Alstroemeria Of Almeria

Alstroemeria Of Almeria
Rencana pelarian Part 4



"Berlari dari takdir, kita mungkin tidak lagi beriring, tapi kita sama-sama sedang berlari, beradu pada kerasnya kehidupan. Suaranya masih lantang meningkah bocah, bicara besar, tentang Madrid, tentang Spanyol, tentang Eropa. Bentangan jalan masih panjang, berliku dan berduri. Mencengkram, menghujam, memerah darah berlumur letih. Jikalau henti kakiku disini, maka ini adalah akhir kisahku" kata kata itulah yang memotivasinya dan Jasper untuk tetap semangat menjalani hidup dan mereka percaya waktu itu akan tiba dan kata kata itu juga yang membuat Teo untuk terus berlari tanpa menyerah walaupun kakinya hampir patah.


Tak lama kemudian mereka menemukan Teo yang begitu kewalahan menghindari para polisi.


"Teo kau dia sini, cepat masuk!" ujar Emilia untuk bergegas


"Kemana saja kalian. Apa kalian ingin aku dipenjara! Kenapa begitu lama?" teriak Teo sambil mengatur nafasnya yang tersedak-sedak


"Dia naik ke mobil itu, kerja mereka!!" ujar salah satu polisi melihat mereka.


Emilia langsung bergegas pergi dengan kecepatan yang tinggi, para polisi tidak akan melepaskan mereka untuk kedua kalinya.


"Teo, kau tidak meninggalkanku, aku pikir kalian sudah pergi ke Valencia!" ujar Jasper


"Bagaimana bisa aku pergi kesana tanpamu teman! Bagaimana kabarmu?" tanya Teo


"Aku baik!" jawab Jasper bahagia


"Gung gung gung"


"Kemana kita pergi?" tanya Mach penasaran


"Kita akan pergi ke gunung Guajara" jawab Emilia dengan santai


"Untuk apa kita kesana" tanya Teo dengan penuh keheranan


Emilia tidak mengrespon mereka, sepertinya kegilaan Emilia kambuh lagi. Siapa yang tahu apa yang ada didalam otak wanita itu.


"Hello!! ngapain kita kesana?" teriak Mach


"Bunuh diri!!" teriak Emilia yang sudah mulai kesal dengan mereka


"Gung gung gung" Wink keliatan ketakutan melihat Emilia


"Tenang Wink Dia cuman bercanda" ujar Jasper dengan suara pelan sambil memeluk Wink


Mereka langsung mengambil rute menuju ke gunung Guajara, para polisi hampir kehilangan jejak mereka


"Mereka begitu cepat!!" ujar polisi itu


"Kemana mereka pergi?" tanya pak inspektur


"Sepertinya ke arah gunung Guajara pak"


"Untuk apa mereka pergi kesana." tanya pak inspektur dengan penuh kebingungan


Semua polisi dikerahkan untuk menuju ke gunung Guajara.


.........................................


(Dikediaman tuan Ricard)


Nyonya Richard sangat kecewa dengan pekerjaan pelayannya yang tidak becus.


"Apa? Kalian tidak bisa menangkap anak itu" tanya nyonya Richard dengan nada tinggi


"Mereka berhasil kabur nyonya" jawab salah satu pelayan itu dengan gemetar


"Teman-temannya menyerang kami secara tiba"


"Dasar bodoh!! Kalian ku pecat, pergi dari hadapanku" Kemarahan nyonya Richard sudah memuncak.


..........................................


Setelah beberapa jam mereka menghindari kejaran pihak polisi, akhirnya mereka tiba di rute jalan gunung Guajara.


"Emiliaaa hati-hati didepan ada jurang" Mach teriak memberitahu


"Disinilah akhirnya. Mhuaahaha" ujar Emilia kegirangan


"Apa maksudmu. Apa kau mau bunuh kami semua?" tanya Teo kepanikan melihat kegilaan Emilia yang kambuh lagi


"Hitungan ketiga kalian langsung lompat keluar dari mobil" ujar Emilia memberitahu


"Apa kau bodoh?" teriak Jasper ketakutan


"Satu" ucap Emilia mulai menghitung


"Emilia, jangan gila!!" teriak Mach meraih setir mobilnya


"Dua!!"


"Emiliaaa" teriak Jasper dengan keras


"Gung gung gung"


"Tiga"


"Aaaaaaaaaaaaaaaa" Mereka semua segera melompat keluar dari mobil itu, Darklight sekarang masuk ke dalam jurang yang begitu dalam dan meledak "Bhoom." Semuanya terdiam beberapa menit, jantung mereka seolah-olah sudah copot. Setelah dua menit terdiam dan hening, tiba-tiba Emilia berkata "Semuanya sudah berakhir!!. Teo, Jasper kita pergi dari sini, kita naik taksi dan menuju ke pelabuhan Santa Cruz de Tenerife."


Mereka hanya terdiam dengan tatapan kosong "Hello. Tadi kalian sangat berisik! Kenapa semuanya terdiam seperti patung?" tanya Emilia keheranan melihat tingkah laku mereka


Dengan tatapan kosong, tiba-tiba Mach berkata "Kau hampir membunuh kami Emilia"


"Itu hanya sedikit kejutan buat kalian, cepat kita pergi dari sini polisi, akan segera kemari" jawab Emilia


"Aku minta maaf soal itu Mach, dalam rencanaku 𝕯𝖆𝖗𝖐𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙 harus dihancurkan" ujar Emilia dengan rasa tidak bersalah


"Apa?" Mach kaget mendengar jawaban Emilia


"Terimakasih untuk mobilnya Mach, ku akui kau sangat berbakat" ucap Emilia memuji.


"Disini kita akhirnya berpisah, kami akan segera pergi dari sini, kita harus mengambil barang-barang kita yang sudah aku siapkan disana. Ayo Teo, Jasper, Wink" ujar Emilia lagi


Mereka tidak merespon


"Hello, apa kalian baik-baik saja?" tanya Emilia


"Hmmmm oke kami baik!" ujar Teo baru bangun dari mimpi buruknya


"Mach, kami minta maaf atas mobilmu ya. Kamu temenku yang terbaik Mach" ujar Teo


"Gung gung gung"


"Iya tidak apa-apa. Aku senang kalian bisa bebas dari sini" ucap Mach


"Kami akan selalu berhutang budi padamu" ujar Teo berterimakasih


"Sudahlah lupakan semua itu, aku senang membantu kalian" cakap Mach dengan santai


"Kami pergi dulu teman" ujar Teo sambil memeluk teman karibnya itu dan kemudian Jasper juga ikut memeluknya "Kami tidak akan melupakanmu Mach" ujar Jasper sambil menangis


"Iyaa, aku juga. Wink sampa jumpa!" ujar Mach mengucapkan selamat tinggal


"Gung gung gung"


Emilia segera pergi meninggalkan mereka


"Emiliaaa tunggu kami!! Kenapa kita harus berjalan kaki?" teriak Jasper


"Agar pihak polisi tidak begitu mudah melacak kita dan mereka pasti berfikir kalau kita sudah mati dijurang itu, aku sudah persiapkan semuanya termasuk baju kalian, aku menyimpannya disana" ujar Emilia sambil menunjuk ke salah satu tempat.


......................................


"Sahabat, kehidupan ini tak lain adalah hamparan samudra luas, kita renangi dan kita selami kedalamannya, untuk mencari tiram di dasarnya, dan kita petik mutiaranya. Selalu ada yang makna pada setiap kehadiran dan pertemuan. Mungkin saat ini kita akan berpisah aku tidak tahu ini sementara ataukah untuk selamanya."


Alstroemeria, bunga yang melambangkan persahabatan. Alstroemeria bisa tumbuh dan berkembang baik dimusim panas maupun dimusim dingin. Itulah yang namanya persahabatan dia selalu ada baik dalam keadaan suka maupun duka.


Dari gunung Guajara Mach berpisah dengan mereka, langkah demi langkah dia tempuh untuk menemukan daerah perkotaan. Ini bukan hal yang mudah, dia juga harus menghindari pihak polisi yang segera menuju kesana. Malam semakin larut dan sepi.


"Emilia benar-benar wanita yang saiko. Dia bahkan merusak karya seni terbaikku yang pernah kubuat" ujar Mach dengan kesal.


Sebenarnya Mach tidak rela karyanya hancur begitu saja, padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menciptakan mobil yang super cepat, tapi Emilia tidak menghargainya.


"Mending orang-orang dikota Fasnia yang menghina karyaku, dari pada Emilia yang memuji karyaku dan akhirnya dihancurkan seperti Darklight"


Malam semakin larut dan sunyi. Mach terus berjalan sehingga sampailah dia disebuah kota.


......................................


Hangatnya mentari menemani kota Villa de Arico pagi itu. Terlihat masyarakat yang sudah mulai sibuk dengan urusan mereka, entah itu pekerjaan, sekolah atau hanya sekedar menyibukkan diri. Jalanan mulai dipenuhi dengan warna biru, angkutan kota. Itu tandanya, telah dimulai rutinitas maysarakat yang begitu padat. Semua orang terlihat sibuk, terkecuali Mach yang tampaknya tertidur di emperan toko. Kontras sekali. Mach terlihat kumuh dan dekil dengan baju yang kotor dan rambut berantakan. Dia seakan tidak peduli apa yang dihadapinya hari itu, sehingga pemilik toko datang dan mengusir.


"Siapa kau, Kenapa kau tidur didepan tokoku? Pergi-pergi!" ujar bapak itu membangunkannya dan mendorong


"Bisakah kau sopan sedikit" ujar Mach dalam keadaan ngantuk dan langsung pergi dari sana dan segera mencari taksi.


.........................................


Digunung Guajara pihak polisi menemukan sebuah mobil yang terjatuh ke jurang.


"Itu sepertinya mobil mereka! Coba kalian turun kebawah dan periksa" ujar pak inspektur


"Baik pak!!"


Pihak polisi langsung mengamankan tempat itu.


"Apa kau menemukan sesuatu"


"Tidak ada"


Pihak polisi tidak menemukan apapun disana, melainkan sebuah mobil yang hancur berkeping keping


......................................


Akhirnya Mach sampai juga di tokonya, dengan mata yang mengantuk dengan sedikit kesal, dia mengoceh sendiri.


"Wanita bodoh, idiot" teriak Mach mengingat tingkat bodoh Emilia


Saat Mach masuk kedalam tokonya dia melihat sebuah kotak kecil di atas mejanya, dengan rasa penasaran dia menghampiri kotak itu, dan membuka isinya. Mata yang mengantuk langsung melotot kaget melihat sebuah cek dengan jumlah uang 7.500 euro "Apa aku sedang bermimpi" ujar Mach sambil menampar pipinya sendiri "Ini bukan mimpi" kemudian Mach melihat sebuah surat disamping kotak tersebut.


"Sorry atas mobilmu, ini sedikit hadiah untukmu, buatlah sesuatu yang berguna untuk hidupmu, misalnya memperbaiki tokomu itu. Jujur toko mu itu terlihat kumu, pria brilian sepertimu tidak pantas tinggal ditempat seperti itu. By Emilia Cosuella" ujar Mach sambil membaca suratnya


"Dasar wanita gila, thanks you Emilia. Muaaaach" Mach mencium cek uang itu "I love you Emilia huahahhahaha" teriak Mach kegirangan.


...***********...


Bagaimanakah kisah selanjutnya?


Next eps selanjutnya!!