
Sementara, Erick mengembalikan posisi Analemma dengan moncongnya mengarah ke pesawat hitam tadi. Ibu jarinya hendak menekan ke sebuah tombol di atas tuas pengontrol di dekatnya.
“Hanya menembaknya, ‘kan?” tanyanya pada diri sendiri, memastikan agar dirinya tidak salah menerka titah sang ayah.
Adnan sontak berdiri dari kursi dan bergerak dengan cepat menuju kokpit pesawat. Ia menggebrak pintu ruangan tersebut hingga terbuka dan mengejutkan pilot beserta kopilot.
“Apa bisa lebih cepat?!” tanyanya menggebu. Kedua matanya melebar, diiringi ritme napas yang memburu.
“Apa yang kau lakukan?!” gertak sang pilot, disusul kopilot yang bergegas bangkit dan menahan langkah Adnan.
“Kembalilah ke ru—”
“Kita akan ditembak sekarang!”
Netra kedua orang di dekatnya melebar seketika. Sang pilot lantas memandang tajam ke arah Adnan.
“Dari mana kau tahu?” selisik pria itu.
“Kenapa tidak kau cek saja monitornya!”sahut Adnan.
Pria yang merupakan pilot pesawat hitam itu terdiam. Ia berbalik ke posisi semula seraya melihat monitor di dashboard. Keterkejutannya bertambah tatkala melihat sesuatu memelesat mendekati burung besi miliknya. Pemuda yang ditahan oleh kopilot tadi berontak dan langsung menghampiri sang pilot.
Adnan berdecih kasar, sedang pikirannya merumit menghadapi masalah yang kini datang bertubi-tubi padanya. Sementara itu, sang pilot masih tercenung memandang monitor di hadapannya itu.
“Biar aku yang ambil alih pesawatnya.” Adnan menepuk bahu sang pilot dan membuat pria itu mengangguk, sebelum akhirnya ia duduk di balik kemudi. “Pesawat ini didesain untuk bertarung jarak jauh juga, ‘kan?” tanyanya kemudian.
Sang pilot mengangguk sambil mengiyakan.
“Apa ada peluru cadangannya?” tanya pemuda itu lagi.
“I—iya,” jawab sang pilot untuk kesekian kalinya.
Adnan mulai menggerakkan jemarinya dengan lincah di beberapa tombol di meja kokpit tersebut. Matanya mulai fokus pada sesuatu yang bergerak mendekati pesawat hitam yang ditumpanginya melalui monitor.
“Berpegang eratlah, akan ada guncangan mulai detik ini!” titah Adnan pada kedua pria yang tadi hampir menahannya itu.
Sang pilot dan kopilot saling mengangguk sebelum akhirnya pria muda yang menjadi kopilot itu menuju ruang angkut pesawat demi memberitahu penghuni lainnya. Sementara itu, sang pilot menempati posisi asistennya sekarang.
***
Erick berhasil menekan tombol peluncur misilnya beberapa detik yang lalu. Peluru yang kini memelesat itu amat lambat mengenai sasaran karena tubuhnya yang bergesekan dengan lapisan atmosfer. Sayang sekali, pemuda itu tidak menemukan tombol peluru kendali di kokpit Analemma, bahkan sempat menghardik pesawat itu karena
kekesalannya.
Peluru itu memelesat dan hampir saja mengenai body pesawat sebelum Adnan berhasil merubah cepat haluannya. Pesawat hitam itu berhasil bermanuver dengan lincah menghindari beberapa peluru yang ditembakkan ke arahnya.
Adnan berdecih. Pikirannya tidak tenang karena menganggap bahwa perlakuan Erick kali ini sudah melewati batas. Diatidak habis pikir kenapa sahabatnya itu malah ingin membunuhnya sekarang.
Pemuda berambut hitam itu memutar balik pesawatnya yang hampir saja telentang karena menghindari serangan peluru dari Erick. Matanya sesekali memperhatikan layar monitor di mana Analemma mulai terlacak di sana.Berlian birunya berkilat tegas.
“Permainan lagi, ya?” gumamnya.
“Arah jam tujuh, T—tuan ....” Sang pilot yang sejak tadi duduk di kursi kopilot mendadak membuka mulut.
Adnan berdeham sejenak sembari mengangguk. Ia menggerakkan tuas pengontrol pesawat agar lajunya bertambah. Berkali-kali memutarbalikkan burung besi tersebut, bahkan mengubah arah terbangnya menjadi berbeda, dari yang semula menukik menembus langit, kini malah bermanuver tidak tentu arah.
Sementara itu, Erickmenggeram. Ibu jarinya masih menekan tombol peluncur sembari menambah laju terbang Analemma yang sepertinya mulai kehabisan peluru. Burung besi itu rupanya tidak mendukung dirinya melakukan hal keji yang bahkan tidak dia sadari. Sampai akhirnya, Erick memilih untuk menggebrak meja kokpit di hadapannya.
Netra Erick menyalang memandang sang pesawat hitam yang terbang tidak jauh di depan Analemma. Napasnya masih memburu tatkala mendapati burung besi itu malah berputar balik dan terbang ke arahnya.
Adnan menunjukkan seringainya semakin lebar sampai setengah sangirnya hampir terlihat. “Kau lupa mengisi amunisi, ya?” katanya seorang diri. Pemuda itu menggerakkan tuas pengontrol agar pesawatnya terbang mendekati Analemma.
“T—tuan ... apa tidak apa?” tanya sang pilot setengah bergidik.
“Dia sudah kehabisan amunisi,” timpal Adnan. “Kecuali jika dia tahu tombol rudal pesawat itu.”
Sang pilot tersentak merespons ucapan pemuda di sampingnya itu. Sampai akhirnya, Adnan terkekeh menanggapinya.
“Tidak apa,” kata pemuda itu. “Tombolnya juga tersembunyi dan tidak berada di dasbor atau tuas pengontrol. Dia tidak akan tahu letaknya.”
Pria itu meneguk liur. Dilihatnya Adnan cukup lama. Ia seperti paham siapa yang duduk di sampingnya itu sekarang. Embusan napas meluncur sempurna melalui lubang hidungnya kemudian. Sampai akhirnya, sang pesawat hitam terbang sejajar dengan burung besi besar bermoncong lancip yang menyerangnya tadi.
Adnan melihat sang pilot Analemma dengan mata kepalanya sendiri. Kaca depan kokpit yang sedikit gelap sepertinya membuat sahabatnyaitu tidak mampu menilik dirinya.
Dugaannya benar, pemuda itulah yang menyerang dirinya.
Adnan lebih memilih diam untuk saat ini dan membiarkan pesawat hitam itu membawanya berlalu dari atmosfer sekitar, usai berhasil bertatap muka dengan sang pilot Analemma. Dia membuang muka dan kembali fokus pada kemudi demi membawa burung besi hitam itu ke luar angkasa, di mana Cosmo telah menantinya di sana.
Sementara itu, setelah berhasil melihat sang pilot pesawat hitam itu, Erick mendadak ternganga. Bola matanya
melebar kala melihat pesawat sasarannya justru berisi sosok yang selama ini selalu berada di sampingnya. Degup jantungnya terasa berhenti mendadak, terturut napasnya yang kian mencekat. Sesuatu seperti menahan pita suaranya untuk berteriak kini.
“Ad ... nan ....”
***
“Kami minta maaf.”
Sang pilot dan beberapa awak pesawat membungkukkan setengah tubuh di hadapan Adnan kini. Sementara itu,
pemuda itu masih saja terdiam beberapa saat usai mereka sampai dan mendarat di pangkalan Cosmo. Sekian menitkemudian, beberapa orang tampak menghampiri. Adnan paham benar siapa yang menyambut kedatangannya kini.
“Selamat datang kembali ..., Adnan,” ucap salah satu pria yang mengenakan seragam berbeda dari yang lain.
Adnan benar-benar mengenal pria itu. Sudah jelas dari tampangnya yang tidak berubah sejak terakhir kali pemuda itu meninggalkan Cosmo—masih setia dengan kernyih licik saat bercakap dengan lawan bicaranya.
“Tidak apa. Lupakan kejadian tadi,” ucap Adnan pada beberapa awak pesawat hitam yang mengantarnya kemari.
“Ada masalah selama perjalanan?” tanya pria bertubuh tegap tadi sambil memperhatikan orang di dekat Adnan.
“Tidak. Bukan apa-apa,” jawab Adnan tangkas.
Selang beberapa saat, pria di depannya itu meminta para awak pesawat untuk segera pergi. Tatapannya mengarah pada Adnan usai orang-orang itu menghilang dari hadapannya.
“Ikuti aku,” desisnya pada pemuda 17 tahun itu seraya berlalu menuju ke sebuah arah.
***
PICT :