
“Erick brengsek, mau kau apakan pacarku itu, huh?” desis Adnan beberapa saat setelah berhasil membawa kabur salah satu pesawat di pangkalan. Beruntung sekali burung besi yang dia naiki masih menggunakan kunci manual dan pilot mungkin saja lupa menarik anak kunci pengendalinya.
Jemari Adnan berusaha menekan beberapa tombol di hadapannya demi melakukan sesuatu. Selang beberapa detik kemudian, matanya berbinar usai berhasil menyambungkan saluran komunikasi dari pesawat itu ke Analemma miliknya.
“Oi,oi!” serunya mengetes saluran komunikasi itu.
Erick sendiri hampir terkejut dan melepas kontrol pesawat yang dibawanya kini. Terlebih, dia mengenali suara lawan bicaranya kini.
Apa yang dia lakukan?
Matanya turut melebar saat mengetahui sebuah burung besi aliansinya terbang di sisi pesawatnya. “A-apa?” gumamnya setengah gugup.
“Kembali sekarang, Erick!” seru Adnan melalui jalur penghubung komunikasi.
“A-apa yang kau lakukan?!” sergah Erick.
Adnan terkekeh menanggapi. “Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan Analemma, hah?” tanyanya enteng. Diamasih terus mengontrol pesawatnya di sisi Analemma yang ukurannya jauh lebih besar dari burung besi yang dikontrolnya sekarang.
Erick berdecih. Dia berharap bisa memutus sambungan komunikasi itu secara sepihak. Namun,rasanya tidak mungkin, karena dirinya tengah gugup dan tidak bisa mengendalikan emosi sekarang.
Sebuah ledakan tercipta di hadapannya. Erick hampir saja menabrak ledakan itu sebelum menukikan Analemma menjauhi posisinya semula. Dia terdiam, dengan napas dan degup jantungnya yang saling memburu.
“Kau hampir melukai pacarku barusan,” ucap Adnan.
“Hah?” Erick mencoba memfokuskan pendengarannya.
“Biaya perbaikan Analemma sangat besar dan kau malah memperparah kondisi ekonomi kita jika barusan kau menabrakan pacarku itu ke bukit,” ujar pemuda berambut hitam itu.
Erick terdiam. Mulutnya seperti terkunci rapat saat ini.
“Kau takkan bisa menangkap orang-orang aliansi timur dengan kursi tunggal seperti itu,” kata Adnan lagi. “Analemma didesain untuk bertarung, bukan pengangkut.”
Liur Erick tertelan sempurna. Seharusnya, dia menyadari sejak awal sebelum menggunakan pesawat bermoncong lancip itu.
“Ayo pulang,” lirih Adnan. “Kita takkan bisa bertukar pesawat di tempat ini.”
Adnan mengembuskan napas panjang dan terdiam. Maniknya yang biru terang itu menatap Analemma yang perlahan bermanuver kembali ke jalur asal. Diaturut menyusul Erick dan terbang di belakang pesawat besar miliknya.
***
Adnan berdiri memaku, menunggu seseorang keluar dari hanggar. Pandangannya lurus menatap kesibukan orang-orang di luar sana. Sementara itu, seorang pemuda mendadak menghentikan langkah tatkala melihat Adnan berdiri di hadapannya. Tentunya dengan pandangan yang tidak mengarah kepadanya sekarang.
“Kuharap Analemma senang kau berkesempatan menaikinya,” ucap Adnan. Tampaknya, dia telah menyadari seseorang yang dikenalnya berdiri tidak jauh dari posisinya.
Erick—pemuda itu—bergeming dalam posisinya. Sampai akhirnya, Adnan berbalik menatapnya.
“Katakan pada Komandan jika aku menyetujui keputusannya,” kata Adnan.
Erick tersentak. Netranya melebar dan mulutnya tercekat.
“Aku tak tahu keinginannya ... dan juga keinginanmu,” ucap Adnan kembali. “Mungkin ini kesalahanku, karena seharusnya aku tidak di sini.”
“Tidak!” sergah Erick tiba-tiba. “Tidak akan.”
Adnan mengerutkan kening. “Hm? Ada apa?” tanyanya.
“Jangan berlagak bodoh! Kau tahu apa yang akan ayahku lakukan jika kau menerima keputusannya, ‘kan?! Jangan seperti orang bodoh di hadapanku, Adnan!” bentak Erick.
Pemuda berambut hitam itu masih memandangi Erick. Helaian rambutnya yang diterpa embusan angin hampir menutupi separuh wajah.
“Kalau kau menyetujuinya, kau ....” Erick menggantung ucapannya. Emosinya kian meledak di tengah kalut pikiran yang semakin memenuhi otak.
Adnan berpikir sejenak. “Aku akan dikembalikan ke Cosmo,” katanya. “Iya, ‘kan?”
Erick bergeming. Tubuhnya seakan lemas tiba-tiba. Adnan benar-benar sudah mengetahui resiko yang akan dia
hadapi. Berbeda dengan dirinya yang kini masih berusaha mencari jati diri yang seolah lenyap tanpa jejak.
“Yah, mungkin sudah waktunya, sih.” Adnan kembali membuka mulutnya. “Aku juga tak tahu apa yang akan kulakukan di sini jika aku saja tak boleh menyentuh perangkat ataupun mengakses jalur ke mana pun di pangkalan ini. Dan juga ... perlahan, pasti aku akan berpisah dengan Analemma—”
“Tidak!” hardik Erick. “Kau takkan aman di Cosmo, Adnan. Orang-orang akan menghakimimu di sana!”
“Lalu ... apa? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Adnan. “Apa kau akan memohon pada ayahmu seperti seorang bocah?”
Erick meneguk ludah. Dia terpaku.
“Kita bukan bocah lagi. Kita juga bukan pelajar lagi, Erick,” kata pemuda di hadapan Erick itu. “Kita adalah prajurit. Pejuang. Ada kalanya kita teman, dan ada waktu kita menjadi lawan.
“Sejak awal, aku tahu resiko dari semua hal yang kulakukan. Entah itu baik, ataupun buruk bagiku tak masalah, karena aku sudah mempersiapkan semuanya,” ujar Adnan. “Perang ini pun bagiku tak ada artinya. Untuk apa aku menyerang kelompok asalku dan untuk apa aku membela musuhku sendiri. Dan untuk kebencianmu terhadap
aliansimu ... kuharap kau menanggalkannya.”
Embusan napas sejenak keluar dari hidung Erick. “Adnan,” panggilnya.
Pemuda berambut hitam itu menatap lurus kepada Erick. Berlian birunya yang bak samudera itu tampak berkilat. Emosinya yang bergejolak sengaja ditahan. Tangannya mengepal dan entah kenapa malah ditahannya agar tidak
melayang ke kepala pemuda di hadapannya tersebut. Adnan kesal karena rekannya itu malah menjauh darinya kini. Dia merasa jika Erick benar-benar akan mengkhianatinya.
Pemuda itu berlalu, melenggangkan tungkai pergi dari posisinya. Sementara itu, Erick yang belum sempat
mengucapkan sesuatu pada Adnan, kini hanya menganga menatap kepergian pemuda tersebut. Erick terpaku dalam posisinya kini. Terdiam, bergeming dalam cekat yang ia rasakan.
“Dia berada di Cosmo. Kuharap kau tak mengetahui soal Clibanarii itu, Adnan,” desisnya miris.
***
Pria itu bangkit dari kursi. Sorot matanya tajam menatap lurus ke arah pemuda yang berdiri tidak jauh darinya.
“Mudah saja mengembalikanmu ke Cosmo. Tapi apa kau tidak lupa dengan tanggung jawabmu, huh?!” bentaknya lagi.
Adnan bergeming. Tatapannya setengah tertunduk dengan perasaan yang sudah bercampur-aduk memenuhi relung hati. “Saya akan melakukan yang terbaik, yang bisa saya lakukan di Cosmo nanti,” katanya masih setengah tertunduk.
Hubert berdecih di sela seringainya yang terbentuk sempurna. “Kalian sama saja,” ucapnya seraya melangkah mendekati pemuda tersebut. “Kau pikir untuk tujuan apa kau bergabung dengan kami, lalu berada di sini, huh?” lanjutnya. “Merebut semua hak kami seperti yang dilakukan ayahmu, ‘kan, Tuan muda Harris?”
Adnan sigap mengangkat pandangan. Matanya hampir saja melebar tatkala mendapati kedua netra Hubert yang sudah berada tepat di depannya. Dia baru menyadari kalau pria itu telah berdiri cukup dekat dengannya.
Hubert kembali mengernyih. “Miris sekali jika aku tahu tujuanmu adalah itu,” katanya. “Menurutmu, memangnya kau
bisa apa jika kau kembali ke Cosmo? Hm?”
Saliva Adnan tertelan. Sementara itu, matanya masih memandang dengan cermat pria berambut cokelat yang kini berjalan mengelilinginya itu.
“Torus perdamaian itu telah kami kuasai. Seluruh orang-orang aliansi timur sudah mati sia-sia di sana,” ujar Hubert.
“Orang-orang bodoh itu tak tahu jika mereka terjebak dalam permainan kami. Dan kau dengan mudahnya berkata kalau kau menyetujui keputusanku, lalu memohon agar aku menghukummu dengan cara memulangkanmu ke sana? Apa kau pikir aku percaya pada kata-katamu?”
Sebuah hantaman keras mengenai punggung pemuda itu dan membuatnya tersungkur seketika. Adnan hampir saja mengerang karena hantaman itu mengenai bekas lukanya yang belum sembuh total. Dia meringis menahan rasa sakit. Nyeri hebat merambati seluruh tubuh seketika. Adnan tidak tahu apakah dirinya bisa bangkit sekarang, atau tidak sama sekali, karena detik ini Hubert mendaratkan salah satu kakinya tepat di bekas luka yang tersembunyi di balik seragam pemuda itu.
“Lima tahun lalu ... kuharap kau tak lupa kenapa aku membenci ayahmu,” ucap pria berambut cokelat itu.
Adnan meneguk liur dengan paksa, membasahi kerongkongannya yang tercekat akibat menahan rasa sakit. Dia
lebih memilih untuk bungkam dan membiarkan pria itu berbicara sambil menyiksanya. Ini lebih baik, daripada harus menguping pembicaraan orang lain dari balik bilik rawat.
Beberapa menit, Hubert bergeming. Dia membiarkan tungkainya berada di punggung pemuda itu, sebelum sekian menitkemudian seseorang menghentikan aksinya. Putranya—Erick— tiba-tiba masuk ruangan dan memekik ke
arahnya.
“AYAH!!!”
Hubert lantas melepas jeratan sakit pada punggung pemuda yang diinjaknya barusan. Sementara itu, putranya langsung menghampiri dan memeriksa keadaan Adnan. Erick tahu benar kondisi pemuda itu kini. Akibat
tingkah konyol ayahnya tadi, Adnan kini lemah tidak berdaya. Bisa dibayangkan jika tulang punggung yang belum sembuh benar, dihantam kembali, berkali-kali, dan rasa sakitnya bisa saja merangsang ke saraf sumsum tulang belakang hingga melemahkan kemampuan motorik pemuda tersebut.
Hubert berdecih, tidak tahan melihat putranya masih peduli kepada pemuda yang dia benci itu. “Pernyataanmu
telah disetujui,” ucapnya merujuk pada Adnan. “Kau bisa menunggu sampai kami mengembalikanmu ke Cosmo—”
“Ayah!!!” hardik Erick sekejap. Matanya menyalang ke arah ayahnya sendiri.
Sementara itu, Hubert menoleh dan menatap tajam pada Erick. “Kau harus tetap berada di sini sampai perang usai,” titahnya. “Jangan lupa kalau kau seorang kapten kini.”
Hubert memungkasi ucapan, sebelum berlalu meninggalkan ruangan itu. Erick kembali meratapi Adnan yang masih bergeming di dekatnya. Tubuh pemuda itu tidak bergerak sedikit pun. Dalam kesakitannya, dia masih bisa melirik tipis ke arah Erick yang hampir saja menangis.
“Jangan cengeng, Bodoh!” cela Adnan serak. Dia masih meringis menahan kesakitan yang mungkin saja kini telah mematikan saraf perasa di tiap sendi pertulangannya.
Erick bergeming. Dia menunduk, tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Celaan Adnan bahkan tidak berefek padanya detik ini.
“Mungkin ... aku akan mencari Adara ... dengan cara lain,” ucap Adnan.
Pemuda berambut cokelat itu sontak mengangkat pandangan, menatap Adnan yang terbaring di dekatnya. “Kenapa
kau masih memikirkan gadis itu, huh?” cercanya. “Bodoh sekali!”
Adnan tersenyum tipis. “Dia adalah sahabatku sejak kecil,” katanya. “Aku ... tak mungkin melupakannya begitu saja.”
Erick diam. Bola matanya masih tegar menatap pemuda itu.
“Aku tak peduli dia hidup ... atau mati,” ucap Adnan kembali. “Aku harus yakin ... kalau aku bisa menemukannya.”
Adnan memejamkan netra, merangkul seluruh hal yang bisa ditangkap kesadarannya kini. Harum aroma ruangan, tubuhnya, dan Erick, semuanya menyatu dalam satu embusan napas. Dia kembali tersenyum.
“Aku merindukannya,” lirihnya.“Yusagi ... Adara.”
***
Adara lantas melemparkan pandangannya keluar jendela. Gadis itu masih terduduk di dekat sebuah monitor besar di ruangan yang sama ketika dia mencoba menghubungi orangtuanya di pusat. Manik terangnya yang sejak beberapa waktu lalu fokus memandangi layar, kini bagai terarah oleh sesuatu yang menarik perhatiannya.
Dari luar sana.
Di balik bentangan mega biru tersebut.
Di belahan wilayah lain yang tidak dia ketahui keberadaannya.
Kedua telinganya mendengar seseorang memanggil namanya.
Amat lengkap.
Amat jelas.
Gadis itu tidak bisa menerka pemanggilnya. Tangannya mengepal, menyentuh dada. Degup jantungnya lantas bergemuruh. Dia pun tidak bisa menebak sesuatu yang kini tengah dirinya rasakan. Semuanya seperti bercampur-aduk dalam sebuah kekalutan yang tiada terbatas.
Adara berpikir sejenak. Sesekali mengarahkan matanya keluar jendela dan juga beralih ke ruangan di mana hanya ada dirinya dan beberapa teknisi tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Sampai akhirnya, sesuatu mengurai fokusnya. Sebuah notifikasi muncul dengan jelas di monitor besar yang ada di dekatnya. Matanya melebar, sebelum sekian detik kemudian dia berlari keluar ruangan demi menemui seseorang.
“Letnan Jason!!!” pekiknya. “Ada pesan balasan dari pusat!”
***