
Adnan mengulurkan satu tangan, mendekati wajah Hubert. Namun, pria itu menggenggam tangannya dan menggeleng. Sorot mata yang tidak pernah didapati oleh Adnan dari seorang komandan yang terkenal bengis. Seolah pria itu menyimpan banyak rahasia dan beban sekaligus selama ini tanpa Adnan ketahui.
“Mereka akan datang sebentar lagi,” desis Hubert. Dia beralih, duduk bersandar pada dinding sambil meringis
menahan sakit. Pria itu menatap pemuda yang masih berlutut di depannya.
“Beritahu aku, apa yang seharusnya aku tahu,” ucap pemuda itu.
Mata biru Adnan menyatakan kesungguhan. Membuat Hubert meneguk saliva. Pria itu menghela napas, memalingkan wajah ke satu arah, lalu kembali menatap Adnan.
“Aku tidak ingin kau memercayaiku karena apa yang akan kau dengar dariku akan berkebalikan dari apa yang sudah kau dapat selama ini,” ujarnya kemudian. “Anak-anak seperti kalian … tidak seharusnya kalian berada di sini sekarang.”
“Kenapa?” tanya Adnan masih dengan posisi yang sama. “Kenapa bukan kau yang menyebabkan peristiwa itu
terjadi? Lalu siapa? Siapa pelakunya?”
Hubert tersenyum. Benar-benar tersenyum, bukan menyeringai dan Adnan tahu kalau ekspresi ini tidak pernah
ditunjukkan oleh pria itu.
“Sarkan,” ucap Hubert, membuat dahi pemuda di depannya benar-benar berkerut. “Dia menyimpan banyak hal yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun.”
Liur Adnan tertelan sempurna. Masih dalam pikirannya yang berkelahi dengan para monster, dia kembali menunggu
pria itu berbicara.
“Aku, ayahmu, ayah gadis itu. Kami berteman cukup lama. Aku mengetahui keinginan terbesar ayahmu sejak dulu,”
ujar Hubert. “Ayahmu membuat Sarkan dan Paladin, bukan untuk dipermainkan seperti ini. Ayahmu sangat tulus, menyelesaikan kedua Clibanarii itu untuk dipelajari banyak orang. Agar teknologinya bisa dimanfaatkan untuk membantu membangun kembali Bumi. Untuk membenahi Bumi. Bukan untuk merusak.
“Tapi sayang, ada banyak pihak yang berusaha menjatuhkannya. Banyak orang juga tidak menyukai hubungan kami dan berusaha untuk memisahkan kami dengan berbagai cara. Mereka memanfaatkan anak-anak yang tidak memiliki orangtua untuk dididik, dan dicuci otaknya, agar mau berpihak pada mereka. Erick dan kau adalah dua di antara mereka yang berhasil mereka rekrut.”
“Apa maksudmu … Cosmo ….” Adnan menggantung ucapannya, ragu dengan kata hatinya. “Apa maksudmu Cosmo bukanlah torus yang selama ini kita pikirkan?”
Hubert terdiam dengan matanya menatap mata biru Adnan amat lekat. “Cosmo adalah bentuk perdamaian, memang. Tapi tidak lagi sejak banyak pengkhianat yang bekerja hanya untuk memenuhi ambisi mereka,” jawabnya. “Cosmo akan runtuh, cepat atau lambat.”
Adnan menghela napas sejenak. Neuron di otaknya bekerja terlalu keras dan cepat saat ini, sementara para
monster berusaha menghakimi agar dia tidak memercayai ucapan yang dilayakan Hubert padanya. Namun, sesuatu seolah membuatnya tersentak.
“Boleh kutanya sesuatu?”
Pria berambut cokelat itu mengangguk samar.
“Jika Paladin hanya bisa dikendalikan oleh Yusagi Richard dan putrinya, harusnya Sarkan hanya bisa dikendalikan Ayah dan aku. Tapi kenapa? Kenapa kau ….”
Kedua pasang mata berbeda warna itu saling bersitatap selama sekian detik.
“Aku,” ucap Hubert lantas mengarahkan telunjuknya ke Adnan. “Ayahmu,” lanjutnya, “dan ayah gadis itu.”
Detik ini, Adnan cukup dibuat terkejut. Hal ini sama sekali belum pernah didengarnya dari siapa pun. Tentang kenapa pria itu bisa mengontrol Sarkan di peristiwa lima tahun lalu. Oscar dan Morgan yang lebih dari sebulan atau bahkan selama ini dikenalnya pun tidak pernah memberitahu soal informasi ini. Mereka justru tampak mencari tahu, meski ….
“Jadi, selama ini ….” Adnan terhenyak, ragu dalam ketercekatan di pita suaranya.
Hubert mengangguk pelan. “Aku dan Richard memang sudah ditakdirkan menjadi pengontrol pertama keduanya.
Ayahmu sendiri yang menginginkannya.”
“Tapi, kenapa …. Kenapa? Lalu, lalu siapa? Siapa yang membunuh ayahku? Kenapa kau membunuh ayah Adara?” Pemuda 17 tahun itu memberondong penasaran.
Hubert tercenung. Sorot matanya setengah tertunduk sendu. Sampai akhirnya, pemuda itu memegang pundaknya.
“Hubert, katakan padaku!”
Pria itu menghela napas. “Aku tidak punya pilihan lain,” ucapnya lemah. “Aku dipaksa melakukannya.”
“Hah?”
“Temanmu masih hidup,” ucap pria itu. “Kau tenang saja.”
Sebuah senyuman kembali terukir di sudut bibir Hubert. Tangannya mengganggam lengan Adnan, lalu
menepuknya pelan.
“Jika aku jadi kau, akan kucari gadis itu,” katanya. “Akan kubawa lari dia, ke manapun. Itu lebih baik daripada aku dan dia harus mati di tangan orang yang sudah kuanggap sebagai teman selama—”
DORRR!
Cairan merah terciprat sempurna, membercak di wajah pemuda berambut hitam itu. Netra birunya menyalang. Tubuhnya kaku sekejap.
Sementara itu, tubuh pria yang duduk di depan Adnan tadi terhuyung, lantas terkapar tepat di depan pemuda
tersebut. Darah mengalir dari kepalanya yang tertembus peluru, sebelum akhirnya menggenangi sekitar.
Dalam hening, Adnan menoleh ke arah si penembak. Pria yang telah menolongnya itu berdiri tidak jauh darinya
dengan satu tangan mengacung. Ujung revolver yang digenggamnya tampak berasap tipis. Si pemilik warna mata yang sama, yang selama ini sudah Adnan anggap sebagai ….
Pria itu menurunkan tangannya dengan pelan. Beberapa orang tampak berjalan menghampiri.
“Bawa dia ke sel.”
“T-tunggu!”
Belum sempat Adnan bicara, beberapa orang mencekal kedua tangannya yang ditumpu ke belakang. Pemuda itu
dipaksa bangkit dan dibawa pergi. Dia melihat tubuh Hubert yang tergolek tak berdaya. Matanya tertutup.
“Buang jasadnya,” ucap si penembak tadi. “Jangan sampai ada yang mencium jejaknya di manapun.”
barusan dilihatnya. Namun, pria itu. Ya, benar, pria itu. Kenapa bisa? Kenapa bisa pria itu melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh Adnan sendiri.
Adnan memberontak dengan beringas. Namun, apa daya, cekalan para prajurit pada pergerakannya saat ini
membuatnya justru semakin terkunci. Benaknya menggeram, sebelum akhirnya pemuda itu berteriak;
“OSCAR!!!”
***
Bunyi debum mengurai lamunan Adara dalam sekejap. Asap mengepul tinggi dari salah satu sisi markas. Gadis
yang semula duduk bersandar pada pagar pembatas itu berdiri seketika.
“Apa itu?” gumamnya.
Adara berbalik dan berlari keluar dari unitnya. Namun, sang ibu yang baru saja sampai di luar unit lantas menahan pergerakannya.
“Ibu, ada apa?” tanya gadis berambut hitam itu.
Naomi tampak cemas. Dia melihat ke satu arah selama sekian detik, lantas menarik putri tunggalnya dengan cepat
dan membawanya ke CB-222. Adara yang begitu inosen bahkan berusaha untuk membaca jalan pikiran sang ibu. Namun, perempuan itu seperti dulu, tidak pandai ditebak bahkan oleh anaknya sendiri.
Naomi buru-buru mengunci pintu ruangan CB-222. Napasnya terlihat memburu.
“Ibu,” panggil Adara. Wanita di depannya menatapnya dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan. “Apa yang
terjadi?”
Saliva Naomi tertelan sejenak. “Mereka mengepung kita,” ucapnya.
“Hah? Siapa?”
Naomi menggenggam erat kedua lengan Adara, menelisik seluruh tubuh anak gadisnya tersebut. Dia menghela
napas berkali-kali, berusaha mengatur emosi yang hendak meledak dalam dirinya.
Bunyi keras kembali menguasai pendengaran. Terdengar keras dan menggetarkan lantai ruangan. Dinding CB-222
terlihat bergetar sedikit. Adara kembali menatap sang ibu yang tampak ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Maafkan aku, Richard,” lirih Naomi. Kedua tangannya terasa gemetaran. “Maafkan aku.”
Adara lantas menggengam kedua tangan sang ibu. “Ibu, jelaskan padaku. Apa yang terjadi?” burunya. “Suara apa
itu?”
Naomi mengangkat pandangannya. “Akan ada masanya kita jatuh ke dalam perangkap, jadi ….”
“Jadi?”
Kedua mata mereka saling bersemuka. Sementara itu, suara-suara berisik di luar terdengar semakin dekat.
“Kau harus ingat kata-kata Ibu,” ucap Naomi lantas mengusap lembut pipi putrinya dengan lembut. “Terkadang,
apa yang kita anggap benar tidak sepenuhnya benar, dan apa yang kita anggap salah tidak sepenuhnya salah. Kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan.”
Kening Adara berkerut. Pikirannya berusaha untuk menafsirkan setiap ucapan wanita di hadapannya. Wanita itu
kembali menarik lengannya mendekati sebuah robot besar yang masih bergeming.
“Pergilah dan bawa Paladin,” pintanya kemudian.
“A-apa maksud Ibu? Aku tak mengerti!” kilah gadis berambut hitam tersebut.
Asap tipis keluar dari embusan napas keduanya dan mengepul di udara. Hening menguasai selama beberapa detik,
seiring dengan dentuman di luar sana.
“Mereka mengincarmu,” ucap Naomi.
“Lalu, bagaimana dengan Ibu?” tanya Adara. “Jika aku pergi, akan banyak yang tahu bahwa aku pergi—”
Adara tercekat. Teringat dengan orang-orang yang tadi ditemuinya setelah dia mencoba untuk menahan Jason
kembali ke medan perang. Mereka memintanya untuk tetap di dalam unit. Apakah mungkin ini sudah direncanakan sebelumnya? Apakah ada sesuatu yang tidak dimengerti oleh gadis itu selama ini?
“Ibu ….”
Wanita berambut pendek itu mengangguk. Dia serta-merta memeluk putri satu-satunya itu. Amat erat. Mengusap
punggung Adara berkali-kali.
“Paladin bisa mengatasinya,” bisik Naomi.
Adara melepaskan pelukan wanita tersebut. “Lalu bagaimana dengan Ibu?” tanyanya.
“Jika memungkinkan, kita akan bertemu lagi nanti,” jawab Naomi.
Gadis 17 tahun itu terdiam, berkelahi dengan pikirannya sendiri. Tentu saja, jika dia keluar bersama Paladin sekarang, pasti banyak yang tahu dan mengejarnya. Namun, ke mana dia harus pergi? Dia sendiri? Yang benar saja?
“Bagaimana dengan Jun, adik Jo? Kakaknya sedang berada di barisan depan saat ini,” ucapnya kemudian.
“Dia baik-baik saja. Percayalah pada Ibu.”
***