Alstroemeria Of Almeria

Alstroemeria Of Almeria
Penyesalan Emilia



Hari pun mulai gelap, mereka semua menunggu kabar selanjutnya dari dokter yang tak kunjung datang, dengan harapan operasinya akan berjalan lancar. Karena lama menunggu Emilia pergi keluar rumah sakit


"Mau kemana Emilia?" tanya Oliveira


"Mencari udara segar!" jawab Emilia dengan nada cueknya


"Baiklah aku akan ikut denganmu!" ujar Oliveira


Sesampainya diluar, Emilia merasa sangat bersalah atas semua yang menimpa kakaknya itu. "Aku tidak tahan lagi, aku tidak tahan Oliveira aku tidak tahan menunggunya" ujar Emilia sambil memeluk adiknya itu


"Emang sulit, tapi itulah kenyataannya"


"Aku sangat takut!" ujar Emilia


"Jangan takut! Dia akan baik-baik saja. Aku bersumpah" jawab Oliveira menenangkan hati Emilia


...........................


Setelah menunggu cukup lama, dokter pun datang untuk memberi kabar perihal operasi tersebut


"Dokter!" panggil nyonya Dilara


"Operasi sudah selesai, meski sulit tetapi bisa menghentikan pendarahan, situasinya masih kritis, masih ada resiko pendarahan akan terjadi lagi, karena itu Alessandro akan dibawa ke UGD dan diawasi. Operasi ini sangat serius, dalam kasus seperti ini gerakan tubuh bisa mempengaruhi otak, saat ini otaknya tidak bisa bekerja keras, jadi kita harus membiusnya agar dia tidak banyak bergerak." ujar dokter memberitahu


"Lalu berapa lama kau membuatnya tidur?" tanya tuan Alonzo


"Saat ini aku belum tau tuan Alonzo! Kami akan terus membiusnya sampai pendarahannya berkurang atau berhenti, kita harus berfikir positif, mereka akan membawanya ke UGD sekarang, kalian bisa melihatnya sebelum mereka membawanya" ujar dokter dan segera pergi dari sana


"Terimakasih!" ujar tuan Alonzo berterimakasih pada dokter


"Alonzo, walaupun operasinya telah selesai aku tidak bisa tenang, kita bawa dia kerumah sakit lain saja" ujar nyonya Dilara dengan penuh kecemasan didalam hatinya


"Dilara! Apa kau tidak dengar, kita tidak bisa memindahkan Alessandro kemanapun, dia tidak bisa dipindahkan, ini rumah sakit bagus, dokternya juga handal, kalau perlu aku akan memanggil dokter yang kita perlukan ditempat ini, atau kalau perlu kita panggil semua dokter yang bagus kesini" ujar suaminya menyakinkan istrinya


"Kalau begitu lakukanlah Alonzo, aku mohon!!" ujar nyonya Dilara sambil menangis, tuan Alonzo langsung memeluk istrinya itu


"Putriku! tolong jangan menangis, yang Alonzo katakan itu benar, ini rumah sakit yang sangat bagus, kau tidak perlu khawatir nak." ujar ayah mertuanya


Tiba-tiba seorang suster datang "Pasien akan dibawa ke UGD" ujar suster itu dan mereka segera pergi untuk menjenguk Alessandro.


............................


Di UGD dokter mengeceknya keadaan Alessandro yang baru saja berhasil melewati operasi besar.


"Bagaimana dokter?" tanya tuan Alonzo


"Apa ada perubahan dokter?" sahut nyonya Dilara


"Tolong bersabarlah ini butuh waktu, dalam kasus seperti ini kondisinya bisa berubah dalam satu malam" ujar dokter tersebut


"Apa pemulihannya akan membutuhkan waktu yang cukup lama?" tanya nyonya Dilara


"Bukan itu maksudku nyonya Dilara, kita harus bersabar!" tegas dokter Yozi


"Apa dia akan terus dibius seperti itu dok?" tanya tuan Rafael


"Iya tuan!"


"Sampai kapan?" tanya nyonya Dilara lagi


"Kita harus menunggu beberapa saat, tapi kondisinya stabil itu bagus sekali, kondisinya tidak akan memburuk. Jika kondisi Alessandro tidak berubah itu pertanda baik, semoga dia lekas sembuh!" ujar dokter Yozi dan segera pergi dari sana


"Alonzo, dokter tidak bisa menyembuhkannya" ujar Dilara dengan cemas


"Dilara aku ayahnya Alessandro jangan lupakan itu, aku sudah teliti dokter itu, dokter itu dokter yang sangat bagus disini" ujar suaminya memberitahu


"Aku tidak tahan melihatnya terus seperti ini Alonzo, tolong lakukan sesuatu"


"Apa kakak sudah bangun, aku selalu berdoa agar kakak bangun?" tanya Emilia yang tiba-tiba datang menghampiri mereka


"Bersabarlah sayang" ujar ayahnya sambil memeluk putrinya itu


"Oliveira tolong antar kakakmu pulang" ujar ayahnya


Tiba-tiba pandangan tuan Alonzo mengarah pada seorang anak yang dari tadi menunggu Alessandro, dia adalah Andres, yang hanya terduduk diam dan menyendiri dari mereka semua. Tuan Alonzo pun datang menghampirinya "Kau tidak pulang nak?" tanya tuan Alonzo


"Tidak pak, aku ingin menunggu Alessandro disini" ujar Andres dengan lesu


"Kau temannya?" tanya Tuan Alonzo penasaran


"Iya, kami berteman sudah cukup lama, bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama."


"Jangan bersedih, temanmu akan baik-baik saja, pulang dan istirahatlah. Yelderin! Kau boleh pulang sekarang, terima kasih untuk bantuanmu, sekalian kamu antar anak ini kerumahnya ya" ujar tuan Alonzo


"Baiklah, aku pamit dulu, kabarin aku jika kamu perlu sesuatu, besok aku akan kesini lagi!" ujar tuan Yelderin


"Iya terimakasih banyak!"


............................


Dipihak lain tuan Ambros sedang asik menonton televisi, tiba-tiba istrinya pulang dari arisan yayasan "Wah wah wah, Ambros kau tahu, anaknya Dilara sekarang berada dirumah sakit" ujar istrinya itu


"Siapa?" tanya Ambros sambil mengunyah kacang


"Alessandro!"


"Ah itu bukan putranya, hanya anak tiri" jawab tuan Ambros dengan cuek


"Aduh Ambros, sekali saja gunakan otakmu! Kita bisa menjengguknya kesana, itu akan membuat mereka simpati pada kita." ujar istrinya memberitahu


"Kamu saja yang kesana!!"


"Kamu mitra kerjanya Alonzo, Dilara sudah melakukan banyak hal untukmu, dia bahkan menjadikanmu mitra kerja suaminya, kau tangan kanannya Dilara."


"Solmaz! Tolong sekali saja jangan ingatkan aku tentang itu. Aku punya hak diperusahan itu tanpa bantuan Dilara, aku memiliki hak disitu!!" tegas suaminya itu


"Hak apa? Dilara tidak pernah mengakuimu sebagai adiknya, kau hanyalah anak tidak sah dari ayahnya Dilara, ingat itu" ujar nyonya Solmaz dengan nada menjengkelkan


"Solmaz cukup!!"


..............................


(Dikediaman Consuella)


"Berry, berry merah berry merahku, ditaman ada berry kecil milikku, tuan Rafael!! Sekali lagi kedua orang itu datang ke restoranku, menejer kota dan anak buahnya, Mauris bersis keras untuk membuat flame pisang makanan penutup dengan minyak dengan cream keju. Saat itu sudah malam, menejer kota sudah tiba, anak buahnya datang mereka duduk dan Mauris sudah menyiapkan masakanku untuk dia pamerkan" ujar kakek Rafael bercerita pada cucunya saat dia dirusia dulu


Terlihat Emilia sama sekali tidak tertarik dengan cerita kakeknya itu "Bibi Emine, mana makanan penutupnya, kita liat hasil masakan kakek ya!" ujar Oliveira pada Emilia


"Ini dia, silahkan!" ujar bibi Emine sambil membawa makanan dari masakan tuan Rafael


"Terimakasih Emineeee" ujar sang kakek


"Selamat makan!" ujar bibi Emine


"Terimakasih yaa" ujar Oliveira berterimakasih


"Yaaa Emine, Bungkus beberapa untuk Alesso, agar kita bisa memberikan ini saat kita menjengguknya" suruh tuan Rafael


"Baik tuan"


"Ah kakek apa dokter akan mengizinkannya?" tanya Emilia


"Ya pasti jika tidak Alessandro bisa makan ini nanti saja, kita akan buat yang baru!" jawab kakeknya


"Emmm Tuhan memberkati tangan kakek, ini enak sekali kek" ujar Oliveira sambil melahap makanan masakan kakeknya


"Ya sudah pasti" jawab kakek Rafael dengan bangga


...*********...


Bagaimanakah kisah selanjutnya?


Next eps selanjutnya!!