Alstroemeria Of Almeria

Alstroemeria Of Almeria
Sungguh aku takkan bisa



(Di apartemennya Andres)


Malam semakin larut, Baltasar tidak bisa tidur dengan tenang. Dia merasa sangat kehilangan dengan perginya nyonya Sofia yang telah dia anggap sebagai ibunya sendiri. Baltasar bangkit dari tempat tidur dan dia pergi menuju balkon, angin berhembus dengan kencang membelai setiap helaian rambutnya.


"Malam ini terasa berbeda, semua hal seperti tak biasanya, gelisah dan gundah muncul dalam dada, ada yang hilang dari sebelumnya." ujar Baltasar dengan lesu


Jujur saja, dia tidak bisa menahan kesedihannya itu. Tiba-tiba nafasnya mulai tidak teratur, Baltasar merasakan sesak di dadanya, dia pun terjatuh dan menagis sambil berteriak histeris "Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!!" Baltasar menangis, hatinya hancur. angin malam seolah-olah berkata, kau sendirian sekarang, dia rasakan hingar yang menggelegar, rasa di hati begitu gusar, jantung sontak berdebar-debar.


Ya! Benar saja, ibu sudah tiada, pergi untuk selama-lamanya. Begitu berat dia mengingat senyumannya senantiasa melekat, apalagi untuk melupakannya "Sungguh aku takkan bisa! Kau adalah orang lain yang memberikanku kehangatan seorang ibu, kau memberikan cinta dan kasih sayang seorang ibu yang telah hilang dariku selama bertahun-tahun. Dan kini aku kehilangan seorang ibu untuk yang kedua kalinya. Kau telah tiada, berpamitan pada dunia, menghadap sang Pencipta. Selamat jalan nyonya Sofia, cinta kasihmu selalu ku kenang, rindu padamu takkan lekang, oleh waktu maupun ruang." ujar Baltasar dalam hatinya.


...............................


Dirumah sakit, terlihat Alessandro sedang memandangi rembulan dari balik jendela. Sambil terbaring lesu, Alessandro rindu dengan canda tawa ibunya, dia mengingat masa-masa indah yang dia lalui bersama ibunya. Rembulan malam menyinari malamnya yang hening "Malam ini! Dingin mencekam kalbu, aku tidak melihat ibu disampingku, hilang sudah canda tawamu. Kenapa begitu cepat kau pergi tinggalkan kami, aku tak sanggup untuk menghitung hari, hati ku hancur berkeping-keping, apakah ada obat untuk hati yang luka ini? Ibuku tercinta, sungguh aku belum ikhlas kau pergi secepat itu. Wajahmu masih selalu muncul dipandangku, ingatan padamu takkan hilang, meski berlalu jutaan zaman."


................................


(Di apartemennya Andres)


Andres terbangun mendengar teriakkan Baltasar dibalkon, Andres segera bergegas menghampirinya dengan gelisah "Baltasar apa yang terjadi?" tanya Andres dengan khawatir


Baltasar segera menghapus air matanya "Aku tidak apa-apa!"


"Aku sangat menyesal, aku tidak bisa mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Aku juga mengabaikan Alessandro, aku telah berjanji padanya akan selalu bersamanya. Nyonya Sofia mempercayainya padaku, aku yang menyebabkan putranya menjadi cacat seperti ini dan aku malah bersenang-senang diatas kapal itu"


"Jangan berkata begitu, ini semua bukan salahmu. Kau tidak mengabaikan janjimu, tapi situasilah yang membuatmu tidak bisa untuk melaksanakan janjimu itu" ujar Andres menasehati Baltasar yang lagi rapuh


Baltasar mencoba tetap tegar dan menarik nafas secara teratur untuk menenangkan dirinya, dia sedikit tenang mendengar omongan Andres.


"Sudahlah! Disini sangat dingin, ayo kita masuk nanti kau sakit lagi." ucap Andres memberitahu


"Besok kau mau kan mengantarku ke makam nyonya Sofia, setelah dari sana kita pergi kerumah sakit, aku ingin menjenguk Alessandro" pinta Baltasar pada Andres dengan nada lesu


"Iya, tapi sebelum itu! Kita harus pergi ke kantor polisi dulu, untuk membuat laporan terhadap kasusmu, kasus orang hilang" sahut Andres


"Hmmm" Baltasar menganggukan kepalanya.


...*******...


Bagaimanakah kisah selanjutnya?


Next eps selanjutnya!!