
Terlihat Emilia dan Teo sedang bersantai menikmati luasnya samudra, sudah empat hari mereka berada di atas kapal pesiar. Kota Valencia mulai terlihat sedikit demi sedikit oleh pandangan mata.
"Itukah Valencia?" tanya Jasper terpukau
"Iya, indah bukan!" ucap Emilia
"Tentu! seperti dirimu" Teo mulai menggombal. Tak berapa lama kemudian, akhirnya mereka tiba di kota Valencia setelah berhasil kabur dari Canary Islands.
"Dan sekarang apa?" tanya Teo penasaran
"Aku harus mengantarkan kalian ke villaku!" ujar Emilia memberitahu
"Apa? Kau punya villa" Jasper terlihat kaget
"Sebenarnya villa itu punya ayahku" jawab Emilia dengan sedikit sombong
"Itu sama saja!" ujar Jasper "Apa kita tidak kerumahmu dulu?" tanya Jasper lagi
"Itu tidak perlu, cepat kita harus cari taksi" ujar Emilia untuk bergegas
"Gung gung gung" Wink terlihat kegirangan
"Apa kita langsung menuju ke villamu?" tanya Teo penasaran
"Kita akan pergi ke Mall dulu untuk belanja perlengkapan kalian, setelah itu buat sementara kalian akan tinggal di Rock House"
"Rock House dimana tu, itu adalah villa yang kubilang tadi, kami menamainya Rock House tepatnya dipenggunungan Serra Calderona"
Dan sekarang mereka sudah tiba di depan Mall. Mereka segera bergegas masuk kedalam mall untuk berbelanja Jasper menghentikan langkah kakinya, saat dia berada di depan eskalator. Dia tak jadi naik gara-gara landasan eskalator bergerak naik terus. Dia takut jatuh. Apalagi pegangan tangannya juga bergerak terus.
"Ada apa?" tanya Emilia
"Aku tidak berani naik kesitu" ujar Jasper
"Tidak apa-apa ayolah!" ucap Teo
"Aku tidak mau!" ujar Jasper dengan tegas
"Apa kalian tidak pernah menaiki eskalator di mall di Canary Islands" tanya Emilia menyindirnya
"Tidak! Kami bahkan belum pernah masuk ke dalam mall" jawab Teo
"Dasar!!" ucap Emilia
Lama mencoba untuk naik tapi gak bisa-bisa, akhirnya Jasper memutuskan untuk naik tangga biasa saja. Sedangkan Teo, Wink dan Emilia menaiki eskalator.
Saat Jaspers balik badan, "Hah?" banyak orang berdiri bergerombol di belakangnya. Mereka memandanginya dengan tersenyum. "Satu, dua, tiga.." Ada kalau sekitar dua puluh orang yang terpaksa antre menunggu Jasper naik eskalator, tapi gak jadi-jadi. Jasper pun beralih naik dari tangga biasa, tap, tap, tap!
Di lantai dua Jasper sempat berbelanja sebuah buku masakan, pakaian dan sebuah kacamata berwarna silver. Dia mencoba mencari-cari tangga biasa untuk naik ke lantai tiga, tapi yang ditemuinya adalah pintu lift. Kebetulan pintu liftnya baru saja terbuka, dan ada lima orang ke luar dari dalam lift. Jasper memasukinya, pintu lift tertutup.
"Ah! Apa yang harus ku lakukan nih?" ujar Jasper dalam batinnya. Dia lihat di papan tombol ada angka-angka dan tanda-tanda. Jasper takut menekan tombol tiga karena takut liftnya justru jatuh ke bawah. Udara terasa pengap, ruangannya sempit, tak ada jendela, "Bagaimana cara minta tolong nih?" ucapnya
Jasper melihat ada kamera CCTV di pojok-pojok atas.
"Wah, pasti petugas mallnya bisa melihat ku saat ini." Jasper langsung melambai-lambaikan tangannya ke kamera. Bahkan melompat-lompat, menari-nari, berputar-putar, dan sesekali melet (menjulurkan lidahnya) ke kamera. Tidak ada reaksi apa-apa. Tiba-tiba pintu lift terbuka, "Horeee!" teriak Jasper, seorang bapak-bapak masuk membawa bungkusan. Lalu pintu tertutup lagi, Jasper yang belum sempat keluar tapi bapak itu menekan sebuah tombol. Tak lama kemudian pintu lift terbuka kembali, bapak-bapak itu ke luar diikuti Jasper. "Ah! Ini kan lantai satu tadi?" ujar Jasper
Jasper berputar-putar mencari tangga biasa tapi tak ketemu karena mall ini sangat luas. Yang dia temui adalah eskalator lagi. Dia sangat kebingungan, tiba-tiba dia melihat Wink yang sedang mengejar-ngejar sebuah mobil-mobilan, Teo dan Emilia mengejar Wink dari belakang
"Wink tunggu!" teriak Teo sambil mengejarnya
Wink terus berlari mengacaukan semua barang-barang yang ada disana
Jasper berlari dan berusaha menangkap mobil itu. "Yaah aku dapat!!" tiba-tiba Wink dengan kencang berlari kearah Jasper dan menabraknya sehingga mereka terpental dan merusak barang-barang disana. Satpam datang menghampiri mereka, Emilia yang harus mengganti rugi semuanya karena kenakalan Wink
"Wink, jika kau seperti ini lagi akan aku kembalikan kau ke Canary Islands" ucap Emilia dengan sinis
"Kejam sekali kau!" ucap Jasper sambil memeluk anjingnya itu
"Inikah surga" ujar Jasper sambil mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil.
Setelah melewati gerbang dengan ucapan "Selamat Datang" mereka masih harus menempuh perjalanan sekitar setengah jam untuk sampai pada villa tujuan mereka. Jalanan yang harus mereka tempuh sangat ekstrim dan naik-turun yang sangat curam.
Sesampainya mereka di villa tersebut, Jasper dan Teo merasa sangat senang. Sangat indah sekali pemandangan di luar sana. Itu karena villa Emilia terletak di atas gunung. Mereka langsung merapikan barang bawaannya.
"Ini dia Rock House" ucap Emilia
"Wow sangat indah sekali, apa kau sering kesini?" tanya Jasper
"Tidak, terakhir aku kesini saat masih kecil, liburan dengan keluarga, tapi sekarang kami tidak pernah berkunjung kesini lagi" ujar Emilia memberitahu
"Selamat datang Nona!" tanya bapak tua penjaga Rock House
"Ouh pak... Apa bapak ada bawa kuncinya?" tanya Emilia
"Ada nona!" ujar bapak itu sambil memberikan kunci villanya
"Terimakasih, tolong jangan bilang sama siapapun kalau teman-temanku akan tinggal disini" ujar Emilia sambil memberikan uang tutup mulut pada bapak itu
"Baik nona?" bapak itu langsung bergegas pergi dari sana
"Siapa dia?" tanya Teo penasaran
"Penjaga villa ini, aku sudah meneleponnya tadi untuk datang kesini membawa kunci villanya" ucap Emilia, mereka segera masuk ke dalam villa tersebut
"Wau, Amazing!" ucap Jasper kagum melihat keindahan ruangan villa itu
..............................
Malam harinya Teo tidak bisa tidur karena dingin sekali sampai-sampai hidungnya tidak bisa bernafas, padahal dia sudah pakai selimut tebal. Dia hendak pergi keluar ingin menikmati suasana malam disana, dia melihat Emilia lagi sibuk membaca sebuah buku. Teo datang menghampirinya
"Apa kau tidak tidur?" tanya Teo
"Ouh, tidak aku lagi menyusun file tentang penelitianku." jawab Emilia dengan cuek
"Apa kamu akan tinggal disini?" tanya Teo lagi dengan penuh harap
"Tidak, besok aku akan segera pergi, kalian carilah pekerjaan, di garasi ada satu sepeda motor, kalian bisa pergi keluar menggunakan itu" ujar Emilia memberitahu
"Bagaimana kami bisa bertemu denganmu?" tanya Teo lagi
"Aku yang akan mengunjungi kalian. Sial!! Aku lupa membawa bibit bunga itu" teriak Emilia membuat Teo kaget kesekian kalinya
"Apa itu perlu?" tanya Teo
"Tentu saja jika aku membawa pulang bibitnya, itu akan menjadi bukti penelitianku, dan aku bisa mempelajarinya disini" ujar Emilia
Teo pergi ke kamarnya tanpa merespon omongan Emilia, tak lama kemudian dia kembali menghampiri Emilia
"Emilia!" panggil Teo
"Hmmmm" jawab Emilia dengan cueknya
"Aku membawakan ini untukmu!" ucap Teo sambil memberikan bibit bunga Alstroemeria
"Apa itu?" tanya Emilia
"Bibit Alstroemeria" ujar Teo
"Hah!! Kapan kau mengambilnya?" Emilia terlihat begitu kaget
"Waktu di gunung Teide aku sempat mengambil beberapa bibit Alstroemeria, aku pikir ini sebagai hadiah dariku untukmu saat kau pulang ke Valencia, tapi sekarang aku juga ikut denganmu kesini!!" ucap Teo memberitahu
"Ouh Teo thanks you very much" Emilia sangat kegirangan tanpa sadar dia memeluk dan mencium pipi Teo "Muacchhh," Emilia langsung mengambil bibit itu dan lanjut berfokus mempelajari penelitiannya. Teo tersenyum-senyum sendiri dan segera pergi ke kamarnya.