Alstroemeria Of Almeria

Alstroemeria Of Almeria
Curhat



Di kediaman Consuella, Emilia sedang membantu kakeknya menyiapkan makan malam "Lalu lihatlah, bagaimana dia bicara sekarang, dengarkan kakekmu sayang, ayo buka mulutmu ammmm" ujar kakek sambil menyuapi Emilia


"Ahhh kakek"


"Ayo makan ayo oooaaammmm"


Tiba-tiba ibunya pun datang "Emilia! Emilia, sudah berapa kali ibu bilang jangan makan sebelum makan malam" tegur ibunya


"Kakhek juwga maukhan buu" sahut Emilia membantah sambil mengunyah makanannya


"Dan jangan bicara saat mulutmu penuh" ucap ibunya lagi. "Tolong ayah jangan biarkan dia terbiasa melakukan kebiasaan buruk" ujar nyonya Dilara memberitahu pada ayah mertuanya


"Tapi dia bisa tersenyum setelah berhari-hari, bukankah dengan begini lebih lezat benarkan, ayo buka mulutmu lagi" jawab ayah mertuanya itu


"Kakak sudah pulang Bu?" tanya Emilia


Tiba-tiba suara bell pintu berbunyi "Ting tong.. hmmm itu dia, biar ibu buka pintunya! Ya sebentar Alesso" sahut ibunya


Saat nyonya Dilara membuka pintunya betapa terkejutnya dia ternyata tuan Ambros datang bertamu kerumahnya "Ambros!"


"Ada apa Dilara, kau terkejut melihatku" ujar tuan Ambros dengan nada songongnya


"Tentu saja aku terkejut, apa kau punya janji atau aku yang lupa" jawab nyonya Dilara


"Kenapa kau tidak menjawab teleponku?" tanya tuan Ambros dengan kesal


"Itu tidak sengaja, sudahlah ayo masuk dulu" ucap nyonya Dilara dengan ramah


"Kau yakin? Orang rumah ini tidak akan suka dengan apa yang aku katakan!?" ancam tuan Ambros pada nyonya Dilara


"Ada apa Ambros!?" tanya nyonya Dilara yang heran dengan tingkah tuan Ambros yang temperamental padanya


"Suamimu mencoba mengusirku dari perusahaan" jelas tuan Ambros


"Kau jangan konyol, dia tidak mungkin melakukan itu" bantah nyonya Dilara dengan sopan


"Kenyataan begitu Dilara, dia mengirim Yelderin untuk memberiku kontrak agar aku keluar dari perusahaan itu"


"Kenapa Alonzo melakukan itu, apa ada masalah!?" tanya nyonya Dilara


"Dengar! Aku masih sabar, tapi aku ingin katakan waktumu akan habis" ucap tuan Ambros memberi peringatan untuk nyonya Dilara


"Ambros kita sudah membicarakan ini, dan kita sudah sepakat" ucap nyonya Dilara


"Sepertinya tidak, bicara pada suamimu lakukan apapun, jika dia masih ingin mengusirku dari perusahaan maka...!"


"Kakak!!" panggil Emilia yang memotong pembicaraan mereka, sambil menghampiri mereka


"Hai Emilia, apa kabar sayang?" tanya tuan Ambros sambil tersenyum


"Paman Ambros, selamat datang!" ucap Emilia


"Iya"


"Apa kabar paman?" tanya Emilia balik


"Ambros terimakasih ya sudah datang, maaf kalau aku merepotkanmu" ujar nyonya Dilara memotong pembicaraan Emilia


"Kau periksa teleponmu, aku telah menelponmu sepuluh kali, aku benar-benar mencemaskanmu Dilara!" ujar tuan Ambros dengan ramah


"Baiklah!" Sahut nyonya Dilara


"Emiliaaa!!" panggil sang kakek dari meja makan


"Aku datang kakek" jawab Emilia menghampiri kakeknya


"Kau bisa datang besok, dan membicarakan masalahmu!" suruh nyonya Dilara pada tuan Ambros


"Dilara, aku mulai marah, aku tidak bisa terima ini, lakukanlah yang perlu kau lakukan atau aku akan melakukannya sendiri" tegas tuan Ambros dan pergi dari sana


"Dilara mari kita makan malam" panggil ayah mertuanya


"Iya ayah" Nyonya Dilara pun segera pergi menuju ke meja makan


"Dimana suamimu?" tanya ayah mertuanya


"Dia lembur ayah"


"Alessandro pergi kemana?" tanya ayah mertuanya lagi


"Dia makan malam diluar"


"Sama siapa?" tanya Emilia penasaran


"Entah?"


"Oliveira dimana? Sepanjang hari aku tidak melihat dia" tanya Emilia lagi


"Hmmm, Emilia coba cicipi ini, ini kakek sendiri yang membuatnya" suruh kakek mengalihkan pembicaraan


"Sedikit saja kek" titah Emilia


"Iya iya"


"Bagaimana?" tanya sang kakek


"Eeeumm Enak!" sahut Emilia sambil menambahnya lagi


"Mhahahaha ya jelas lah, masakan kakekmu"


.................................


Di apartemen Andres, Alessandro datang bersama Rebecca "Baltasar! Tototoktotok" panggil Alessandro, Baltasar segera bergegas membuka pintunya "Iya, Alesso masuklah!" ujar Baltasar


"Rebecca terimakasih ya sudah mengantarkanku, kamu bisa pulang sendiri kan?" tanya Alessandro dengan sopan


"Iya sama-sama" sahut Rebecca


"Bilang sama ayahku kalau aku akan nginap di apartemen Andres ya."


"Iya" jawab Rebecca


"Hati-hati ya Rebecca" ujar Baltasar "


Kalian habis dari mana?, baju kalian bagus sekali. Apa kalian habis berkencan?" tanya Baltasar dengan kepo


"Tidak" sanggah Alessandro


"Dimana Andres?" tanya Alessandro mengalihkan pandangannya


"Itu dia di kamarnya, sudah agak mendingan" jawab Baltasar


"Andres!" panggil Alessandro


"Alesso, kau kemari?" tanya Andres yang merasa sangat senang dengan kehadiran Alessandro


"Iya, aku mendengar kamu sakit"


"Aku sudah mendingan sekarang" jawab Andres


"Syukurlah, Andres sebenarnya kamu kenapa? Apa ada masalah?, jangan sembunyikan masalahmu dari kami" tanya Alessandro penasaran


"Tidak ada, aku tidak ada masalah"


"Terus kenapa selama ini kau banyak melamun, apa yang sedang kau pikirkan?" sambung Baltasar


"Aku hanya memikirkan soal nilai semesterku saja" jawab Andres dengan santai


"Bukankah nilaimu bagus!?" ujar Baltasar


"Iya, tapi sudahlah lupakan saja."


"Ceritakan Andres, aku memaksa" tegas Alessandro dengan lantang


"Baiklah. Sebenarnya aku memikirkan keluargaku, aku membuat mereka bangga atas nilai palsu yang ku dapat" ucap Andres


"Maksudnya?"


"Selama ini aku tidak tau apa-apa soal materi yang kupelajari! Hanya contekan saja yang ku andalkan." ucap Andres


"Kenapa kau melakukan semua itu?" tanya Baltasar dengan kecewa mendengar penjelasan Andres


"Karena orang tuaku menuntutku untuk sempurna, mereka tidak menghargai usahaku selama ini. Aku selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain, dan selama ini aku selalu membanggakan mereka tetapi dengan cara yang curang. Aku merasa hidupku tidak bebas, terkurung, seperti ada remot yang mengendalikanku dan remot itu dipegang oleh orang tuaku." jelas Andres dengan suara yang sedih


"Jika itu masalahnya kenapa kau sembunyikan dari kami?" ucap Alessandro


"Aku tidak ingin merepotkan kalian dengan masalah konyolku, lagi pula kalian juga memiliki masalah masing-masing kan!?." tegas Andres dengan rasa malu


"Andres, itu bukan masalah konyol, menurutku itu masalah serius. Terlepas dari bagaimana pun orang tuamu menuntutmu itu hak mereka, kamu harus memenuhinya, tetapi tetap bukan dengan cara yang curang. Jika kau sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi tetap membuat orang tuamu kecewa, maka lupakanlah soal membanggakan mereka, karena kamu sudah berusaha sekuat itu. Lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, jangan pernah melakukannya untuk orang lain. Jika kau hanya membanggakan orang lain dan dirimu sendiri tidak puas maka ujung-ujungnya kau hanya akan menjadi orang yang tidak berguna." tegas Baltasar memberi nasehat untuk sahabatnya itu


"Tetapi mereka membandingkanku dengan orang lain, bahkan mereka mengatakan menyesal mempunyai anak seperti aku" ucap Andres yang terlihat putus asa


"Kamu Andres Adalfo, kamu adalah kamu, kamu punya personallyty, sifatmu, karaktermu, hidupmu, kisahmu, kecerdasanmu, dan cara berfikirmu hanya kamu yang punya. Kau tidak pantas untuk dibandingkan sama orang lain. Jika ada yang membandingkanmu, jangan kau hiraukan, jadilah Andres Adalfo, itulah kamu, tidak perlu untuk menjadi orang lain hanya untuk membahagiakan orang lain." ucap Baltasar memberitahu


Sejenak Andres terdiam mendengar nasehat dari temannya itu, dia merasa semua itu benar dan apa yang dilakukannya selama ini adalah salah "Terimakasih Alesso, Balt! Kalian selalu ada untuk mensupportku."


"Sekarang dengarkan aku, jadilah Andres Adalfo! Kita akan berjuang bersama-sama. Kami akan selama bersamamu" ucap Alessandro sambil memegang pundak Andres


...............................


Keesokan harinya, tuan Alonzo dan Oliveira kembali kerumahnya. "Oliveira! Bagaimana kabarmu nak?" tanya nyonya Dilara sambil berlari menghampiri anaknya itu


"Aku baik-baik saja ma!" jawab Oliveira


"Bagaimana kau bisa seperti ini?" tanya nyonya Dilara mulai mengintrogasi


"Dilara, jangan bahas itu lagi" sanggah suaminya itu


"Tidak Alonzo, ini semua juga salahmu. Aku harus menghukum dia!!" tegas nyonya Dilara


"Tapi ma!?" sahut Oliveira


"Tidak ada tapi-tapi, kau pikir gampang apa mencari duit untuk dihambur-hamburkan!?" tanya ibunya itu dengan kesal


"Apa maksud mama?"


"Ya lihatlah, kau merusak mobil itu dan menusuk temanmu dengan pisau, apa itu yang aku ajarkan"


"Cukuplah ma, jangan sekarang!" sahut Oliveira mulai pusing mendengar ocehan ibunya


"Sini kartu ATM mu, berikan!!" ucap ibunya, Oliveira pun langsung memberikannya dengan kesal tanpa bertanya lagi "Selama sebulan jika kau mau uang minta ke ayahmu atau mama, kartu ini mama tahan!" ucap ibunya


"Apa maksud mama, aku harus meminta uang pada kalian?" teriak Oliveira


"Ya itu hukumannya!" sahut ibunya


"Kalau begitu tidak usah, aku bisa mencari uang ku sendiri!!" ucap Oliveira sambil pergi ke kamarnya


"Benarkah, itu bagus." ucap ibunya berteriak


"Dilara kau sangat keras padanya!!" titah suaminya itu dengan tenang


"Itu pantas untuknya" tegas nyonya Dilara "Alonzo bisa ikut aku sebentar, aku ingin bicara!?" tanya nyonya Dilara, mereka pun pergi keruangan kerja tuan Alonzo


"Ya ada apa Dilara?" tanya suaminya itu


"Aku ingin membahas soal Ambros"


"Kenapa dengan pria itu, apa dia buat onar lagi?"


"Apa maksudmu memecatnya tanpa sepengetahuanku, apa yang telah dia lakukan?" tanya istrinya itu untuk memberikan penjelasan


"Dia telah mengambil uang perusahaan dengan mengatasnamakan aku Dilara" jawab tuan Alonzo


"Apa? Aku tidak percaya itu?" sanggah nyonya Dilara


"Apa kau lebih mempercayai pria itu? Aku punya semua dokumen dan catatannya."


"Baiklah baiklah, tapi bisa kita bicara baik-baik, tidak perlu tergesa-gesa seperti ini kan?" sahut nyonya Dilara


"Apa lagi yang harus dibicarakan Dilara, aku sudah muak dengan dia. Sekarang begini saja jika dia tetap berkerja disana maka aku yang akan keluar." ucap suaminya itu dan segera bergegas pergi dari sana


"Alonzo!" panggil nyonya Dilara.


...********...


...Preview...


Terkadang keadaan tidak sesuai yang kita pikirkan


Selanjutnya!! ཚHari yang dilupakan'