
Seorang pria terlihat sedikit lunglai berjalan di tengah hamparan tanah tidak berpenghuni. Langkahnya gontai tidak tentu arah. Rambut dan penampilannya yang acak-acakan, bahkan tidak dipedulikannya lagi. Ia menengadah, berbicara pada langit. Tidak seperti yang kebanyakan orang pikirkan, sebenarnya pria itu sedang meratapi nasibnya kini.
“Aku sudah lelah. Mau kucari ke mana lagi? Langit, tolong aku!”
Ia beralih, menjatuhkan kasar tubuhnya ke permukaan tanah dan bersandar pada sebuah reruntuhan bangunan—entah bangunan apa karena sudah hancur. Matanya memandang senapan yang di tangan, lalu membolak-balikan sejenak sambil menelisik setiap senti senjata murahan miliknya itu. Sementara pikirannya melanglang buana, mengingat hal lama.
“Jason. Kau benar-benar pria kuat. Pejantan tangguh. Kau lari ke tengah bahaya, tapi malah temanmu yang mati,”
racaunya, lalu mendecih sejenak, menahan gejolak geli dalam otaknya. “Lalu kau berjalan, menemukan spot, dan kini kau pergi lagi untuk menjajal peruntungan baru. Memangnya kau ini siapa, huh? Kau bukan pemain poker lagi, Bung!”
Ia mendesah panjang, mencoba menenangkan pikiran sejenak, sampai sesuatu menarik perhatiannya. Dua orang
remaja yang tengah berjalan gontai, dengan seorang bocah digendong oleh salah satunya. Jason mengerutkan kening, lalu mempertajam fokus penglihatannya. Sampai pada akhirnya, ia bangkit dan bergegas menghampiri kedua remaja itu.
“Hey!” serunya. “Kalian siapa?!”
Pemuda yang tengah menggendong seorang bocah itu tersentak memandang Jason sembari memapah pelan gadis di dekatnya yang hampir ambruk. Beruntung Jason bergegas menangkap tubuh gadis itu.
“Siapa kau?” tanya pemuda itu.
“Jason. Aku dari spot aliansi timur di dekat sini,” jawab pria kekar itu. “Dan kau? Mereka ini kenapa?”
“Jo. Panggil aku Jo,” jawab pemuda itu. “Aku benar-benar tidak tahu. Yang kutahu itu alergi.”
Jason memeriksa dengan teliti bercak luka di tubuh gadis yang ia papah sekarang, lalu beralih ke tubuh gadis mungil yang digendong Jo sejak tadi.
“Ini bukan alergi. Ini efek dari racun,” ucap Jason. “Sebaiknya kita bawa mereka ke spot!”
Jo mengangguk lemah.
“Kau masih bisa berjalan?” selisik Jason cemas pada pemuda yang tampak pucat itu.
“Aku baik-baik saja.”
***
Adara mengerjapkan mata sejenak. Tubuhnya terasa lemas dan tentu saja ia ingat kalau dirinya sedang berjalan
jauh demi mencari spot yang aman—bersama Jo dan Jun. Namun, kini ia sadar jika tubuhnya terbaring di sebuah ranjang.
Gadis itu memperjelas penglihatan, memandang ke sekitar ruangan di mana banyak ranjang kosong di sana. Jun
terlihat lelap di salah satu ranjang yang tidak jauh darinya. Sementara di dekat pintu ruangan tampak tiga orang pria tengah terlibat pembicaraan serius.
Jo menelan liur sejenak sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding ruangan. “Jadi apa sudah terlambat?” tanyanya melirih.
“Tidak juga. Kalau kau telat membawa mereka, besok pasti mereka sudah ... um ... yah, kau tahulah,” jawab seorang pria yang mengenakan jas putih khas dokter. “Tapi mereka beruntung hanya terkena sedikit efek dari racun itu.”
“Asap beracun, ya?” gumam Jason yang berdiri di dekat sang dokter sambil termangu.
“Sudah lama aliansi barat menggunakan senjata semacam itu. Belum lagi jika mereka berhasil menciptakan senjata pemusnah massal yang lain, aku tidak mungkin bisa terus mengontrol obat-obatan yang ada,” ujar sang dokter. “Yah, kau sendiri tahu jika ini adalah spot satu-satunya yang masih menggunakan Tarnnet[1] agar aliansi barat tak bisa melihat keberadaannya. Dan yang bisa kita lakukan di sini adalah menunggu kepastian dari pusat demi masa depan kita selanjutnya.”
“Apa? Tarnnet?” Jo mengernyit.
Sang dokter mengangguk. Sampai akhirnya terheran dengan respons Jo yang seketika menepuk dahinya amat keras.
“Ada apa?” tanyanya.
“Kami mencari spot untuk berlindung selama ini setelah spot kami sebelumnya hancur karena asap itu. Urgh! Pantas saja aku tidak melihatnya. Tarnnet, ‘kan, membuat spot ini jadi tembus pandang!” gerutu Jo kesal.
“Tak apa. Ini bukan salahmu juga, kok!”
“Kau sudah bangun?” tanya Jason pada seorang gadis yang tengah berbaring dan memandangi mereka. Ia menghampiri gadis itu, disusul Jo dan sang dokter.
“Bagaimana rasanya?” Jo bertanya menyerobot. “Jun belum bangun sejak tadi.”
Adara—gadis itu—duduk perlahan sembari memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut. Sementara sang dokter memeriksa keadaannya.
“Sakit kepala, mata berkunang-kunang, dan terasa lelah,” timpal sang dokter.
“Lukanya bagaimana?” tanya Jo lagi.
“Tak apa. Dia baik-baik saja.”
Jo bernapas lega. Ia beralih memandang adik kecilnya yang masih terpejam, terturut oleh sang dokter yang duduk di ranjang Adara.
“Jun juga baik-baik saja, Jo.” Sang dokter kembali berbicara, berusaha menenangkan pemuda yang bermimik cemas itu.
“Untuk sementara, kalian tinggal di sini dulu. Aku akan mencoba menghubungi markas pusat jika jaringannya sudah lancar,” kata Jason seraya berbalik hendak pergi.
“Maaf.”
Gadis berkucir itu menghentikan langkah Jason sampai dirinya berbalik.
“Aku ingin menghubungi seseorang. Bisakah?”
Jason terdiam. Sejenak meminta pertimbangan dari sang dokter dan juga Jo dengan sorot matanya. Sepersekian
detik kemudian, ia mengangguk.
“Kalau kau bisa berjalan, sih, tak apa,” katanya menimpali.
***
“Apa! Kau ingin menghubungi temanmu yang tidak tahu bagaimana keadaannya? Astaga!”
Jason menepuk kening dengan kepalan tangannya. Sementara Adara berdiri mematung di dekatnya. Ia mengatur
napas sedemikian rupa, menurunkan emosi yang hampir meledak.
“Jadi begini, meskipun kau tahu nomor kontaknya, bukan berarti kita bisa menghubungi temanmu itu, Adara.”
“Aku hanya ingin tahu dia ada di spot mana, itu saja,” lirih gadis itu. “Jo bilang ada banyak spot di wilayah ini, jadi aku berpikir, jika aku bisa menghubungi salah satu spot ... mungkin kita bisa menemukannya.”
Jason mengembuskan napas panjang. “Tidak semudah itu, Nak,” katanya, “jaringan menjadi sulit diakses sejak
bencana itu. Kita benar-benar seperti manusia purba sekarang. Tanpa jaringan, tanpa teknologi mumpuni, tanpa ... apa pun yang biasa menjadi kebiasaan kita saat sebelum bencana terjadi. Spot ini pun begitu, hanya mengandalkan teknologi yang masih ada.”
Adara membisu dalam hela napasnya, lalu setengah tertunduk.
“Apa ada orang lain yang ingin kau hubungi selain temanmu? Orangtuamu misalnya.” Jason bertanya memecah
Gadis itu kembali mengangkat pandangan seraya berpikir.
“Di mana orangtuamu bekerja?”
“Di markas pusat ...,” jawab Adara melirih, “mungkin.”
Jason mengernyit. “Hm?”
Pria kekar itu mengamati tiap jengkal rupa gadis di dekatnya sembari mencoba memahami isi hati gadis itu.
“Mungkin kita bisa menghubungi markas pusat,” katanya kemudian. “Siapa nama orangtuamu?”
Jason kembali memandang Adara setelah sebelumnya mengatur perangkat otomatis yang berfungsi sebagai telepon darurat. Lagi-lagi gadis itu bergeming, tampak sekali ada yang ia sembunyikan.
“Adara?”
***
Erick memberikan sesuatu pada Adnan yang telah bersiap dengan penyamarannya. Masker topeng adalah keselamatan penyamarannya yang utama, dan beruntung sekali seluruh awak yang ditugaskan hari ini menggunakan perlengkapan itu sebagai pelindung alat pernapasan.
“Apa ini?” tanya Adnan.
“Bawa saja,” titah Erick, “jangan lupa pakai earphone-nya dengan benar!”
Pemuda bersurai cokelat itu kembali melemparkan pandangan ke sana kemari, lalu menatap Adnan. Tepukan mantap mendarat di lengan rekannya.
“Komandan memintaku untuk berada di ruang kendali selama penugasan kalian. Jadi jangan cemaskan aku. Aku akan baik-baik saja.”
Adnan mengangguk paham.
Selang beberapa saat ia masuk ke barisan para prajurit. Sesekali ia melirik pada Erick, mengecek apakah sahabatnya itu benar-benar serius merencanakan hal ini atau tidak. Adnan sendiri masih kalut dengan pikirannya. Semakin rumit saja dan selalu mengganggu dirinya. Bayang-bayang Adara menghantuinya setiap saat. Ia yakin, hal itu bisa jadi merupakan permintaan tolong gadis itu untuknya.
Adara masih hidup, aku yakin itu!
“Adnan. Kau mendengarku?”
Sebuah suara mengejutkan Adnan. Ia mafhum benar dengan suara itu. Erick mengecek earphone yang dipakai olehnya beberapa saat yang lalu setelah kendaraan yang ia tumpangi meninggalkan markas. Adnan merapatkan alat itu sembari memposisikan dirinya agar orang-orang di sekitar tidak melempar pandangan ke arahnya.
“Ya. Aku di sini,” bisiknya menimpali.
Jari-jari lentik Erick bermain di atas keyboard—entah mengetik apa. Sementara, di kepalanya bertengger sebuah headphone yang menghubungkan ia dengan Adnan. Matanya masih fokus pada layar besar di depannya.
“Aku berada di ruang kendali sekarang,” katanya kemudian.
“Bangsat! Apa kau gila!” tukas Adnan, kembali sedikit berbisik. “Bagaimana jika orang-orang tahu, Bodoh!”
“Apa gunanya eraphone-mu itu, huh? Cuma tempelan?” Erick terkekeh menanggapinya. “Aku berada di ruang kendali khusus kok! Tempat di mana aku biasa mengontrolmu saat di pesawat. Kau tidak perlu khawatir. Takkan ada orang lain yang bisa masuk ke sini. Aku juga sudah memasang pengontrol ganda di ruang kendali umum. Tenang saja!” ujarnya amat santai.
Adnan mendengkus kesal. “Jangan lengah! Aku bahkan tak pernah memikirkan rencana selicik ini. Bagaimana kau
bisa memikirkannya? Dasar!”
Pemuda berambut cokelat itu menyeringai tipis. “Tentu saja aku memikirkannya, tak seperti otakmu yang isinya cuma cinta-cintaan saja, Adnan,” katanya setengah mencela lawan bicaranya.
Cih! Dasar belagu!
“Jadi apa yang kulakukan sekarang?” tanya Adnan kemudian.
Erick kembali berfokus pada layar besar di hadapannya. Matanya berpendar tegas, melihat sesuatu yang aneh pada monitornya. Ia beralih membenahi mikrofon sejenak.
“Ada sebuah permukiman tak jauh dari posisi kalian. Pengemudi mungkin sudah menyadarinya, jadi kau bersiap saja. Aku ....”
Erick menahan ucapannya. Sesuatu tampak menggantung di pikirannya.
“Apa? Kau kenapa?” bisik Adnan.
“Ah, tidak. Kupikir Adara—”
Sinyal terputus seketika.
Adnan mengerutkan kening. Aneh, sekaligus curiga dengan apa yang terjadi dengan Erick. Ia kembali membenahi
earphone-nya, tetapi suara Erick tidak lagi terdengar. Hanya suara riuh samar yang membisingkan telinga.Pemuda bersurai hitam itu segera mematikan saluran, sebelum disadari oleh prajurit di sekitarnya.
Ia terdiam lalu melemparkan pandangan pada beberapa orang di dekatnya yang tengah sibuk dengan urusan
mereka masing-masing. Rasa cemas mulai bergelayut manja dalam diri. Tidak seharusnya ia menyetujui rencana Erick ini hanya demi bertemu dengan Adara. Namun di sisi lain, Adnan tahu, hanya dengan mengandalkan Erick-lah ia bisa sampai sejauh ini.
Lagi-lagi ia kalut bersama pikirannya. Embusan napas kasar nan panjang menerobos dari mulut dan kedua lubang pernapasan. Sesak dirasanya. Degup jantung menjadi tidak beraturan, tetapi Adnan berusaha mengontrolnya.
Sebagai seorang pejuang, ia dibesarkan dan dididik untuk mengendalikan emosi di saat sulit seperti ini. Jadi, meskipun kejadian rumit terjadi di hadapannya, ia akan tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Sama, di saat ia kehilangan momen pertemuannya dengan Adara. Ia harus kuat menerima kenyataan bahwa mereka hidup dengan takdir yang tidak sejalan dengan harapan.
***
Catatan:
[1]
Tarnnet
\= jaring tembus pandang.
Merujuk pada Tarnhelm (helm tembus pandang) dalam mitologi Norse dan Tarnkeppe (jubah ghaib) dalam cerita Harry Potter. Hal ini juga
dapat dibuktikan dalam penelitian sains di mana menggunakan metamaterial
(struktur bahan yang dibuat artifisial dengan merangkai material dari kristal
fotonik, contoh logam atau plastik sehingga mampu memanipulasi gelombang
elektromagnetik) sebagai bahan utama pembuatannya sehingga tidak dapat dilihat
oleh indera penglihatan.