Alstroemeria Of Almeria

Alstroemeria Of Almeria
Kehilangan Ibu



(Di kediaman Consuella)


"Bagaimana?" tanya tuan Alonzo pada pelayannya


"Kami tidak menemukannya tuan!" ujar kedua pelayannya itu


"Aku tidak mau tahu, kalian harus mencari putriku dimanapun dia berada!!" teriak tuan Alonzo


"Baik tuan, kami tidak akan pulang sebelum menemukan nona Emilia." ujar pelayan itu dengan gemetar


Pelayan tuan Alonzo segera mencari keberadaan Emilia, sudah 3 jam mereka berputar-putar mencari keberadaan Emilia. Tiba-tiba mereka melihat seorang gadis lesu menuju ke sebuah kedai makan di ujung jalan.


"Itu nona Emilia kan?" tanya salah satu pelayan untuk memastikannya


"Iya itu dia, cepat-cepat!!" mereka segera menghampiri Emilia


"Nona!" panggil pelayan itu dengan senyum


"Siapa kalian?" tanya Emilia kebingungan melihat dua pria berjas hitam


"Kami adalah pelayan tuan Alonzo Consuella, ayahmu menyuruh kami untuk mencarimu!!" ujar pelayan itu memberitahu


"Aku tidak mau pulang kerumah!!" teriak Emilia, semua orang memperhatikan mereka


"Kau akan pulang kerumah ayahmu sekarang, bukan kerumah nyonya Sofia. Ayolah nona!! Ayahmu sangat merindukanmu"


"Benarkah?" tanya Emilia dengan pelan


"Tentu nona!!" ujar mereka sambil menganggukkan kepalanya.


Akhirnya Emilia pun ikut bersama mereka. Saat Emilia sampai disana, dia melihat rumah ayahnya sangatlah besar dan bagus, banyak penjaga dan pelayan dimana. Emilia merasa canggung masuk kerumah itu, dia hanya berdiri didepan pintu.


"Tuan, kami sudah menemukan nona Emilia!" ujar pelayan itu


"Benarkah. Dimana dia?" tanya tuan Alonzo dengan penuh kebahagiaan


"Dia ada diluar!!"


Tuan Alonzo segera menghampiri putrinya itu dan memeluknya "Emilia putriku, kemana saja kau nak. Apa kau baik-baik saja! Sekarang kau tinggal bersama papa disini ya. Masalah perampokan itu tenang saja papa sudah membereskannya."


Emilia hanya terdiam, melihat tingkah ayahnya yang sangat mengkhawatirkannya.


"Bi bi!!!" teriak tuan Alonzo memanggil


"Iya tuan"


"Antar Emilia pergi kekamarnya terus ajak dia makan malam" ujar ayahnya dengan bahagia


"Baik tuan!!" jawab bibi segera mengajak Emilia "Ayo nona, kita masuk!!"


"Ini kamarmu nona!" ujar bibi memberitahu


"Thanks you!!" ujar Emilia dengan lesu


Saat Emilia masuk, kamarnya begitu gelap, dia menghidupkan lampu dikamarnya. "Wah wah wah, tuan putri kita tiba juga!" ujar seorang pria tampan sedang berbaring di atas kasur.


"Siapa kau?" tanya Emilia heran


"Kejamnya dirimu tidak mengenaliku kak, tidak apa-apa, akan aku perkenalkan diriku lagi, my name is Oliveira Consuella, son of lord Alonzo Consuella"


"Ao, senang bertemu denganmu, boleh aku beristirahat?" tanya Emilia dengan cuek


Selasai mandi Emilia segera turun untuk makan malam.


...........................


Keesokkan harinya, sesaat sebelum berangkat ke rumah sakit, tanpa disengaja Alessandro melihat kalender yang ada disudut dinding kamarnya. Ternyata hari ini tanggal 21 Desember.


"Oh my God, aku hampir lupa kalau besokkan ulang tahunnya mama?" Lalu sesegera mungkin Alessandro pergi ke rumah sakit.


"Pak Nayak!" panggil Alessandro


"Iya tuan!"


"Ayo kita kerumah sakit" ujar Alessandro bergegas


Namun, sebelum ke rumah sakit dia sempatkan dirinya untuk pergi ke toko kue, untuk membelikan sebuah kue Tart kesukaan ibunya. Lalu Alessandro juga membeli empat buah lilin yang biasa digunakan untuk lilin kue ulang tahun. Semua itu dia lakukan sebagai tanda pengharapannya supaya ibunya segera sembuh dan tentunya sebagai bentuk balas jasa atas perjuangan ibunya selama ini.


Setelah selesai membeli kue, Alessandro kembali melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan dia tak henti-hentinya membayangkan bagaimana reaksi ibunya ketika menerima kue kesukaannya. Dia tidak pernah lupa untuk menyelipkan sepotong do’a pada Tuhan, agar ibunya segera sembuh dan bisa kembali kerumah secepatnya. Ketika Alessandro sampai dirumah sakit, jam sudah menunjuki pukul 10:30 am. Artinya hanya menunggu butuh satu setengah jam lagi hari ulang tahun ibunya akan tiba. Karena kelelahan dari perjalanan, akhirnya Alessandro tertidur di kursi dalam kamar dimana ibunya dirawat. Ketika Alessandro terbangun dari tidurnya, dia melihat jam yang ada di kamar rumah sakit itu sudah menunjukan pukul 11:50 am. Itu pertanda kalau sepuluh menit lagi waktu yang dia tunggu-tunggu.


Alessandro mulai menancapkan satu persatu lilin pengharapan keatas kue Tart itu. Saat dia mulai membakar sumbu lilin, dia mulai mengenggam erat tangan ibunya. Tangannya terasa hangat, sehangat perhatiannya kepadanya selama ini. Dan dengan segera Alessandro bakar lilin-lilin itu.


"Mama, lihatlah empat lilin itu. Aku berharap untuk kesembuhanmu dengan lilin yang pertama itu dan begitu pula pada lilin yang kedua, aku ingin mama tahu kalau aku selalu sayang sama mama. Lalu dililin yang ketiga, aku ingin suatu saat nanti, mama melihatku menjadi orang yang berhasil dan bisa membahagiakan keluarga. Dan lilin yang terakhir, aku ingin membuat mama bahagia dengan segala kemampuanku..." ucapnya pada ibunya yang masih terbaring lemas ditempat tidur.


Alessandro tak mampu menahan kesedihannya, ibunya menangis melihat putranya. Tangisan yang seolah-olah membuat seluruh isi ruangan dikamar itu ikut sedih. Pukul 00.05 WIB, suasana sangat hening, Alessandro hanya bisa terdiam seraya menantap wajah mama dengan tatapan kosong. Dia melihat wajah ibunya sedikit pucat, entah apa yang terjadi dia tak tahu. Tiba-tiba dia tak sengaja menyanyikan sebuah lagu.


"Dunia begitu indah, tetapi tidak seindah senyuman ibu, andai tuhan menyuruh ku memilih ibu dan surga, aku hanya ingin bersama ibu."


"Hanya ini yang mampu Alesso persembahkan untuk mama."


"Terimakasih nak, dimana Emilia nak?"


"Emilia sudah ada dirumah papa ma, tadi papa menelponku"


"Apa dia tidak mau menemuiku?"


"Aku sudah menghubunginya, tetapi tidak bisa mah. Jika perlu besok aku akan kesana menjemputnya"


"Jika kau bertemu dengannya, bilang mama juga sangat mencintainya"


Dengan sangat tenang Alessandro letakkan tangan kanannya pada tangannya dan tangan kirinya dikening dan rambut ibunya. .


Tepat pukul 00.20 WIB, ibunya mengenggam tangan Alessandro erat-erat, dan menarik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali. Alessandro baru sadar kalau itu adalah pertanda ia akan meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tiba-tiba garis-garis dilayar berubah menjadi lurus. Tak mampu keelak lagi, air matanya seketika itu mengalir dengan derasnya hingga membasahi selimut yang ibunya pakai. Tangisnya pecah saat ia pandang wajah ibunya yang sudah tenang meninggalkannya.


"Mama....mama...jangan tinggalkan aku....." ujarnya lemas. “Selamat ulang tahun Mah....., maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu...." katanya penuh penyesalan. Ibunya meninggalkan Alessandro pada tanggal 22 Desember. Dan ibunya juga meninggalkan empat lilin pengharapan yang belum sempat ditiupnya.


......................


Hari ini adalah hari pemakaman ibunya, semua orang hadir disana, ayahnya, ibu tirinya, teman-temannya kecuali adiknya Emilia. Selesai dari pemakaman itu Alessandro segera bergegas pulang.


Sejak malam itu, Alessandro benar-benar merasakan tiada artinya lagi hidup didunia ini. Sebab semua yang dia cintai dan dia sayangi sudah pergi meninggalkannya. Adiknya, Ibunya, dan temannya Baltasar. Hari-harinya benar-benar sepi, sunyi, hampa, dan hampir tidak ada senyum dihari-harinya.


Alessandro benar-benar merasa kehilangan seorang yang paling berarti dalam hidupnya. Wajah manis ibunya selalu membayangi hari-harinya, saat dimana ibunya tertawa, ketika dia mengajarkannya arti hidup, saat dimana dia mengajarkannya mata pelajaran yang paling tidak dia sukai. Disitulah wajah ibunya selalu muncul, disudut kamar, diruang tamu, dapur, hampir seluruh ruangan wajah ibunya selalu hadir.


...*********...


Bagaimanakah kisah selanjutnya?


Next eps selanjutnya!!