ARE NOT THE SAME

ARE NOT THE SAME
PART 28 (KESEDIHAN NATASHA)



Seminggu kemudian .....


Natasha sedang menunggu kedatangan Faaz , dia terdiam sendiri dikamar aaleesya karena sebelumnya aaleesya memintanya untuk menemaninya sampai ia terlelap tidur . tak lama kemudian ponsel natasha berdering seseorang menghubunginya melalui sambungan suara .


" hallo ... " sapa natasha


" hallo natasha ini gw reysa " ucap wanita dibalik ponselnya .


" iya rey ada apa ? , bagaimana kabar papa hari ini  " tanya natasha , yang tersadar bahwa sura itu adalah suara adik tirinya . reysa namanya usianya sekarang menginjak 20 tahun . awalnya dia memang baik tetapi semenjak ibu tirinya menghasutnya agar membenci natasha sekarang reysa berubah menjadi adik yang jahat untuk natasha .


" papa butuh biaya buat operasi , dan lu harus secepatnya kirim uang untuk biaya itu " seru reysa membuat natasha merasa khawatir .


" ya ampun rey , bukankah papa sudah operasi dan kata kamu Papa sedang dalam kondisi koma setelah melakukan operasi lalu sekarang operasi apa lagi ? " tanya natasha .


" udahdeh lu kirim aja duitnya napa sih make banyak nanya aja , kalau lo gak kirim duitnya lo mau bokap lo makin parah sakitnya ,, gua mah bodo amat kalau bokap lo mati juga " seru reysa , membuat natasha semakin khawatir .


" yaudah rey nanti kalau aku sudah dapat uang gaji ku , aku kirim lagi uang .. tolong jaga papa ku ya rey salam juga untuk mama " jawab natasha , namun rey mematikan sambungan teleponnya .


natasha terdiam menangis sembari menatap foto ditangannya , dia menangis tak henti tanpa mengeluarkan suara .


"mama , aku harus bagaimana ... aku tahu papa masih baik-baik saja tetapi mengapa mereka memberitahuku seakan papa sedang dalam keadaan tidak baik ... mama mereka hanya ingin menipuku , " - gumamnya sembari menyentuh foto orang tuanya .


Faaz mendengar semua pembicaraan natasha dengan adik tirinya itu walaupun Faaz tidak mendengar semuanya namun saat natasha berbicara di hadapan Foto orang tua nya Faaz mendengar semuanya seakan Faaz mengerti bahwa natasha sedang merasa tertekan dan menjadi tambang emas bagi ibu dan adik tirinya . lagi dan lagi Faaz merasa iba melihat natasha .


" assallamualaikum " ucap Faaz seraya masuk dan mengucapkan salam .


" waalaikum salam , tuan Faaz sudah pulang ? " jawab nya , sembari mencium punggung tangan suaminya .


" tuan lagi tuan lagi " seru Faaz sembari tersenyum ,


" kenapa menangis natasha , apa ada yang membuatmu susah ? " tanya Faaz kepada istrinya .


" tidak tuan , aku sedang merindukan papa juga almarhum mama ku " ucap natasha kepada suaminya .


" tuan lagi kan ? " seru Faaz sembari meniupkan udara keatas mata indahnya , matanya menatap lembut natasha . natasha merasa jantung nya berdegup kencang kembali .


" bisakah kau memanggilku dengan Faaz atau apa lah selain Tuan ? " pinta Faaz , natasha merasa gugup saat menata Faaz , Faaz membelai wajah natasha .


" nat , aku suamimu sekarang , ceritakanlah masalah yang sedang membuat mu gusar , kumohon " ucap Faaz , natasha menganggukan kepalanya seakan mengiakan jika ia akan bercerita kegusarannya .


natasha dan Faaz memilih untuk berbincang di tepi kolam , karena bagi Faaz jika dia sedang gundah .. dia selalu ingin berbicara sendiri walaupun didalam hati sembari memainkan air di kakinya dan itupun sering ia lakukan jika rayna sedang merasa gundah kala merindukan Papa nya yang jauh di istanbul .


" bagaimana , coba ceritakan kepadaku ? " tanya Faaz , natasha mulai mencertakan kesdihannya semenjak ibunya meninggalkannya dan mulai bergabung bersama ibu tiri dan adik tirinya yang usiannya terpaut hanya 2 tahun dengan natasha .


'' awalnya adik ku sangat baik kepadaku namun mama selalu menghasut adik ku dan mengingatkan bahwa aku bukanlah kakanya  dan semenjak itu mereka sangat kasar kepada ku juga papa , semenjak Papa mengalami stroke .. ibu ku selalu menyiksa Papa ku itupun jika aku tidak memberinya uang ,, aku ingin sekali bertemu dengan ayahku... aku selalu bekerja sepulang sekolah lalu aku mendapatkan kuliah gratis karena aku terpilih menjadi siswa teladan disekolahku " seru natasha , Faaz dengan sangat sabar mendengarkan cerita istrinya itu .


" Lalu ? apa kuliahmu selesai ? " tanya Faaz .


" sebenarnya sudah Faaz namun saat itu , aku tidak mengikuti sidang skripsiku karena aku harus mengurus kepergian ku kesini untuk mencari nafkah demi ayahku , saat itu teman ku memberitahu bahwa pekerjaan nya sangat mudah namun aku akan mendapat upah yang cukup untuk membiayai keluargaku dan aku akhirnya bekerja disini dan ternyata aaleesya memang tidak seperti anak pada umumnya yang seringkali tantrum . aaleesya anak yang sabar juga penurut " seru natasha kembali.


" begitulah faaz , aku bukan tidak ingin melawan namun Papa masih bersama mereka " ucap natasha , sembari menangis tersedu-sedu .


" makadari itu aku tak ingin mereka mengetahui jika aku sudah menikah dengan mu , mereka akan memanfaatkan kekayaan mu " seru natasha kembali .


" aku akan membantumu membuat Papa mu bisa bersamamu . bersabarlah semua akan indah pada waktunya " janji Faaz kepada istrinya .


" terimakasih , aku benar-benar sangat ingin bersama Papa dan menjauhkan nya dari ibu juga adik tiri ku " seru natasha kembali .


" natasha sebenarnya aku juga ingin cerita tapi nanti sajalah aku cape sekali , dan aku juga merasa belum saat nya aku bercerita " seru Faaz .


Faaz mencoba menghibur natasha walaupun kenyataannya Faaz sendiri membutuhkan pundak untuk bersandar dengan segala masalahnya . Faaz sebenarnya lelaki yang tidak gampang dekat dengan wanita selain Rayna namun entah mengapa Faaz sepertinya nyaman berbincang bersama natasha . Papa rido menyaksikan pemandangan itu , dia sangat senang melihat Faaz bisa dekat dengan menantunya itu .


" sayang , lihatlah anakmu sudah mulai terbiasa berbicara dengan istrinya , aku harap mereka akan semakin dekat " ucap Papa rido sembari memejamkan matanya seraya mengingat memori tentang istri yang sangat ia cintai.


*** memori Papa ***


saat itu Papa sedang melihat anak-anaknya bermain namun mata Mama tertuju kepada Faaz , karena menurutnya  seluruh wajah Faaz diwarisi dari wajah Papa rido .


" sayang , lihatlah Faaz tampan sekali bukan ? , dia mirip dengan mu " .


" dia tampan seperti ku namun dia pintar sepertimu " seru Papa sembari mengecup kening Mama may ,


" apakah kau akan selalu mencintaiku dan menyayangi mereka dan berjanjilah sampai kapanpun tidak akan ada wanita selain aku dihatimu " ucap Mama may .


" aku tidak akan pernah istirahat mencintaimu walaupun sedetik ... sesuai JANJIKU KEPADA TUHANKU " ucap Papa sembari mengecup bibir mama may kilas , Mama membenamkan wajahnya didada Papa .


*** end memory ***


Papa terlihat meneteskan air mata mengingat semua itu , baginya Papa merasa tak adil kepada Faaz karena memaksa nya untuk melupakan cintanya kepada Rayna sedangkan Papa masih tak bisa melupakan kisah cintanya sendiri .


' maafkan Papa Faaz , Papa hanya ingin kau tak berlarut-larut menutupi kesedihan atas kehilangan istrimu karena kau masih terlalu muda untuk itu dan Papa yakin natasha adalah orang yang tepat untuk mu ' gumam Papa sembari menyeka air matanya .


*******


di tempat lain tepat didalam kamarnya , Fizzy sedang menatap layar ponselnya . dia seakan sedang frustasi akan cintanya kepada AliQ . dia mendapat beberapa pesan yang dikirim kepada nya .


" aku akan menikahimu , percayalah kepadaku fizzy . karena aku mencintaimu  " - pesan Aidil


" aidil , maaf sekali aku tak bisa membuatmu terluka karena aku tak mencintaimu , dan kau sekarang tau jika aliQ lah yang aku cintai " - balas Fizzy kepada Aidil


" baiklah , jika kamu berubah pikiran aku akan tetap menerimamu " - jawab aidil kepada Fizzy .


Fizzy mendengus merasa kesal dengan perasaannya yang sedang kacau itu , sekilas Fizzy pun membayangkan jika suatu saat ia melihat AliQ menikahi adik nya itu dan Fizzy memikirkan betapa sakitnya perasaannya itu .


" aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrghhhh " teriak Fizzy , " entahlah semua membuatku kesal , hanya pekerjaan lah yang membuat pikiran ku jernih ,, cinta hanya mengotori pikiran serta jiwaku .. AKU MUAK " SERU FIZZY SERAYA MENDENGUS KESAL .