ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 42



Ini adalah hari ketiga setelah meninggalnya Carlos,dan Adaline masih tinggal di mansion Hans.


Walaupun Hans tidak melarang jika Adaline ingin pergi, namun Adaline sepertinya masih merasa takut untuk keluar dari mansion.


Sekarang Xiao Yu Wen lebih banyak menghabiskan waktunya duduk di taman belakang mansiom Hans. Disana memang banyak anak buah Hans yang berlatih, tapi Adaline tidak begitu peduli.


Alan melihat Adaline duduk di taman belakang lagi seperti sebelumnya, dia lalu mendekati wanita itu.


"Selamat siang nona Adaline." Ucap Alan.


"Selamat siang." Ucap Adaline sambil mendongak untuk melihat siapa yang menyapa dirinya.


"Apa anda ingin keluar untuk jalan-jalan?"


Adaline menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak mau."


Alan duduk di samping kursi yang di duduki oleh Adaline.


"Saya tahu kematian Carlos tidak bisa di tebak, kami sudah mencoba untuk menyelamatkan dia, tapi..."


"Aku tahu, ini semua bukan salah kalian. Kalian sudah banyak membantuku dan Carlos, hanya saja semuanya terjadi begitu tiba-tiba."


"Dua hari ini bos merasa tidak baik, meninggalnya Carlos membuatnya kembali teringat pada kakaknya."


Adaline menatap Alan tidak mengerti.


"Ehem, bisakah nona Adaline datang dan mencoba berbicara dengan bos? Setiap hari bos selalu keluar masuk ruang bawah tanah dan menyiksa mereka. Walaupun bos terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin, tapi jika setiap hari dia seperti itu.... Bukankah tidak baik?"


Adaline mengalihkan pandangannya, "Apa dia selalu seperti itu?"


Alan menggeleng, "Tidak, selama ini jika musuh kami sudah di tangani oleh Joe, maka bos tidak akan lagi turun tangan. Tapi kali ini, walaupun Joe berkata bahwa dia akan menangani mereka dengan baik, bos masih tetap ikut turun tangan."


"Apa dunia kalian selalu begitu, memukul dan membunuh orang?"


"Tidak juga, hanya jika ada orang yang mengusik seperti mereka, kami baru bertindak."


Adaline diam tak menanggapi ucapan Alan.


"Benar, bos juga memiliki beberapa panti asuhan." Ucap Alan lagi.


Adaline menatap Alan dengan tidak percaya.


"Saya sudah menduganya, pasti anda tidak tahu hal itu. Bos, selain mempunyai beberapa mansion di beberapa negara, dan mempunyai banyak anak buah serta terkenal dengan kekejamannya, dia juga mempunyai beberapa panti asuhan dan sekolah bagi anak-anak tidak mampu di beberapa tempat dan negara." Ucap Alan.


"....Benarkah?"


Alan mengangguk, "Setelah kakaknya meninggal dan mendirikan Red Dragon ini, bos juga membangun panti asuhan dimana anak-anak terlantar atau yatim piatu bisa tinggal disana. Beberapa bulan setelah membangun satu panti dia membangun panti asuhan yang lain dan juga setelah berhasil mengikuti bisnis di dunia atas, bos membangun beberapa sekolah bagi anak-anak yang tidak mampu."


"Bisnis? Bisnis apa?"


"Bos mempunyai beberapa kasin0, Club* malam dan juga tempat penghasil uang lainnya."


Adaline tidak pernah tahu jika Hans adalah orang yang sangat kaya, namun dia selalu menutupinya dan bersikap seperti orang biasa.


"Sebenarnya bukan hanya di segani di dunia bawah, bos juga sangat di hormati di dunia bisnis."


"Sungguh? Kenapa aku tidak tahu hal itu?"


"Karena semuanya bos serahkan pada kami. Tapi meski begitu, setiap tindakan selalu menunggu keputusan akhir yang ada di tangan bos."


Adaline yang cukup terkejut sulit mencerna semua itu, karena dalam waktu yang singkat Hans sudah menjadi orang yang jauh melampaui dirinya. Dan semua itu dia lakukan seorang diri.


"Kak Dave, kau memang mempunyai adik yang sangat hebat. Tetapi dia sangat sulit di pahami."


Alan berdiri dan berjalan beberapa langkah.


"Jika anda ingin keluar, bicaralah pada bos. Dan tolong bawa bos keluar juga. Kami tidak tahu harus membujuknya dengan cara apa lagi agar dia bisa menghentikan penyiksaan itu." Ucap Alan.


Adaline mengangguk mengerti.


Setelah berbicara itu, Alan pergi meninggalkan Adaline sendirian di taman.


...----------------...


Didalam kamar, Hans tengah membalut tangan kirinya dengan perban. Beberapa hari menyiksa para musuhnya membuat tangan kirinya sedikit terluka.


Selesai membalut luka, Hans berjalan menuju balkon kamar. Dari atas dia melihat Adaline duduk termenung sendirian.


"Haahh, sampai dia akan seperti itu?" Ucap Hans.


Hans masuk kembali kedalam kamar, lalu menghubungi Alan untuk membawa Adaline keluar, Alan berkata jika dia sudah membujuknya, tetapi Adaline memberi alasan, jika Adaline hanya ingin keluar dengan Hans saja.


"Ada apa dengannya? Hanya ingin keluar denganku." Ucap Hans setelah menghubungi Alan.


Hans menyimpan ponselnya lalu berjalan keluar dari kamar setelah berganti pakaian.


"Alan." Ucap Hans.


"Iya bos."


"Bawa dia kesini."


"Baik bos."


"Nona Adaline." Ucap Alan.


"Iya, apa ada yang ingin kau katakan lagi?"


"Bos ingin bertemu dengan anda."


"Hans?"


Alan mengangguk.


"Dimana dia?" Ucap Adaline.


"Bos ada di dalam."


"Baik, aku mengerti."


Adaline berdiri dan berjalan masuk kedalam mansion.


Diruang keluarga, Adaline melihat Hans tengah duduk sambil memainkan ponselnya.


"....Hans?" Ucap Adaline.


Hans menoleh setelah mendengar namanya di panggil .


"Kau sudah datang, ayo kita keluar." Ucap Hans.


Adaline menatap Hans dengan heran dan penuh tanya.


"Bukankah kau tidak mau keluar jika tidak keluar denganku?" Ucap Hans lagi.


"Ah? Aku.... Aku."


"Nona Adaline, tidak apa-apa. Tidak akan ada orang yang berani menganggu anda dan bos." Ucap Alan memotong perkataan Adaline dengan cepat.


"Ayo." Ucap Hans seraya berdiri.


Adaline melihat kearah Alan dengan curiga, namun seketika tubuhnya terasa ditarik oleh seseorang.


Saat Adaline menoleh, ternyata tubuhnya di tarik oleh Hans yang sudah berada di depannya .


Alan tersenyum melihat bosnya yang akhirnya mau keluar, setelah beberapa hari bersenang-senang di dalam ruang bawah tanah.


Hans dan Adaline keluar dari mansion dan naik ke dalam mobil.


Supir pribadi Hans yang tidak lain adalah anak buah Hans, melajukan mobil dan membawa mereka ke sebuah mall.


Adaline melirik kearah Hans yang melihat keluar jendela.


"Kenapa kau tidak keluar, apa kau tidak bosan di dalam mansion setiap hari?" Tanya Hans tiba-tiba.


"Tidak, bukan begitu."


"Lalu?"


Adaline diam, dia memalingkan pandangannya kesamping melihat jalanan kota.


"Aku takut untuk berjalan keluar. Sekarang semua pasti sudah mengetahui tentang kematian Carlos, dan mereka yang sejak dulu ingin melenyapkanku pasti sangat senang, dan akan berusaha untuk membuatku mati demi mendapatkan semua yang aku miliki." Ucap Adaline.


"Kau takut?"


Adaline mengangguk pelan "Aku takut. Jika aku mati, aku belum bisa melakukan apa yang kakek inginkan."


"Apa itu?"


"Menjadikan kediaman lama sebagai panti asuhan dan menikah dengan orang yang aku cintai."


Hans tersenyum mengejek mendengar alasan kedua Adaline.


Adaline sendiri tidak peduli dengan apa yang Hans pikirkan, tapi itu memang keinginan kakeknya. Karena tuan besar Wilson tidak mau kediaman lama di huni oleh anak-anaknya yang rakus dan sombong, juga tidak ingin Adaline menikah dengan orang yang tidak mencintainya.


Diam-diam Adaline melirik kearah Hans, dan tidak sengaja melihat tangan kiri Hans yang berbalut perban.


Dengan cepat Adaline meraih tangan Hans, "Kau terluka?"


Hans yang tiba-tiba tangannya di raih terkejut.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil. Beberapa hari lagi akan sembuh."


"Apa kau selalu mendapatkan luka seperti ini?" Dengan hati-hati Adaline meletakkan kembali tangan Hans.


"Ada apa?"


"Kau... Kau tidak takut jika suatu saat nyawamu akan..."


"Tidak ada yang berani melakukan itu."


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Karena orang yang ingin melakukannya sudah tergeletak tak berdaya di dalam ruang bawah tanah mansion ku."