
Mereka semua masih dalam misi pencarian Rayna dan Aleesya. Faaz yang terlihat sangat Frustasi, wajahnya terlihat sangat muram. dia juga melajukan kecepatan mobl dengan sangat cepat hingga membuat Abrar meras cemas. Fizzy dan Qabil masih mengikuti MaliQ adiknya. Fizzy tak peduli bagaimana keadaan pesta pernikahan yang akan ia selenggarakan esok sore nanti. baginya keselamatan Aaleesya, keponakan yang sangat ia sayangi sangatlah berharga, bahkan tak hanya itu kesehatan Papa nya lebih sangat berharga dari segi Apapun, Fizzy tidak bisa membayangkan jika Papa nya tahu Aleesya dan Rayna yang pergi dari Rumah. Fizzy pun tak menyangka kisah di rumahnya dapat serumit ini.
"Qabil, Aku rasa Maiq tidak menyembunyika mereka!" seru Fizzy.
"Akupun merasa seperti itu Kak, dia malah asyik nongkrong bersama Shawn" Ucap Qabil, Fizzy menghela nafasnya dengan sangat berat, satu per satu masalah datang dan susah sekali pergi dari Rumahnya.
"Kaka, lihatlah siapa wanita yang sedang bersama Maliq" Fizzy mendongkakan mata. seolah tak prcaya siapa yang sedang menemui Maliq.
"Dia" Ucap Fizzy.
"Dia, Adalah mantan pacar Maliq."
"Untuk apa mereka bertemu di malam hari seperti ini" gerutunya.
"bisa saja Maliq meminta bantuannya untuk menyembunyikan Kak Rayna" Ucap Qabil.
"Ya sudah, kita pulang saja dulu kak. setelah Acara besok aku akan membuntuti dia" Ucap Qabil kembali, Fizzy hanya terdiam, ia memikirkan Papanya yang segera mengetahui bahwa Aaleeysa dan Rayna tidak ada dirumah.
"Qabil, Aku akan membatalkan pernikahan ku bersama Aliq. sepertinya Tuhan memberitahuku bahwa aku dan dia memang tidak bisa berjodoh" Seru Fizzy.
"Kak, itu akan lebih menyakiti hati Papa. ku mohon"
"Qabil, kau tak bisa merasakan betapa frustasinya Aku!. Aku akan menikah tetapi masalah yang datang sangatlah besar" keluh Fizzy sembari menangis, Fizzy tak kuasa menahan Air matanya.
"Kak, Aku yakin Kak Aliq akan sangat kecewa jika pernikahan ini dibatalkan" Fizzy terdiam mendengar Apa yang Qabil ucapkan.
"Kau tak tahu Qabil, Apa yang aliq inginkan. dia menginginkan Alea bukan Aku, dan dia akan merasa senang jika Aku yang membatalkan pernikahan ini" Ucapnya didalam batinnya, Batin Fizzy menangis mengingat kenyataan yang sangat pahit didalam hidupnya.
"pikirkanlah kembali Kak," Ucap Qabil dengan penuh harapan, Qabil tahu jika Aliq menyukai calon istrinya. Qabil sendiri memiliki rasa ketakutan yang sangat dalam jika Aliq berusaha untuk merebut Alea dari pelukannya.
"Ayo kita pulang saja dulu, dan sebelum itu hubungi Alea. tanyakan padanya Apa Natasha sudah tertidur" Qabil segera menghubungi Alea melalui pesan singkat di ponselnya.
~ Sayang, Apa Kak Natasha sudah tidur. (QABIL)
~ Sudah sayang, Aku juga sudah berada di ruang tamu. menunggu kalian tuk datang (Alea)
~ Sebentar lagi, Aku dan Kak Fizzy pulang. pastikan jika Kak Natasha dan Papa sudah tertidur. (Qabil)
Qabil dan Fizzy memutuskan untuk segera kembali. sebelumnya Fizzy sudah menghubungi Faaz dan Faaz masih melakukan pencarian. bahkan saat ini Aliq sudah bersama dengan Faaz.
"Apa Aliq lah yang membawa Rayna dan menyembunyikannya." gumam Fizzy.
"Tidak mungkin kak, Aku yakin kak Aliq tidak seperti itu" Qabil pun menukasnya. menurut Qabil, Faaz adalah segalanya bagi Aliq dan selama penyelidikan yang pernah Qabil lakukan terhadap Aliq, dia memang sosok sahabat yang baik untuk Faaz.
***
Faaz menghentikan laju mobil yang sedang ia tumpangi bersama Aliq dan Abrar. Faaz terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Faaz, kenapa denganmu?" Tanya Aliq.
"Aku sedang berpikir, Apakah Aidil yang membantu Rayna?" Ucap Faaz.
"karena, Abrar bilang Aidil datang saat kami sedang tertidur." Faaz kembali menerka-nerka mengenai kedatangan Aidil.
"Ya, Tuan Faaz. Saya bertemu dengannya. tetapi Ia tidak terlihat masuk kedalam Rumah. hanya sebatas didalam mobil karena, kebetulan Saya juga sedang di halaman Rumah untuk mengecek keadaan diluar" jelas Aidil, seraya menjelaskan kedatangan Aidil.
"Baiklah, Aku akan pulang saja!, Esok kita cari cara saja bagaimana cara menjelaskan kepada Papa jika Papa menanyakan keberadaan cucunya" Ungkap Faaz, Aliq menganggukan kepalanya.
"Aku meminjam mobil mu Atau Aidil antarkan Aku ke Apartemen ku" Seru Aliq.
"baiklah," Jawab Faaz sembari meluruskan pandangannya.
"Sebentar!" Seru Faaz sembari menatap keatas, matanya melirik sebelah seperti ada yang mengganjal kembali didalam benaknya.
"Aku mencurigai seseorang yang belum aku lihat sedari tadi"
"siapa?, " Tanya Aliq.
"Ayana!, " Ucap Faaz.
"Tidak, Aku pikir Ayana sedang tertidur dikamarnya" Jawab Faaz.
"Tuan, Nona Ayana sepertinya memang tidak ada dirumah" celetuk Abrar.
"Kapan dia pergi?" tanya Faaz.
"Saat Tuan Aliq dan Tuan Aidil selesai bertengkar" Jawab Abrar.
"itu sebelum Aku dan Maliq bertengkar" Ucap Faaz, “dan pastinya kepergian Ayana, sebelum Rayna mendatangi Fizzy ke kamarnya.” Pikir Faaz kembali.
”jika memang begitu, kita tidak bisa mencurigai Ayana.” Sahut Aliq, Faaz pun terdiam memikirkan apa yang sedang Aliq ucapkan.
”iya sepertinya memang kita tidak bisa mencurigai Ayana.” Ucap Faaz.
”karena yang patut dicurigai hanya Adik mu MaliQ” ucap AliQ.
*****
Didalam Ruangan gelap, Ayana terlihat sedang memondar-mandirkan langkahnya. Ayana terlihat sedang gelisah, wajahnya pun memucat. Dia melirikkan matanya kesegala Arah.
”Ayana, Apa yang sedang kau pikirkan. Berhentilah memendar-mendirkan langkahmu. Aku pusing melihatmu” Seru Aidil.
”Kak Aidil, beritahukan saja Kak Faaz!” Ucap Ayana.
”beritahukan Kaka ku, aku tidak ingin menambah masalah dan beban Papa Rido.” Ucap nya kembali.
”Ini, keuntungan untuk kita Ayana!. Sudahlah kau tak perlu takut, kita akan bermain dengan cantik”
“Mereka tidak akan mencurigai kita, tenanglah” tandasnya kembali.
”Lalu siapa yang akan menjaga Kak Rayna, tidak mungkin besok Aku tidak menghadiri pernikahan Kak AliQ” sahut Ayana.
”Tidak akan pernah terjadi pernikahan itu, AliQ seharusnya menikahi Alea, aku menikahi Fizzy dan kau menikah dengan Qabil.” Jelasnya kepada Ayana.
”Tidak kak Aidil, aku tidak ingin menikah dengan cara licik seperti ini” Tukasnya membuat Aidil geram.
”lalu, kau mau Apa? Kau ingin lari dari permasalahan ini?” Matanya tersirat kebencian, dia benar-benar sudah gelap mata.
”Kak Aidil, jangan menajamkan matamu seperti itu. Kumohon!”
”Aku hanya takut jika Kak Faaz tahu aku dan kau yang merencanakan ini. Apalagi jika Daddy ku tahu, dia bisa marah denganku dan jika Daddy ku marah, dia bisa tidak menyahut pertanyaanku selamanya, dia juga akan melupakan ku sebagai anaknya dan...”
“Stop!, berisik sekali dirimu Ayana. apa kau memang terlahir cerewet!” Bentaknya itu membuat Ayana semakin ketakutan, Ayana terlihat ingin sekali menangis.
”Suntikan itu tidak akan membuat sadar Rayna dan juga keponakanmu, Dengar Ayana!, esok aku akan datang seperti biasa, begitupun dengan mu dan mereka tidak akan mencurigai ku ataupun mencurigaimu” Ucapnya.
“kita akan tetap datang, tetapi dengan harapan yang berbeda” Aidil tersenyum dan menatap sinis kesegala Arah, matanya terlihat mendelik, ia pun menatap dan mencengkeram bahu Ayana. Meyakinkan Ayana jika apa yang sedang mereka lakukan akan baik-baik saja.
”Kak Aidil, “ lirihnya sembari menatap Mata Aidil.
”Aaa..aku takut” ucap lirihnya kembali, Matanya terlihat sayu.
“Dengar Ayana!, jangan menjadi orang yang terlalu baik, sekali-sekali kita harus menjadi orang yang berani walaupun itu didalam kejahatan. Agar mereka tidak terlalu berani menginjak-nginjak harga diri kita!” Hasutnya kepada Ayana.
”Ayana, apa kau pernah merasa Alea memberi mu kebaikan!” Ayana, menggelengkan kepalanya.
”Lalu untuk apa kau memberinya kebaikan, untuk apa kau selalu mengalah. Alea saja tidak pernah memikirkan perasaan mu!” Hasutnya kembali. Ayana berpikir sejenak, ia terlihat membayangkan apa yang dilakukan Alea kepadanya, Alea memang selalu tidak menyukai apapun yang Ayana lakukan.
”Aku harus berani!. baiklah kak Aidil, Aku percaya kepadamu” Gumam Ayana. Aidil tersenyum karena merasa berhasil menghasut Ayana.
.
.
.