
Suara rintiknya hujan membuat suasana malam menjadi cekam. Dikaca jendela kamarnya Andres melihat langit yang gelap sama seperti takdirnya.
Andres lahir di keluarga yang baik, tentram dan bahagia. Tapi tidak berlanjut untuk sekarang, keluarga yang dulu dia banggakan kini telah hancur. Disinilah ceritanya dimulai…
Pertengkaran, kebencian, emosi yang tak terkendali, dan keributan ayah dan ibu yang selalu dilihat dan didengar. Hatinya semakin tak kuat, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri "Mengapa aku dilahirkan di keluarga ini?" Dia bosan dengan semua ini!! ayah yang egois, ibu yang selalu emosi, tidak ada yang mengalah.
Dia telah menjalani hari-hari dengan semua masalah yang ada. Hingga akhirnya ayah dan ibunya bercerai. Hatinya tak mampu untuk bertahan, hatinya yang dulunya hidup kini telah mati dan membeku. Dia sangat terpukul dan merasa benci terhadap dirinya sendiri.
Saat dia bertemu dengan seorang gadis, dia mulai merasakan cinta dalam hatinya, Anna adalah gadis yang ceria, baik, manis dan juga penuh dengan tawa. Tidak ada kesedihan dalam matanya, dia membuat Andres hidup kembali, dia memberikan hatinya untuk Andres
Tapi itu hanya masa lalu, sekarang kenyataan tidak begitu. Andres terpuruk. Sangat terpuruk. Dia masih hidup tetapi sulit sekali untuk bernafas. Jiwanya sudah mati. Jantungnya masih berdetak tetapi tubuhnya kaku.
"Segalanya sesak, yang ada di dadaku menahanku disini, mencekikku erat dengan segala hal tentangmu." ujar Andres
Dia terus-menerus berdoa agar bisa terbebas dari semua ini. Bahkan semua waktunya telah terbuang sia-sia hanya untuk gagal melupakan seorang gadis.
"Banyak hal yang bisa aku lakukan, tetapi saat aku mencoba untuk mulai melangkah, entah dari mana bayangan sosokmu muncul, datang lagi ke arahku, dan menahan langkahku untuk maju."
Andres merasakan adanya rasa cinta yang bukan membuatnya bangkit tetapi malah membuatnya semakin terpuruk. Semua hal tentang Anna sangat membekas didalam dirinya. Persis sebagaimana luka yang tak bisa sembuh.
"Kamu telah mendapatkan segalanya. Kebebasanmu, hatiku, bahkan hatinya. Kamu pun sama sekali tidak merasakan rasa sakit seperti yang aku alami. Tak ada rasa penyesalan sedikit pun yang terlihat dari tatap matamu yang seolah mengejekku. Yang seolah mengatakan bahwa aku pelakunya, aku yang telah membuangmu, aku yang telah menyia-nyiakan perasaanmu. Dan inilah balasan yang aku dapat karena telah menyakitimu."
Lalu, apa yang harus dia lakukan?
Andres masih mencintainya, tetapi setiap saat rasa cinta itu berubah menjadi rasa sakit yang tak bisa dijelaskan. Dia hancur berkeping-keping. Dia pikir, seharusnya hati yang terkoyak itu tak akan meninggalkan bekas luka apa pun. Tapi nyatanya hati ini tetap terluka dan terkoyak lebih luas.
Apakah mencintai seseorang memang sesakit ini?
Tidak, mencintai seseorang sama sekali tidak menyakitkan. Melihatnya melangkah pergi dari hati kita dan bahagia bersama orang lain adalah definisi menyakitkan yang sebenarnya.
Mereka bilang hal buruk terjadi pasti karena ada penyebabnya. Tapi tak ada satu pun kata bijak yang mampu memperbaiki hatinya ataupun memotivasinya untuk bangkit. Semua orang bahkan iba melihatnya seperti ini. Mereka tahu dia sedang berpura-pura bahagia tetapi nyatanya dia terpuruk. Mereka mengerti perasaannya yang belum dapat bebas dari Anna.
"Kamu telah melupakanku saat aku masih berduka cita. Kamu telah bahagia saat masih kubiarkan air mataku jatuh tanpa menghapusnya. Kamu sudah bisa tertawa saat aku lupa caranya untuk tersenyum. Dan kamu sudah menjelajahi hati yang lain saat separuh hatiku belum kamu kembalikan. Kamu pun telah menghapus segala hal tentangku bahkan saat aku belum berniat untuk melupakanmu."
"Hari-hari terbaikmu akan menjadi hari-hari terburukku, itu pasti. Saat aku terjaga semalaman, kamu bisa tertidur dalam senyuman. Saat kesunyianku hanya mengingatkanku akan dirimu, tetapi kamu tidak merasakan sepi sedikit pun. Saat semua hal yang aku lakukan hanyalah mengingatkanku tentang dirimu, tetapi kamu sudah melupakan semua detail tentangku."
"Kamu yang pergi, aku yang dipersalahkan. Kamu yang melukai, aku yang harus menanggung bebannya. Kamu yang tak bisa mencintai dengan benar, tapi aku yang harus disakiti cinta. Sekarang aku sedang mencoba untuk meresapi apa pun yang tersisa tentang kita, memahami segala hal yang membuatku bertahan di sini, mencoba segala cara yang dapat membuatku membiarkanmu untuk pergi. Karena kamu telah meninggalkanku tanpa cinta."
Andres mulai putus asa dengan semua masalah yang dia hadapi. Dia melangkah diatas serpihan kaca sendirian, dia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dia perbuat.
...........................
Dipihak lain Alessandro tidak percaya kalau Emilia serendah itu, tapi liontin itu menjadi bukti yang kuat bahwa Emilia yang melakukan perampokan itu. Semalaman ia hanya memikirkan Emilia, Alessandro teringat dengan masa kecil mereka.
FLASHBACK
Suatu hari mereka bermain besama di rumah. Saat bermain kerja-kejaran, Alessandro tidak sengaja menjatuhkan vas bunga antik yang sangat berharga bagi Ayahnya. "ktarr!” pecah begitu saja.
kedua saling pandang, bungkam dan berpelukan, tidak ada kata tuduhan dan tidak ada kalimat saling menyalahkan. Mereka kompak dan diam
Ayahnya masuk dan melihat vas bunganya sudah pecah. Ayah mereka yakin salah satu di antara kedua anaknya yang menjatuhkannya. kedua terdiam saat ditanya.
"Alesso. kamu yang menjatuhkan vas bunganya ?", pertanyaan ayah untuk anak pertama. Alessandro hanya diam menunduk, mengarahkan pandangan tatapannya ke lantai.
"Emilia. kamu yang menjatuhkan vas bunganya?" giliran pertanyaan diajukan untuk adiknya. Emilia sangat ketakutan dia bersembunyi dibelakang kakanya sambil menunduk.
"Vas bunga ini tidak akan jatuh dengan sendirinya tanpa ada yang menjatuhkannya. Pasti ada yang menjatuhkannya salah satu dari kalian. Kalau tidak ada yang mengaku, kalian berdua akan di hukum.!!" ujar ayah mereka dengan raut wajah marah
Mendengar ancaman ayah, Emilia langsung angkat bicara. "Maafkan Emilia pa, Emilia yang menjatuhkannya."
Emilia mengambil alih tanggung jawab kakaknya demi cinta dan kasih sayang. dia tahu konsenkuensi apa yang akan diterima dari ayahnya.
“Mana tanganmu, ulurkan ke mari...!” perintah ayah yang sudah siap memukulnya dengan sepita bambu. Dan pukulan demi pukulan datang secara bertubi-tubi ke telapak tangannya, dia meneteskan air mata mulutnya merintih-rintih menahan sakit.
Sang kakak tidak tahan melihat adiknya yang di pukul oleh Ayahnya. dia hanya bisa menahan tangis dan lari ke kamar. Di dalam kamar, ia tumpahkan tangisnya, ada rasa bersalah yang tidak mungkin dimaafkan oleh adiknya. Ada sesal yang tidak mungkin bisa dikembalikan. Mengapa harus adiknya yang harus bertanggung jawab? Padahal dirinya yang melakukannya, dia merasa telah melakukan kesalahan dan mementingkan diri sendiri. Seharusnya, seorang kakak melindungi adiknya.
Alessandro sangat sedih mengingat kembali kejadian itu, dia merasa sangat tidak berguna, gagal menjadi teman yang baik untuk sahabat-sahabatnya, gagal membanggakan ibunya dan sekarang dia juga gagal menjaga adiknya.
...**********...
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Next eps selanjutnya!!