
Dibalik panggung restoran, Maverick datang menghampiri Alessandro untuk mempertegaskan lagi kesempatan mereka "Sesuai kesepakatan kau tidak akan menggangguku lagi dengan Laura" ujar Maverick
"Tidak, aku tidak menyepakati kesepakatan itu" jawab Alessandro yang membatali kesepakatan mereka
"Apa yang kau katakan?" tanya Maverick dengan kaget
"Ya, aku tidak akan menjauhi Laura!!" tegas Alessandro lagi
"Tepati janjimu seperti seorang pria pecundang!!" ujar Maverick dengan emosi sambil menarik kerah bajunya Alessandro
Tiba-tiba Alessandro berusaha menonjok Maverick tetapi bisa ditangkis dan Maverick membalas tonjokkannya itu hingga membuat Alessandro terjatuh dari kursi rodanya
"Ada apa ini?" tanya pelayan yang melihat mereka dan berusaha membantu Alessandro untuk bangun
Tiba-tiba pak Nayak pun menghampiri mereka "Tuan Alesso" ujar pak Nayak dengan kaget saat melihat Alessandro terjatuh
"Maafkan aku Alessandro!" ujar Maverick dengan menyesal "Jika kau tidak bisa menerima kekalahanmu maka jangan pernah memberikan tantangan untuk orang, dasar pecundang." tegas Maverick lagi dengan santai sambil meninggalkan mereka.
...............................
Malam semakin larut, Teo dan Emilia memandangi keindahan kota Valencia sambil menikmati sepotong roti kebab
"Kau lihat bulan itu, dia sangat indah bukan? Dulu aku sering melihatnya bersama ibuku"
"Hmm, seperti yang ku bilang dulu, aku lebih suka melihat burung hering yang mencongkel bola matamu"
"Emilia!!" teriak Teo dengan pelan "Terkadang aku melihatmu seperti psikopat ya" ujar Teo dengan kesal
"Hahahaha" Emilia sangat suka melihat raut wajah Teo yang ketakutan "Sumpah kau terlihat sangat tampan saat ketakutan mhahaha!! Aku harus pulang sekarang Teo, ini sudah larut" ujar Emilia
"Baiklah, aku akan mengantarmu!" ajak Teo dengan bersemangat
"Tidak usah aku akan naik taksi saja!" ujar Emilia menolaknya dengan halus
"Naiklah biar aku antar kamu sampai kerumah"
"Aku bilang tidak usah, aku tidak mau ada masalah lagi nanti" ujar Emilia dengan sifat keras kepalanya
"Baiklah, aku akan mencarikan taksi untukmu"
...............................
Keesokan harinya bagaikan hari yang gelap, sinar mentari bersembunyi dibalik relung-relung awan. Kalahnya Alessandro dengan cepatnya waktu yang berputar, harapan sirna bagaikan bayang bayang tak berbekas hilang, secepat mentari berganti malam. Terdengar hembusan hembusan suara angin berseru layaknya dirinya diajak naik keangkasa
"Apa yang harus aku lakukan sekarang." tanya Alessandro pada dirinya sendiri
"Tuan Alesso" panggil bibi Maria yang datang menghampirinya
"Iya Bi"
"Mari sarapan dulu, semuanya sudah bibi siapkan" ujar bibi Maria
"Iya Bi"
Alessandro pun pergi sarapan diantar oleh bibi Maria, tiba-tiba Alessandro teringat masa-masa dulunya yang indah, dimana meja makan ini ditempati ayahnya, ibunya dan juga adiknya, tetapi sekarang hanya dia sendiri yang ada di meja makan untuk menikmati sarapan.
"Bi! Bibi Rosy, bibi Maria! Pak Nayak!" panggil Alessandro dengan suara keras
"Iyaa, ada apa?" tanya bibi Rosy
"Duduklah Bi, pak! Kita akan sarapan bersama-sama" ajak Alessandro dengan sopan
"Tapi!" sahut bibi Maria
"Ayolah Bi" ujar Alessandro memaksa
"Baiklah" ujar mereka yang keheranan dengan tingkah aneh Alessandro.
Dengan keadaan yang canggung mereka pun sarapan bersama
"Apa udah selesai sarapan pak?" tanya Alessandro
"Sudah" jawab pak Nayak dengan sedikit gugup
"Iyaa ayo pak kita berangkat ke kampus" ujar Alessandro
.............................
Dipihak lain, Oliveira menghampiri Emilia yang sedang duduk di halaman rumahnya
"Kemana kau semalam?" tanya Oliveira penasaran kepada Emilia
"Tidak kemana-mana!" jawab Emilia dengan cuek sambil membaca majalah
"Kau pergi dengan seorang pria kan?" ujar Oliveira lagi
"Apa maksudmu?" teriak Emilia
"Jujur saja padaku, siapa dia? Apa dia pacarmu?" tanya Oliveira mulai mengintrogasi
"Bukan urusanmu" ujar Emilia sambil pergi meninggalkan Oliveira
"Bagaimana kalau aku beri tahu papa?" ucap Oliveira mengancam Emilia
"Apa yang kau inginkan?" tanya Emilia dengan kesal
"Aku tunggu pertanyaan itu dari tadi, aku mau kau membantuku" jawab Oliveira
"Bantu apa?" tanya Emilia lagi
"Kau tau kan kalau mama mau aku pindah sekolah ke Kanada" ujar Oliveira
"Ya baguslah!" sahut Emilia
"Tapi aku tidak mau! Kau harus bilang sama papa agar aku tidak jadi pindah ke London, bukankah papa selalu menuruti permintaanmu?"
"Jika aku tidak mau?" tanya Emilia
"Maka jangan salahkan aku kalau papa tau kau pergi dengan seorang pria semalam" ujar Oliveira
"Emangnya papa akan percaya begitu saja padamu"
........................
Sementara itu, disisi lain Maverick datang lagi ke kampusnya Laura untuk bertemu dengannya dengan membawakan sebuah boneka beruang yang besar.
"Itu kan pria kemarin, coba liat dia sangat tampan dan dingin" ujar salah satu mahasiswi disana
"Katanya itu mantannya Laura! Tapi kenapa Laura tidak mau balikan sama dia"
"Entahlah, Laura kan sok jual mahal, kalau aku jadi dia hmmmm"
Seperti biasanya selesai jam perkuliahan di kampus Alessandro dihampiri oleh Laura "Alesso."
"Hai Laura, kamu mau pulang?" tanya Alessandro
"Iya aku akan mencari bis" sahut Laura
"Bareng aku aja, pak Nayak bentar lagi jemput" ajak Alessandro dengan ramah
"Alesso! Aku minta maaf ya soal kemarin malam, aku langsung pulang" ujar Laura dengan nada menyesal
"Iya aku paham, tidak apa-apa kok" jawab Alessandro
Tiba-tiba Maverick datang menghampiri mereka dengan membawa boneka beruangnya "Laura!"
"Dia lagi!!" ujar Laura dengan risih
"Laura, apa kau punya waktu hari ini? Ibuku mengundangmu untuk makan siang, ni aku bawakan hadiah dari ibuku" ujar Maverick sambil memberikan boneka beruangnya
"Ibumu?" tanya Laura dengan keheranan
"Iya, kau tidak mau mengecewakannya bukan." ucap Maverick
"Tidak bisa, hari ini aku akan pergi bersama Alesso, kami akan pergi ke pantai" ujar Laura menolak dengan cara berbohong
"Bersamanya?" sahut Maverick sambil melihat Alessandro "Bukankah kau bilang tidak akan mendekati Laura lagi?" tanya Maverick pada Alessandro
"Apa maksudmu?" tanya Laura kebingungan
"Kemarin malam saat kamu pulang dari restoran, Alessandro menantangku untuk battle instrumen dan kamu dijadikan sebagai taruhannya, jika dia yang memenangkan battle itu maka aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi jika dia yang kalah maka dia tidak akan menggangguku dan membiarkanku balikkan denganmu" ujar Maverick memberitahu Laura
"Apa? Kau mempertaruhkan aku Alesso?" tanya Laura pada Alessandro dengan nada kesal
"Bukan begitu maksudku Laura!" sahut Alessandro membela dirinya
"Siapa kau? Apa hakmu mempertaruhkanku dengan permainan konyol kalian berdua. Aku kecewa denganmu Alesso!!" ujar Laura sambil bergegas pergi meninggalkan mereka
"Laura?" panggil Alessandro mencoba menghentikannya
"Semua pria sama saja, mereka tidak pernah mengerti perasaan perempuan." ujar Laura mengoceh
"Kau lihat, ini semua salahmu!" Maverick menyalahkan Alessandro sambil bergegas mengejar Laura dengan mobilnya
"Apa yang telah aku lakukan?" tanya Alessandro pada dirinya sendiri
"Laura Laura tunggu Laura, dengarkan aku! Aku menerima tantangan Alessandro bukan untuk mendapatkanmu, aku hanya menerimanya sebagai sebuah tantangan. Aku tidak berniat kamu sebagai taruhan didalam tantangan itu." ujar Maverick
"Aku mohon padamu Maverick tinggalkan aku, aku tidak ingin kau kembali dalam hidupku, aku mohon pergilah!!" ucap Laura sambil menangis
"Apa sebesar itu kau membenciku?" tanya Maverick dengan nada lesu
Laura hanya terdiam dan menangis
"Lihat mataku Laura dan jawab pertanyaanku! Sebesar itukah kau membenciku?" tanya Maverick lagi
Tiba-tiba Bonito datang menghampiri mereka "Laura? Kenapa kau menangis! Apa yang kau lakukan padanya hah?" ujar Bonito sambil mendorong Maverick
"Aku tidak apa-apa Bonito" ujar Laura
"Ayo biar aku antar kau pulang" ajak Bonito
Agar tidak diganggu oleh Maverick lagi, Laura pun mau diantar oleh Bonito. Dalam perjalanan pulang, Laura terus saja menangis. Bonito sangat kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi pada Laura "Ada apa denganmu, jangan terus menangis, siapa pria itu? Apa dia menyakitimu?" tanya Bonito dengan cemas
Laura hanya terus menangis, dia tidak merespon pertanyaan Bonito
"Oke tidak apa-apa jika kau tidak mau cerita, tapi tolong jangan menangis ya! Sebelum aku mengantarmu pulang bagaimana jika kita makan siang dulu?" tanya Bonito dengan penuh perhatian
Laura hanya menganggukkan kepalanya
"Oke mari kita pergi" ujar Bonito
Mereka pun pergi makan di sebuah Cafe, tak lama kemudian mereka pun tiba di Cafe...
"Pelayan!" panggil Bonito "Kamu mau pesan apa Laura? tanya Bonito
"Terserah kamu saja!"
"Baiklah. Aku pesan churros dengan sangrĂa dua ya"
"Baiklah, mohon tunggu sebentar ya" ujar pelayan itu
"Laura, sudahlah jangan sedih lagi banyak orang disini, kita makan terus aku antar kau pulang dan kau bisa beristirahat."
"Terimakasih atas perhatianmu bon" sahut Laura
"Ini makanan anda, selamat menikmati" ujar pelayan Cafe
"Terimakasih"
"Laura!! Nanti malam kamu mau gak pergi ke bioskop" ajak Bonito dengan sopan
"Aku tidak tahu?"
"Yasudah tapi jika kau ingin pergi kabarin aku aja! Aku akan menjemputmu"
...*******...
Bagaimana kisah selanjutnya!
Next eps selanjutnya?