Alstroemeria Of Almeria

Alstroemeria Of Almeria
Kunjungan sang kakek



Emilia pergi kedapur untuk mengambil segelas air putih "Ting tong" tiba-tiba terdengar suara bell pintu dari luar rumah, Emilia segera pergi untuk membukanya, ternyata seorang kakek yang berdiri dihadapannya


"Siapa ya?" tanya Emilia dengan penasaran


"Emilia!" ujar kakek itu dengan kaget "Jadi kau sungguh tidak ingat diriku" ujar kakek itu sambil masuk kedalam rumah "Hah! biar aku beri petunjuk, ulurkan tanganmu" suruh kakek itu mengulurkan tangan Emilia, Emilia pun mengikuti kemauan kakek itu


"Ayo tom bitom bitom bitom bitom bitom tombi" ujar kakek itu sambil memainkan jari Emilia "Kau tidak ingat, aku melakukan itu lalu kau memintaku untuk melakukannya lagi, aku ini kakekmu" ujar kakek itu dengan semangat


"Ouh kakek Rafael!" ujar Emilia sambil tersenyum bahagia


"Aaaaa! Kakek Rafael katamu, dulu kau tidak bisa bilang R jadi kau panggil aku kakek Yafael" ujar kakek itu sambil memeluk Emilia


"Ouh waktu itu kan aku masih kecil!" jawab Emilia dengan gaya manjanya


"Ya waktu itu berapa usiamu tiga, empat?" tanya kakeknya


"Hmmmm" Emilia menggelengkan kepalanya


"Cucuku tersayang muachhhhh! O ya dimana Alesso?" tanya kakeknya dengan penuh kerinduan


"Dia dirumahnya!" jawab Emilia dengan nada lesu


"Dirumah ibumu, Sofia?" tanya kakek untuk memperjelas


"Iya ...."


"Kau tidak kuliah?" tanya kakeknya lagi


"Aku sedang sakit!" jawab Emilia dengan nada lemas


"Sakit! Coba kakek periksa" kakeknya langsung memeluknya "Oooo! Demammu sangat tinggi, biar aku buatkan sup spesial dari resep kakekmu ini, dan kau pasti akan sembuh, kau terlalu banyak minum air dingin ini, aku sangat yakin itu hahaha" ujar sang kakek


"Kau kemana saja kakek, kenapa tidak pernah datang kesini?" tanya Emilia penasaran


"Apa kau tidak tanya ayahmu?" ujar sang kakek


"Iya katanya kakek di Rusia"


"Aku memang di Rusia!" tegas sang kakek


"Sedang apa kakek disana?" tanya Emilia penasaran


"Tentu saja merindukanmu, aku selalu berkata, oooo waktu yang kejam, cepatlah kau berlalu, kau menyakitiku, aku telah lama tinggal di Rusia, aku merindukan cucuku" ujar kakeknya sambil berteriak


"Hahahhahaha kakek! Kakek ini lucu sekali ya" ucap Emilia sambil tertawa melihat tingkah sang kakek


"Hahahaha aku juga banyak lelucon lainnya" Emilia segera mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi ayahnya "Apa yang kau lakukan?" tanya kakeknya


"Aku akan telpon ayah dan memberitahu kalau kakek ada disini" jawab Emilia


"Oo jangan-jangan, aku ingin dia terkejut!" ujar sang kakek mencegahnya


................................


Setelah membuatkan sup untuk Emilia, tak lama kemudian Oliveira pun datang.


"Kakek?" panggil Oliveira


"Oliveira, kau masih mengenalku! Hahaha" jawab kakeknya dengan bahagia


"Tentu saja!!"


"Ayo ayo semuanya ayo, waktu memberikan hadiah dimulai, ini buatan Rusia membuat cucumu senang"


"Hadiah apa kek, kakek datang saja aku sudah senang" ujar Oliveira menggoda kakeknya


"Pintar sekali kau bicara, hey Emilia kau suka bermain boneka?" tanya kakeknya


"Tidak kakek, aku sudah besar!" jawab Emilia sambil tersenyum


"Sayangku ambillah ini, gantunglah didindingmu, boneka Rusia berusia 80 tahun" ujar kakeknya sambil memberikan hadiah untuk cucunya


"Terimakasih kakek! Ya ampun, kakek repot-repot seperti ini" ujar Emilia sangat senang dengan pemberian kakeknya itu


"Tidak masalah sayang, tuan Oliveira ini untukmu"


Oliveira pun sangat penasaran dengan hadiahnya saat dia membuka kotaknya "Wau! Pisau pemburu"


"Lihat anak ini pintarnya, orang-orang Rusia membunuh hewan dengan ini" ujar kakeknya memberitahu


"Kakek ini luar biasa, terimakasih ya kek!" ujar Oliveira berterima kasih pada kakeknya


"Tidak masalah nak, ayo kita siapkan meja dan kita buat kejutan." ajak sang kakek bergegas


............................


Saat di meja makan terlihat mereka semua sedang memperhatikan cara kakek Rafael menyiapkan meja makan, bibi Sema dan juga bibi Emine juga ada disana


"Kita lipat jadi dua, seperti ini, setelah itu kita lipat lagi sampai seperti ini dan taruh dimeja ya, letakkan saja seperti ini paham" ujar kakeknya menunjukkan cara melipat tisu dengan indah, kakek Rafael pun melihat vas bunga yang kecil tepat di tengah meja makan "Apa ini Emine? Sekalian saja kau menanam pohon di meja, singkirkan ini bawa vas yang lebih besar semua orang harus melihatnya disaat makan benarkan?" ujar sang kakek, bibi Sema terlihat menertawakan bibi Emine, bibi Emine segera mengambilkan vas bunga yang lainnya


"Kakek kau tau banyak hal ya!" ujar Emilia memuji kakeknya


"Kakekmu profesional, kau pikir dari mana ayahmu belajar bisnis restoran hah?" ujar sang kakek dengan bangga


"Ini lebih baik?" tanya bibi Emine sambil meletakkan vas bunganya di atas meja makan


"Yaaa bagus-bagus, taruh disitu. Hey nak! Kakekmu ini dulu pernah melayani Abram mofik" ujar sang kakek


"Benarkah! Kakek bercanda ya?" tanya Oliveira terlihat tidak begitu percaya


"Orang kaya! Dia itu pengusaha besar Rusia" ujar Oliveira memberitahu


"Tiga bulan yang lalu sekertarisnya menelpon, dia ingin membuat rapat besar direstoranku di Saransk " ucap kakeknya


"Kakek punya restoran di Saransk?" tanya Emilia dengan kaget


"Ya di Saransk! Aku menjualnya"


"Kenapa kek?" tanya Oliveira


"Karena aku sayang kalian, aku rindu kalian dan datang kemari!" ujar kakek Rafael


"Tuan Rafael! Bukankah terlalu awal untuk menyiapkan meja ini untuk makan malam?" tanya bibi Emine sambil tersenyum


"Emine, kau tahu kenapa orang Rusia suka makan malam lebih awal hah?" tanya kakeknya dengan penuh semangat


"Hmmm..... Agar makanan mudah dicerna?" jawab bibi Emine dengan asal


"Bukan! Agar bisa makan lagi sebelum tidur mwhuahahahahahahhaha" jawab sang kakek, mereka pun tertawa bersama sama melihat tingkah konyol sang kakek


Tiba-tiba bel rumah berbunyi "Ting tong" bibi Sema segera membukakan pintu rumahnya


"Ouh baiklah, jangan berisik ya!" ujar sang kakek sambil bersembunyi di belakang pintu


"Iya kek." jawab Emilia


"Putriku! Apa kabar sayang?" tanya ayahnya yang baru saja pulang kerja


"Hallo papa, selamat datang!" sapa Emilia sambil tersenyum


"Muachhhh, apa demammu sudah reda?" tanya ayahnya dengan khawatir


"Jangan khawatir aku sudah sembuh, kenapa papa pulang lebih cepat?" tanya Emilia balik


"Untuk menjengguk putriku, karena kamu sedang sakit, ya kan?" jawab ayahnya dengan lembut


"Kami ada kejutan untuk papa, papa pasti terkejut" ujar Oliveira


"Wah luar biasa, ada apa ini? Kau punya pacar baru ya" tanya ayahnya pada Oliveira "Makanan dan minuman yang lengkap" ujar tuan Alonzo sambil melihat meja makan yang telah disiapkan


Tiba-tiba tuan Rafael menghampiri putranya "Aku yang menyiapkannya putraku" ujar ayahnya Alonzo sambil memeluknya "Putraku tersayang, kau tidak berubah"


Alonzo kelihatan sangat kaget melihat ayahnya datang tanpa kabar "Kau juga ayah! Tidak berubah" jawab tuan Alonzo dengan sedikit cuek


"Tentu saja, otot perutku masih sama" jawab ayahnya dengan ceria


"Kapan ayah datang?" tanya tuan Alonzo


"Baru saja aku datang hari ini!"


Dimeja makan mereka sedikit mengobrol tentang negara Rusia


"Kakek!" panggil Oliveira


"Hmmm"


"Di Oymyakon itu dingin ya?" tanya Oliveira penasaran


"Apa, dingin? Membeku nak membeku, susu saja dibeli dalam kotak es" ujar kakeknya memberitahu


"Dalam kotak es?" Emilia kebingungan


"Iya! Kau minta susu lalu mereka akan memotong-motongnya"


"Lalu bagaimana mereka meminumnya?" tanya bibi Sema dengan penasaran


"Mereka tidak meminum susu tetapi memakannya" ucap kakek Rafael


"Kita bicara sebentar ayah!" ajak tuan Alonzo memotong pembicaraan ayahnya


Tiba-tiba bibi Emine pun menghampiri kakek Rafael "Tuan Rafael, oven sudah mulai bau, aku tidak tahu sudah matang atau belum?" ujar bibi Emine


"Oooo ya ampun! Jangan sampai hangus, ayo kita periksa" kakek Rafael segera bergegas kedapur


Tak lama kemudian nyonya Dilara pun pulang sehabis masuk kelas yoga, alangkah terkejutnya nyonya Dilara saat melihat ayah mertuanya datang kerumahnya "Ayah, ayah!" panggil nyonya Dilara dengan bahagia


"Sayangku, sayangku!" ujar ayah mertuanya sambil memeluk menantunya itu


"Ini kejutan besar ayah" ucap nyonya Dilara


"Begitulah caraku mengejutkanmu, kau terkejut?" tanya ayah mertuanya


"Tentu saja! Ini sudah sepuluh tahun Ayah tapi ayah terlihat sehat dan tampan, ayah tidak berubah sama sekali" ujar nyonya Dilara memuji ayah mertuanya


"Dan pujianmu masih luar biasa!!" ucap ayah mertuanya dengan bahagia


"Ayo ayah kita masuk kedalam, ngomong-ngomong apa yang ayah lakukan selama ini?" tanya nyonya Dilara penasaran


"Apa yang bisa aku lakukan urusan bisnis dan sebagainya, sekarang aku kembali"


...********...


Bagaimanakah kisah selanjutnya?


Next eps selanjutnya!!