
"Aku Akan menghancurkanmu Faaz, Aku benci denganmu. kaulah yang selalu mereka banggakan, hingga kesalahan besar saja mereka tak ingin melihatnya!!! Aku membencimu Faaz, jika saja Aku tidak menyayangi Papa, mungkin Aku sudah membunuhmu, Tidak. Aku tidak akan membuatmu Mati percuma. Aku akan membuatmu merasa susah Lalu mati dengan kesusahanmu" Umpat Maliq, tangannya mengepal, wajahnya memerah.
('Tidak Nak, Itu kakamu - Bisikan suara MamaNya seakan terdengar jelas, Namun ia sama sekali tak ingin menggubrisnya)
"Tidak, Dia bukan Kakaku. dia sudah mengambil dengan jelas cinta pertamaku. Aku tak pernah menyukai wanita hingga seperti ini. dia wanitaku Namun, Faaz merampasnya dari hatiku" Gumam Maliq, menggerutu kesal.
Didalam kamar miliknya, Maliq terdiam, duduk diatas kursi yang menghadap kearah Ranjangnya, matanya memandang lurus seakan sosok Natasha hadir dihadapannya. Maliq mengimajinasikan dirinya sedang bersama Natasha, menikmati ranjang hangat berdua.
"Natasha, Aku sangat mencintaimu" Kalimat itulah yang selalu ia ucapkan,
Dalam bayangan Maliq, Maliq sedang mencumbu tubuh Natasha, setiap lekukan tubuhnya tak ingin Ia lewati dengan percuma. "Maliq, Oh" erang Natasha selalu terdengar membisik ditelinganya. semakin lama semakin Asyik dengan imajinasinya mengenai Natasha.
"Natasha, Kau cintaku, Kau sayangku" Serunya sembari memejamkan matanya, menghirup nafasnya dalam-dalam.
Dor.... dor.. door (Suara pintu di ketuk dengan keras)
"Siapa sih ganggu gw Aja"
Dor.... dor.. door (Suara pintu di ketuk dengan keras kembali). Maliq berjalan, melangkahkan kakinya dengan malas, ia menggerutu kesal karena, mengganggap orang yang sedang ingin menemui nya mengganggu aktivitas nya yang kala ini sedang berimajinasi bersama Natasha.
"Ceklek"
"Bruuugh" Maliq terjatuh, tersungkur karena mendapat pukulan keras dari Faaz.
"Bangun, Lawan aku langsung!!!"
"Kau ingin Apa Maliq? tidak puaskah kau mengacaukan perasaan Papa dan orang-orang dirumah?" Faaz menghampiri Maliq kembali, dan berkali-kali menghantamkan pukulan, pukulan itu membekas hingga mengeluarkan darah segar dan luka lebam pun muncul.
"Bughhh, " suara Maliq terjatuh kembali.
"Apa kau tahu, Masa mudaku? hanya untuk mengurus perusahaan dan menggantikan posisi Papa untuk mengurus semua Adik-adik ku? Apa itu tidak cukup MaliQ?" "Bugh"
"Aku sudah kehilangan kesabaran dengan tingkah lakumu MaliQ" Buggh, Suarapukulan kembali terdengar.
"Aku membencimu, kau sudah merenggut segalanya dariku!!!!" Jawab Maliq.
"Apa kau tak mengerti?, berapa kali lagi aku harus menjelaskan" Seru Faaz.
"Aku sudah berapa kali menjelaskan padamu Maliq, Aku juga sudah meminta Maaf kepadamu. dan Lagi-lagi kau membuat masalah denganku"
"Kau bisa menolaknya, Kau bisa ceritakan padaku mengenai Rayna!!!" Jawab Maliq, Faaz menarik kaos putih yang dipakai oleh Maliq dengan menggunakan kedua tangannya, Nafas Faaz terdengar menggebu.
"Kau, Tak tahu posisiku saat itu Maliq!!!" Seru Faaz, Faaz melempar tubuh adiknya kembali kelantai dan ingin memukulnya kembali.
"Hentikan Faaz, Hentikan. Papa Mohon" Rido berdiri tegap, Ia memegang dadanya yang mungkin terasa sakit.
"Hentikan, Papa mohon" Ucapnya berulang-ulang, Faaz berlari memeluk Papanya, maliq yang tidak mampu untuk berdiri hanya meringis kesakitan merasakan bekas pukulan yang dilayangkan oleh tangan Kaka kandungnya sendiri.
"Sudah berapa kali Papa bilang, jika kau ingin membalas dendam mu kepada Kakamu. berikan saja kepada Papa, Papa lah yang bersalah" Ucap Rido, Rido terlihat sangatlah kecewa dengan sikap Anak-anaknya. "Dan untukmu Faaz, jika kau marah dengan adikmu, tak usah kau memukulnya, Pukul saja Papa, Pukul Papa Nak"
"Papa, Maafkan Kaka" Faaz memeluk Papanya dengan Erat.
"Papa, ia datang untuk menghasut Rayna." Faaz menghela nafasnya dengan berat, Rido terlihat menangis, Air matanya tak henti mengalir, membasahi pipinya.
"Aku lah yang bersalah disini" Ucap Natasha,
"Aku sudah melarangmu berbuat seperti ini Faaz, mengapa kau melakukannya."
"Bukan dengan kekerasan lah kita menyelesaikan masalah, Aku mohon hentikan semua ini"
"Aku tidak akan bersama dengan siapapun, termasuk denganmu Faaz"
"Kembalilah dengan Rayna, dan lupakan Aku" kelopak matanya terkulai lemas mengisyaratkan kekecewaan yang sangat dalam.
"Papa, Ayo kita kekamar" Ajak Natasha. Rido menuruti ajakan menantunya,.
"Faaz, Aku sudah bilang. Ajak Maliq untuk berbicara. tidak semua kekerasan akan menyelesaikan permasalahan"
"pergilah, tenangkan dirimu Faaz " seru Fizzy kembali, Faaz meninggalkan Fizzy dan juga Maliq.
"MaliQ, diamlah. Kaka akan membawakan es untuk mengompres luka lebam mu" Ucapnya.
"Tak perlu, Kau pergi saja. tak usah memperdulikan Aku!!!' ketusnya, Fizzy menarik Nafasnya dan membuangnya kesembarang Arah.
"Kau, jika Mama masih hidup. Mama pasti akan sangat kecewa dengan kata-kata mu barusan" Gerutu Fizzy.
"Dasar, menyebalkan!!" gerutunya kembali, sembari pergi untuk mengambil es.
*****
"Papa, Maafkan Natasha, Maafkan Natasha karena tidak berhasil membujuk Faaz" Ucap Natasha.
"Papa, Minum obatnya. lalu istirahat kembali," Ucap nya kembali, Rido menyeka sisa Air matanya.
"May, Lihatlah aku tidak mampu mengurus Anak-anak dengan Baik Tanpa dirimu" Gumam Rido sembari menatap lekat lukisan wajah istrinya.
"Istriku, Ajaklah aku bersamamu. Aku merindukanmu" Gumamnya kembali.
"Papa, Ku mohon. istirahatlah dengan baik. besok Papa akan menjadi wali Nikah putrri pertama Papa, Apa Papa tidak senang?" Tanya Natasha. Natasha memberikan obat dan Rido meminunya, Rido tersenyum dengan sangat manis kepada Natasha. walaupun Natasha tahu jika senyuman itu adalah senyuman paksaan karena, Natasha tahu jika Papa mertuannya sedang merasakan kecewa yang sangat dalam.
"Natasha, Apa kau mencintai Faaz?" Tanya Rido, Natasha terkejut dengan pertanyaan yang diberikan Rido.
"Iya Papa, Aku sangat mencintainya!" Ungkap Natasha.
"Apa kau tahu jika Faaz juga sudah mencintaimu?" Tanya Rido kembali.
"Iya Papa, Dia berulang kali mengungkapkannya" Seru Natasha, Natasha meneteskan Air matanya.
"Apa kau rela dimadu olehnya?" Tanya Rido kembali.
"Aku hanya bisa mencoba untuk mampu menerimanya, Namun jika itu menyakiti salah satu dari kami. Aku lebih baik mundur. dan jika Kak Rayna memang menolaknya aku akan mencoba menerima penolakan itu" Seru Natasha, Rido menatap lekat wajah menantunya.
"Apa kau tahu mengenai Rayna?' Tanya Rido kembali.
"Yang aku tahu mereka sangat saling mencintai, dan Aku hadir diantara cinta mereka, Aku akan melepaskan Faaz Papa, Kumohon ijinkan Aku." Ucap Natasha.
"Apa kamu yakin dengan perasaanmu saat ini?, Kau terlihat seperti tertekan Natasha?" Natasha menundukan kepalanya.
"Apa kau yakin Nak?, Pikirkanlah mengenai Anak yang sedang kau kandung. kau terlihat sangat tertekan karena kesalahan ku."
"Papa, Aku yakin dengan pilihan hatiku. Aku tak ingin menyakiti siapapun dan itu juga yang sering Papaku ucapkan mengenai Papa Rido. Papa berucap jika Papa Rido tidak pernah menyakiti siapapun, bahkan saat Papaku membuat kesalahan yang sangat besar Papa memaafkannya, dan Aku sudah memaafkan siapapun yang terlibat dengan pernikahan pelik ini. dan Aku tidak ingin menyakiti siapapun" Ungkapnya
"Papa, dulu ada seorang wanita yang pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat hatiku tenang, kalimat itu sering sekali Aku ingat." Ucap Natasha, Rido terlihat mendengarkan kalimat demi kalimat yang Natasha keluarkan.
"Papa, setiap manusia tidak selalu ditakdirkan untuk saling memiliki. tetapi, setiap manusia hanya ditakdirkan untuk dititipi" Natasha menyeka air matanya, mengingat betul saat ia sedang berusia 10 tahun, saat ia harus benar-benar kehilangan Mamanya.
"dan Papa, dia juga berucap. jika kamu mencintai ibumu karena Allah, Cintamu tidak akan pernah mati. sama hal nya dengan Aku mencintai Faaz karena Allah meskipun Aku tidak memilikinya namun, doaku selalu akan ku sematkan dan mungkin Allah akan selalu menghidupkan Faaz didalam hatiku walaupun raga nya bukan milik ku" Seru Natasha.
"Kau tahu darimana kalimat itu?' Tanya Papa dengan heran.
"Natasha, Apa kau pernah bertemu dengan May sebelumnya?" Tanya Papa kembali, Natasha menundukan pandangannya. Matanya tak henti mengeluarkan Air mata kesedihan.
"Papa," Panggilnya lirih.
"Natasha, May pernah bercerita. jika bertemu dengan Anak perempuan di dalam mesjid yang ada di dekat Rumah sakit di indonesia. Dia ingin menjadikannya Anak asuhnya, namun, saat itu Aku menolak karena, anak itu berucap memiliki orang tua."
"Saat itu, Aku juga sedang berada dirumah sakit yang sama karena Papaku koma" Seru Rido,
"May terus mencarimu,
"Apa itu kau?" Tanya Rido.
"Natasha, bicaralah." Pinta Rido. Natasha menangis tersedu-sedu.
"Itu Aku, "
"Apa kau kesini memang sengaja?"
"Tidak Papa, aku tidak sengaja kesini"
"Saat aku melihat foto yang dipajang, Aku lihat itu adalah ibu peri yang membantuku"
"Aku bertemu dengannya kembali saat sudah berusia 17 tahun, Mama May sudah lupa denganku Namun, aku sama sekali tidak melupakan wajahnya" Ungkap Natasha.
"Dan ia lagi-lagi membantuku" Ungkap Natasha kembali.
"Saat itu aku sedang kesusahan dengan biaya rumah sakit yang harus aku tanggung seorang diri, Papa masuk rumah sakit karena syaraf Kakinya terjepit dan membuatnya kesusahan berjalan, dan itu membutuhkan uangf untuk membawa Papa pulang, karena saat itu Aku sama sekali tidak memiliki apapun untuk membayar rumah sakit"
"Dan Mama May memberikan ini" Natasha mengeluarkan liontin yang ia pakai, liotin yang May berikan untuk Ia jual,.
"Aku menggadainya dan Aku tebus kembali, Aku berniat suatu saat jika Aku bertemu kembali dengan Mama May, Aku akan mengembalikannya"
Flashback On
"Maaf tante," Ucap natasha, yang tak sengaja mendorong tubuh May hingga terjatuh. Natasha hilang keseimbangan karena lantai mesjid yang terkesan licin.
"Tidak apa-apa Nak?" Ucap May, Natasha terlihat menatap lekat wajah May dan mengingat dengan seksama wajah cantik nya.
"Kamu kenapa Nak?, Apa kita pernah bertemu?" Tanya May, Natasha menggelengkan kepalanya, Ia memang berbohong karena takut merepotkan May kembali.
"Kenapa wajahmu sangat kebingungan Nak"
"Tidak, Tante, eh bu" Jawab Natasha.
"Natasha, " Panggil Reysa, Adik tiri Natasha. May menatap wajah Reysa Namun reysa tak berniat menyapa May yang berdiri mematung berhadapan dengan Natasha.
"ELu disini, nyokap bilang cepatan cari uang buat bawa bokap lo balik!!, makin nanti makin mahal tuh biaya kamar"
"oh iya, elu udah kan solatnya, tuh ibu yang disana butuh lo angkatin box cateringnya. gw mau balik cape!" Ucap Reysa, Natasha terdiam melihat tingkah laku saudara tirinya.
""Nak, kenapa kamu menangis?" tanya May, May melihat Natasha menyeka Air matanya.
"Tidak bu, Maaf jika sudah membuat ibu susah"
"Tidak, Maaf saya gak bawa uang cash, ijinkan saya membantu kamu. Jual saja ini mungkin cukup untuk membawa Ayahmu pulang" Seru May.
"Tidak, Bu. terimakasih" Ucap Natasha yang berusaha menolak bantuan yang akan May berikan.
"Tidak boleh menbolak, Ibu ikhlas kok Nak" Ucap May. Natasha menerima bantuan yan May berikan dan May pamit kembali untuk masuk kedalam Mobil,
FLashback OFF
"Mama May saat itu selesai melakukan sembahyang bersama, malah Mama May sembahyang tepat dihadapanku" Ucap Natasha.
"dan saat itu, Aku selalu mendengarkan cerita Papa, Papa memberikan Foto dengan wajah yang sama. bahkan Foto Mama Lira yang sedang dipeluk Oleh Mama May masih tersimpan Rapih dikotak milik Mama lira" Seru Natash.
"Ini jalan dari tuhan Natasha, mengapa kau tidak menyadarinya"
"Mama May, pernah menceritakan ini kepadaku."
"Aku bertemu dengan gadis yang shalihah, mungkin seusia Maliq, entah seusia Qabil. dia terlihat sangat baik dan sembahyangnya juga terlihat khusyu. Aku ingin memiliki menantu sepertinya" Ungkap May saat itu.
"Mungkin May sedang menceritakan dirimu". Gumam Rido kembali.
"Menceritakan Apa Pa?" Tanya Maliq yang datang dengan tiba-tiba.
.
.
.
.
.
Hay readersku terzheyeng, jangan lupa Votenya iya..
OH iya, ini 2 episode aku jadiin satu loh,, maafkeun kalau Updateku kali ini terlihat sangat lambat.