
"Dari mana saja kau? Kau pergi tanpa menjawab pertanyaanku dan tidak pulang seharian." tanya tuan Rafael
"Cukup ayah, apa ayah tau Oliveira sekarang dimana?"
"Dimana dia?"
"Penjara ayah! Penjara!!" teriak tuan Alonzo
"Apa penjara?" Kakek Rafael terkejut mendengar berita buruk itu
Diluar rumah, nyonya Dilara tiba dari Kanada "Bachtiar tolong ambilkan tas sama koperku" panggil nyonya Dilara
"Baik nyonya! Bagaimana kabar ibu anda nyonya?" tanya Bachtiar dengan perhatian
"Dia baik!" jawab nyonya Dilara dengan sedikit terburu-buru
"Semua itu gara-garamu, ini apa?" tanya tuan Alonzo sambil menunjukka pisau itu pada ayahnya "Ini pemberianmu kan? Sudah ku katakan jangan berikan itu pada anakku ayah, itu berbahaya. Kau tau apa yang dia lakukan dia menusuk temannya dengan pisau ini" jelas tuan Alonzo dengan kesal
"Apa?" tuan Rafael begitu terkejut mendengar pengakuan itu
Tiba-tiba nyonya Dilara datang disambut oleh pertengkaran suaminya dan ayah mertuanya "Alonzo ada apa ini, kenapa kau berteriak pada ayah?"
"Dilara! Kapan kau pulang, kenapa tidak mengabariku" tanya tuan Alonzo dengan penasaran
"Jawab pertanyaanku Alonzo, kenapa kau bersikap tidak sopan pada ayah?" tanya nyonya Dilara dengan sedikit kesal
"Kamu tanya sendiri padanya" tunjuk Alonzo pada ayahnya
"Ada apa ayah, kenapa Alonzo begitu marah pada ayah?" tanya nyonya Dilara
"Maafkan aku nak, ini semua salahku" jawab ayah mertuanya itu dengan gugup dan rasa bersalah yang besar
"Ada apa?" nyonya Dilara terlihat semakin cemas apa yang sebenarnya terjadi
"Oliveira berada dipenjara!" jawab Alonzo memotong pembicaraan mereka
"Apa? Apa yang kau katakan Alonzo?" teriak nyonya Dilara terlihat kaget
"Dia menusuk temannya Dilara, ini pisau yang digunakannya untuk menusuk temannya, pisau pemberian ayah" jelas suaminya itu
"Kenapa ayah berikan itu pada Oliveira ayah?" tanya nyonya Dilara dengan nada pelan dan menahan emosi
"Maafkan aku nak, aku tidak tau kalau hal seperti ini akan terjadi?" ujar ayah mertuanya itu sambil menundukkan kepalanya
"Kenapa dia menusuk temannya, apa masalahnya Alonzo tolong ceritakan semuanya jangan buat aku penasaran" tanya nyonya Dilara tidak bisa mengontrol emosionalnya lagi
"Dia balapan bersama temannya di stadion Mestalla, kecelakaan pun terjadi, teman balapannya menghinanya dan membuat Oliveira marah sehingga dia menusuk temannya itu"
"Apa, balapan? Kecelakaan?" nyonya Dilara semakin panik "Kau juga ikut andil dalam hal ini Alonzo, sudah ku bilang jangan belikan dia mobil, apa kau mendengar ucapanku."
"Iya Dilara iyaaa aku salah" ucap tuan Alonzo sambil memeluk istrinya itu
"Kau memang tidak becus menjadi seorang ayah" ujar nyonya Dilara sambil menangis dan pergi meninggalkan mereka
"Mau kemana kau Dilara?" tanya suaminya itu sambil meraih tangan istrinya itu
"Lepaskan aku, aku akan ke kantor polisi" titah nyonya Dilara
"Tenanglah Dilara, semuanya akan baik-baik saja, Yelderin sudah mengurus semua" jelas suaminya itu
"Bagaimana aku bisa tenang hah, anakku dipenjara Alonzo, bagaimana orang-orang akan memandang kita. Para pers akan datang dan mewawancarai kita, apa kau pikir soal itu hah!"
"Kasus ini hanya keluarga kita yang tau, kasus ini tidak tersebar kemanapun, kami sudah mengurus semuanya. Tenanglah Dilara"
"Aku mohon pergilah, bawa Oliveira pulang Alonzo." ujar nyonya Dilara
"Iya, aku berjanji padamu" jawab tuan Alonzo
"Apa yang telah aku lakukan?" ujar tuan Rafael sambil pergi meninggalkan mereka dengan penuh rasa bersalah
Tiba-tiba Emilia datang menghampirinya mereka "Ibu sudah pulang?" tanya Emilia
"Emilia!!" panggil ibunya menghampirinya dan memeluknya
"Kenapa ibu menangis, apa nenek baik-baik saja?" Tanya Emilia penasaran
"Ushhhhhhhhh" berdesis ayahnya agar Emilia tidak bertanya apapun lagi pada ibunya.
..........................
Tuan Rafael pun datang ke restoran anaknya, dengan wajah yang penuh penyesalan
"Kenapa Ayah kemari"
"Tidak?"
"Kenapa tidak"
"Tidak nak, aku habis jalan-jalan"
"Surat apa ini? kau menyewa pengawai baru" basa basi ayahnya untuk memulai pembicaraan
"Berikan, apa yang kau pikirkan ayah?"
"Kau pikir kau seorang pria, kau pikir kau pria besar, siapa yang mengirimmu ke sekolah hah? Bahkan keluar negeri hah?" Ujar ayahnya sambil menunjuk anaknya itu
"Ku kirim kau keluar negeri untuk belajar bahasa asing, saat kau dalam situasi yang sulit! Jika kau menjadi pria besar hari ini, jika ucapanmu sekarang menjadi penting, itu karena aku!!" tegas ayahnya "Tanpa aku kau bukan apa-apa, kau bilang tidak punya uang, namaku Rafael Consuella! Kau tau, saat kau berjalan memakai popok aku memiliki restoran paling mewah di kota ini, dan kau bilang kau tidak punya uang sekarang"
"Ayah ingin aku membuka luka lama itu!!" sahut Tuan Alonzo
"Buka saja, aku tidak perlu menjelaskannya buka saja"
"Ayah belum menjelaskan banyak hal, yang mana yang harus aku pilih, ibuku meninggal karena ayah, kau mematahkan hatinya, dia meninggal karena ayah. Ayah tidak membayar hutang dan membuat lima puluh penipuan di kota ini. Bukankah kita melarikan diri dari orang selama 1 tahun, lari dari satu kota ke kota lain, karena lintah daratmu!! Apa aku harus menyebutkan kesalahanmu sepuluh tahun yang lalu ayah!!"
"Yang sopan nak, aku ini ayahmu!!"
"Itu sebabnya aku tidak mengatakan itu dan mengirim ayah ke Rusia hah, apa untuk menaklukkannya?"
"Jangan bicara sembarangan, ada alasan untuk itu!"
"Tentu aku melarikan mu dari sini, aku buka restoran untukmu disana, tetapi kau mulai menipu orang disana, aku mengirim sepuluh orang untuk mengawasi mu! Kau tau itu?! Aku melakukan itu untuk memastikan tidak ada orang yang menyakiti mu dan aku menggaji sepuluh orang itu demi ayah!!" teriak Tuan Alonzo
"Sungguh memalukan, kau berbicara pada ayah dengan nada seperti itu"
"Aku disini bukan karena ayah, aku berdiri sendiri, aku menutup hutangmu sebanyak lima puluh kali dan itu menyebabkan aku menutup perusahaan setiap kali aku melakukannya, hanya untuk menyelamatkanmu ayah!! Dan ucapanmu sama sekali tidak berguna disini, cukup ayah jangan ganggu kedamaianku lagi. Menjauh lah dariku lebih baik pergilah dan bermain dengan cucumu tapi jangan ganggu aku ayah, aku ingin selalu menghormatimu dan aku ingin melupakan semua kesalahan masa lalu mu. Tolong lah ayah, ahhh fufffff"
Tuan Rafael pun menundukkan kepalanya, dia merasa sakit hati dengan perkataan anaknya itu "Ayah maafkan aku! Sebenarnya aku hanya ingin mengandalkanmu tapi ku mohon tolong lah bantu aku, aku menyayangimu ayah, aku sangat menyayangimu, jangan kecewakan aku lagi" ucap Tuan Alonzo sambil menciumi tangan ayahnya itu.
.............................
Di apartemennya
Di apartemen Baltasar mencari keberadaan Andres disetiap sudut ruangan, ternyata Andres berdiri diatas balkon, dibawah lebatnya hujan. Dia tidak perduli dengan dinginnya malam, memandangi langit dengan cahaya kilatan, seolah mengadukan nasib pada Tuhan.
"Apa yang kau lakukan Ndres?" panggil Baltasar dari pintu balkon, tetapi Andres tidak meresponnya sama sekali
"Kenapa kamu berdiri dalam hujan, apa kau masuk sakit!" teriak Baltasar lagi
"Aku sedang mencari kebahagiaan diantara rintik hujan."
"Hahhh, apa yang kamu bicarakan? Apa kau sudah gila!?" tanya Baltasar sambil menghampirinya "Ada apa? Kamu kenapa Ndres?" tanya Baltasar
"Aku tidak apa-apa" jawab Andres dengan menggigil
"Lihatlah, sepertinya kau mau demam sudah berapa lama kau berada disini, ayo masuklah" Baltasar langsung membawa Andres masuk dan segera membuatkan teh untuk Andres, selesai Baltasar membuat teh dan membawanya kekamar, dia melihat Andres sudah tertidur pulas.
"Andres! Apa kau mau minum teh dulu?" tanya Baltasar
Melihat tidak ada tanggapan dari Andres, Baltasar pun keluar dari kamarnya dan dia melanjutkan kegiatan membaca bukunya.
...********...
...preview...
Masalah tidak akan selesai jika kau hanya diam
Selanjutnya!! ཚDemam'