
"Maaf membuat kalian menunggu."
Sebuah suara yang sangat Adaline kenali mengalun begitu tenang.
"Hans." Ucap Adaline setelah melihat Hans.
Hans melihat siapa orang yang dia temui di ruangan VIP itu.
"Kau..."
Hans mencoba membuka kembali pintu ruangan dan akan pergi dari sana. Namun belum sempat Hans keluar, tangannya telah di tarik oleh seseorang dari belakang.
"Hans, aku mohon jangan pergi. Aku...Aku ingin bicara denganmu." Ucap Adaline Wilson.
Hans melepaskan gagang pintu dan berbalik menatap kedua mata Adaline dengan tajam.
"Nona muda Wilson, apa lagi yang ingin kau katakan padaku? Apa belum cukup kau mengangguku?" Ucap Hans dengan dingin.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
Hans menghempaskan tangan Adaline dengan keras dari tangannya. Dia menatap tajam Adaline dan Carlos.
"Jadi apa? Untuk apa kalian berpura-pura dan masuk ke dalam Club* ini?" Seru Hans dengan keras.
Adaline menelan lud4hnya dengan susah, tatapan mata Hans begitu tajam dan dingin padanya.
"Bisakah kita duduk sebentar?" Ucap Adaline dengan hati-hati.
"Tidak, lebih baik kalian..."
"Hans, hanya kali ini. Setelah itu kami tidak akan mengganggumu lagi." Ucap Carlos yang sejak tadi diam.
Hans diam.
"Hans, aku mohon." Ucap Adaline sambil mengantupkan kedua tangannya pada Hans.
"Baiklah. Aku beri waktu 15 menit kepada kalian."
"Baik, tidak apa-apa."
Hans berjalan dan duduk di salah satu sofa. Begitupun dengan Carlos dan Adaline yang duduk di seberang meja.
Adaline merasa sedikit gugup, namun dia mencoba menenangkan dirinya.
Dia ingin semua kesalah pahaman ini segera selesai, sehingga dia bisa menepati janjinya pada Dave, kakak Hans.
"Katakan tujuan kalian." Ucap Hans.
"Baik, kami..."
drrrttttttt drrttttttt
Baru saja Adaline membuka mulutnya untuk berbicara, tiba-tiba ponselnya bergetar dengan hebat diatas meja.
Hans melihat itu, "Jawab itu, lalu cepat katakan semuanya." Ucap Hans.
Adaline mengangguk, dengan cepat dia mengambil ponselnya lalu berjalan keluar dari ruangan, untuk menjawabnya.
Hans yang duduk di salah satu sofa menatap Carlos yang ada didepannya.
"Sepertinya kau sudah mengetahui banyak tentangku." Ucap Hans.
Hans mengambil wine yang ada diatas meja lalu menuangkannya kedalam gelas.
"Ya, meskipun sangat sulit." Ucap Carlos.
Hans mengangguk, dia meneguk sedikit wine yang dia tuang kedalam gelas tadi.
"Jadi apa saja yang sudah kau tahu?"
"Hans..."
Braaak!
Pintu terbuka cukup keras. Hans dan Carlos menoleh ke arah pintu. Mereka melihat bartender terengah-engah didepan pintu.
"Xin, ada apa?" Tanya Hans.
"Ada apa dengan dia?" Tanya Carlos cemas.
"Dia di lantai bawah, dia sedang di...."
Belum sempat selesai perkataan Xin, Hans membuang gelas yang ada di tangannya lalu bergegas keluar, di ikuti oleh Carlos dibelakangnya.
Dengan cepat Hans menuruni tangga, dia melihat di tengah kerumunan Adaline sedang di paksa minum oleh beberapa orang pengunjung Club* nya.
Mata Hans nanar melihat hal itu, tangannya mengepal kuat.
Setengah berlari Hans menghampiri kerumunan itu lalu, tanpa berpikir lagi Hans langsung m*nghajar dua orang yang tengah memaksa Adaline.
"B*ngsat!!!" Seru Hans dengan geram.
Dua laki-laki itu tersungkur diatas lantai.
Musik yang tadi mengalun didalam Club* berhenti. Hans menatap Adaline yang duduk di kursi dengan lunglai.
Entah sudah berapa banyak minuman yang sudah dia minum dengan paksa.
"Adaline, Adaline!" Hans meraih kedua pipi Adaline dan menatap wajah yang sudah merah karena alkoh0l*.
"Hans..."
Adaline langsung memeluk tubuh Hans, saat dia tahu laki-laki yang berada didepannya itu adalah Hans.
"Adaline bertahanlah." Ucap Hans.
"Panas, sangat panas. Aku ingin...."
Hans semakin meradang, saat dia tahu jika mereka sudah mencampurkan obat per4ngsang* pada minuman yang Adaline minum.
"Xin! Alan!" Teriak Hans.
"Iya bos kami disini." Ucap Alan.
"Lakukan dengan bersih pada mereka berdua."
Alan dan Xin mengerti maksud dari perintah Hans.
"Lepaskan aku! Hans dia hanya tamu disini. Kami hanya ingin bersenang-senang dengan orang baru." Ucap salah seorang laki-laki yang tadi memaksa Adaline minum.
Hans menoleh dan menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Kau boleh bermain dengan siapa saja, asal tidak dengan dia!" Seru Hans.
"Hans, lepaskan kami. Kami tidak tahu siapa dia."
"Kalian tidak tahu, tapi kalian berani melakukan ini padanya! Bukankah kalian lihat dia masuk kedalam ruang VIP khusus dimana aku selalu kesana?"
Mereka baru sadar jika siapapun tamu yang masuk kedalam ruang VIP itu, adalah tamu Hans yang tidak boleh di sentuh oleh siapapun.
"Hans kami minta maaf, kami...."
"Hans panas." Ucap Adaline sambil meraih tangan Hans, dan mencoba membuka kancing* bajunya sendiri.
Hans yang melihat itu langsung menahan tangan Adaline.
"Carlos, hubungi dokter, cepat!" Ucap Hans.
Carlos mengangguk, dengan cepat Carlos menghubungi dokter untuk datang ke Club* itu.
"Xin, Alan. Bawa dan beri sedikit hadiah pada dua orang itu, lalu kembalikan pada ketua mereka. Katakan jika mereka sudah mengganggu orangku." Ucap Hans pada dua anak buahnya.
"Siap bos."
Alan dan Xin lalu menyeret dua orang itu keluar.
"Hans lepaskan kami, kami tidak tahu. Hans!" Teriak dua orang laki-laki itu.
Semua orang tahu peraturan di Club* Clue. Mereka bisa bersenang-senang disana, tapi dengan pengecualian. Mereka tidak boleh menyentuh siapapun tamu yang masuk kedalam ruang VIP no 2 di dalam Club* itu.
Jika mereka melanggar, maka mereka akan mendapat konsekuensinya. Setidaknya satu tangan mereka akan patah, itu karena tamu yang masuk kedalam ruang VIP adalah tamu untuk Hans. Jadi tidak seorangpun boleh menyentuh tamu itu tanpa persetujuan dari Hans atau tamu itu sendiri.