
“Iya. Aku tahu itu. Aku juga ingat bagaimana kita bertemu untuk pertama kalinya.”
Erick tersenyum sembari mengangguk. “Syukurlah kau masih mengingatnya,” katanya.
Namun, kening Adnan berkerut tipis. “Lalu?”
Sebelah alis Erick mengendik sesaat. Membuat pemuda di depannya tersadar akan sesuatu.
Satu tangan Adnan menyentuh benda di cuping telinganya. Dia berpikir, lalu menatap pemuda berambut cokelat
tersebut.
“Kadang, hal yang kita anggap baik tidak selamanya baik. Dan juga sebaliknya,” ucap Erick. “Perdamaian adalah
bentuk cinta. Dan cinta hanya bisa didapat dengan perjuangan.”
Adnan berdiri kaku. Beberapa momen berputar cepat dalam otaknya, berebut dalam sekali hempasan waktu. Dia
menatap pemuda berambut cokelat itu dengan kalimat membumbung tinggi dalam benak.
“AKU PERCAYA PADAMU.”
Ketika kalimat itu keluar secara bersamaan, Adnan tersentak seketika. Salivanya terteguk, terlebih ketika Erick menyeringai padanya.
Sekian detik kemudian, Adnan terkekeh. Tertawa geli dengan dirinya sendiri dan juga hubungan mereka berdua.
“Kau benar,” ucapnya. “Kadang, menjadi naif tidak seburuk itu.”
Satu tangan Adnan yang terkepal terulur ke arah Erick. Pemuda Frederick itu tersenyum kecut, lantas membalas
uluran tangan rekannya itu hingga kepalan tangan mereka saling bertumbuk. Sampai akhirnya, Erick derdesis;
“Aku punya rencana yang lebih bagus daripada ini.”
***
Adnan keluar dari sel Erick usai seorang petugas menjemputnya untuk menemui Oscar. Dia berbalik sesaat dan
mendapati anggukan rekannya itu. Sekian detik kemudian, pemuda itu melenggang pergi, meninggalkan kehampaan pada seorang pemuda berambut cokelat dalam sel putih tersebut.
Sementara itu, Oscar masih berada di ruangannya sejak tadi. Dia berpangku tangan usai mendengarkan percakapan Erick dan Adnan yang tidak menghasilkan apa pun. Seorang gadis berambut merah duduk di sebelahnya dan mengoperasikan layar di depannya.
“Mereka masih bertahan,” ucap gadis itu.
Oscar menandaskan air di gelasnya dan meletakkannya hingga terdengar ketukan keras. “Berapa menit lagi?” tanyanya.
Megan—gadis tadi—mendengkus. “Entahlah,” jawabnya. “Aliansi timur masih mempertahankan wilayah mereka, kau tahu? Sangat sulit menumbangkan mereka meski teknologi kita lebih maju sekali pun.”
Oscar terdiam. Mata birunya berkilat misterius.
“Lagipula, apa yang kau inginkan selain membentuk dunia baru itu?” tanya Megan. “Apa menurutmu yang sekarang bukanlah yang kau impikan?”
Liur pria itu terteguk. Sebelum akhirnya helaan napas lolos begitu saja dari hidungnya, menyisakan asap tipis di udara karena dinginnya pendingin ruangan.
Sibuk berpikir, gadis itu akhirnya bangkit dari kursi. Oscar lantas menoleh padanya.
“Kau mau ke mana?” tanya pria itu.
“Mencari udara segar,” celos Megan datar. “Aku bosan satu ruangan dengan Anda.”
Oscar hanya bisa tersenyum kecut. Dia kembali memandangi layar besar di hadapannya yang menunjukkan pergerakan beberapa orang yang tertangkap oleh CCTV, termasuk di dua ruangan berbeda yang berisi dua Clibanarii. Liurnya kembali tertelan. Tangannya mengepal dan serta-merta memukul dashboard dengan perasaan berkecamuk dalam benaknya saat ini.
***
Megan menyusuri koridor-koridor dan masuk ke sebuah koridor. Dia melihat seorang pria baru saja ke luar ruangan. Gadis itu melongok sejenak.
“Bagaimana keadaannya?” tanyanya.
Pria itu menutup pintu dan menyisakan sebuah jendela kaca di sampingnya yang hanya bisa dilihat dari luar ruangan. Seorang gadis berambut hitam tengah terbaring dan tidak sadarkan diri di dalam sana. Satu tangannya terlilit perban, sementara yang lain dikuasai jarum infus.
“Dia mengalami bleeding,” jawab pria itu. “Beruntung tidak terlambat tertolong.”
Megan berdecak, seraya memasukkan kedua tangan di saku celana. “Aku benar-benar tak habis pikir,” katanya. “Apa ini tidak terlalu keterlaluan?”
Kedua orang itu saling bersitatap. Sang pria mengendik sejenak, lalu menatap telapak tangannya sendiri.
“Aku merasa sudah melanggar kode etik seorang dokter sekarang,” katanya.
Megan memandangi pria tersebut. Dia menyandarkan diri pada jendela kaca di dekatnya. “Aku minta maaf, Alan.”
“Untuk apa?” Pria itu menatap gadis di sampingnya. Siapa pun pasti mengenal dirinya sebagai dokter pribadi Adnan sejak pemuda itu berada di pangkalan.
“Semuanya.”
Alan mendengkus kasar. “Kita semua salah,” katanya. “Bagaimanapun, kita juga harus bertanggung jawab atas semua ini.”
Megan menatap lurus pada pria berjas putih tersebut. “Bagaimana caranya? Aku hanya pandai menghasut saja,” timpalnya menggerutu.
Alan tertawa kecil. “Aku yakin dia tengah melakukan sesuatu sekarang,” katanya. “Kau juga tahu, kan, alasanku ikut denganmu untuk apa?”
Gadis berambut merah itu tampak berpikir. Dia mengangguk. “Bagaimana lukamu, Pak Dokter?” tanyanya kemudian. “Tanganmu … terluka juga, ‘kan?”
Alan memandangi pergelangan tangannya yang masih memerah. “Sudah cukup baik sekarang,” jawabnya. “Tipuan
ini sebenarnya cukup membuatku terhibur, meski ….”
Sayangnya, pria itu mengingat wajah sosok pemuda berambut hitam yang melepaskan ikatan di tangannya. Dia berdecih.
“Kenapa?” tanya Megan.
Alan menoleh dan menggeleng. “Aku butuh kopi,” katanya. “Kau mau ikut?”
***