
Malam itu cuaca sangat dingin , natasha terbangun dari tidurnya berniat untuk membuat Lemon tea hangat untuk menghangat kan tidurnya . dia memakai senter di ponselnya untuk berjalan kearah dapur karena jika malam arah untuk menuju dapur selalu dimatikan oleh Faaz dan hanya dapat penerangan kecil dari lampu diluar taman .
' uhh dingin sekali , tadi siang sampai sore aku merasakan kesejukan tetapi mengapa malam ini sangat dingin " gerutu natasha sembari berjalan menuju dapur , natasha tak tahu jika Faaz sedang berada di dapur untuk membuat lemon tea hangat juga . Faaz memang sangat menyukai apapun yang selalu menjadi kesukaan ayah dan ibunya .
" maaf tuan , saya mengira jika tuan tidak sedang berada di dapur " ucap natasha yang berbicara dengan nada yang terbata-bata seakan gugup melihat tatapan yang Faaz berikan .
" Tidak apa-apa , aku hanya ingin membuat minuman Hangat " seru Faaz sembari berjalan kearah kompor .
" Biar saya yang membuatnya tuan , saya juga berniat untuk membuat Lemon tea hangat untuk menghangatkan tubuh , karena cuaca nya sangat dingin " ucap natasha , sembari membawa dua gelas cangkir yang berada dihadapannya .
Faaz terdiam karena di dalam benaknya ia pun akan membuat minuman hangat yang sama , Faaz memandang wajah natasha yang sedang menyiapkan air diatas kompor lalu mengiris lemon dan menuangkan sedikit gula dicangkirnya . Faaz sungguh melihat sosok ibunya ada pada natasha . Faaz tak melepaskan pandangannya saat natasha sedang memotong beberapa lemon ditangannya , rambut panjangnya tergerai dan jatuh menghalangi pandangannya . Faaz segera membantu menyingkapkan rambut panjangnya itu dan natasha merasa jantung nya berdegup kencang menerima perlakuan itu dari tuan nya .
" airnya sudah mendidih " ucap Faaz dengan sangat ketus , membuat natasha semakin gelagapan , natasha segera menuangkan air panas kedalam dua cangkir lalu mengaduknya memakai sendok dan memberikan satu cangkir lemon tea hangat untuk Faaz dan satu nya lagi untuk dirinya .
" ini tuan , saya permisi " ucap natasha seraya menundukan pandangannya ..
.
.
.
.
.
natasha membuka balkon atas yang dekat dengan kamarnya itu , dia duduk di kursi lalu melihat pemandangan kota sydney yang indah , karena rumah megah itu memang di desain dengan sangat baik oleh Papa Rido sesuai keinginan istrinya . kelap kelip lampu kota dan terlihat pegunungan yang sangat jauh walaupun masih dapat dipandang menbuat suasana semakin indah . rumah papa Rido memang terletak tidak jauh dari Jindabyne jadi tak salah jika cuacanya sangat dingin .
" Kamu seneng liat pemandangan disini ? " tanya MaliQh
" iya , Tuan maaf jika mengganggu anda , saya akan segera menutup kaca balkon ini " jawab natasha dengan menundukan pandangannya lagi .
" panggil aja maiQ , kita kan seumuran " seru maliQ , sembari berdiri disamping natasha , natasha terlihat sangat canggung berada disamping maliQ .
" maaf tuan , saya harus segera kembali " seru natasha , karena teringat ancaman Alea . bahwa natasha tidak boleh banyak menampakan diri di depan wajah kaka juga adiknya .
" ehh natasha , aku akan mengadukan mu kepada kaka jika kau tak mau menemaniku disini " ancam MaliQ .
" baik tuan , jika anda meminta saya , saya akan tetap diam disini " ungkapnya sembari terlihat kedinginan , MaliQh tersenyum mendengar kalimat dari bibir natasha .
" kamu baru ke australi ? " tanya MaliQ
" saya baru kali ini tuan , dan saya baru pertama kali nya merasakan cuaca yang sangat dingin " jawab natasha .
" rumah ku ini terletak di tengah kota tetapi lebih dekat ke Jindabyne " seru maliQ seraya memberitahu natasha , natasha terdiam .
" Jindabyne adalah pintu gerbang menuju Snowy Mountains dan hanya menempuh jarak enam jam ke arah sydney selatan , dan sekarang sudah memasuki musim dingin kau harus selalu memakai pakaian hangat mu " ucap MaliQ sembari melepaskan pakaian hangat yang sedang ia pakai dan memakaikan di tubuh natasha , natasha menolaknya tetapi maliQ memaksa natasha agar tetap memakai jacket tebal itu .
" apa akan ada salju tuan , karena saya ingin sekali melihat salju " tanya polos natasha .
" Tidak tuan , jika saya harus meninggalkan nona kecil sendiri saya tidak mau tuan .. nanti saja jika sudah terdapat waktunya tuhan akan mengabulkan keinginan saya " ungkap natasha yang semakin tak nyaman mendapat tatapan dari tuan mudanya .
" hmmm " faaz berdehem , membuat natasha dan maliQ merasa gugup .
" aku sedang menemani natasha kaka , natasha seperti almarhum mama dia sangat suka menikmati pemandangan dari sini " ucap MaliQ dengan sangat gugup , karena maliQ tahu jika kakanya tidak menyukai adik-adik nya atau papa nya yang masih terjaga di jam malam seperti ini , faaz terdiam menatap maliQ sepertinya penjelasan maliQ tidaklah cukup .
" aku pamit tasha , selamat malam " pamit maliQ yang mengerti bahwa tatapan kaka nya adalah kodenya untuk meminta adiknya segera masuk .
" maaf tuan saya akan kembali ke kamar " ucap natasha , sembari melewati Faaz yang sedang mematung menatapnya .
" natasha .............. " panggil Faaz .
" iya tuan .. ' jawab natasha seraya menoleh kearah Faaz
" kamu mau saya yang menutup pintu kaca balkon ? :" tanya Faaz dengan sangat tegas dan menatap natasha dengan tatapan tajam nya sehingga membuat natasha semakin gugup
" ma.ma..af tuan . " natasha menutup pintu kaca dan menutup tirai yang sudah seharusnya menutup lalu tak sengaja kakinya tercegat oleh kain keset sewaktu melangkah kearah tuan Faaz nya dan tak sengaja ia terjatuh tetapi Faaz dengan sigap menahan badan natasha dan mereka saling memandang .
'deg...ded...deg ( suara jantung berdegup ) " yaa ampun apa yang sedang kamu lakukan natasha , mengapa jantung ini berdegup kencang - batin natasha
" Lain kali hati-hati jika kau terjatuh disaat menggendong anak ku , aku tak akan segan-segan menghukum mu " ucap Faaz yang mencoba menyeimbangkan tubuh natasha .
" maafkan saya tuan " seru natasha , Faaz meninggalkan natasha tanpa menjawab permintaan maaf nya .
" Gadis yang malang " - gerutu MaliQh saat melihat pemandangan yang tak biasa itu . " mengapa bukan aku yang menyelamatkan natasha malah kaka ku yang sudah dingin dengan perempuan " ungkapnya , sembari menutup pintu kamarnya .