
Musim telah beralih, dedaunan telah berganti. Hari ini Alessandro sudah diperbolehkan untuk pulang kerumahnya oleh dokter Yozi. Emilia sangat antusias untuk menyambut kehadiran kakaknya itu, dia bersama kakeknya mempersiapkan kamar untuk Alessandro.
"Sema!!" panggil tuan Rafael
"Ya tuan Rafael!"
"Apa Emine sudah memasak makanan kesukaan Alessandro?" tanya tuan Rafael untuk memastikan
"Ya tuan kami lagi mempersiapkannya" sahut bibi Sema
"Yasudah cepat-cepat!!"
.........................
Oliveira bersama ayahnya datang kerumah sakit untuk menjemput kakak laki-lakinya itu. Sebenarnya Oliveira sedikit merasa canggung karena dia tidak begitu akrab dengan kakaknya itu. Baltasar dan Andres yang mengetahui bahwa Alessandro sudah diperbolehkan untuk pulang juga datang untuk menjemput sahabatnya itu.
"Kakak, aku sudah membeli banyak permainan, Kakak pasti akan suka permainan balap itu nanti dan papa sudah berjanji akan bermain bersama kita" ujar Oliveira mencoba menghibur kakaknya itu
"Ya tentu saja, apa stiknya cukup? Ada berapa?" tanya Ayahnya
"Ada papa, ada banyak!!" jawab Oliveira dengan penuh semangat
"Hah bagus!"
Didepan rumah sakit sudah ada seorang wanita yang menunggu mereka
"Halo Rebecca! Ini Alessandro putra ku" ujar tuan Alonzo memperkenalkan putranya sama wanita yang akan merawatnya nanti "Mulai sekarang kau akan merawatnya!" ucap tuan Alonzo lagi
"Tentu saja! Halo Alessandro mulai sekarang aku akan membantumu sampai kau sembuh ya" ucap Rebecca sambil tersenyum ramah
"Jadi selamanya?" tanya Alessandro
"Tidak, hanya sampai kau sembuh, ini tidak membutuhkan waktu yang lama" sahut Rebecca menyemangati Alessandro
"Alessandro, apa kau ingin masuk dalam mobil?" tanya ayahnya dan Alessandro menganggukkan kepalanya
"Biar aku saja!" ujar Rebecca agar dia saja yang membantu Alessandro untuk masuk kedalam mobilnya
Mereka pun segera pergi dari sana dan langsung menunju ke kediaman tuan Alonzo Consuella, Baltasar dan Andres pun mengikuti mereka dari belakang.
...........................
Dihalaman rumah Emilia dan kakeknya menunggu kepulangan Alessandro sambil duduk santai sambil menikmati segelas jus
"Kenapa mereka lama sekali kakek?" tanya Emilia yang sudah tidak sabar menunggu kepulangan kakaknya itu
Tak lama kemudian mereka pun sampai "Itu mereka!!" ujar sang kakek memberitahu
"Kakek!" panggil Alessandro dengan terkejut kalau kakeknya ada disini
"Alesso, apa kabar nak? Bagaimana keadaanmu?" tanya sang kakek
"Kapan kakek datang?" Alessandro pun malah nanya balik kepada kakeknya
"Ayo masuk dulu kita akan mengobrol didalam, kakek punya kejutan untukmu!!" sahut sang kakek
Dipihak lain Baltasar merasa tidak nyaman untuk masuk kerumah tuan Alonzo, apalagi sekarang mereka lagi berkumpul bersama keluarganya
"Kau tidak mau masuk Baltasar?" tanya Andres kebingungan
"Tidak!" sahut Baltasar dengan spontan
"Kenapa?" tanya Andres lagi
"Aku merasa sangat canggung, kita kembali saja lain kali" jawab Baltasar
"Baiklah." jawab Andres yang mengerti tentang perasaan Baltasar dan mereka pun segera pergi dari sana
"Papa! Dimana mereka?" tanya Alessandro yang tiba-tiba tidak melihat lagi kehadiran sahabatnya itu
"Siapa?" tanya balik ayahnya
"Andres dan Baltasar!" jawab Alessandro
"Papa tidak tahu tadi mereka dibelakang kita" sahut ayahnya itu
"Papa tolong panggil mereka!"
"Baiklah, Rebecca bawa Alessandro masuk ya!" tuan Alonzo segera bergegas untuk menyusul Andres dan Baltasar
Saat Andres hendak masuk kedalam mobil tiba-tiba tuan Alonzo memanggilnya "Andres!"
"Ya paman" sahut Andres
"Mau kemana kalian, masuklah dulu kita akan makan siang bersama!" ajak tuan Alonzo
"Tidak usah repot-repot paman, kami sudah makan siang tadi dikantin rumah sakit!" sahut Andres menolak secara halus
"Ayolah, Alessandro memanggil kalian jangan buat dia sedih" ucap tuan Alonzo
Karena itu adalah permintaan Alessandro sendiri, mereka pun kembali masuk kedalam rumah itu.
"Kakak selamat datang, aku dan kakek telah mempersiapkan kamar untukmu" ujar Emilia sambil mencium pipi kakaknya itu
"Tapi sebelum itu mari kita makan dulu, Emine telah membuat makanan kesukaanmu" ujar sang kakek memberitahu
Dari jauh terlihat Emilia tidak percaya dengan kehadiran Baltasar yang selama ini dikatakan menghilang berada tepat di pintu depan rumahnya, Emilia segera menghampiri mereka dan mencengat Baltasar untuk masuk kerumahnya
"Baltasar? Kau! Dari mana kau datang?" tanya Emilia mengintrogasi
"Apa kabar Emilia?" tanya balik Baltasar dengan senyum manisnya
"Jangan basa basi denganku" sahut Emilia dengan cuek "Andres, katanya dia menghilang, bahkan polisi telah mencarinya kemana-mana dan tidak ketemu, lalu siapa yang berada dihadapanku ini hah! Bisa kau jelaskan?"
"Baltasar terjebak dikapal pukat yang sedang berlayar, dia tidak bisa kembali sebelum awak kapal menyelesaikan pekerjaannya" ucap Andres memberitahu
"Omong kosong macam apa ini hahahahah," ketawa Emilia menyindir "Bagaimana bisa dia terjebak didalam sebuah kapal! Bilang saja kau mau melarikan diri setelah membuatkan kakakku seperti itu kan?" tegas Emilia sambil menunjuk jarinya didepan wajahnya Baltasar
"Apa yang kau bicarakan Emilia?" tanya Andres dengan heran
"Emilia!" panggil Ayahnya yang sudah menunggu mereka untuk makan siang bersama
Ajak mereka masuk, cepat! kita akan makan siang bersama" ujar ayahnya
Emilia pun langsung bergegas pergi meninggalkan mereka. Andres melihat Baltasar dengan tatapan penasarannya
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Baltasar
"Aku heran, kenapa Emilia sangat membencimu? tanya balik Andres yang begitu penasaran
"Entahlah!" ujar Baltasar yang mengrespon pertanyaan Andres dengan cuek
Mereka pun juga bergegas masuk dan ikut makan siang bersama. Tak lama kemudian tuan Yelderin pun datang
"Selamat siang!" sapa tuan Yelderin
"Yelderin!! Masuklah, mari duduk kita akan makan siang bersama" ajak tuan Alonzo
"Ouh tidak, aku cuman mampir sebentar saja" jawab tuan Yelderin
"Ayolah jangan menolak, apa kau tidak kangen dengan masakan Emine" ujar tuan Alonzo sambil merayu sahabatnya itu
Mendengar bahwa itu masakan bibi Emine, tuan Yelderin pun tidak bisa untuk menolaknya "Kalau begitu baiklah."
"Alessandro, bagaimana kabarmu?" tanya tuan Yelderin
"Aku baik paman." jawab Alessandro
"Aku bingung bagaimana bisa kau terjebak didalam toilet?" ucap tuan Yelderin
"Yelderin nanti saja kita bicarakan itu!" ujar tuan Alonzo
"Tidak Alonzo, aku ingin membicarakannya langsung disini, ini adalah tindakan kriminal dan kau tau apa yang terjadi jika kita telat membawanya ke rumah sakit, aku ingin membahas ini didepan semua orang yang ada disini, mungkin saja salah satu dari mereka memiliki informasi." ucap tuan Yelderin
Baltasar pun menatap Alessandro sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan-pelan yang memberikan isyarat kepada Alessandro untuk tidak menceritakan apapun dulu kepada tuan Yelderin sebelum dia menceritakan semua kejadian itu kepadanya. "Aku tidak bisa mengingat semua itu paman!" sanggah Alessandro menjawab pertanyaan tuan Yelderin
"Benarkah?"
"Iya, kepalaku sangat pusing"
"Tentu saja, kata dokter dia tidak boleh banyak berfikir, kerja otak yang berlebihan akan membuat kepalanya sakit." sahut tuan Alonzo
"Baiklah, ngomong-ngomong dimana Dilara dia tidak ikut makan?" tanya tuan Yelderin penasaran
"Tidak Yelderin, dia pergi ke Kanada tadi malam, ibunya mendadak kena serangan jantung" ucap tuan Alonzo memberitahu
"Ya ampun!"
"Tapi sekarang sudah dirawat dirumah sakit secara intensif"
"Semoga baik-baik saja!" ucap tuan Yelderin mendoakannya
...........................
Setelah makan siang, Alessandro mengajak teman-temannya itu kedalam kamarnya dan segera mengunci pintu kamarnya "Kakak! Apa aku boleh masuk?" tanya Emilia yang tiba-tiba datang mengikuti mereka dari tadi
"Biarkan dia masuk Alesso!" ujar Baltasar
"Baiklah" sahut Alessandro dan Andres pun segera membukakan pintu kamarnya
"Ada apa? Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Emilia mulai mengintrogasi
Baltasar pun memotong pembicaraan Emilia dengan bertanya kepada Alessandro "Apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang menguncimu di dalam toilet?"
"Marco yang melakukan semua itu"
"Marco? Apa orang-orang Bonito juga" sahut Andres dengan kaget sambil menutup kembali pintu kamar
"Tidak, hanya Marco! Dia membawaku ke toilet dan mengunciku disana. Aku berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada yang mendengarnya dan kemudian aku berusaha bangun untuk bisa mendobrak pintu itu tetapi tidak bisa dan aku pun kepeleset setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi." ujar Alessandro bercerita
"Berani sekali dia!!" jawab Emilia yang sudah mulai geram mendengar cerita kakaknya itu
"Kenapa kau mencengahku untuk mengatakannya kepada paman Yelderin?" tanya Alessandro balik pada Baltasar
"Kasus ini pasti akan dilewati melalui jalur hukum, aku takut saja kalau terseret-seret dengan polisi, apa lagi menyangkut nama baik kampus kita!" ucap Baltasar dengan tegas
"Biar saja, apa urusannya?" sahut Emilia dengan kesal
"Bukan begitu Emilia!" sanggah Baltasar
"Bilang saja kau mau membelanya!" ucap Emilia
"Emilia, jaga kata-katamu!" Alessandro mengingatkan adiknya itu
"Terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Andres penasaran tindakan apa yang harus mereka lakukan
"Kita akan memberitahu pihak kampus tentang apa yang dilakukan Marco pada Alessandro" jawab Baltasar
"Terus!"
"Dan dia harus dikeluarkan dari universitas itu, atas kejahatan yang dia lakukan." lanjut Baltasar
"Jika papa tau! Marco itu langsung masuk ke penjara" sahut Emilia
"Tidak Emilia, Marco hanya mengunci kakakmu ditoilet, dan kecelakaan yang terjadi pada Kakakmu bukan tindakan dari Marco melainkan tindakannya sendiri. Tuan Yelderin berfikir kalau ini adalah usaha percobaan pembunuhan. Tapi kenyataannya tidak, polisi tidak bisa melakukan apa-apa pada kasus seperti ini, cara satu-satunya adalah pihak kampus sendiri yang akan memberikan dia hukuman, dan hukuman yang pantas untuk dia adalah dikeluarkan dari Universitas" ujar Baltasar memberitahu
"Yaa kau benar Balt! Aku setuju denganmu!" ucap Andres
"Bukankah pihak kampus membutuhkan bukti kalau itu memang Marco pelakunya?" tanya Emilia
"Tentu saja, setiap sudut dari perpustakaan itu memiliki CCTV, besok kita akan pergi kesana untuk melihat rekaman CCTV itu disaat Marco mengunci Alessandro." jawab Baltasar
...********...
...Preview...
Menaruh harapan pada orang lain adalah seni untuk menghancurkan diri sendiri
Selanjutnya!! ཆAmarah'