
Keesokan harinya Natasha yang terbangun dan akan membersihkan dirinya, teringat jika pakaian-pakaian miliknya berada dikamar milik Faaz yang saat ini ditempati oleh Rayna. Natasha berjalan melangkahkan kakinya untuk segera menghampiri kamar tesebut. Namun saat itu ia sama sekali merasa takut. jika, ia melihat Faaz dan Rayna sedang bermesraan.
"Tidak.."
"Aku tak ingin mengganggunya!"
"Tapi pintunya terbuka, seperti nya Faaz dan Rayna tidak sedang berbuat macam-macam" Gumamnya kembali.
"Aku bukan saja takut mengganggunya, Namun Aku takut merasa sakit hati" Gumamnya kembali.
"Fa,Az" Panggil Rayna, Ia terlihat sangat kesusahan saat memanggil Nama Faaz.
Prankkkk....(Suara gelas terjatuh)
"Nyonya, Apa ada yang bisa saya Bantu?" Tanya Natasha, yang begitu kaget saat mendengar suara gelas terjatuh.
"Pa. ang.gil Fa,az" Ucapnya, Natasha terlihat Iba melihat keadaan Rayna.
"Baik Nyonya, tunggu sebentar" Seru Natasha.
"Na,ta.sa' Panggilnya dengan sangat kesusahan.
"Iya" Jawab Natasha, seraya melirik kearah Rayna.
"Te ri m " Nafasnya tersengal. Natasha segera memasangkan Oksigennya yang sempat Rayna lepas.
"Nyonya Pakai ini iya, Alat ini membantu nafas nyonya agar lebih membaik" Ungkap Natasha, sembari berlari keluar kamar. Natasha segera mencoba mencari suaminya itu, Tak sengaja Natasha berpapasan dengan suaminya sendiri. dan sebenarnya Faaz juga sedang mencari Natasha.
"Faaz, Kamu darimana?" Tanya Natasha.
"Dari Taman, Aku pusing berada terus dikamar untuk menjaga Rayna!" Jawabnya
"Dia tidak ingin aku melepaskan tangannya!, Kau darimana sayang? Aku mencarimu sedari tadi" Keluhnya kepada Natasha.
"Untuk Apa mencariku?" Jawab Natasha.
"Aku merasa bahagia saat melihatmu Nat" gombalnya kembali.
"Faaz untuk saat ini, Rayna sangat membutuhkanmu. Ku mohon jangan buat ia merasa kesepian" Sahut Natasha, Faaz mencium kilas Bibir Natasha, Namun Natasha seperti ingin menolaknya.
"Temui saja dahulu istrimu, kasihan dia lebih membutuhkanmu"
"Tapi aku lebih membutuhkanmu Nat" Seru Faaz.
"Suamiku yang sangat ku sayang, Aku sangat mencintaimu" Natasha mencium Pipi Faaz dengan Kilas, dan segera pergi meninggalkan suaminya. Faaz menatap Natasha yang sedang berjalan meninggalkannya.
"Nat, Maafkan Aku!" Gumamnya, Faaz segera menghampiri Rayna yang sedari tadi mencarinya.
Didalam langkahnya, batinnya bergejolak. Ia seakan ingin menangis dan berteriak dengan kencang. Ia menghentikan langkahnya dan bersandar di dinding lorong yang berada didalam rumah tersebut.
"Faaz " Tangisannya terhentak kala itu.
"Aku mencintaimu Faaz, Tetapi aku tak bisa menjadi orang yang serakah. Aku iba melihat Rayna seperti itu" Gumamnya saat itu.
"Hatiku sakit, Aku pun cemburu Faaz namun, harus kau tahu aku sangat mencintaimu" Gerutunya kembali.
"Aku harus terbiasa tanpamu, sampai akhirnya kau benar-benar pergi meninggalkanku Faaz"
"Benar apa kata Fizzy, Jatuh cinta Adalah patah hati yang disengaja"
"Natasha " Panggil Papa Rido, Natasha segera berlari dan memeluk Papa mertuannya.
"Maafkan Papa Nak, Papa tidak tahu ini akan terjadi" Ucap Papa.
"Jujur saja, kau pasti merasa terluka dengan keadaan ini" Ucap Papa Rido yang masih memeluk Natasha.
"Papa, Aku memang sakit hati? namun, Apapun yang aku lakukan saat ini adalah murni dari rasa iba ku kepada Rayna. Aku perempuan dan jika posisiku seperti itu akupun akan merasakan kecewa dan aku tak ingin Rayna merasakannya setelah ia sadar dari koma yang sangat lama" Jelas Natasha kepada papa mertuanya.
"Natasha, Tahukah?. kau benar begitu sangat mirip dengan Mama mertuamu."
"kesabaranmu, mulianya hatimu benar-benar mirip dengan istriku. Aku merasa tidak kehilangan istriku apabila melihat senyumanmu" Gumam Papa Rido sembari tersenyum manis kepada Natasha.
"Aku sedih tidak dapat mengenal Mama mertuaku, jika saja Mama Masih hidup Aku akan menjadi menantu yang sangat bahagia karena bisa mendapatkan kasih sayangnya" Sahut Natasha.
"Apa kasih sayang Papa tidak cukup besar untukmu?"
"Besar dan sangat besar namun, sepertinya akan sangat besar jika aku mendapatkan kasih sayang dari keduannya" Jawab Natasha, Papa Rido tersenyum saat mendengar Jawaban Natasha.
"Papa sangat menyayangimu Anak ku, Maafkan semua kesalahan suamimu. Percayalah Papa benar-benar sangat menyayangimu!" Kalimat yang keluar dari mulut Papa Rido menjadi obat yang sangat mujarab untuk hati Natasha.
(' Papa, hari ini Aku baru merasakan kasih sayang yang sangat besar dari orang yang mungkin asing bagiku, aku harap kau selalu sehat hingga cucumu tumbuh sempurna - batin Natasha)
****
Di taman, Fizzy sedang berbincang bersama AliQ. dua hari kedepan adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Fizzy namun, tidak untuk AliQ. AliQ terlihat tidak memfokuskan diri saat berbicara dengan Fizzy. mungkin karena AliQ melihat Alea yang sedang menemani Aleesya bermain.
"AliQ, Bisakah kita serius berbicara?" Tanya Fizzy.
"Emmhmm, Iya"
"Baiklah kalau begitu, puaskan saja dahulu memandang Alea. setelah kau puas kau bisa memberitahu ku untuk berbicara serius denganku!" Gerutu Fizzy,
"Fizzy, berhentilah marah seperti itu. kau seperti tidak tahu saja. kapan lagi aku memandang senyuman adik mu seperti itu" Jawab AliQ dengan polos.
"AliQ " Panggil Fizzy sembari menajamkan matanya.
"Aku bercanda, kau terlihat tua jika marah seperti ini " Ujar AliQ sembari mencubit hidung Fizzy.
("AliQ.... mengapa kau melakukan itu ?" - gumamnya dalam hati )
"Jadi bagaimana? Apa yang akan kau bicarakan?" Tanya Aliq, Fizzy menatap Aliq dengan lekat.
"Hei !!!" panggil Aliq menyadarkan Fizzy.
"emm iya, aku ingin setelah menikah kita tidak diam disini" Seru Fizzy
"Dimana? di bulan? Apa di matahari?" Tanya Aliq seraya menggodanya.
"bahagia sekali iya, sepertinya dengan melihat Alea saja bisa membuatmu sangat bahagia"
"Sudahlah, Kau membuatku malu" Tandas AliQ, sembari menatap kembali Alea.
(Kau membuatku sakit, namun aku bahagia melihatmu tersenyum - batin Fizzy kembali sembari menatap AliQ)
"Alea " Panggil Qabil. Alea berlari memeluk Qabil dan Aliq melihat pemandangan itu.
.
.
.
.