
"Aku sangat mencintaimu" Ungkap Faaz yang menatap lekat wajah Natasha, Natasha tersenyum dan memjawab kalimat yang telah diungkapkan oleh Faaz.
"Aku juga sangat mencintaimu!" Jawab Natasha, Faaz mendekatkan wajahnya dan hendak mencium bibir Natasha. Maliq yang sedang memperhatikannya dibuat sangat geram.
"Udah,udah deh lanjutinnya dikamar Aja" Ucap Fizzy yang datang menghampiri mereka didapur. Ia bersadar di dekat pintu beras yang berada didapur.
(Shit, Kenapa dia harus datang sih!!! - pekik Faaz dalam hatinya)
"oups!, maaf iya udah ganggu. Numpang cuci tangan" Goda Fizzy, Wajah Natasha memerah bak buah tomat yang segar. Faaz pun terlihat sangat keal dengan kehadiran saudara kembarnya.
"Ngapain sih kedapur segala!, udah malem tau bukannya tidur sana" Seru Faaz.
"Aku baru selesai ngobatin luka Aliq, tadikan Aliq berantem sama Aidil"
"hah!, yang bener?, maksudnya sampe pukul-pukulan gitu?" Tanya faaz dengan terkejut.
"Iya, Tanya aja sama Mael besok pagi?" Ucap Fizzy.
"Terus Aliq dimana sekarang?" Tanya Faaz dengan mengerutkan dahinya, Fizzy berjalan melewati faaz.
"Dia udah balik, Aku juga mau masuk kamar ini" jawab fizzy, Fizzy mencuci bersih tangannya, dia juga memakan masakan yang udah
"kirain apa yang Qabil dan Mael ucapkan itu hanya bercanda"
"Yaudah, kamu istirahat gih. kamu besok mau nikah loh" Ucap Natasha, sembari memegang bahu Fizzy.
"Aku mau ditemenin bobonya sama kamu Nat" Goda fizzy sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Fizzy!!!!!!!!!!!!!" Teriak Faaz dengan pelan, ia menajamkan kedua bola matanya kearah Fizzy. Fizzy terpekik melihat tingkah laku saudara kembarnya itu.
"Iya, Iya deh ngerti kok!" ucapnya sembari berjalan meninggalkan Faaz dan Natasha.
"Cepet abisin makanannya"
"Iya, Tuan Faaz ini mau aku makan kok!"
"Soalnya, Aku mau.."
"Mau Apa?"
"Mau nemenin kamu tidur!" Godanya membuat Natasha semakin Malu, Natasha enggan menjawab soal keinginan Faaz. dengan senyuman yang terlihat bahagia Faaz sudah men gerti akan jawaban Natasha.
setelah Faaz memastikan makanan yang telah ia sajikan untuk natasha itu habis, ia memberikan segelas susu untuk istrinya. Natasha meneguk seluruh isi didalam gelasnya, faaz tersenyum melihat istrinya itu.
"Udah selesai?" Tanya Faaz, Natasha masih fokus meminum sisa susu didalam gelas miliknya.
"masih laper gak?" Tanya Faaz kembali, Natasha menggelengkan kepalanya.
"Bentar dong, ini kenyang banget. Gak sabaran banget deh Tuan!!!!" candanya membuat gelak tawa di bibir Faaz semakin tak terkendali.
"Lucu iya, Kirain aku kamu itu pemalu" Ucapnya, Faaz menatap kembali wajah istrinya itu. mereka masih duduk di atas meja makan tanpa mengeluarkan suara. Faaz beranjak dari tempat duduknya dan menyuruh natasha berdiri untuk mengajaknya kedalam kamar.
"Ayo, " Ajak Faaz, Natasha berdiri dan Faaz segera menggendong Natasha.
"Faaz, jangan gini dong. nanti ada orang yang masih bangun aku malu"
"kamu istriku, ngapain malu?" Ungkapnya.
"Rayna liat nanti!"
"Rayna dikamarnya, Udah deh diem aja" Faaz menyeret langkahnya pelan, sesekali Faaz menatap wajah istrinya dengan lekat dan memberinya senyuman hangat. Faaz semakin membuat Natasha tergila-gila kepadanya.
(Aku sangat mencintaimu, Tapi aku tidak bisa berbuat serakah!, mungkin kau milik Rayna seorang, Aku tak pantas merebutmu Faaz. - batin Natasha menangis, namun Natasha merasa bahagia dan nyaman berada didalam dekapan Faaz. Natasha membenamkan wajahnya didada bidang milik suaminya itu)
"Aku mencintaimu Nat, " Ungkap Faaz. Natasha tersenyum kembali saat mendengar kalimat yang berulang keluar dari bibir Faaz.
****
Di dalam kamar luas milik Fizzy, Fizzy sedang menatap kaca besar. Kalimat-kalimat yang Fizzy lontarkan kepada Aidil terngiang dengan jelas di dalam pikirnya, tak hanya itu wajah Aidil pun terbayang dengan jelas Namu, selintas wajah Aliq pun tak luput dari bayangannya.
"Aidil, Aliq mengapa Aku tak bisa berhenti memikirkanmu! "
"Mengapa Aku dengan tega membuat Aidil kecewa, sangat jelas jika selama 5 tahun ini. Aidil lah yang menemani kesedihanku kala aku mengingat Aliq " gumamnya.
"Arghhh" teriaknya dengan sangat frustasi.
"Mengapa denganku Tuhan!!!" Ia terpekik oleh waktu, waktu yang telah menipunya. menunggu Aliq bukanlah hal yang ringan dan bukan pula waktu yang sebentar untuknya. Ia menatap layar ponselnya, Ia mencoba untuk mengirim pesan kepada Aidil.
"Aidil maafkan Aku," Ia menulis pesan singkat itu lalu menghapusnya kembali.
"Aidil, Maafkan sikapku yang sudah membuatmu luka" Ia menulis kembali, dan segera menghapusnya kembali.
"Sudahlah, Lagipula Aidil salah karena telah memprovokasiku." Tandasnya saat itu.
"Arggghhh, kalian membuatku gusar Aidil,AliQ" gerutunya kembali, Ia memutuskan untuk tidak mengirim pesan kepada Aidil. tak lama kemudian ponsel nya berbunyi dan sedikit bergetar tanda satu pesan masuk kedalam ponsel selular miliknya.
Drrrt.. drrt tingNong! (bunyi panggilan menandakan pesan masuk)
~ Terimakasih atas kebaikanmu Fizzy, Maaf jika aku selalu menyakitimu. (NAJAM Aliq)
"Sumpah demi Apa, Aliq mengirimku pean seperti ini" gumamnya sembari menatap layar ponsel yang sedang ia pegang. Ia memondar-mandirkan langkah kakinya, ia seakan tak percaya dengan apa yang sedang Aliq kirim kepadanya.
"Aku harus balas apa ini?" Gerutunya kembali, bertanya seakan ada manusia yang akan menjawab pertanyaannya itu.
"Tarik nafas, Tahan, dan keluarkan Fizzy" geroginya saat itu, Aliq yang selama ini cuek dan terkesan tak menyukai Fizzy mengucapkan terimakasih dan juga meminta maaf akan sikapnya.
"Mama, Apa ini pertanda baik?" Tanya nya sembari menatap foto Mamanya.
~ Aku yang harus mengucapkan terima kasih kepadamu, karena telah mempercayakanku menjadi istrimu!!! (balasan pesan untuk Aliq)
~ selamat tidur Fizzy, Mimpi indah (Jawab Aliq)
"Arrrhhhh. Arhhh ": teriaknya berulang-ulang sembari bertingkah seperti Anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah.
"Aku senang, Aku senang!!!!!" Ungkapnya.
"AliQ, aku semakin mencintaimu!" ungkapnya kembali sembari merebahkan tubuhnya diatas kasur miliknya.
Tok.. Tok.. (suara ketukan pintu yang sangat keras)
"Siapa?" Tanya Fizzy, Fizzy beranjak dari atas kasurnya dan segera mengikat rambutnya yang tergerai.
Tok.. Tok.. (suara ketukan pintu yang sangat keras kembali)
"Bentar!" teriak Fizzy dari dalam kamarnya, Ia segera mencari mantel yang akan menutupi tubuh seksinya.
Ceklek....
"Rayna?" Fizzy terlihat terkejut dengan kedatangan Rayna, Rayna duduk diatas kursi roda matic miliknya.
"Kamu kok bisa membawa kursi rodamu kesini?" Tanya Fizzy kembali, ia tak henti merasa keheranan dengan kedatangan Rayna.
"Rayna?"
"Bi ar kan a ku ma suk" ucapnya dengan suara yang terbata-bata.
('Aneh, mengapa dia bisa menemuiku. jangakan untuk menggerakan tangannya dengan leluasa. hanya sekedar berbicarapun susah. lalu siapa yang membawanya kemari?" - batin Fizzy bergumam)
"Fi,zzy" Panggilnya pelan, Suaranya memang tidak terdengar jelas namun, Fizzy bisa mengerti apa yang diucapkan oleh Rayna.
"Ah,Iya silahkan Rayna" Fizzy mempersilahkan Rayna masuk, namun Tangannya sama sekali tak bisa bergerak hanya untuk sekedar memencet tombol maju diatas pegangan kursi roda itu.
'Ban tu a ku "Ucapnya kembali.
(' lihatlah dia sungguh Aneh, lantas siapa yang membawanya kedepan kamarku. Apa Faaz? Ah tidak, Faaz sedang bersama Natasha sedari tadi' - batin Fizzy kembali)
Fizzy membantu Rayna untuk masuk kedalam kamarnya, Fizzy mendorong pelan kursi roda yang Rayna naiki. Ia pun segera duduk diatas sofa menghadap kearah Rayna.
"Rayna, Siapa yang membantumu duduk dikursi Roda itu?" Tanyanya dengan sangat tegas.
"Ti dak ada" Jawabnya singkat.
"Lalu, Untuk apa kau menemui ku malam-malam seperti ini"
"ban tu a ku men cari Fa az" Ucapnya
"mungkin Faaz diatas, diruang kerja miliknya" Ucap Fizzy.
"Apa di a se dang ber sa ma wa ni ta" Tanya Rayna mengagetkan Fizzy.
(Aku harus jawab Apa? - batin Fizzy kembali)
.
.
.
.
Baca juga ceritaku yang berjudul "Bukan mauku" dan untuk Cerita "teman hidupku yang mengubah hidupku" Aku akan menambahkan Chapter kembali, seakan Novel tersebut On going kembali. Aku harap kalian tidak bosan membaca cerita RidoMay...