
Keesokan Harinya Faaz terbangun dari tidurnya semalam dan tidak mendapati Natasha yang tertidur disampingnya.
" kemana Natasha iya?, Apa sepagi ini dia sudah berada di dapur" gumamnya.
" Ueegghh...Ueghh ..Oooo " Suara Natasha dari dalam kamar mandi. Saat Faaz mendengar suara itu, Faaz segera beranjak dari tempat tidurnya untuk menghampiri Natasha. Faaz mengetuk pelan pintu kamar mandi miliknya itu.
Tok..tok..tok (suara ketukan pintu)
"Nat, kamu tidak apa-apa kan?" Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar mandi, Hanya terdengar suara air yang keluar dari dalam kran itu dan terdengar suara Natasha yang sedang ingin memuntahkan isi perutnya.
"Sayang, Kamu denger aku kan? Buka sebentar dan sebaiknya kita pergi ke dokter!" ucapnya, Natasha membuka pintunya dan memeluk Faaz dia seakan lelah karena berjuang untuk mengeluarkan isi dalam perutnya.
"Kamu pucet, sudah berapa lama seperti ini"
"Entahlah Faaz akhir-akhir ini seperti ada yang ingin aku keluarkan dari dalam perutku, dan itupun selalu saja membuatku lelah" ucapnya, Natasha membekap mulutnya dan kembali menekan perutnya lalu pergi ke dalam kamar mandi.
"Ueghh.. uegghh... Oooo" Sembari menekan perutnya Natasha terlihat sangat kelelahan, Faaz membantu dengan memijit pungguk Natasha.
"Sudah enakan? "
"Belum Faaz ini masih sangat mual, dan kepalaku sangatlah berat." Serunya.
"Yasudah istirahat saja, biar Aaleesya aku yang mandikan dan nanti aku antar ke kamar ini setelah itu kau harus ikut denganku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu" Natasha mendengarkan detail kalimat yang diberikan suaminya, bahkan Natasha enggan sama sekali menolaknya.
"begini saja, aku akan panggilkan dokter untuk mu." Ucapnya kembali, Natasha mengangguk pelan tanda menyetujui keinginan suaminya.
Natasha yang masih sangat mual dan merasa sangat pusing memikirkan bagaimana keadaan semalam saat Faaz mengakui Rasa cintanya kepada dirinya apalagi Natasha sangat bingung dengan kebohongan yang Faaz bicarakan namun, walaupun begitu Natasha memilih untuk berpura-pura tak mengetahuinya.
"Aku mandi dulu, aku yakin akan ada bayi didalam perutmu " Serunya sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Benarkah jika begitu aku sangat senang Faaz." Seru Natasha. Faaz berjalan menuju kamar mandi dengan wajah sumringahnya, Faaz tak dapat menutupi rasa senangnya saat melihat wajah istrinya itu.
.
.
.
.
.
.
Di meja makan Papa Rido dan anggota yang lainnya termasuk Uncle Richard, Aunty Rani dan Uncle zain sedang menunggu Faaz dan Natasha turun dari kamarnya. namun, Saat bibi ester memberitahu jika Natasha sakit Papa Rido meminta Bibi ester untuk mengantarkan sarapan Mereka kedalam Kamar.
"Kenapa dengan Natasha Kak?" Tanya Rani.
"Natasha dari kemarin mengeluh pusing, Lalu mual terus Aunty" seru Fizzy seraya menjawab pertanyaan Rani.
"Mungkin Kamu mau dapet cucu lagi, ah senangnya liatlah Mael Papamu sudah mau dua lah kamu masih saja jomblo" Goda Richard kepada anaknya, Mael tersenyum dan menatap Ayana.
"Mengapa kau meliriku Mael, dan mengapa tersenyum Nakal seperti itu?" Tanya Ayana, dia melengoskan pandangannya dan terlihat sangat salah tingkah saat Mael menatapnya penuh harap.
"Enggak kok, Ayana cantik Mael suka banget liat senyum Ayana" Jawab Mael sembari tersenyum penuh arti. Mereka semua tertawa kecil dibuatnya, Ayana semakin salah tingkah saat Mael memuji senyumannya itu.
"Eh, Kak natasha Hamil kayanya. Kenapa gak Uncle periksa aja?" Tanya Ayana.
"Uncle dokter Ahli bedah jantung, ahli paru masa iya periksain kandungan" Jawab Richard sembari tersenyum.
"Tapi kan kata Papa Ido, Uncle Richard bantuin Mama lahirin Aku " Sahut Alea.
"Oh kalau itu karena Urgent sayang. " Jawab Richard sembari tersenyum.
"Kenapa gak MaliQ aja yang periksa, MaliQ kan mau jadi dokter kandungan" Ceplos Rani yang saat itu sama sekali tak mengetahui keadaan MaliQ dan Natasha.
"Oh gak perlu Aunty, Faaz udah panggil Dokter matt untuk memeriksa Natasha. Lagipula kalau dokter yang masih belajar mana bisa periksa orang sungguhan kan masih jadi murid belum lulus" Seru Faaz yang datang secara tiba-tiba, MaliQ terlihat kesal saat mendengar apa yang Faaz ucapkan.
"Sudah, emm kalian becanda nya kelewatan. Udah ah Faaz ayo kita ke kantor banyak client yang ingin sekali bertemu sama kamu" ajak Fizzy Namun Faaz dan MaliQ masih saja saling menatap tajam.
"MaliQ, Ayo kita pergi sekarang lagipula aku harus ketemu dospem aku. Ayo maiQ!!" Bujuk Ayana, MaliQ beranjak dari tempat duduknya dan segera berpamitan kepada semua orang lalu Maliq melangkahkan kaki melewati Faaz. namun saat sesudah melewati Faaz MaliQ menghentikan langkahnya dan membalikan badannya dan berbicara serius ke arah kaka tertuanya.
"Dengar, Aku bisa saja berbicara sekarang tetapi ini belum saatnya dan kau masih memiliki waktu untuk bercengkramah bersama Papa dan semuanya setelah mereka tahu kebohongan itu. Aku pastikan mereka akan membencimu! " Ancam MaliQ, Faaz tak gentar mendapat ancaman itu. Faaz tersenyum dan melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah MaliQ.
"Aku ingin tahu bagaimana kau akan menghancurkan Kakak mu ini, Kakak yang selalu memberikan bahunya untuk kau bersandar, Kakak yang selalu mengusap air matamu dan memeluk mu disaat kau bersedih. Ingatlah MaliQ jika kau membenciku, Aku akan tetap menyayangimu" Seru Faaz, semua kebingungan dengan sikap yang diberikan Faaz dan MaliQ namun mereka tak bisa mendengar apapun yanh di katakan oleh Faaz ataupun MaliQ.
"OMONG KOSONG, LUPAKAN KASIH SAYANG MU UNTUK KAMI! " Ucapnya tegas seraya meninggalkan Faaz yang mematung dihadapannya, dengan raut wajah kesal MaliQ yang memilih untuk pergi tak luput dari gerutu kecil nya dan membuat Ayana merasa semakin kebingugan.
"Kaka.." Panggil Papa Rido.
"Iya Papa " Jawabnya sembari tersenyum dan melangkahkan kaki untuk menghampiri Papa kesayangannya itu.
"Maafkan Adik mu, Lupakanlah perkataan apapun yang telah membuat hatimu terluka " Ucap Papa Rido sembari memegang wajah Faaz dengan kedua tangannya.
"Iya Papa, Papa tak perlu memikirkan Apapun. Kami baik-baik saja"
"Papa percaya kepadamu " Seru Papa.
" Faaz keponakan Aunty, kesayangan Aunty terimakasih yah Nak sudah menjadi kaka yang sangat dewasa untuk adik-adik mu." Seru Aunty Rani.
"Uncle juga sangat senang, Kau sangat baik memperlakukan Mael, Qabil ataupun Ayana. kau memperlakukan mereka layaknya adik kandungmu. Uncle sangat bangga kepadamu" Ucap Uncle Richard sembari memeluk tubuh Faaz.
"Kami sangat bangga kepadamu sayang" Seru Uncle zain.
"Terimakasih, sekali Faaz minta maaf mungkin satu minggu kedepan Uncle dan Aunty akan Faaz repotkan. maafkan Faaz ya"
"Tidak usah sungkan Nak, kami juga orang tuamu " Ucap Uncle zain.
sebelum Faaz dan Fizzy pergi meninggalkan mereka untuk pergi ke kanto, Mereka tak henti bercanda gurau dan tertawa dengan sangat lepas. Apalagi Uncle Richard yang selalu menjadikan setiap pembicaraan apapun menjadi bahan candaannya namun itulah Uncle Richard yang selalu menjadi pelawak profesional jika sedang bersama mereka.
.
.
.
.
.
.
.
ASIC GROUP COMPANY.
Di dalam ruangan luas milik KING Faaz yang menjabat sebagai Presiden Direktur Asic Group, Faaz termenung akan masalah yang sedang menimpa dirinya. Masalah yang berada didalam lingkungan kantor pun menambah kegundahan dalam hidupnya.
"Faaz, Apakah kau tahu jika edwin memakai uang sebanyak ini? " Tanya Fizzy.
"Tidak, sudahlah mungkin dia ada kepentingan dan belum bisa ia jelaskan kepada kita"
"hello, ini uang perusahaan Faaz dan ini besar sekali " Gerutu Fizzy
"jika saja Aidil tidak teliti, kita mungkin tidak akan mengetahuinya " Ucap Fizzy kembali.
"Sudahlah fiz, kita akan membicarakan ini setelah Edwin dan Aidil kembali" Tandasnya.
"Baiklah jika memang sudah keinginanmu aku mengalah, tetapi lihat saja jika memang terbukti ed memakai uang perusahaan dengan sangat cuma-cuma aku tak akan pernah memaafkannya" Ancam Fizzy sembari meninggalkan Faaz seorang diri.
('Entahlah aku merasa Aneh dengan Faaz akhir-akhir ini, Ada apa dengannya Tuhan - Gumam Fizzy dalam hatinya)