
“Natasha, “ Panggil Faaz.
”Iya,” jawabnya singkat.
”Aku duluan ke kamar iya Kak Nat” Pamit Alea, Karena melihat akan ada obrolan penting diantara keduanya kakaknya.
”Kak Faaz, Aku pamit duluan” pamit Alea kepada Faaz, Faaz menganggukan kepalanya. Natasha terlihat menundukkan pandangannya.
”Qabil, tunggu aku. nanti kau harus menghubungi Aidil, dan beritahu dia jika obrolan kita mengenai perusahaan di Indo, dapat kita bicarakan esok setelah pesta pernikahan Fizzy.”
“Baik kak!” Qabilpun menganggukan kepalanya dan segera mengantar Alea untuk beristirahat.
”kenapa Faaz?” tanya Natasha.
“Aku ingin berduaan denganmu, Apa boleh setelah Rayna tertidur aku ke kamarmu sebentar” Tanya Faaz.
”bukankah kau akan menemui Tuan Aidil?” Tanya Natasha, Alisnya sebelah terangkat.
”Apa kau tidak mendengar apa yang aku minta kepada Qabil?.” Tanya Faaz, Natasha terlihat tersenyum dan segera berpamitan kepada Suaminya itu. Sebelum Natasha masuk kedalam kamarnya, Natasha terlebih dahulu mengecek keadaan Aaleesya dan juga Papanya tak lupa Natasha melihat keadaan Papa mertuanya. Setelah Natasha merasa jika mereka baik-baik saja, Natasha memutuskan untuk segera masuk kedalam kamarnya yang letaknya tak jauh dari kamar milik suaminya yang sekarang sudah ditempati kembali oleh Rayna.
*****
Ceklek...(suara pintu terbuka)
Faaz masuk, dan segera menghampiri Rayna. Faaz melihat alat-alat kembali terpasang ditubuh Rayna, Rayna tertidur dengan membaringkan tubuhnya. Dia mengerjapkan kedua matanya kala mengetahui jika Faaz pulang dan masuk kedalam kamarnya.
”Faaz”
”Kau bisa mengucapkan Namaku tanpa menelan ludahmu?” tanya Faaz.
”I,ya “
”KA PAN Thera Py ku ber langsung?” Tanya Rayna, suaranya begitu sama terhalanga oleh masker oksigen yang ia pakai.
”Sayang, masih ada acara pernikahan Fizzy dan serangkaian Acara pernikahan Alea dan Qabil. Aku belum bisa memutuskan kapan kau akan menjalani therapy”
”Lepas kan ini” ucap Rayna, matanya mengedipkan ke arah oksigen yang sedang ia pakai. Faaz segera membantu Rayna melepaskan oksigen yang menghalangi hidung serta mulutnya.
”Aku, in gin the rapy” suara pelan namun jelas untuk Faaz.
“baiklah, selesai Acara pernikahan Fizzy, mungkin esok harinya aku akan jadwalkan” Ucap Faaz.
”Tidurlah, besok adalah hari spesial untuk Fizzy. Apakah kau ingin melewatkannya” Ucap Faaz, Rayna pun mulai memejamkan kedua matanya dan Faaz segera menutup seluruh badannya dengan selimut yang sudah Rayna Pakai.
(‘Faaz, Aku tidak percaya apapun yang MaliQ katakan!, tetapi aku sangat tahu jika MaliQ bukanlah pembohong” - batin Rayna)
Flasback....On
”Kaka, kenapa tidak tidur?” tanya MaliQ, Rayna pun mengedipkan kedua matanya.
”baiklah, jika Aku tanya dan jawabannya iya Kaka melirik ke arah kanan, dan sebaliknya jika tidak Kaka melirik ke arah kiri” Rayna pun melarikan ke arah kanan tanda menyetujui apa yang sedang dipinta oleh MaliQ, MaliQ tahu betul jika Rayna banyak berbicara oksigen yang ada didalam dirinya semakin berkurang, dan itu membuat Rayna tersengal mungkin karena, sulitnya menggerakkan Rongga mulut secara biasa.
”Apa Kaka ingat Natasha?” Tanya MaliQ, Rayna menganggukan kepalanya.
”Apa ia cantik?” Rayna melirik ke arah kanan dan menganggukan kepalanya.
”Apa Kaka, berharap jika ia wanita baik” Tanya. AliQ kembali. Rayna tak mengerti mengapa MaliQ bertanya tentang Natasha, wanita yang baru saja menolongnya, membawanya ke rumah suaminya. Natasha wanita yang mengaku pengasuh dari Anak semata wayangnya.
”Apa Kaka tidak takut, jika Natasha merebut posisi Kaka?” Rayna meluruskan pandangannya, ia tidak bisa berpikir mengapa adik iparnya menanyakan hal yang membuatnya takut.
”Jawab kak?,” MaliQ semakin penasaran dengan apa yang sedang Rayna pikirkan.
”Natasha, wanita muda. Dia seusiaku dan dia cantik juga dekat sekali dengan Aleesya dan dia mampu merebut hati semua orang disini karena kebaikannya.”
”Apa Kaka tidak takut jika Kak Faaz berpaling, dan dia menggantikan posisi Kaka”
”TI,dak Ma IQ itu tid ak boleh ter ja di” Ucap Rayna dengan sangat kesulitan.
”itu sudah terjadi, sebelum Kaka tersadar” Rayna terkejut dengan apa yang MaliQ ucapkan, Ia tak percaya jika kesetiaan Faaz padanya sudah terhapus.
”Kau harus sembuh, Kau harus menjalankan therapy dan segera lah berjalan kembali. Hidup layaknya Rayna yang normal dan saling mencintai dengan suamimu, jangan biarkan wanita lain merenggutnya” MaliQ sengaja memprovokasi Rayna agar Rayna memiliki semangat kembali untuk sembuh.
”Mama peri “ panggilnya dengan suara yang sangat mungil itu, Aaleesya mencari Rayna ke kamarnya.
”Uncel dimana Mama periku?” Tanya Aaleesya, Rayna terkejut mendengar panggilan Aaleesya kepada Natasha.
”Sayang, Mama dan Papa mu sedang pergi. Mari Uncle antar ke kamarmu” MaliQ pergi membawa Aleesya untuk menjauh dari Rayna dan Rayna terlihat terkejut sehingga tensi darahnya menaik drastis, nafasnya tersengal dan berteriak dengan kencang.
”Aaaaarrrgggg, aaaarrrrrrr” Teriak Rayna, Fizzy yang sedang didalam kamar pun mendengar teriakan keras dari kamar Rayna. Fizzy, Ayana, Alea Dan Mael segera menghampiri Rayna dan segera menenangkan Rayna.
”Ray, kamu kenapa?”
”Fa,Az “ Alea segera memanggil Uncle Richard untuk segera memeriksa keadaan Rayna.
*******FLASHBACK OFF
”Rayna”
”Dia sudah tertidur” Gumam Faaz, yang keluar dari dalam kamar mandi miliknya.
”Rayna, Maafkan aku” Gumamnya pelan, dan segera keluar kamar untuk menghampiri Natasha.
(‘kemana kau Faaz, bukannya menemaniku. Kau malah meninggalkan ku, jika kau membuatku seperti ini mengapa kau menahan kematian ku kala itu. Kau benar-benar sudah berubah Faaz” - batin Rayna bergumam)
Faaz yang keluar dari kamarnya segera menghampiri kamar anak semata wayangnya, setelah ia melihat keadaan putri kecilnya, Ia segera menghampiri kamar Papa tercintanya. Papa Rido terlihat sudah tertidur dengan pulas. Faaz tersenyum kala melihat wajah tampan Papanya yang sedang tertidur.
”Papa, Aku Menyayangimu. Terimakasih kau memberikan Natasha kepadaku, Apa aku terlalu serakah Pap?, aku hanya berniat untuk berbakti kepadamu namun kau tak salah Pap, akulah yang salah karena tidak berani jujur kepadamu. maafkan aku” Gumamnya sembari menutup rapat kembali pintu kamar milik Papanya.
”Sayang, ?” Panggil Faaz.
”Aku ingin mengambil sesuatu, aku lapar” ungkap Natasha.
”baiklah, ayo kita ke dapur.” ajak Faaz kepada istrinya itu.
”kau tak boleh membiarkan Anakku yang didalam perutmu itu merasa kelaparan!” Faaz merangkul bahu istrinya dan membawanya ke dapur untuk membuatkan makanan yang akan dimakan istrinya.
”Aku saja yang memasaknya!”
”Tidak, aku saja!”
”kalau gak enak, aku tidak akan memakannya” Ancam Natasha.
”dasar Nakal, sudah berani iya mengancam ku” ucap Faaz, membuat tawa kecil bergelayutan di wajah cantik Natasha.
”Faaz, mengapa kau sangat tampan!” Pujinya membuat Faaz salah Tingkah.
”Kau terlihat seperti artis turkey Favoriteku”
”Oh,Iya”
”Maaf nona, Bisakah anda tidak mengganggu ku”
”Tidak bisa Faaz, Sepertinya aku mengidamkan sesuatu”
”Apa, Ayo katakan. Biar aku mencarinya!”
”tidak perlu, ini sangat gampang dan aku sudah mendapatkannya” Faaz terlihat melihat ke atas, Faaz sedang memikirkan keras dengan apa yang sedang Natasha inginkan.
”Apa itu?” tanya Faaz penasaran, Natasha tersenyum kala melihat wajah suaminya yang terlihat penasaran dan kebingungan.
“kau yakin tidak akan Malu?” tanya Natasha, Faaz tersenyum dan mengecup bibir mungil milik istrinya.
”katakanlah!”
”Aku mengidam melihat wajahmu yang tampan”
”Oh itu, aku kira apa!” Serunya.
”Faaaaaaz” panggilnya setengah berteriak.
”Aku mengidam tidur memelukmu” ungkap Faaz, Natasha tersenyum saat mendengar apa yang ingin Faaz lakukan. Karena, sudah sangat lama sekali mereka tak melakukannya.
”aku akan menghabiskan makanan yang telah kau buat, setelah itu kau boleh menghabiskanku” Ucap Natasha nakal, semakin membuat Faaz bersemangat.
”Baiklah, aku akan menerkam mu” Seru Faaz, mereka tertawa geli bersama. Dapur yang dingin terasa hangat kala terdengar suara tawa kecil diantara keduanya, Namun ada kedua bola mata yang tak suka melihat kemesraan diantara mereka.
.
.
.
.
.
”***Jika membuat kalian berpisah akan membuatku senang, aku akan siap melakukannya walaupun dengan cara yang sedikit sadis!! Natasha kau milik ku, selamanya akan menjadi milik ku” gumam MaliQ, menatap tajam ke arah Natasha dan Faaz.***