
Malam itu, mereka sibuk dengan persiapan acara pernikahan Fizzy dan AliQ. Faaz dan Natasha sedang mencari pakaian yang Faaz yang akan dikenakan oleh Rayna. mereka sedang mencari waktu yang pas untuk memiliki waktu berduaan. Atas saran Papa, Natasha pun menerima Ajakan suaminya itu. Di dalam kamar, Rayna sedang mengenang masa-masa indahnya bersama suaminya. Cinta Rayna kepada Faaz sangatlah besar, cintanya tidak berkurang sedikitpun. Buliran air mata keluar dari mata indah miliknya, Ia merasa jika Faaz sangat berubah dan terkesan cuek.
”Fa,az “ Panggilnya Lirih.
”kamu di mana?”
”Nyonya inginkan sesuatu?” Tanya seseorang kepada Rayna.
”Ka mu si a pa?” Tanya Rayna penasaran, wanita itu tersenyum dan segera mendekat dengan Rayna.
”Saya Rima, Saya yang akan mengurus semua keperluan Nyonya” ucap nya.
”TI dak, sa ya ingi n Na tas ha” jawabnya, lidah Rayna memang terasa kaku jika berbicara, dokter Ambar menjelaskan jika Rayna mengalami gangguan sistem Saraf yang membuat Rayna kesulitan berbicara bahkan Rayna juga terkadang kesulitan untuk bernafas.
(‘Gangguan dIsartia yaitu semacam gangguan yang merupakan kelainan pada sistem saraf, sehingga memengaruhi otot yang berfungsi untuk bicara. inilah yang menyebabkan Rayna mengalami gangguan berbicara - jelas Dokter Ambar)
“Pa n gI l f a az”
”Pa sa mejeynm “ ucap Rayna membuat Rima semakin kebingungan, Gangguan itu memang terkadang membuat penderitanya mengucapkan kalimat yang sulit dimengerti.
“Apa?” Tanya Rima, dia kesulitan mengartikan permintaan Rayna, Ia menghela nafasnya.
‘Apa yang ia bicarakan, pantas saja tuan itu berselingkuh.’ Gumam nya dengan pelan.
“Maaf, kenapa dengan dia?” Tanya MaliQ.
”Saya tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan tuan muda” ungkap Rima, MaliQ terdiam menatap Kaka iparnya dengan Iba.
(‘Malang sekali kau kak, suamimu sedang bersenang-senang dengan wanita lain dan kau disini sedang meringis kesakitan - batin MaliQ)
“biarkan saya yang menemaninya.” Pinta MaliQ. Rima menganggukkan kepala nya dan segera meninggalkan MaliQ juga Rayna.
”siapa Dia, mengapa Kak Faaz malah memberikan perawat untuk merawat Kak Ray.”
”Aku merasa iba dengan Kak Rayna!.” Gumamnya kembali dengan sangat pelan.
”MA i q” panggilnya kepada MaliQ tanpa bersuara, ia menggerakkan rongga mulutnya dengan sangat kesusahan.
”Kaka, Tenanglah Maiq akan menemani Kaka disini. Tidurlah dengan nyaman” ucap MaliQ.
”a ku ing in Fa,as” suaranya terdengar sedikit jelas, Ia masih kesulitan untuk mengeluarkan suaranya dan mengatur nafasnya saat berbicara. MaliQ terlihat semakin iba dengan kondisi Rayna saat ini.
”aku akan menghubunginya agar segera pulang, tetapi Kaka tidurlah dahulu agar kak lebih tenang.” Seru MaliQ
****
Didalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang, Faaz tak henti menggoda istri tercintanya. Faaz memang sangat menginginkan waktu yang menjadi Quality timur untuk dirinya dan Natasha. Semenjak dua hari lalu saat kedatangan Rayna. Faaz dan Natasha mencoba menjaga jarak dan itu membuat batin Faaz sendiri merasa tak nyaman apalagi Faaz mengetahui jika Natasha sedang mengandung.
“Nat, aku senang sekali” Natasha terdiam dan hanya memberikan senyumannya.
”Kau cantik, apa kau memang sengaja berdandan seperti itu?.” Natasha tetap terdiam mendengar celotehan suaminya.
”Natasha, apa kau akan membuat suamimu ini mati penasaran karena tak mendengar suara indahmu?.” Tanya Faaz, Faaz merengek layaknya anak kecil, hanya karena ingin mendengar Natasha berbicara.
“suamiku, sudahlah fokus saja menyetir!” Seru Natasha, ia tak henti memberikan senyuman manisnya itu. Faaz sangat terpesona dengan senyuman khas milik istrinya.
”Hatiku berdebar kala mendengar suaramu” godanya, Natasha merasa heran dengan tingkah laku Faaz kepadanya. Faaz lebih terbuka dan lebih mengekspresikan perasaan cintanya kepada Natasha.
”gombal” tukasnya
“Sumpah tak gombal sayang!” Jawabnya, Faaz menarik tangan Natasha dan mencium punggung tangan Natasha secara berkala.
”Aku mencintaimu, Aku ingin selalu bersamamu” Ungkapnya. Faaz menghentikan laju mobilnya dan memarkirkan mobil tersebut di pinggir jalan.
”Aku ingin semalaman bersamamu, kita tidak usah pulang setelah menemui Azri!”
”Tidak, bagaimana dengan Rayna?” Tanya Natasha.
”Rayna?” Faaz mendecih saat Natasha mencoba memikirkan Rayna.
”Mengapa denganmu?, Rayna membutuhkanmu dan.. “ Faaz mencoba menghentikan kalimat yang akan di ucapkan oleh Natasha.
”Entahlah Nat, perasaanku padanya sangatlah hambar”
”sejak aku merasa mencintaimu”
”Kamu malah bercanda, jujur saja sayang. Kau pasti masih mencintai Rayna”
”Aku harap kau masih mencintainya” timpalnya kembali.
”maksudmu?, Natasha mengapa kau bertanya seperti itu?.” Tanya Faaz.
”karena, Aaleesya.” Jawab Natasha singkat.
“Esya lebih membutuhkanmu!” Ucap Faaz, Natasha terlihat seperti sedang menahan air matanya.
”Sayang” ucap Faaz lirih seraya menghentikan laju mobil yang sedang ia kendarai.
“Aaleesya membutuhkan ibu kandungnya, sama seperti anak yang sedang ku kandung. Dia pasti membutuhkan kasih sayangku!”
”Faaz, jangan membuat aku berdosa dengan menjauhkan Aaleesya dengan Rayna!”
”Aleesya hanya ingin denganmu! Kau lihat jika dia selalu mencarimu!”
”Karena kau tak jujur dengan Aaleesya jika ibu nya sudah ada bersama kita!”
“Bukan karena aku, tapi keinginan Rayna!” Tukas Faaz, Rayna memang meminta agar Aaleesya tidak menemui nya terlebih dahulu. Rayna tak siap jika Aleesya tahu Ibunya tidak bisa berbicara dengan jelas.
”Aku yakin kau pasti akan meninggalkan ku, setelah Rayna sembuh dan bisa beraktivitas kembali. Dan aku juga pasti akan kehilangan Aaleesya”
”siapa yang mengatakan itu?”
”benarkan Faaz?”
”Apa kau percaya dengan kalimat itu?” Natasha menggelengkan kepalannya, ia merasa ada yang salah dengan Pa yang ia ungkapkan.
”Apa MaliQ yang mengatakan semua itu?.” Tanya Faaz penuh penekanan.
”Tidak, tidak ada yang berbicara apapun kepadaku. aku hanya berspekulasi sendiri saja Faaz”
”jika memang seperti itu, tatap mataku.” pinta Faaz, Natasha menunduk dan meneteskan air matanya.
”Aku hanya takut kehilanganmu, Namun aku merasa bersalah jika menjadi wanita keduamu!”
”Sayang, Maafkan aku. Ku mohon berikan aku cara agar aku tak menyakitiku juga tak menyakiti hati Rayna”
“Setelah aku melahirkan anak ku, ceraikan aku Faaz!”
”Tidak Natasha, aku sangat mencintaimu!”
”Tapi Faaz!,” Faaz mencium bibir Natasha dengan lembut, Natasha pun menikmati apa yang Faaz lakukan.
”Aku mencintaimu, aku juga tidak bisa berbohong jika Rayna sudah tidak ada didalam hatiku namun, sedikit demi sedikit Perasaan itu terasa hambar dan jika aku tak melihatmu aku merasa hidupku lebih hampa.” Ungkap Faaz sembari mencium Natasha kembali.
(“Aku pun mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu Suamiku” - Batin Natasha bergumam)
drrrt drrrt (ponsel bergetar)
”Haloo.” Sapa Faaz.
”Kakak, kau sedang berada di mana?.” Tanya Alea dibalik ponselnya.
”Aleesya, mencarimu dan sedari tadi tidak ingin berhenti menangis!” Ucap Alea.
”Aku baru saja selesai bertemu dokter, dan ini menuju Azri!” Jawab Faaz.
“Apa Kaka bisa pulang secepatnya?” Tanya Ale kembali
”Apa ada hal lain?” Tanya Faaz penasaran.
”Kak Rayna, Anfal kami semua merasa khawatir dan Aaleesya melihatnya saat mencari Kak Natasha ke kamarmu!”
.
.
.
.