
"Pernikahan ku dan AliQ akan berlangsung Tiga hari lagi, aku benar-benar harus mempersiapkan mentalku" Gumam Fizzy sembari sembari memondar-mandirkan langkahnya.
Tok..
Tok..
tok..
"Masuk " Teriak Fizzy pelan.
"Maaf nyonya, Tuan Najam AliQ menunggu anda diluar" Ucap staff sekretaris.
"Biarkan saja dia masuk" Pinta Fizzy sembari duduk kembali dikursi kerja miliknya, jantungnya berdegup kencang kala itu.
"Maaf sudah mengganggu mu" Seru AliQ yang masuk kedalam ruangan Fizzy.
"Ouh tidak sama sekali AliQ, silahkan duduk". Fizzy berdiri dan mempersilahkan AliQ duduk, AliQpun segera duduk di sofa yang berada di dalam ruangan milik Fizzy.
"Ada apa AliQ?, Apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Fizzy.
"Tidak, Aku hanya ingin menanyakan hal mengenai pernikahan kita. Apakah kamu benar-benar tidak ingin membatalkan pernikahan ini?" Tanya AliQ, Hati Fizzy merasa sakit mendengar pertanyaan AliQ.
Fizzy terdiam dan mencoba menghela nafas beratnya. Ia masuk kedalam lamunan yang sangat dalam, mengingat satu persatu kalimat yang keluar dari tutur lembut Papa Rido kesayangannya. air Matanya menetes saat bayangan wajah Papanya terlintas dipelupuk matanya. Fizzy sungguh tak menyangka dengan apa yang AliQ tanyakan kepadanya.
"Fizzy, mengapa kau menangis?" Tanya AliQ.
"AliQ, Apakah kau tahu? Sebesar apa harapan Papaku tentang pernikahan ini. Papa sangat ingin aku menikah dan saat itu kau yang memberi mimpi kepada Papaku." Seru Fizzy.
"Tidak AliQ, aku tidak berniat sedikitpun untuk membatalkan pernikahan kita." Ucapnya kembali.
('Aku juga terlanjur berjanji kepada Papaku untuk menikah denganmu Fizz, jika tidak Papa akan marah besar dan mengambil seluruh aset miliknya dan Faaz juga akan marah kepadaku, dia juga akan merebut aset milik Rayna sedangkan aku sudah tidak memiliki saham besar.' - gumam AliQ dalam hati)
"Aku mohon AliQ, aku tahu kau tak mencintaiku. Dan aku sadar akan itu tetapi, ku mohon berikanlah aku tempat agar tak mengecewakan Papaku lagi" Ucap Fizzy.
"Baiklah.. Tetapi dengan 1 syarat kembali."
"Apa itu AliQ?"
"Aku ingin kau membantu perusahaanku setelah kita menikah, dan syarat sebelumnya aku akan batalkan. Kita bisa hidup layaknya suami istri walaupun tanpa cinta" Seru AliQ
" Baiklah, kau tak perlu khawatir AliQ"
"Terimakasih Fizzy, kau memang wanita yang baik"
#Dalam lamunan AliQ.
"Kau memang anak pembangkang, tidak malukah kau? Kau mengatakan akan menikahi Fizzy dan sekarang kau ingin membatalkannya."
"Dengan Najam AliQ, kau tidak bisa seperti ini jika tidak ada campur tangan Rido dan May. Aku mengalami kebangkrutan dan saat itu Rido lah yang membantuku, Ia tak pernah lelah membantuku! " Seru Ayah AliQ.
"Dia sangat menyayangi Rayna dan dia sangat menyayangi mu! "
"Pikirkanlah jika memang ingin membuat Rido kecewa, Ayah tidak akan menganggapmu lagi sebagai Anak Ayah" Ancamnya.
"Tidak Ayah, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku berjanji!!" Ucap AliQ yang bersimpuh dihadapan Ayahnya.
Ayah AliQ adalah sahabat Rido yang bernama Harry. Dulu ia pembisnis hebat di Inggris. Namun tak disangka bisnisnya mengalami kebangkrutan. Dan semenjak itu, ia memilih untuk pindah ke istanbul turkey dan mulai menjalankan bisnisnya yang sempat bangkrut. Harry yang sedari dulu adalah sahabat Rido sangat menyayangi Rido, bagi nya Rido adalah pahlawan yang sangat berjasa menyambungkan hidupnya.
Rido memberikan setengah 1 Aset anak perusahaan yang berkembang di istanbul kepada Harry, Dhan pun membantu mengelola anak perusahaan milik Rido itu dan semenjak itu Harry yang sangat pintar mampu mewujudkan mimpinya dan berkat Rido, kini Harry memiliki beberapa perusahaan ternama dan sudah berada diberbagai Negara.
#flasback Off.
('Aku sudah menyakitinya, tetapi aku memang tak memiliki perasaan Apapun. Jika saja Ayahku tak meminta aku pasti akan tega membatalkannya. - batin AliQ)
"Terimakasih AliQ, kau sudah mau menerimaku dan kau juga mau menghentikan niat burukmu untuk membatalkan pernikahan Adik ku" Seru Fizzy.
.
.
.
.
.
.
"Assallamualaikum." Sapa Faaz saat memasuki rumah.
"Waalaikum salam." Balas Papa Rido dan Alea bersamaan.
"Kaka sudah pulang dari kantor? " Tanya Alea.
"Enggak, kakak masih didalam ruangan kantor. Yang berdiri disini hanyalah bayangan kaka saja" Candanya kepada Alea, Papa Rido tertawa saat mendengar celotehan Anak pertamanya itu.
"Kakak, kenapa kaka menggodaku"
"Kamu sih, kaka sudah berada dihadapanmu itu artinya kaka sudah pulang." Jawabnya seraya tertawa pelan.
"Lihatlah Papa, kaka sedang mencoba menggodaku " Adunya sembari memeluk Papa kesayangannya.
"Kamu ini sudah memiliki tunangan masih saja bersikap manja." Godanya kembali.
"Papa lihatlah kaka mencoba menggodaku kembali" Adunya lagi dan lagi membuat Faaz terus menerus menggodanya.
"Sudah-sudah, lihat dulu istrimu. Kasihan dia sendiri dikamar. Tadi Papa dan Alea menemaninya namun Natasha tertidur dan kami tak ingin mengganggunya" Ungkap Papa Rido.
"Baiklah Papaku sayang" Pamit Faaz sembari mencium lembut kening Papanya.
Faaz berlalu meninggalkan Papa dan Adiknya dan segera menghampiri Anak dan istrinya. Saat membuka pintu kamar, Faaz melihat pemandangan haru yang sangat ia inginkan saat nanti Rayna pulih.
"Mama peri, janan sakit agi iya. Esya nangen Mama peri" Ucap Anak semata wayangnya.
"Mama ku cayang, esya sangat cayang mama" Aaleesya kecup kening Natasha dan menghapus keringat yang bercucuran didahi milik ibu perinya.
('Sayang, dulu aku berharap Raynalah yang mendapat pengakuan seperti itu dari Anak kandungnya tetapi Tuhan lebih memilihmu untuk esya sayangi. Dan jujur hari demi hari aku semakin tak menginginkan kesembuhan Rayna, aku takut Aaleesya kebingungan dengan masalah ini dan banyak lagi yang aku takutkan - batin Aaleesya)
"Papa " Panggil Aaleesya mengagetkan Natasha juga Faaz, Natasha terbangun dan ingin beranjak menyambut suaminya pulang.
"Sudahlah sayang, tidak usah beranjak dari tempat tidurmu" Sahut Faaz yang berjalan sembari menggendong putrinya, Faaz menghampiri istrinya dan Natasha segera menarik tangan Faaz lalu segera mencium punggung tangan milik suaminya.
"Kamu masih mual dan pusing?" Tanyanya sembari memegang dahi milik istrinya.
"Badanmu anget, tunggu sebentar iya dokter akan segera datang" Gumam Faaz, Natasha menganggukan kepalanya.
"Putri kecil, papa antar kamu untuk bermain bersama Kakek dan Aunty iya. Kasian Mama mu"
"Sudahlah suamiku, biarkan esya disini"
"Sayang, esya baru saja sembuh. Dan sekarang kamu sedang sakit, esya sangat rentan terkena virus. Tolong mengertilah" Pinta Faaz, Natashapun menganggukan kepalanya dan segera mencium kening bidadari kecilnya. Faaz berpamitan untuk mengajak Aaleesya bermain bersama Kake dan Auntynya.
30 menit Kemudian, dokter yang akan memeriksa Natasha sudah datang dan Alea segera mengantar dokter tersebut kedalam kamar Natasha.
"Maafkan saya telat Faaz" Ucap Dokter.
"Tidak mengapa Dok, silahkan dokter" Seru Faaz, dokter menyapa Natasha, wajah ceria Natasha kini berubah menjadi pucat Pasi.
"Nyonya Natasha, apa yang anda rasakan?" Tanya Dokter.
"Saya merasa sering Pusing dok, lalu Saya juga merasa mual dan terkadang semua isi perut saya selalu saja ingin keluar" Ungkap Natasha.
"terakhir menstruasi Nyonya kapan? "
"sekitar Tanggal 15 bulan lalu dok "
"baiklah, kalau saya cek bagian perut sih mudah-mudah ya Nyonya sedang Hamil namun usia kandungan saya perkirakan masuk usia 4 sampai 6 minggu " Ucap Dokter.
"benarkah dok? " Tanya Faaz.
"mudah-mudahan Tuan Faaz, Untuk info yang lebih akurat. Nyonya pakai test alat kehamilan saja dulu dan jika ingin lebih tahu nyonya bisa melakukan Usg mungkin, Nanti terlihat apa kantung janin sudah terlihat apa bagaimana?" jelas Dokter seraya memberitahu Faaz dan Natasha.
"Baiklah dok terimakasih" Serunya.
Faaz mengantar kembali Dokter sampai ke depan pintu Mobil miliknya, tak lupa Faaz berkonsultasi mengenai kehamilan pertama yang Natasha rasakan. Natasha memang memiliki riwayat darah yang sangat rendah, dan Faaz sangat takut jika mengingat hal itu karena Rayna pun mengalami hal itu pada saat kehamilan.
(' Papa,Mama.. Natasha sedang mengandung.. Apa tasha bisa melalui kehamilan tanpa support kalian.. tasha kangen - Batin Natasha)
"Kak, congratulation... aaah Alea sangat senang" Seru Alea, Namun Natasha hanya terdiam dalam lamunan.
('Aku takut, bagaimana ini - batin Natasha kembali)