
" Ya Tuhan, mengapa hatiku merasa jika suamiku sedang menutupi sesuatu, Entahlah apapun itu akupun tak mengetahuinya sama sekali. Yang aku tahu rasa curiga ini sangatlah salah. Tetapi, aku tak tahu mengapa hati ini terasa gundah karena sikapnya yang tidak seperti biasa " Gumam Natasha sembari menatap kaca jendela, ia melihat kearah taman.
Faaz sedang duduk di taman dan memandangi laptopnya, 3 hari sudah Natasha memendam perasaan gundah nya karena merasa Faaz sedang dalam keadaan tidak baik. Faaz terkadang terlihat frustasi dan lebih memilih terdiam tanpa menyapa Natasha.
Natasha mencoba menghampiri suaminya itu namun, ia terlebih dahulu melihat AliQ datang dan mereka terlihat seperti sedang dalam pembicaraan serius.
" Kak, Lihatlah gaun ini cocok kan untuk esya.? " Tanya Alea, ia menunjukan gaun mungil untuk keponakannya kenakan disaat malam Pertunangannya bersama Qabil.
" Iya Alea, udah kamu coba memakaikan gaun itu dibadan esya? " Tanya Natasha, Alea melihat bekas air mata yang masih tersimpan di mata indah Kaka iparnya itu.
" kakak, Gak apa-apa kan?. Apa kaka sedang marah kepadamu? " Tanya Alea, Natasha mencoba menutupi rasa penasarannya terhadap sikap Faaz. Terlebih lagi Natasha melihat dengan mata kepala sendiri, Faaz sedang membalas pesan singkat yang dikirim dokter itu.
" Kamu cerita dong sama aku, please " Ucap Alea seraya mengatup kan kedua tangannya.
" apa kau mengenal Dokter Ambar?. Dan Apakah dokter Ambar adalah wanita idaman nya diluar sana " Tanya Natasha, Alea begitu kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Natasha.
" Maksud kak Natasha Dokter Ambar siapa? " Tanya nya kembali, Alea menelan ludahnya seakan ia sedang menutupi sesuatu.
" Apa kamu mengenalnya Alea?. " Tanyanya dengan penuh harap kembali.
" Tidak! " Seru Alea singkat, Alea mengingat betul jika ia pernah memergoki Kakaknya sedang menangis dihadapan dokter Ambar itupun satu tahun yang lalu.
(' Dokter Ambar, Dokter yang pernah menangani Kak Rayna dan setahun lalu aku memergoki Kak Faaz sedang menangis seperti memohon kepadanya dan terlihat jika Kak Faaz menatapnya lekat seperti mereka sedang memiliki hubungan yang kuat ' - batin Alea bergumam)
" Kak Alea " Panggil MaliQ yang menghampiri Alea dikamar milik Natasha, namun MaliQ malah menatap Natasha dengan mata yang sangat sayu. Rasa Iba dihatinya sangatlah besar jika ia melihat wajah polos wanita yang sangat ia cintai. Mengapa tidak, MaliQ merasa kesal jika mengingat kebohongan yang sedang Kakaknya tutupi itu dan jika Natasha tahu mengenai kebohongan itu Hati Natasha pasti sangatlah Hancur.
" Ada apa MaliQ?, kamu memanggilku tetapi, malah menatap Kak Natasha lekat! Sungguh Aneh! " Gerutu Alea, namun MaliQ tetap saja menatap Natasha dengan penuh iba.
" MaliQ, hey! " Bentaknya membuat MaliQ merasa kaget, Natasha terdiam melihat tatapan MaliQ.
" Kaka Dipanggil Papa dan Tante Nera " Sahut MaliQ, Alea meninggalkan MaliQ yang masih mematung dihadapan kaka iparnya itu.
Tante Nera adalah sahabat Mama May semasa hidup di Australia, Tante Nera datang untuk memberikan Kado yang istimewa kepada Alea dan Qabil karena pada waktu pernikahan mereka, Tante Nera Akan berada di Italia dalam waktu yang lama.
Sebenarnya Tante Nera sangat menyukai Papa rido namun beberapa kali Papa selalu tak menggubrisnya, dan Tante Nera sudah tahu betul Papa sangatlah mencintai Mama May sampai kapanpun. Kesetiaan Papa sudah beberapa kali diuji olehnya.
" Maaf MaliQ bisakah kamu keluar dari kamarku? " Usir Natasha kepada MaliQ, MaliQ yang tak mendengarkan ucapan Natasha malah semakin melangkahkan kakinya untuk mendekati Natasha.
" MaliQ ku mohon, aku takut Faaz salah paham tentang ini jika ia melihatnya " Seru Natasha sembari memundurkan langkahnya namun MaliQ sama sekali tak mendengar permintaan Natasha.
" Jika kau ingin tahu tentang apa yang sedang kaka ku sembunyikan, temui aku di taman belakang pada jam tengah malam. Aku menunggumu " Pinta MaliQ, MaliQ pergi meninggalkan Natasha, dan pada saat MaliQ keluar dari dalam kamar Natasha, tak sengaja ia berpapasan dengan Faaz kakanya yang menurutnya juga saingannya.
" Dari mana kamu? " Tanya Faaz dengan kesal sembari menatap tajam kearah mata adiknya, MaliQ pun menatapnya sama.
" Dari wanita yang telah kau bodohi! Kenapa?, Apa kakak takut jika aku menceritakan kebohongan kaka kepada kami juga padanya. Dengar Kak Faaz, jika sedikit saja kau menyakiti hatinya kau akan berurusan denganku " Ancam MaliQ sembari menajamkan matanya, menatap mata Faaz dengan penuh kekesalan.
" Apa yang akan kau lakukan kepadaku MaliQ?. Kau akan Apa? Hah! " Tanya Faaz kembali, tangan Faaz kini memegang erat lengan MaliQ. Ia seakan menelan ludahnya dengan kasar dan menatap kearah MaliQ dengan tatapan yang sangat kesal. Tidak hanya itu sudut matanya berkedut, Faaz tidak bisa menutupi Rasa marahnya.
" Aku tak akan segan.. " Saat MaliQ berbicara, Natasha keluar dan mencoba memanggil suaminya itu.
" Sayang, apa kamu bisa menemaniku dikamar?. Aku merasa gundah sayang " Seru Natasha, MaliQ pun merasa kesal mendengar dan melihat tingkah manja Natasha kepada suaminya itu. Faaz melepaskan genggaman tangannya di lengan MaliQ dan membuat bekas merah juga sedikit lebam dilengan MaliQ lalu ia pergi untuk menghampiri istrinya.
" Maaf sudah membuatmu menunggu lama, tadi aku berbincang sebentar dengan AliQ " Jawab Faaz sembari menyeret langkah kakinya pelan, MaliQ terdiam hingga suara pintu yang tertutup terdengar oleh telinganya.
" Argh! Dasar Natasha bodoh! Kau bodoh sekali, kau terlalu baik jika untuk disakiti, Natasha. (MaliQ menghela Nafas beratnya) . Dengar baik-baik Natasha, aku akan membuatmu bahagia. kau tak pantas hidup bersamanya " Gerutunya pelan sembari berjalan dengan pelan.
" Dan Kau Faaz, Kau iblis yang berbentuk malaikat, kau tak segan membohongi kami yang sangat menyayangi mu! Tuan Faaz! " Gerutu MaliQ sembari menyeret langkahnya dengan sangat pelan, Nafas nya terasa sesak.
Didalam kamar, Natasha memeluk tubuh suaminya yang terlihat sangat lemas. Natasha menggoyangkan jari jemarinya diatas dada Faaz yang penuh dengan bulunya.
" Kamu lelah iya? " Tanya Natasha, Faaz memeluk Natasha namun tatapannya sangat kosong.
" Apa yang sedang MaliQ rencanakan, dan mengapa tadi MaliQ begitu terlihat kesal kepada Faaz begitupun sebaliknya. Mereka juga membawa namaku saat sedang bersitegang didepan kamar tadi - pikir Natasha didalam Hati, Natasha sangat memikirkan hal yang membuat Faaz terlihat dingin bahkan tak hanya kepada Natasha. Faaz pun terlihat seperti tidak memperhatikan anak semata wayangnya.
" Apakah kamu Tahu?, tadi iya Aaleesya memintaku untuk mengambilkan nya segelas ice cream dan aku menolaknya namun dia memang sungguh-sungguh anak yang baik dan mengerti. Dia mencium kening ku lalu memintaku menjelaskan mengapa dia tak boleh sesering Alea memakan ice cream dan aku menjawab dibantu oleh Alea juga Qabil "
Natasha mencari space untuk menghela nafasnya, entah sedang berada dimana pikirnya Faaz namun tidak dengan raganya yang sedang bersama dengan Natasha. Faaz seperti orang yang sangat kebingungan. Natasha sudah sangat merasa jika Faaz benar-benar sedang tidak ingin menyapa kami dengan hangat tetapi Natasha sangat sabar menghadapi situasi seperti ini.
" Mama peri, kau Pasti akan memaksaku untuk selalu bahagia bukan?, jika kebahagiaanku ada saat aku makan ice cream kau Pasti akan selalu memberiku ice cream. dan kata dokter itu aku sudah sangat sehat dan katanya ice cream bagus untuk ku, mama " ungkapan anak itu membuatku menangis haru, karena aku menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri dia sangat bertekad untuk sembuh sayang" Seru Natasha, Faaz menangis menatap wajah istrinya.
" Kenapa anak seusianya sudah mengerti sayang, walaupun esya berbicara tidak sejelas kita tetapi ia sudah dapat mengerti apapun yang kita bicarakan. Aku semakin menyayanginya. Dia sangatlah Pintar. " Timpal Natasha, mereka berlinang air mata sembari saling berpelukan. Natasha membenamkan wajahnya diatas dada milik suaminya.
" Aku mencintaimu suamiku, maafkan aku selama Dua hari kebelakang ini aku menaruh curiga kepadamu. aku memang bukan istri yang baik " Ungkapnya, Natasha tak segan memeluk dan mencium suaminya itu.
" Faaz, aku mohon jangan pernah meninggalkanku. aku tak bisa jauh dari mu juga peri kecilku! kumohon Faaz! " Pintanya, Faaz terdiam mendengar apa yang Natasha ucapkan.
" Faaz mengapa tak menjawab, aku takut jika kau meninggalkanku. kau bagaikan malaikat pelindung ku Faaz. " Natasha tak hentinya berbicara kepada Faaz seakan ia pun tidak merasakan malu kepada suaminya.
" Maafkan aku jika membuatmu kesal suamiku " Seru Natasha, karena melihat Faaz terdiam tanpa mengeluarkan suara.
" Tidurlah, bukankah tadi kau mengeluh sedang merasa tidak enak badan. " Ucap Faaz sembari mencium kening istrinya. Natasha menganggukan kepala nya. Faaz beranjak dari tempat tidurnya.
" Aku akan keluar sebentar untuk bertemu Aidil, tidurlah kau tak perlu mengkhawatirkan Aaleeysaa.
( bagaimana aku harus meninggalkanmu sedangkan yang membuat anak ku bahagia adalah dirimu, Natasha maafkan aku jika aku mengecewakanmu - Batin Faaz. )
dalam batin Faaz, Faaz meracau kesal dengan sikapnya yang terdiam kala istrinya itu memohon kepadanya.
( Bodoh sekali aku, Kenapa aku harus diam dan tak menjawab nya. bagaimana perasaannya kala itu! ah sial lagi-lagi aku menyakitinya. - gerutu Faaz sembari berjalan keluar meninggalkan istrinya itu. )
.
.
.
.
.
.
******
Fizzy sedang berada dikantor, dia sedang menyelesaikan laporan untuk diberikan kepada Faaz. Faaz dan Fizzy memang selalu mencoba turun tangan dalam pengecekan apapun mengenai masalah kantor bagi mereka Urusan kantor adalah tanggung jawab besar untuk mereka karena Papa dan Alm kakeknya sangat mempercayakan apapun kepada mereka apalagi Asic group menjadi perusahaan terbesar karena kerja keras dan dedikasi dari Kakek dan juga Ayahnya.
" Nyonya, mohon Maaf diluar ada Tuan AliQ? " Ucap staff yang menghampiri Fizzy kedalam ruangannya.
" Suruh masuk saja Matt " Seru Fizzy sembari memfokuskan diri didepan layar Laptop nya.
" Hay " Sapa AliQ dengan senyuman di wajahnya.
" Hay, silahkan duduk liQ " Ucap Fizzy seraya mempersilahkan AliQ duduk, AliQ menatap kilas senyuman diwajah calon istrinya itu.
" Oh iya, Ada apa liQ?. Kok tumben dateng-dateng gak bilang ke aku " Tanya Fizzy dengan penasaran.
" Enggak apa-apa Fizzy, apa stempel undangan sudah siap? " Tanya AliQ, Fizzy sangat khawatir dengan pertanyaan AliQ.
" Sudah, maaf Aku belum memberitahumu. Karena kemarin juga aku membantu Alea untuk persiapan pertunangannya sabtu ini. " Ungkap Fizzy, karyawan meminta ijin masuk untuk memberikan minuman hangat kepada AliQ. Dia terdiam kalau Fizzy membicarakan nama Alea.
" AliQ " Panggil Fizzy, AliQ menatap lurus kearah Fizzy. Fizzy merasa aneh dengan sikap yang AliQ berikan.
" AliQ, Maaf apakah ada yang salah diantara kita. Apa kau ingin.. " AliQ tersadar dan Fizzy tak ingin melanjutkan pembicaraannya.
" Tidak Fizzy, aku harus pulang. Maaf sudah mengganggu waktumu. " AliQ pergi tanpa memberikan senyumannya. Dan Fizzy semakin merasa aneh dengan sikap yang diberikan AliQ kepadanya.
NOTES AUTHOR :
MAAFKAN AUTHOR YANG AkhIR- AKHIR INI SANGAT SIBUK UNTUK REVISI NOVEL SEBELUMNYA DAN UNTUK CHALLENGE ITU AUTHOR UMUMIN IYA DI EPISODE SELANJUTNYA,
OH IYA, INI SEBENARNYA 2 EPISODE CUMA AUTHOR JADIIN SATU EPISODE.. PERCAYALAH AUTHOR SANGAT BERHARAP KALIAN SENANG.
LAPPYUH🥰😍