
Hari mulai gelap, mereka melanjutkan perjalanan sebelum malam menjelang. Karena kelelahan dalam perjalanan Dary dan Fernando pun tertidur lelap.
"Apa Dary juga tertidur?" tanya Bonito
"Iya"
"Hmmm, mereka melewatkan pemandangan yang indah ini"
"Bon!!" panggil Marco
"Ya, kenapa? Kau terlihat murung saja dari tadi, ada apa?" tanya Bonito
"Tidak apa-apa" sanggah Marco
"Kau tidak biasanya begini!"
"Mungkin karena aku agak sedikit kurang enak badan saja."
"Apa kau sakit? Apa perlu kita periksa ke dokter?"
"Tidak usah, mungkin karena aku kurang tidur saja."
"Yasudah tidurlah, jika sudah sampai nanti aku bangunin kau"
"Baiklah!" jawab Marco dia pun segera menyenderkan kepalanya ke kaca mobil dan memejamkan matanya.
Melihat teman-temannya semua sudah tidur, Bonito pun menyetel lagu di handphonenya sambil menggunakan headset.
.............................
"Saat ku tatap wajahmu, tiba-tiba terbit perasaan yang tak pernah kurasa sebelumnya. Antara bahagia, suka, juga sedikit rasa cemas. Setiap ku pandangi wajahmu, tiba-tiba hatiku tersenyum.
Dan mengalir pula rasa bahagia. Entah karena apa? Mungkinkah aku sedang jatuh cinta? Ataukah sekedar rasa kagum saja. Biarlah. Ku simpan rapi-rapi perasaan ini, for you Emilia" ini adalah kalimat yang diabadikan Teo dalam buku hariannya, Teo mulai menuliskan masa-masanya bersama Emilia. Teo mulai tersenyum senyum sendiri sambil memimpikan impiannya bersama Emilia.
"Emilia, bagaimana agar kau tahu perasaanku untukmu, kau terlalu indah untukku, apa aku pantas untukmu?" tanya Teo pada dirinya sendiri.
..................................
Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan, hari sudah menunjukkan pukul 09.34 am dan segera mencari tempat penginapan.
"Aaaaaaaa, akhirnya kita sampai juga" ujar Fernando sambil menguap karena kelelahan
"Aku mau tidur dulu yaa, rasanya tulangku hampir retak" ucap Bonito sambil menuju ke kamar
"Apa kita tidak pergi keluar malam ini?" tanya Fernando
"Besok malam saja, aku sangat letih, dari tadi mengemudi terus" jawab Bonito
"Hmmmm baiklah, aku juga mau tidur" Fernando berjalan dengan lesunya
"Marco, apa kau tidak tidur?" tanya Dary
"Tidak, aku mau duduk istirahat di sofa saja"
"Baiklah, biar aku buatkan kopi ya"
"Emangnya ada?"
"Tentu saja, aku sudah membelinya tadi di supermarket"
..............................
Dihalaman rumah Consuella, Alessandro termenung mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan, dia tidak bisa percaya Laura melakukan itu padanya, rasanya seperti tenggelam dalam samudera, rasa sesak begitu perih didada, seolah-olah air masuk dan memenuhi paru-paru.
"Kakak!!" Panggil Emilia yang datang menghampirinya Alessandro
"Ya Emilia, duduklah. Bagaimana kabarmu?" tanya kakaknya itu
"Aku baik kak" Tiba-tiba wajah Emilia terlihat cemberut "Mmmmm kak! Maafin aku ya!" ucap Emilia lesu
"Maaf kenapa?" Alessandro kebingungan dengan permintaan maaf adiknya itu
"Selama ini aku mengabaikanmu, aku selalu membuatmu kecewa" Mata Emilia mulai berkaca-kaca
"Ishhhhhh," berdesis Alessandro sambil mencubit pipi adiknya itu "Sudahlah! Lupakan semua itu, jangan bicara tentang itu lagi, kau tau aku sangat menyayangimu"
Tiba-tiba Oliveira datang dan memotong pembicaraan mereka "Wah wah wah, lagi berkumpul nih. Boleh aku ikut gabung?"
"Oliveira! Kemarilah" Panggil Alessandro dengan ramah
"Iya kak!"
"Sepertinya kita belum berkenalan, kelas berapa kamu sekolah?" tanya Alessandro
"Yaaa! Sebentar lagi dia akan dikirimkan ke Kanada sama ibunya" sahut Emilia mengejek Oliveira
"Kanada?" Alessandro mulai kebingungan
"Iyaa ibu Dilara menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikan ke Kanada" jawab Emilia
"Oooo itu bagus, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Alessandro menggoda adiknya itu
"Hehehe, pacar? Aku belum ingin punya pacar, tapi jika aku mau, aku akan mendapatkan lebih dari satu" ucap Oliveira dengan percaya dirinya
"Dasar Playboy?" titah Emilia
"Kakek yang mengajariku begitu. Mhahaha" ujar Oliveira sambil tertawa
"Apa ada yang menyebut kakek?" Sahut sang kakek sambil menghampiri mereka
"Ehh kakek, kemarilah, kami sedang mengobrol" Ajak Emilia
"Sepertinya serius?" tanya kakeknya
"Tidak, kami hanya bergurau saja kek" ujar Emilia
"Hadeuhhh!" Kakek Rafael pun duduk bergabung bersama mereka "Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Kakek pada Alessandro
"Aku sedikit lebih baik kek" Alessandro terlihat lesu
"Kakek ada sesuatu untukmu!" ucap kakek
"Apa itu kek?" Oliveira terlihat antusias dengan kejutan kakeknya itu
"Bukan untukmu tapi untuk kakakmu" tegas sang kakek
"Ya kan cuman nanya aja kek" sahut Oliveira dengan cuek
"Sema! Semaaa!!" panggil kakek Rafael
"Iya tuan Rafael"
"Mmmm tolong ambilkan kotak kado didalam kamarku, aku simpan dibawah tempat tidurku!"
"Baik tuan Rafael"
Tak lama kemudian bibi sema pun datang dengan membawakan kado yang besar "Yang ini tuan?" tanya bibi Sema
"Yaa benar sekali, terimakasih Sema" ujar tuan Rafael berterimakasih "Nah ini dia hadiahnya" sambil memberikan pada cucunya Alessandro
"Besar sekali kotaknya kek, apa isinya?" tanya Alessandro
"Bukalah!" Alessandro langsung membukanya dengan penuh penasarannya "Haahhh, gitar!" teriak Alessandro kegirangan
"Iyaa kamu suka?" tanya sang kakek sambil menaikkan alis matanya
"Terimakasih kakek! Aku suka"
"Hehehehe..."
"Kakak bisa bermain gitar?" tanya Oliveira penasaran
"Tentu saja, dari kecil dia sudah suka dengan musik" jawab kakek
"Bisa dong kak ajarin aku bermain gitar" sahut Oliveira
"Tentu saja" jawab Alessandro
"Coba mainin satu lagu, kita akan bernyanyi sama-sama" suruh Emilia
"Oke aku yang main gitarnya kalian bersama Kakek bernyanyi bersama ya" ucap Alessandro
"Sip" Emilia memberikan jempolnya
Alessandro mulai memainkan gitarnya, Emilia, Oliveira dan Kakek Rafael pun bernyanyi bersama-sama " isi nyanyian"
...************...
...Preview...
Seorang anak hanya butuh untuk dihargai setiap usahanya, tidak perlu membandingkannya dengan orang lain.
Selanjutnya!! ཆKelam'