Alstroemeria Of Almeria

Alstroemeria Of Almeria
Gelisah



(Di rumah sakit)


"Kau terlihat sangat tampan kak" ucap Emilia


"Iya itu memang benar, apa pentingnya jika aku seperti ini, lalu apa gunanya jika aku tidak bisa berjalan percuma saja"


"Jangan bicara seperti itu, kakak pasti bisa berjalan lagi" Emilia terlihat bersemangat


"Aku tidak akan bisa berjalan lagi! Kau tau itu" tegas Alessandro


"Kenapa kakak bicara seperti itu. Tentu saja kakak akan bisa berjalan lagi. Kakak akan bisa berjalan dan berlari tapi kakak harus berusaha, ingat kakak tidak boleh berbicara seperti itu lagi, aku tidak ingin kakak berbicara seperti itu! Jangan mudah menyerah, kita akan berusaha bersama"


"Apa kau sungguh yakin? Apa menurutmu aku bisa berjalan lagi?"


"Tentu saja aku yakin, aku percaya itu dengan sepenuh hati!"


"Apa kabar singaku?" tanya ayahnya yang tiba-tiba datang bersama ibunya


"Sedikit membaik" jawab Alessandro dengan sedikit cuek


"Kalau begitu berita bagus sayang!" sahut ibunya sambil mencium keningnya Alesso


Tak lama kemudian tuan Ambros, istrinya dan teman-temannya nyonya Dilara datang untuk menjenguk Alessandro


"Halo!!" sapa nyonya Solmaz yang tiba-tiba masuk kamar Alessandro dirawat


"Halo, kami datang!" sapa tuan Ambros sambil memberikan sebuah cake


"Selamat datang! Maaf sudah merepotkan, kalian kalau berkunjung jangan repot-repot seperti ini" ujar nyonya Dilara sambil mengambil cake itu dari tuan Ambros


"Tidak apa-apa Dilara, kita kan keluarga!" tegas tuan Ambros


"Ayo sayang, kau merasa lebih baik sekarang" tanya nyonya Solmaz pada Alessandro


"Bagaimana keadaanya Dilara?" tanya nyonya Pretty yaitu teman yayasannya nyonya Dilara


"Lumayan membaik, berkat doa kalian juga" jawab nyonya Dilara dengan ramah


"Kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan keluarga. Oh ya Dilara, kami tidak bisa lama-lama, ada pekerjaan yang harus segera kami selesaikan" ujar teman nyonya Dilara yang lainnya


"Ooo baiklah, terimakasih sudah berkunjung" ucap nyonya Dilara


Setelah teman-teman nyonya Dilara pergi, tuan Ambros mengajak tuan Alonzo untuk membicarakan masalah Azuloscuro yaitu restorannya tuan Alonzo "Alonzo, aku ingin bicara sebentar denganmu?"


"Soal apa?" tanya tuan Alonzo


"Tentang....."


"Besok saja kita bahas!"


"Tapi ini penting!!" ucap tuan Ambros


"Ambros! Aku sekarang sedang berfokus pada keluargaku. Aku mohon mengertilah" sidir tuan Alonzo dengan nada kesal


"Baiklah kalau begitu, aku dan Solmaz pamit dulu"


"Itu bagus" jawab tuan Alonzo


.............................


Malam pun tiba terlihat tuan Alonzo sangat kelelahan menghadapi hari-hari sulitnya.


"Dokter Yozi bilang kita sudah bisa membawa Alessandro pulang" ujar nyonya Dilara memberitahu suaminya itu


"Dia juga bilang padaku begitu!" jawab tuan Alonzo sambil memijat kepalanya sendiri


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya nyonya Dilara


"Kita bawa saja dia pulang, itu akan mudah baginya untuk pulih"


"Apa yang terjadi jika kita membawanya sekarang?" tanya nyonya Dilara lagi dengan khawatir


"Aku sudah menyewa perawat Dilara, dia akan tinggal bersama kita dan aku sudah mengatur jadwal terapi fisiknya setiap hari"


"Baiklah Alonzo" mendengar jawaban suaminya itu membuat nyonya Dilara sedikit tenang


"Emilia selalu menangis, hatiku hancur! Aku tidak bisa melihatnya seperti itu" ucap nyonya Dilara dengan penuh kesedihan


"Menurutku Emilia juga butuh seorang dokter" sahut suaminya memberi saran


"Aku juga sudah bilang begitu padanya! Tapi dia tidak bisa menerimanya Alonzo"


"Dilara! Mereka anak-anak kita, kehidupan kita. Kita harus berusaha sebaik mungkin untuk mereka, bagaimana pun juga kita akan selesaikan masalah ini, kita tidak punya pilihan lain!" tegas tuan Alonzo


"Kringgggg kringggg" ponsel nyonya Dilara berdering "Ini kakakku!" ujar nyonya Dilara memberitahu "Halo, iya kak! Aku terkejut kakak menelponku" tiba-tiba kepanikan terlihat diwajah nyonya Dilara


...........................


Di kediaman Consuella, kakek Rafael sedang asyik menonton acara kesukaannya di TV


"Kakek, lagi apa?" tanya Oliveira


"Oliveira, cucuku kemarilah nak!"


"Iya kek"


"Apa kau tidak pergi kerumah sakit!" tanya sang kakek


"Tidak, papa melarang kami untuk tidak sering-sering mengunjungi rumah sakit. Kakek tidak pergi kesana?" tanya balik Oliveira


"Tidak! Kakek menunggu kakakmu pulang saja, kata ayahmu kakakmu sudah boleh dibawa pulang" ujar kakek Rafael memberitahu


"Dia akan tinggal disini juga?" tanya Oliveira dengan penasaran


"Hmmm" terlihat wajah Oliveira cemberut


"Phusff," panggil kakeknya


"Hem!" Oliveira kebingungan, karena kakeknya berbisik-bisik


"Kau mau pisau ini?" tanya kakeknya sambil menunjukkan pisau pemburu sebagai hadiah untuk Oliveira


"Tentu saja kek!" jawab Oliveira dengan semangat


"Jangan sampai ayahmu melihatnya" tegas sang kakek


"Ayah tidak akan melihatnya kek, tenang saja " jawab Oliveira berjanji


...........................


Dipihak lain, Dary selalu memperhatikan tingkah Marco yang gelisah dan cemas, terkadang dia melamun sendirian


"Akhir-akhir ini aku melihatmu sangat gelisah, apa terjadi sesuatu?" tanya Dary dengan rasa khawatir pada sahabatnya itu


"Tidak ada, aku biasa saja!" sanggah Marco


"Benarkah, apa kau ada hubungannya dengan kejadian yang dialami Alessandro?" tanya Dary lagi yang sudah dari kemarin-kemarin mencurigai Marco sebagai pelaku kejahatan yang ditimpa Alessandro


"Apa maksudmu?" teriak Marco dengan kesal


"Jujur saja, aku curiga kaulah pelaku semua ini" suruh Dary untuk mengaku


"Jangan asal menuduh kau Dary!" Marco segera pergi meninggalkan Dary


..........................


"Emine!!" teriak nyonya Dilara


"Tolong pesan tiket untuk penerbangan pertama, aku menunggu" ujar tuan Alonzo yang memesan tiket melalui telepon


"Iya nyonya Dilara" jawab bibi Emine


"Emine tolong siapkan koper hitam untukku ya!" suruh nyonya Dilara dengan buru-buru


"Tentu nyonya"


Mendengar teriakkan ibunya, Oliveira dan Emilia bergegas menghampiri ibu dan ayahnya "Ibu mau kemana bu?" tanya Oliveira


"Anak-anak dengar! Nenek kalian terkena serangan jantung, ibu mau ke Kanada sekarang"


"Apa??" terlihat Oliveira sangat kaget


"Iya nak, bibi kalian tadi menelpon ibu harus kesana sekarang!"


"Apa dia baik-baik saja bu?" tanya Oliveira lagi


"Ibu juga tidak tau sayang, ibu tidak tau!" sahut nyonya Dilara


"Kapan nenek terkena serangan jantung?" tanya Oliveira dengan rasa penasaran


"Beberapa jam yang lalu, mereka sudah membawanya kerumah sakit" jawab ibunya


"Apa nenek di UGD? Apa nenek selamat?"


"Oliveira ibu tidak tau, mereka juga belum tau, Emine tasku sudah siap?" tanya nyonya Dilara


"Sudah nyonya" jawab bibi Emine


"Cepat siap-siap, Dilara aku akan mengantarmu!" ujar tuan Alonzo suruh bergegas


"Bachtiar bisa mengantarku!" sahut nyonya Dilara


"Aku yang akan mengantarmu Dilara cepat!" tegas suaminya itu


Nyonya Dilara segera pergi ke kamarnya untuk berkemas


"Apa nenek akan dioperasi bu?" tanya Oliveira


"Ibu tidak tau sayang!"


Semua pertanyaan Oliveira hanya dijawab tidak tahu oleh ibunya membuat Oliveira kesal "Apa bibi tidak mengatakan apa-apa?" teriak Oliveira


"Apa kau tidak mengenal bibimu Oliveira, dia mudah panik dia tidak bisa menangani semua ini!" sahut ibunya


"Baiklah ibu, ibu jangan khawatir ibu tenang ya" ucap Emilia menenangkan ibunya yang begitu khawatir


"Berapa kali ibu bilang padanya, ibu tinggal disini saja, Kanada terlalu jauh! Tinggal di Valencia bersama kami tapi dia tidak mau sayang" ucap nyonya Dilara


"Sudah bu biarkan aku saja yang membawa kopernya" kata Oliveira


Sesampainya di garasi mobil, ibu mereka pamit untuk pergi pada mereka "Sudah berikan, anak-anak ibu pergi dulu ya jaga diri kalian baik-baik ya!" ujar ibunya sambil mencium kening mereka berdua


"Telpon kami saat ibu sudah sampai disana" ucap Emilia


"Iya baiklah sayang" nyonya Dilara segera masuk kedalam mobilnya


"Papa pergi dulu ya!" ucap ayahnya yang mau pergi mengantar ibu mereka ke bandara


...******...


...Preview...


Mengetahui sedikit kebenaran, itu cukup untuk membuka jalan.


Selanjutnya!! ཆMengungkap kebenaran'