AST

AST
PHASE 35 . KEHILANGAN



Clibanarii jenis baru itu bergerak cekatan, berotasi, menarik seluruh Clibanarii milik aliansi barat dan meruntuhkannya. Adnan sampai dibuat tercengang melihatnya dari layar dashboard yang sengaja dikirimkan oleh Erick. Baru kali ini dia melihat Clibanarii jenis itu. Luar biasa, bagai predator di tengah peperangan.


Sementara itu, Erick berkutat pada kendali Analemma yang mulai sedikit terbang mendekati posisi Clibanarii ramping tersebut. Nampaknya, Clibanarii itu tahu keberadaannya, terlihat dari pergerakannya  yang berubah dan tampak mengincar burung besi itu. Satu tangannya terulur seketika, membidik Analemma.


“Sial!” umpat Erick. Dia terbang meninggi dengan cepat, berusaha menghindari bidikan Clibanarii itu.


Sekian menit kemudian, sebuah peluru memelesat dengan cepat mengejar Analemma. Erick tetap berusaha agar


tidak terlalu panik, meski pada akhirnya Adnan menghubunginya sampai memunculkan wajah di layar kokpit.


“Itu peluru kendali jenis MM-31,” ucap Adnan.


“K-kau tahu?” Erick bertanya. “Dari mana kau tahu, hei?”


“Sarkan memiliki sistem kamera jarak jauh untuk mengawasi pergerakan musuh, Erick. Semua terlihat jelas dari sini,” jawab Adnan begitu tenang. “Bawa peluru itu ke bagian pegunungan di koordinat 3,1.”


Erick terdiam. Pikiran jeleknya mulai bersinergi dalam otaknya. Entahlah, rasa iri karena tidak bisa mengontrol Sarkan mulai menggerayanginya kembali. “Baiklah,” ucapnya kemudian.


“Hati-hati, ada tiga di belakangmu!”


Erick tersentak dan mengecek layar. Benar saja, setidaknya ada tiga peluru kendali yang mengekorinya sekarang. Dia berdecih. Apa Clibanarii itu benar-benar mengincarnya sekarang? Padahal di bawah sana masih banyak pasukan aliansi barat yang bisa diurusnya. Dasar!


Pemuda berambut cokelat itu membawa Analemma sesuai instruksi Adnan. Yah, bagaimanapun, Adnan lebih jago


dalam hal strategi dibanding dirinya yang baru menimbang pangkat kapten di pasukan ini.


Sementara itu, dari dalam Sarkan, Adnan menghela napas. Dia juga baru menyadari kalau Sarkan memiliki sistem kamera jarak jauh dan ini benar-benar menguntungkannya. Sebagai anggota militer yang lebih sering menggunakan pesawat daripada Clibanarii, Adnan bukan orang yang lihai mengontrol Clibanarii seperti Sarkan.


“Baiklah, lalu bagaimana sekarang?” gumamnya.


Sebuah gelang pengait di sisi kanan menarik perhatiannya sejak awal menaiki Clibanarii tersebut. Warnanya hitam dengan warna semerah lava bergulir di sana. Dia ingat kalau Oscar melarang untuk menggunakannya meski dalam keadaan terdesak sekali pun, entah karena alasan apa Adnan juga tidak mengetahuinya.


Justru, makin dilarang, hal itu makin membuat Adnan penasaran. Dia hendak menyentuh gelang tersebut.


“Ad!” Teriakan Erick dari earphone mengaburkan semua.


Adnan kembali fokus pada misi. “Kau berhasil?” tanyanya.


Pemuda berambut cokelat itu berdeham. “Cukup melelahkan,” katanya. “Tapi, kau harus liat, Ad. Pasukan kita!”


Adnan mengecek jumlah pasukan yang dimiliki aliansi barat. Dia mengernyit tajam. Jumlah pasukannya berkurang drastis. Semua ini karena ulah Clibanarii jenis baru tersebut.


“Sial!” umpatnya.


Bisa dipastikan Clibanarii oranye itu tengah menuju ke arahnya sekarang. Menghempaskan beberapa Clibanarii


yang melindungi Sarkan sekarang cukup mudah untuknya, apalagi ukurannya yang ramping memudahkannya untuk menyalip dan menghancurkan beberapa Clibanarii sekaligus.


Analemma tampak terbang berputar menuju Clibanarii milik aliansi timur itu dan mulai menembakkan misil. Nahas, misil ditolak mentah-mentah. Sama sekali tidak ada yang berhasil menembus pertahanannya. Hal ini membuat Erick berdecak kesal. Apalagi Clibanarii itu kembali melontarkan rudal ke arahnya.


“Kita tidak sedang bermain game, Bodoh!” umpat pemuda tersebut.


“Kapten, di belakangmu!” seru Jennifer dari earphone. Dia sama sekali tidak memutus sambungan komunikasi dengan kapten pasukannya tersebut.


Jennifer memutar balik pesawatnya, mendekati Analemma. Burung besi miliknya memelesat konstan dan dengan serta-merta menabrakkan diri ke peluru kendali yang tengah meluncur menembus batas atmosfer antara Analemma dengan dirinya.


Netra Erick menyalang ketika dirinya melihat ledakan di belakang sana. Cukup besar untuk sebuah pesawat yang


Erick meneguk saliva. Saluran komunikasi Jennifer terputus seketika, meninggalkan jejak serak samar di sana. Dia menghela napas, mencoba melepas semua yang telah terjadi.


Kematian pasti akan dihadapi oleh setiap jiwa, tidak terlepas dari yang namanya peperangan. Di masa sekarang, bertahan hidup pun sudah dianggap bak menemukan jarum di tengah tumpukan jerami. Erick dan Adnan, sejak mereka mengenyam pendidikan militer, keduanya sudah diajarkan untuk menghadapi kematian setiap waktu. Tidak peduli bagaimana caranya mereka mati nanti, tetapi yang jelas, kehilangan adalah salah satu hal yang tidak bisa dihindarkan.


“Erick,” panggil Adnan lirih.


Erick berdeham. “Aku minta maaf,” katanya.


Adnan mengangguk. “Lanjutkan misinya.”


Pemuda berambut cokelat itu berdeham pelan. Tangannya tergerak memutar kendali Analemma agar menukik cekatan, berbalik menyerang Clibanarii milik rival mereka. Burung besi itu mulai menembakkan misil, mengincar titik terlemah dari robot berwarna oranye-putih tersebut. Menembak ke bagian sendinya kini amat sulit karena kepulan asap yang menyatu dengan ledakan serta hempasan salju di bawah sana membuat kabur penglihatan.


Melihat rekannya tampak kewalahan, tangan Adnan mengepal. Dia ingin sekali membantu Erick, tetapi kenyataan bahwa pemuda itu melarangnya untuk maju tetap harus dipatuhi olehnya. Jabatan kapten dipegang oleh Erick sekarang. Jadi sebisa mungkin Adnan tidak ingin melanggarnya atau sebenarnya dia takut kalau temannya itu akan mengamuk padanya seperti anak kecil nanti.


Melalui layar dashboard Sarkan, Adnan melihat Clibanarii oranye itu mulai mengeluarkan asap dari sudut bagian bawah tungkainya. Netra birunya membola sekejap. Inilah hal yang paling ditakutinya ketika berhadapan dengan Clibanarii.


Clibanarii itu mulai mengangkasa, meninggalkan kecut pelik di daratan, dan terbang menuju Analemma. Erick menahan napas, melihat pergerakan Clibanarii itu makin mendekati jangkauannya.


“Ayolah, Erick. Kau pasti bisa,” gumamnya.


Kedua tangannya meremas erat tuas kendali Analemma, sedikit berkeringat. Tubuhnya mulai gemetar. Matanya


yang cokelat terang itu terpejam sejenak.


“Erick, koordinat 1,3!” seru Adnan dari balik earphone.


Erick membuka maniknya. “Baiklah, Ad,” ucapnya. “Beri aku waktu untuk mengulurnya.”


Adnan tidak menimpali. Dia cukup dibuat terdiam dengan kondisi medan perang yang berada di luar ekspetasinya.


Netra birunya menoleh ke kanan, di mana gelang hitam itu kembali menarik perhatian. Tangannya terulur hendak menyentuhnya. Sesuatu seperti menarik dirinya kembali teringat pada masa lalu seseorang. Cukup samar dan membuat kejut di dadanya.


***


Sementara itu, Erick masih berjuang menghindari, bahkan membalas serangan Clibanarii sialan tersebut. Dia


berdecak. Ruang misilnya sudah hampir mencapai batas dan dia tidak mungkin menghabiskan semuanya sekarang. Peperangan masih berlanjut hingga ayahnya—Frederick Hubert—menitahkan pasukan untuk mundur. Sampai sekarang pun, ayahnya itu belum menghubunginya kembali meski terdeteksi masih menyambungkan saluran komunikasi.


Perhatian pemuda berambut cokelat itu kacau, bercabang antara mencemaskan pasukannya di bawah dan di atas


sana yang mulai kelabakan. Dia juga harus fokus dengan Clibanarii yang kini mengejarnya.


Sebuah rudal meluncur ke arah Analemma.Erick kembali mengumpat kasar. Sulit baginya untuk kembali membawa rudal itu ke pegunungan mengingat minimnya akses aliansi barat di tempat tersebut. Dia tidak punya pilihan lain selain berputar balik dan berusaha memanipulasi keadaan sambil sesekali mencari keberadaan peluru kendali di Analemma yang belum diketahuinya sampai sekarang.


Sampai akhirnya, sesuatu membuat pergerakan Analemma terhenti. Peluru kendali yang mengejarnya meledak, mengurai bahan penyusunnya memenuhi angkasa. Sebuah mata oranye yang bersinar menculik pandangan Erick. Netra itu memandangnya, menyisipkan sebuah rasa yang tidak pernah bertandang di diri pemuda berambut cokelat itu sebelumnya.


Sementara itu, di belakang dashboar Sarkan, pandangan Adnan terbelalak, menyongsong segala hasrat yang tidak pernah dirasakan olehnya seumur hidup. Tangannya mengepal erat, terturut melakukan sesuatu yang telah dilarang oleh Oscar.


Tidak pernah terbesit dalam pikiran Adnan ketika sebuah ledakan di udara tercipta. Tepat di pesawat yang


dikendarai temannya itu. Tepat di titik di mana Analemma tengah berada dalam cengkeraman Clibanarii musuh.


“Erick!!!”


***