
Alessandro termenung didepan cermin kamarnya. Memandang kuyu seorang pria yang cacat dan tak berdaya didepannya. Seolah olah bayangannya berkata "Kau pria yang tidak berguna, kau sahabat terburuk yang pernah ada. Apa kau pernah berusaha mencari sahabatmu yang hilang?." Alessandro mencoba bangkit dari kursi rodanya, tetap saja itu mustahil baginya "Aku harus mencarinya sendiri, mereka tidak bisa melakukan apa-apa" ujarnya pada diri sendiri.
Dia terus memaksa dirinya agar bisa berjalan kembali, agar dia bisa pergi mencari Baltasar. Tiba-tiba dia terjatuh dari kursi rodanya "Andres! Help me" teriak Alessandro dengan keras. Tiba-tiba Laura dengan kaget melihat Alessandro sudah terbujur dilantai.
"Dres. Andres." Teriak Laura dengan panik sambil mengangkat Alessandro, tapi sayangnya tangannya tidak sanggup untuk mengangkat Alessandro sendirian. Andres yang sedang didapur pun kaget mendengar teriakkan Laura dari kamar Alessandro.
"ANDRES. ANDRESSS" suara teriakan Laura terdengar lagi dengan sangat kuat.
"Bertahanlah Alesso" ujar Laura kepada Alessandro
"Aku datang" jawab Andres bergegas menuju ke kamar Alessandro
"ANDRES!! Tolong cepatlah!" teriak Laura
"IYAA AKU DATANG" teriak Andres bergegas
"Oh tuhan! Apa yang terjadi?" tanya Andres dengan panik
"Cepat angkat dia ke kasur" ujar Laura
"Apa yang terjadi apa kau baik-baik saja?" tanya Andres.
Alessandro terlihat sedang mengatur kembali pernafasannya yang tidak teratur karena kepanikan.
"Tolong buatkan segelas teh" ucap Andres meminta tolong pada Laura
"Baiklah, tunggu sebentar" jawab Laura.
Andres terlihat sangat panik melihat keadaan Alessandro. "Apa kau baik-baik saja" tanya Andres sambil merapikan rambutnya Alessandro yang berantakan.
"Kau tahu tragedi yang sesungguhnya, dress? Aku berada dilantai dan aku belum bisa melihat apa-apa. Roknya seperti tenda, dia punya kaki yang sexy Andres, cukup sekilas saja itu membuatku sembuh" ujar Alessandro dengan nafas yang tidak teratur.
"Mwhuuaaaahahahahaahahahah" tertawa Andres terbahak-bahak mendengar ucapan Alessandro.
"Jika dia bertemu dengan ku dengan rok pendek, sumpah aku akan mulai berjalan lagi!" ujar Alessandro dengan penuh harap.
"Huuahahahahahah!! Kamu ada ada aja Alesso" ucap Andres kegirangan
"Apa semua baik baik saja? Sepertinya kalian bersenang senang tanpaku" ujar Laura tiba-tiba sambil mengantarkan secangkir teh.
"Hahaha.. bukan apa-apa. Makasih untuk tehnya" ucap Alessandro dengan sedikit panik.
"Hmmm,, kalau begitu aku pamit dulu ya, aku buru-buru" ujar Laura pamit pulang
"Baiklah" ucap Andres dengan santai
"Apa dia mendengar ucapanku tadi?" tanya Alessandro dengan ragu
"Mungkin saja, kan itu bagus" ucap Andres mengejek.
"Bagus apanya?" tanya Alessandro tatapan serius
"Bagus untuk kesehatanmu, siapa tau besok Laura berinisiatif memakai rok pendek saat bertemu denganmu. Huahahaha" Andres menertawakan Alessandro
"Ah dasar kau!" ujar Alessandro sambil menganggukkan kepala Andres.
"Kenapa kau bisa terjatuh dari kursi rodamu?" tanya Andres
"Yaa.. Aku cuma merasa diriku memang tidak berguna, saat Baltasar membutuhkan bantuanku aku tidak bisa menolongnya" ucap Alessandro dengan lesu dan membuang wajahnya
"Terus?" tanya Andres untuk meneruskan ceritanya
"Aku mencoba untuk berdiri, dan akhirnya aku terjatuh."
"Ada-ada saja, tenang saja dia pasti akan kembali!"
"Yakin banget sih kamu!" ucap Alessandro
"Teman terbaik dia itu ya kita, siapa lagi coba?" ucap Andres mengejeknya
"Ya lah tu"
"Oh ya aku mau tanya, bagaimana awal mulanya kamu bertemu dengan dia" tanya Andres penasaran
"Aku bertemu dengannya di jalan, sekitar jam dua pagi lah, dia mau ke kota Mastella, mau mencari apartemen, dia kan mahasiswa baru juga waktu itu"
"Terus?"
"Iyaa... Dia tanya padaku arah kota Mastella, terus aku memberitahu jalannya, dan aku bergegas pergi dari sana. Dalam perjalanan aku tidak tega juga melihatnya luntang lantung dijalanan, akhirnya ku ajak dia singgah dirumahku"
"Lalu kenapa dia tinggal disini"
"Esok paginya aku antar dia ke Mastella, selesai mengantarkannya, aku pulang dari sana tiba-tiba ada mobil yang menghantamku dari arah samping, kejadiannya begitu cepat. Dan kau ingat kan hari itu dirumah sakit, saat kalian mau pamit, dia Baltasar datang menjengukku, dari situ aku tawarkan dia tinggal dirumahku, lagi pula dia tidak punya temen disini" ujar Alessandro
"Tapi dia orangnya asik ya, pertama kali dia bertemu denganku langsung menari di restoran"
"Huaaaaahahahah" ketawa Alessandro ngakak
Setelah Laura pulang dari kediaman Alessandro, Alessandro dan Andres segera melanjutkan misinya yaitu membuat sebuah presentasi small animal anaesthesia yang baru.
"Seminar Peter membahas masalah apa sih" tanya Andres sambil berfikir
"Ya tentang small animal anaesthesia" Jawab Alessandro santai
"Itu aku tau, maksudku materinya."
"Kita buat aja materi baru, namanya aja kita mau ubah isi presentasinya" ujar Alessandro sambil menyalakan laptopnya
"Tapi aku tidak begitu paham dengan small animal anaesthesia
"Kita cari di semua buku-buku." ujar Alessandro dengan tegas
"Niat banget sih kamu?" tanya Andres tersenyum
"Demi pembalasan cinta sang teman" ujar Alessandro lagi sambil menggepalkan tangannya
"Huaahahaha" Andres tertawa kegirangan
Mereka segera bekerja dan mencari referensi di semua buku. Lembar demi lembaran mereka membaca dan mencoba memahami tetang animal anaesthesia
"Susah banget ya materinya" ujar Andres kelelahan memahami setiap kalimat yang dia baca.
"Itulah, aku juga merasakan kelelahan membacanya" ujar Alessandro dengan mata yang sipit.
"Berasa banget ya bedanya tanpa ada dia" ujar Andres lagi.
Alessandro menganggukkan kepalanya dengan raut wajah lesu.
"Aku tinggal sebentar ya, mau beliin cemilan" ucap Andres sambil bergegas keluar
"Iya, jangan lupa sama minumannya" kata Alessandro dengan suara lemas.
.........................
Hujan kembali menghampiri kota Valencia "Semua pantas untuknya terima" ujar Bonito kepada dirinya sendiri. Bayangan itu selalu menghantuinya, Bonito mampir kesebuah kedai untuk menenangkan pikirannya. Dia duduk berjam jam disana, tak lama kemudian Marco dan Fernando Menyusulnya.
"Sudah ku duga dia pasti kesini jika sedang galau" ujar Marco kepada Fernando
"Kau kenapa lagi Bon. Semua telah berakhir" ujar Marco menghampiri Bonito yang termenung sendirian
"Iya! Aku telah berakhir" ujar Bonito pelan
"Maksudnya?" tanya Fernando penasaran
"Pertama, kita kalah dalam pertandingan basket. Kedua, Laura semakin respect sama Alessandro dan ketiga, Baltasar menjadi pusat perhatian di kampus" ucap Bonito memberi penjelasan
"Baltasar sudah tiada, pertandingan itu masih bisa kita dapatkan setelah dua tahun kedepan, dan Laura itu butuh usaha yang lebih keras lagi bro" ucap Fernando dengan penuh keyakinan
"Semua telah direnggut, oleh bajingan itu" ujar Bonito
"Banyak kesenangan yang kita lewati jika kau terus memikirkan hal itu" ucap Marco.
"Hmmm,, kau tidak asik begini kawan" ucap Fernando
"Semua ada waktunya, kita lakukan perlahan lahan tapi pasti" ujar Marco memberi dukungan
"Bisa saja kalian" ujar Bonito dengan putus asa
"Gimana kalau kita pergi ke clabbing untuk bersenang-senang sekarang" ajak Marco
"Tidak ah! lagi males aku" ucap Bonito menolak
"Ayolah! Sebentar saja" bujuk Fernando sedikit memaksa
"Baiklah, sebentar saja ya" ujar Bonito
"Iyaaaa"
..........................
Dikediaman Alessandro, mereka melanjutkan tugas mereka, Andres dengan serius menyelesaikan materi presentasinya. Alessandro tidak pernah melihatnya seperti ini, tanpa berkedip sedikit pun dia terus membuat materi presentasi, terlihat jelas dimatanya kalau dia sangat membenci Peter.
"Kau tidak ngantuk" ujar Alessandro dengan suara kecil
"Ngantuk sih tapi ini sedikit lagi" ujar Andres sambil mengetik dengan fokus
"Lanjut besok aja lah" ujar Alessandro terlihat mengantuk "Jangan sampai kita yang sakit" ujar Alessandro lagi
"Kamu tidur duluan aja, sini biar aku antar kau ke kamar" ujar Andres
"Jangan terlalu maksa, masih ada besok"
"Baiklah, btw ibumu belum pulang?" tanya Andres penasaran
"Sepertinya ibuku lembur, sudah biasa seperti ini" ucap Alessandro
Mereka pun segera pergi untuk tidur, setelah, semalaman membuat presentasi.
............................
(Di kantor)
Langit yang gelap. Awan hitam bercampur dengan menyambar petir yang membuat hati seorang wanita paruh baya ini diliputi perasaan was-was, khawatir akan putrinya yang belum kunjung pulang.
"Dimana kau Emilia?" tanya ibu Sofia dalam hatinya yang begitu dalam menahan rasa rindunya untuk putrinya.
Kilauan petir tak pernah membuatnya kaget. Suara yang guntur yang begitu menggema begitu saja ia abaikan. Tak ada sepercik kekhawatiran yang tersirat di wajahnya, selain kekhawatirannya terhadap putrinya itu. Tiba-tiba datang Irene, salah satu teman kantornya nyonya Sofia.
"Sofia! Masih belum siap kerjaannya" tanya Irene menghampiri nyonya Sofia yang melamun memandangi gelapnya langit melalui kaca jendela kantor. Nyonya Sofia tidak menjawab pertanyaan nyonya Irene, pikirannya hanya tertuju ke putrinya.
"Hello, apa kau baik-baik saja?" tanya nyonya Irene lagi dengan cemas melihat keadaan temannya itu.
"Hahh!" ujar Sofia kaget "tidak, aku hanya sedang memikirkan putriku yang belum pulang dari Canary Islands"
"Kenapa kau tidak menyusul saja kesana?" Irene memberi saran
"Aku juga kepikiran begitu, tapi aku tidak sempat pergi kesana. Apalagi sekarang teman dari anakku Alessandro belum ditemukan, belum ada kabar dari pihak polisi sampai sekarang"
"Bagaimana soal kasus penuntutan hak asuh anakmu?" tanya nyonya Irene penasaran
"Hmm,, tidak tahu, sudah dua kali pengadilan memanggil, tapi kamu tau kan keadaannya gimana, aku sangat sibuk sekarang ini" jawab nyonya Sofia
"Iyaa, apalagi kau sebagai tulang punggung untuk kedua anakmu" ujar Irene prihatin terhadap teman karibnya itu
"Alonzo sangat berambisi untuk mendapatkan hak asuh atas mereka, bagaimana pun caranya aku akan mencegahnya" ucap nyonya Sofia cemas
"Aku yakin kau akan menang Sofia, mau ku buatkan secangkir kopi" tanya nyonya Irene
"Kurasa boleh" ujar nyonya Sofia
Segera nyonya Irene pergi untuk membuat secangkir kopi "Kapan hujan akan berhenti" ujar Irene sambil memandang jendela-jendela kantor
Selesai dari membuat kopi nyonya Irene segera pergi menuju ke ruangan kerja nyonya Sofia
"Sofia ini kopimu" ujar Irene sambil menuju ke ruang kerja Sofia.
Dengan kaget Irene melihat Sofia tergeletak di lantai.
"Sofia! Sofia what happened?" teriak Irene cemas
...***********...
Apa yang terjadi pada nyonya Sofia sebenarnya?
Next eps selanjutnya!!