AST

AST
PHASE 34 . CLIBANARII BARU



“Adnan?” Erick memanggil melalui earphone yang dikenakan Adnan. “Kau baik-baik saja?”


Pemuda bermata biru itu berdeham, sedikit membenahi earphone di telinganya.


“Kuharap kau tidak lupa dengan misimu,” ucap Erick.


“Kau … kau sendiri bagaimana?” tanya Adnan.


Erick terkekeh menimpali. “Aku tetap pada rencana awal, Ad,” jawabnya. “Aku akan membantumu menemukan Adara.”


“Bagaimana dengan misi dari ayahmu?”


Pemuda berambut cokelat itu balik terdiam. “Tidak apa,” timpalnya. “Aku sudah biasa jadi samsaknya.”


Adnan mendesah. “Jangan memaksakan diri. Kau tahu kalau pacarku yang kau naiki sekarang itu sangat sensitive terhadap misi.”


Erick terdengar berdecih. “Yang kau naiki juga begitu, ‘kan?”


Tidak terdengar balasan apa pun. Adnan kembali terdiam. Baru kali ini dia mengontrol Clibanarii seperti Sarkan. Ada banyak tombol yang tidak dimengerti olehnya. Bahkan, selama simulasi pun Adnan berkali-kali salah menekan tombol. Oscar juga tidak memberitahunya apa pun. Pria itu hanya memberitahu jika Adnan telah mendapatkan


ijin secara sah untuk mengontrol Clibanarii buatan ayahnya tersebut.


“Ad?” panggil Erick.


Adnan tersentak. “Ah, maaf,” balasnya.


“Tetaplah pada posisimu dan biarkan kami yang mengatasi barisan depan,” pinta pemuda 17 tahun tersebut.


Adnan hanya berdeham menimpali. Yah, bagi aliansi barat, Sarkan adalah kartu As. Sama seperti aliansi timur yang menganggap jika Paladin adalah kartu As mereka.


Entah apa yang ada di pikiran orang-orang ketika menganggap jika Paladin dan Sarkan adalah dua kartu keberuntungan bagi mereka. Lantas, bagaimana dengan Clibanarii lainnya? Apakah yang lain hanya cecunguk dua robot besar itu saja?


***


Sementara itu, Erick mengubah laju Analemma. Dia sudah cukup lihai mengontrol pesawat tersebut, selain karena


kewajibannya sebagai kapten aliansi barat, si pemilik burung besi itu juga telah mengijinkannya.


Cukup lama Erick melamun, memikirkan apakah yang dilakukannya sekarang adalah benar mengingat dirinya berasal dari aliansi yang merupakan rival dari aliansi timur. Ah, dia tidak pernah berkesimpulan jika nantinya dia akan membela musuh koloninya sendiri.


Hanya demi seorang gadis.


Yah, seumur hidupnya, Erick hanya ingin menjadi teman terbaik bagi seorang Adnan Harris. Bukan untuk mendapatkan nama di hati pemuda itu, melainkan karena hanya Adnan-lah yang bisa membuat dirinya menjadi Erick yang sekarang.


“Koordinat jam 9!” Titahnya pada tim yang mengudara di dekatnya. Matanya melirik, memastikan titik-titik yang


merupakan anggotanya telah berpindah haluan sesuai rencana. “Jen,” panggilnya kemudian pada seorang wanita yang terbang di dekat Analemma. “Bawa 3 awak ke koordinat jam 1.”


“Bagaimana denganmu?” tanya Jennifer.


“Ada yang harus kulakukan,” jawab Erick.


Jennifer terdengar berdecih. “Urusan pribadi?”


“Haruskah kau tahu?” balas Erick retorik.


“Ah, oke! Aku paham, Kapten.” Hanya terdengar kekehan setelahnya, sebelum Jennifer menuruti titah dari sang kapten.


Erick tersenyum. Sedikit dia berbicara dengan perempuan tersebut. Sepertinya, dia punya ketertarikan sendiri


terhadap urusan pribadi Erick meski sebenarnya Erick tidak ingin membocorkan misi rahasianya dengan Adnan.


Pemuda bernetra cokelat itu menatap lurus ke depan. Memantapkan jalur terbang Analemma agar tetap pada batasnya. Dia mengecek layar dashboard, memastikan jika semuanya berjalan sesuai rencana.


Di depan sana, kepulan asap bercampur butiran salju putih membuncah. Ledakan dan deru suara misil terdengar


Tidak ada hal yang berarti di sana, kecuali sebuah Clibanarii dengan model yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


Erick mengerutkan kening. “Itu … apa?” gumamnya.


Pemuda itu memperbesar tangkapan layar demi melihat dengan jelas Clibanarii ramping dan bergerak super lincah di bawah sana. Rupa tungkai yang dibuat sekecil mungkin membuat pergerakan Clibanarii itu bisa menyelinap dan langsung menghabisi lawan dengan cepat. Terbukti, baru saja Erick melihatnya beberapa menit, Clibanarii itu telah menjatuhkan sedikitnya 20 Clibanarii milik aliansi barat yang menyerang barisan depan wilayah aliansi timur tersebut. Dan yang lebih mencengangkan, tidak ada satu pun peluru dan rudal yang berhasil menumbangkannya.


“Ad,” panggil Erick pada lawan bicaranya yang masih duduk termangu di dalam kartu As yang dimiliki aliansi barat. “Kau mendengarku?”


Adnan berdeham menimpali. “Ada apa?” tanyanya.


“Lihat apa yang kudapat!” pinta pemuda bernama lengkap Frederick Add itu sembari mengirimkan tangkapan layar kepada Adnan.


Beberapa saat kemudian, Adnan membuka notifikasi dari Erick. “Apa ini?” tanyanya lagi.


“Kau pernah mendapatkan informasi soal Clibanarii ini selama di Cosmo?” Erick membuka perbincangan ketika foto Clibanarii oranye-putih itu sampai kepada rekannya.


Adnan tercenung dengan kening berkerut. “Punya siapa ini?”


“Hah?” Erick lebih lagi, dia makin tersentak. “Kau tidak pernah melihatnya selama di Cosmo? Atau mendapatkan


informasi soal robot ini?”


Pemuda bermata biru itu menghela napas. Kalau diingat-ingat, Oscar juga tidak pernah memberitahukannya soal keberadaan Clibanarii tersebut. Body-nya yang bahkan lebih ramping daripada Sarkan itu membuat Adnan berpikir berkali lipat.


Apakah itu wujud Paladin yang baru?


Adnan menggeleng tidak percaya. Meski Paladin telah hancur pada operasi militer 5 tahun lalu, bukan berarti aliansi timur seenak dengkul mengubah desainnya, ‘kan?


“Kau masih di barisan depan?” tanyanya kemudian.


Erick berdeham, diiringi anggukan meski Adnan tidak bisa melihatnya. “Kenapa?”


“Tetap awasi Clibanarii itu,” pinta Adnan. “Tetap beri aku laporan terkait jumlah barisan depan!”


“Dimengerti!”


***


Sementara itu, dari balik Clibanarii model baru milik aliansi timur itu, seorang pria duduk di balik kemudi. Menyeringai dengan puas. Entah kenapa, perang kali ini lebih dari sekadar mengingatkannya dengan kejadian 5 tahun lalu yang menewaskan banyak orang.


Ketakutan yang membuatnya trauma sampai tidak bisa tidur dan hanya mengonsumsi kopi dan obat penenang


sepertinya berubah menjadi sebuah kegilaan tanpa batas. Detik ini, pria bernama Jason Kim itu mengernyih bahagia seolah dopamine dalam otaknya kembali bekerja setelah sekian lama terpendam.


Ada sebuah keanehan tersendiri ketika dia diminta oleh Komandan Li Yue untuk mengontrol Clibanarii jenis baru tersebut. Jason mengamati setiap inci dari rupa robot yang ukurannya lebih besar dari Clibanarii lain, tetapi lebih


ramping dari Paladin lima tahun lalu. Robot bewarna oranye-putih itu tampak gagah dan seolah memanggil namanya.


“Kau yakin kau memberikanku izin untuk mengontrolnya?” tanya Jason pada Li.


Pria bermata sipit dan berambut agak putih itu mengangguk. “Kau berhak menggunakannya kapan pun kau mau,” jawabnya.


Jason tertawa mengingatnya, sudah seperti orang gila saja. Gelang pengait yang melingkari pergelangan tangan kanannya bersemu merah seolah mengalirkan energi yang cukup besar dari dirinya ke tubuh Clibanarii tersebut. Sebuah hal yang baru saja disadari oleh Jason juga, jika Clibanarii miliknya itu tidaklah dikontrol secara manual


menggunakan kendali biasa. Namun, menggunakan ssitem transfer energi pengontrolnya sendiri. Makin bergairah pengontrolnya, maka emisi energi Clibanarii itu akan semakin bertambah.


Namun, satu hal yang harus diingat oleh Jason sekarang terkait sebuah kalimat yang dilayangkan oleh Li Yue sebelum dirinya mengontrol Clibanarii tersebut.


“Kau bisa membuat medan perang seperti milikmu sendiri, tapi kau juga harus ingat kalau energi manusia itu terbatas. Clibanarii ini bukanlah robot yang bisa dikendalikanmu saja, tapi dia juga bisa mengendalikan dirimu.”


***