh Jason dan dibantu oleh beberapa burung besi serta Clibanarii dari pusat itu akhirnya sampai di pusat aliansi timur. Sebuah bangunan berbentuk brankar di mana setengah lingkaran bagian atasnya menyembul ke permukaan tanah. Butiran putih yang menjadi ciri khas dari area tersebut terlihat menumpuk di sekitar bangunan.


Adara mengernyit. Dia mengedarkan pandangan pada layer dashboard di APC yang dinaikinya bersama Jo. Sungguh, baru kali ini dia melihat secara jelas pusat aliansi timur dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan, Jo yang berada di sampingnya pun juga menunjukkan raut wajah yang sama.


“Aku tidak percaya berada di sini sekarang,” gumam pemuda tersebut.


Suasana berubah ketika gerbang besar terbuka. Burung besi dan para Clibanarii masuk melalui celah yang terbuka


di bagian atas bangunan tersebut. Sementara itu, sisanya melewati gerbang utama. Mereka masuk dan meninggalkan jejak transparan di area bersalju di luar sana.


Adara turun beberapa menit kemudian. Maniknya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Di dalam justru


terasa lebih ramai daripada di luar sana. Koridor-koridor tampak seperti cerobong horizontal yang entah mengarah ke mana. Banyak Clibanarii berukuran kecil yang beroperasi di ruangan utama tempat dirinya turun.


“Kau terpana?” sahut seorang pria yang juga baru saja turun setelah memarkirkan Clibanarii-nya.


Gadis berambut hitam itu menoleh. “Ah, Kapten.”


Jason mengendikkan sebelah alis. “Ini juga kali pertamanya aku kemari setelah 5 tahun berlalu,” ujarnya sembari menyebarkan pandangan, lalu menghela napas. Sorot matanya berubah sendu.


“Aku tahu,” timpal Adara, membuat pria itu menoleh kepadanya dan mengangguk.


“Sebaiknya, kita harus mencari ibu—” Belum saja Jason menyelesaikan ucapannya, netranya menangkap seorang


wanita yang baru saja masuk ke hangar utama.


Wanita itu berhenti sekitar 10 meter dari mereka. Jas laboratorium yang masih dikenakannya tampak membuat


kesan elegan di diri wanita tersebut. Dia melepas kacamata ketika Adara menatapnya.


“Ibu?”


Jelas saja, wanita itu langsung menghambur memeluk putri tunggalnya. Sangat erat. Entah sudah berapa lama mereka tidak melakukan hal semanis ini mengingat keduanya hidup terpisah sejak kematian satu-satunya pria dalam keluarga.


“Kau membuat putrimu tidak bisa bernapas, Naomi,” sahut Jason.


Yusagi Naomi, wanita itu, segera melepas pelukannya. Dia mengamati dengan jeli rupa gadis yang berdiri di


depannya sekarang, menyentuh lembut pipinya dan mengusap perlahan tiap helaian rambutnya.


“Bagaimana kabar Ibu?” tanya Adara.


Naomi tersentak. “Seharusnya Ibu yang bertanya begitu,” jawabnya, lalu menghela napas. Dia menatap Jason.


“Sebaiknya, kita ke ruanganku saja,” katanya.


Adara menoleh kepada Jason yang merespons anggukan padanya.


Tak lama, Adara dan Jason sudah berada di ruangan Naomi. Sebelumnya, mereka mengatakan pada Kei dan Jo


agar tidak mencari mereka nantinya. Dua pria itu tentu saja hanya mengangguk mengiyakan karena sibuk dengan para pengungsi dan aktivitas baru mereka di pangkalan ini.


Adara lagi-lagi menyebarkan fokusnya. Ruangan Naomi benar-benar sangat privasi. Dia harus melewati salah


satu koridor dan naik lift, lalu turun entah sampai lantai ke berapa, sebelum akhirnya melewati koridor lagi dan berhasil masuk ke sana. Cukup melelahkan, tetapi ini lebih baik daripada harus bertahan hidup di luar sana. Kalau diingat lagi, perubahan dari area panas ke dingin di mana pangkalan pusat ini berada cukup ekstrem.


“Apa ruangan ini yang membuatmu betah?” Jason mengawali obrolan setelah merebahkan diri di sofa.


Naomi tertawa kecil. Dia mengambil nampan berisi teko dan beberapa gelas dengan sepiring camilan dan


membawanya ke meja. Tidak lupa menuangkan teh lemon ke cangkir masing-masing.


“Minumlah selagi hangat,” katanya.


Jason menyesap sedikit dan menghela napas lega. “Aku tidak ingat kapan terakhir kali merasakan teh mahal ini,” katanya.


“Teh mahal?” sahut Adara, lalu meminum teh miliknya.


“Untuk para pejuang, harga teh lemon memang mahal, termasuk di sini,” jawab Naomi. “Kecuali, kau punya pangkat


dan bisa mendapatkannya dengan mudah.”


“Tapi, bagaimana bisa?” Jason menegapkan tubuh. “Bagaimana bisa kalian bertahan tidak keluar dari tempat ini


selama itu?”


Naomi terdiam. Pandangannya tertuju pada teh lemon miliknya di meja. “Banyak yang harus kami lakukan di sini, Jason,” jawabnya. “Semua proyek yang berkaitan dengan peperangan yang berkecamuk. Kami harus menyiapkan semuanya sedetail mungkin.”


“Terima kasih sudah menyelamatkan dan menjaga Adara sampai kemari,” imbuh perempuan berambut pendek itu.


Jason menatapnya, lalu memandang Adara. “Putrimu menyelamatkan dirinya sendiri, Naomi,” timpalnya.


Adara terdiam. Dia meletakkan cangkir teh di meja. “Kalau saja bukan karena keinginan terbesarku, aku mungkin tidak akan berjuang sampai sejauh ini,” ucapnya.


Semua diam, merengkuh atmosfer ruangan. Helaan napas Jason lolos begitu saja. Dia mengangguk.


“Yang terpenting adalah … kita semua sudah berada di sini sekarang,” ucap pria itu.


Naomi memandangi sang putri yang sudah 5 tahun tidak ditemuinya. Dia menghela napas. “Bagaimana? Apa kau


sudah bertemu dengannya?” tanyanya.


Adara sontak mengangkat pandangan. “Dengan … siapa?”


Jason mengamati interaksi ibu dan anak tersebut, sembari berpikir. “Mungkin … orang yang coba kau hubungi


saat masih di Spot Ankaa kemarin? Selain ibumu?” sambungnya.


Gadis bermata cokelat itu sedikit terhenyak. Dia terdiam dengan pandangan ke arah meja, lalu menggeleng.


“Kami terpisah,” jawabnya.


“Terpisah? Bukankah dia pulang?” tanya Naomi lagi.


“Kami memang ingin bertemu, tapi … bencana di hari itu ….” Adara tidak melanjutka ucapannya ketika menatap


raut wajah sang ibu yang paham denga nisi hati dan kalimat selanjutnya.


“Ibu minta maaf,” lirih Naomi. “Harusnya aku bisa mengira jauh-jauh hari supaya Adnan bisa kembali tepat waktu.”


Jason sontak mengernyit. “Adnan?” selisiknya.


Wanita berkacamata itu mengangguk. “Adnan. Kau pasti mengenal ayahnya, Jason. Ayahnya adalah teman baik Richard.”


“Siapa? Siapa Namanya?”


berondong pria yang rambutnya tidak pernah rapi itu.


Adara meneguk liur. “Reynald Harris,” jawabnya. “Nama ayah Adnan adalah … Reynald Harris, professor dari aliansi barat.”


Tak pelak, mata pria itu membola. Ingatannya seperti dibawa kembali ke beberapa tahun silam di mana dia pernah melihat interaksi antara Richard dengan seseorang. Pria berambut hitam itu, Jason ingat sekali. Matanya yang sebiru lazuardi samudera menghipnotis banyak orang yang bertemu dengannya.


“Sayang sekali, ya,” lirih Naomi. “Mereka sudah ….”


“Sudah apa?” tanya Jason. “Apa Reynald juga sudah ….”


Naomi hanya mengangguk menimpali. Cukup jelas dari raut wajahnya yang tidak dibuat-buat.


“Tapi ….” Adara menyahut. “Kita tidak pernah tahu penyebab kematian Profesor Harris. Kalau Ibu ingat, dia meninggal sebelum agresi militer itu, ‘kan?”


Wanita berambut pendek itu kembali mengangguk. “Ibu juga sempat menyalahkan kematiannya yang menyebabkan ayahmu tidak fokus saat misi terakhirnya,” ucapnya. “Mereka berdua sangat dekat.”


Dalam bungkamnya, Jason mafhum bagaimana hubungan antara dua orang di depannya dengan dua pria yang tengah dibicarakan. Sebuah misteri kematian Reynald Harris yang bahkan tidak diketahui banyak orang.


“Lalu, bagaimana dengan Adnan?” tanyanya kemudian. “Tadi kau bilang kalau Reynald adalah pendukung aliansi


barat. Apakah Adnan juga seperti dia?”


Naomi mengarahkan pandangan pada Jason. “Aku tidak tahu, Jason,” jawabnya. “Tapi, terakhir kali yang kutahu, Adnan hanya memiliki identitas dari aliansi timur. Aku tidak tahu apa yang anak itu lakukan selama 4 tahun dirinya di Cosmo.”


Jason lantas mengerutkan kening. “Dia … di Cosmo?”


“Adnan menempuh pendidikan militer di sana atas dasar wasiat ayahnya,” jawab Naomi. “Seharusnya, tahun ini


dia sudah kembali dari sana, tapi … mengingat bencana yang terjadi beberapa waktu lalu, ada beberapa kemungkinan ….


“Bisa saja dia … tiada atau … ah, aku benar-benar tidak bisa berpikir bagaimana jika ternyata kemungkinan keduaku lebih mendominasi,” lanjutnya.


“Apa maksudmu?” Jason masih berusaha menguak tabir yang disembunyikan oleh Naomi.


Wanita 40 tahun itu menghela napas. “Dia kembali ke Cosmo dan … aku hanya takut jika dia terlibat dengan penyerangan koloni kita akhir-akhir ini.”


***