
Sejak nyonya Sofia mengalami kecelakaan, banyak darah yang keluar sehingga membuatnya Kehilangan banyak darah, Sudah dua hari berlalu Alessandro terduduk lemas diruang tunggu rumah sakit. Berjuta perasaan dan pikiran buruk menghantuinya, dia seolah-olah merasuki hati dan fikirannya. Alessandro bertambah tidak karuan ketika dia melihat seorang dokter menutup pintu ruangan tempat dimana ibunya dirawat.
Didalam penantiannya, dia hanya bisa berdo’a dan pasrah kepada Tuhan. Dalam do’a itu dia memohon kepada tuhan supaya ibunya bisa terselamatkan dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.
"Ya Tuhan, sembuhkanlah ibuku, angkatlah semua penderitaannya...." begitulah sekiranya do’a yang Alessandro panjatkan pada sang Maha Kuasa.
Lima belas menit telah berlalu, dan dari kejauhan tampak seorang Dokter berjalan menuju kearah ruang tunggu. Dan Dokter itu berhenti didekatnya. Dia kemudian bertanya, "Apakah disini ada keluarganya?" lalu Alessandro menjawab, "Ya ada, saya anaknya. Bagaimana keadaan mama saya, Dok?" ujarnya penuh tanya dan pengharapan terhadap kesembuhan mamanya.
"Syukurlah, kami tim medis sudah berusaha keras dan hasilnya mama kamu baik-baik saja." Katanya memberi pengharapan kepada Alessandro.
"Saat ini kondisinya sudah berangsur-angsur membaik dan hanya perlu banyak istirahat." Lanjut Dokter menerangkan kondisi ibunya padanya.
"Syukurlah kalau seperti itu, terima kasih Dokter." Ucap Alessandro pada Dokter yang menangani mamanya dirumah sakit itu.
"Dokter, apa saya boleh menjenguknya?" kata Alessandro lagi.
"Oh tentu, silakan." Jawab Dokter itu penuh senyum diwajahnya.
Seketika itu dia tepis jauh-jauh semua pikiran buruk tentang kondisi ibunya. Air mata kesedihannya kini tampak mengering dan berganti dengan air mata kebahagiaan.
"Terima kasih Tuhan, engkau telah memberiku kesempatan untuk berada disampingnya lagi." ucapnya lirih.
Setibanya Alessandro diruang 115, tempat dimana ibunya dirawat, dia langsung duduk dikursi disamping kasur tempat ibunya berbaring. Alessandro membelai rambut ibunya yang kusam dan mengering itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dia selalu berharap kesembuhan ibunya, dia tak henti-hentinya memanjatkan do’a pada sang pemilik segala penyakit dan pemilik segala obat. Tak lupa ia menatap wajah mamanya yang pucat itu, hampir tak ditemui senyum diwajahnya. Maklum ketika itu ibunya sedang tertidur, dia belum mengetahui kalau disampingnya ada putranya. Semakin lama Alessandro menatap wajah ibunya, maka akhirnya dia menemukan juga sosok keindahan diwajah ibunya. Wajah yang nampak tenang dan berseri-seri, seolah telah menghapus semua penderitaan dan kesedihannya selama ini.
Alessandro terpaku saat itu, dan tanpa disengaja dia meneteskan air mata kesedihan. Air mata yang mengingatkannya akan kesalahan-kesalahan yang telah dia perbuat selama ini. Tidak hanya air mata penyesalan yang keluar dari matanya, akan tetapi Alessandro juga menagis terharu saat ingat akan perjuangan ibunya ketika dia berusaha membesarkannya tanpa sang ayah disisi mereka. Sejenak Alessandro terdiam.
Dalam lamunannya itu, Alessandro kembali teringat saat-saat dimana ibunya dengan penuh kasih sayangnya membelainya, saat masih bisa menemaninya, memanjakannya, dan mengajarkannya arti kehidupan.
Lalu pikirannya kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika dia mulai tumbuh besar dan bisa berfikir sendiri. Dan ketika itu Alessandro baru berusia 16 tahun. Alessandro masuk SMA pada usia itu, banyak hal yang dia lakukan pada usianya yang masih sangat muda. Pada saat itu, dia tumbuh menjadi seorang anak yang manja, dia bahkan mulai membatah perkataan ibunya. Alessandro sering pulang malam, dan dia mulai tak memperhatikan perkataan ibunya.
Hal itu tentu membuat ibunya sangat khawatir. Ibunya selalu tabah menasihatinya, dia selalu menasihati Alessandro dengan penuh kesabaran dan perhatian. Kekerasan dan ego tak pernah ia gunakan dalam mendidik anak-anaknya. Ketika Alessandro tersadar dari lamunannya, dia merasa kalau hatinya telah luluh. Dia benar-benar tak tega melihat kondisi ibunya, apalagi jika mengingat usaha ibunya dalam membesarkannya. Ibunya selalu bekerja keras mencari nafkah untuk mereka, dia selalu membating tulang siang dan malam, serta rela melakukan apa saja demi anak-ananya. Sejak saat itu Alessandro bertekad untuk merubah dirinya dan menjadi anak yang baik serta berguna bagi ibunya. Kesedihannya benar-benar pecah ketika dia teringat sosok ayah yang meninggalkan mereka. Tangisnya meledak seketika, air matanya terus mengalir dari pipinya dan menuju kasur yang ibunya pakai untuk berbaring.
Ayah meninggalkannya demi wanita lain. Saat teringat akan hal itu, Alessandro benar-benar merasa sudah tidak ada artinya lagi hidup didunia ini. Dia tidak bisa menggantikan sosok ayah, tapi dia justru membuat ibunya tambah menderita karena harus menanggung beban keluarga sendirian. Dalam hatinya hanya terucap dengan lirih kata "Maaf," sebagai tanda penyesalannya terhadap sikapnya selama ini pada orang ibunya.
Lama Alessandro terdiam, tiba-tiba lamunannya harus berakhir ketika seorang Suster masuk keruangan mereka untuk memeriksa keadaan ibunya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Sus?" tanyanya.
"Oh, kamu tenang saja, kondisi ibumu sudah stabil." Jawab suster itu singkat.
"Kalau begitu, apa saya sudah bisa meninggalkannya untuk sementara? Karena saya harus kembali ke kampus." tanyanya lagi.
"Baiklah kalau begitu, Anda sudah bisa meninggalkannya sekarang. Biar saya yang menjaga dan menemani ibu Anda." Jawab Suster menyakinkannya.
Alessandro mencium kening ibunya dengan lembut seraya mengucapkan sebuah kalimat ketelinganya. "Cepat sembuh ya, mama...." ucapnya lirih sambil keluar dari ruangan.
...***********...
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Next eps selanjutnya!!