ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 18



Hans mengangguk " Aku dengar Adaline Wilson mempunyai orang kepercayaan yang sudah mati. Apa kau juga yang sudah membunuhnya?"


"Benar! Sudah sangat lama aku mengincar nyawa orang itu, dan akhirnya aku bisa membunuhnya." Ucap Ronald Lu penuh semangat.


"Dengan pisau atau pistol kau membunuhnya?"


Hans mencoba menekan emosinya setelah mendengar pengakuan Ronald Lu jika dialah orang yang membunuh kakaknya.


"Tentu dengan pist0l. Dia adalah pengawal yang paling kuat, aku tidak mungkin bisa menang darinya." Ucap Ronald Lu.


"Pist0l?"


"Benar, dengan ini."


Ronald mengeluarkan dan meletakkan pist0l yang selalu setia menemani dirinya kemanapun dia pergi diatas meja.


Hans menatap pist0l itu lalu mengambilnya. Dia mengamati pist0l itu seksama.


"Ini bukan buatan anak buahku." Ucap Hans.


"Tentu, saat itu mungkin Red Dragon belum terbentuk. Aku membeli pist0l itu dari kelompok Blue Lion."


Blue Lion, nama kelompok mafia itu tentu akan Hans ingat baik-baik.


"Jadi, siapa nama orang yang kau bunuh itu?"


"Dave, Dave Edward."


"Dave Edward?"


"Benar, dia adalah orang kepercayaan keluarga Wilson. Aku juga tidak menyangka jika dia akan mati di tanganku dengan cepat."


Hans menatap Ronald Lu penuh tanya.


"Iya, waktu itu aku hanya ingin menembak temannya. Tapi dia malah melindungi temannya itu dengan tubuhnya sendiri. Benar-benar aku sangat beruntung." Ucap Ronald Lu.


Hans mengalihkan pandangnnya pada pist0l yang dia pegang. Rahangnya mulai mengeras karena sudah tidak bisa menahan semua emosinya.


Hans melirik kearah Alan, disana anak buah Ronald sudah tidak sadarkan diri karena minuman yang di berikan Alan mengandung obat bius.


"Apa kau tahu siapa Dave Edward itu?" Ucap Hans.


"Yang aku tahu dia adalah orang dari negara C, yang di perintahkan untuk melindungi keluarga Wilson."


"Apa kau tidak tahu keluarga Dave Edward itu?"


"Hmm, keluarga? Yang aku tahu dia hanya punya satu adik, dan Joe Wilson juga sedang mencari adik Davve Edward itu."


"Oh, benarkah?"


"Iya, dia tidak mau Dave Edward kedua muncul dan akan membuatnya kesulitan lagi."


Hans berdiri dari sofa masih dengan pist0l milik Ronald Lu di tangannya.


"Apa kau tahu siapa namaku yang sebenarnya Ronald Lu?" Ucap Hans.


"Bukankah nama mu Hans? Aku hanya tahu itu."


"Hahaha, ya namaku adalah Hans, tetapi semua orang tidak ada yang tahu nama keluarga ku. Apa kau tahu kenapa?"


Ronald menatap Hans dengan bingung, ada sedikit rasa tidak nyaman pada tatapan yang terpancar dari mata Hans.


"Hans..."


"Namaku adalah Hans Edward."


"Ha... Hans Edward?" Ucap Ronald Lu pelan.


"Benar, itu namaku. Apa kau ingat dengan orang lain bernama Edward, Ronald Lu?"


Ronald Lu terkejut, Dave Edward. Hanya dia satu-satunya orang dengan nama keluarga Edward yang ssat ini Ronald Lu tahu.


"Ka.... Kau...Kau adik...."


"Benar, aku adalah adik dari Dave Edward. Orang yang sudah kau bunuh."


Kedua mata Ronald Lu membulat karena terkejut, dia lalu melihat anak buahnya yang sudah terkapar tak berdaya. Seketika dia tahu, kalau dia masuk kedalam sarang serigala buas.


"Ha...Hans.... Kau.... Kau tidak sedang bercanda bukan?" Ucap Ronald Lu yanh mulia takut.


"Hahaha, untuk apa aku bercanda denganmu Ronald Lu. Apa kau tahu sudah lama aku mencari orang yang membunuh kakakku? Tidak ku sangka orang itu adalah pelanggan setiaku sendiri." Ucap Hans dengan lantang.


"Hans...Hans... Aku... Aku tidak tahu kalau dia adalah kakakmu."


"Tentu saja kau tidak tahu, karena waktu itu aku belum membentuk Red Dragon. Jika sudah, apakah kau masih akan berani menyentuh orangku?"


Ronald Lu menelan lud4hnya dengan susah. Walaupun Ronald Lu juga seorang ketua mafia, namun dia berasa mendapat tekanan yang sangat kuat dari Hans, karena itu dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa.


"Pist0l ini yang sudah membuatku kehilangan kakakku, aku ingin lihat orang yang memintamu melakukannya akan berbuat apa, jika kau lenyap dengan pist0l yang sama." Ucap Hans sambil memainkan pist0l itu.


Ronald Lu menggelengkan kepalanya, seumur hidup dia percaya tidak ada orang yang akan lepas dari tangan mafia spik0pat di depannya itu.


Bahkan hampir semua ketua kelompok mafia tidak ingin menyinggungnya, karena itu mereka sangat menghormati Hans bahkan anak buahnya.


Hans mengarahkan pistol itu pada Ronald Lu. Dia menarik pelatuk pist0l itu yang membuat Ronald Lu seketika berdiri, dan mundur beberapa langkah hingga akhirnya dia tidak bisa pergi kemanapun.


Hans memicingkan salah satu matanya, membidik sasaran yang ada di depannya.


Door!


Sebuah p3luru melesat dengan cepat kearah Ronald Lu.


"Aaaaaaaagh!!!"


Teriakan dari Ronald Lu bak longlongan serigala di malam hari yang memenuhi ruangan itu.


Darah keluar dengan deras dari kaki kiri Ronald Lu.


Melihat itu Hans mengeluarkan senyum d3vilnya, kedua mata Hans seolah mengunci mangsanya yang sudah tidak berdaya.


Door!


Tembakan kedua mengenai tangan kanan Ronald Lu.


Tubuh Ronald Lu kini terduduk di lantai, dengan darah yang keluar dari kaki dan tangannya.


"Hans... Hans... Aku mohon maafkan aku... Aku... Akan melakukan...Apapun...Tolong." Ucap Ronald Lu sambil menahan rasa sakit.


Hans tersenyum dengan dingin, dan mengusap pist0l yang dia pegang.


"Apapun?" Ucap Hans.


"Iya... Iya apapun." Ronald Lu menyanggupi sambil anggukan kepala.


"Apa kau bisa mengembalikan kakakku?"


Ronald Lu terkejut mendengar itu, karena hal itu tentu tidak bisa dia lakukan.


"Tidak bisa bukan? Aku yang bisa membunuhmu saja tidak bisa melakukannya. Lalu bagaimana denganmu yang nyawanya ada di tanganku?" Ucap Hans.


Ronald Lu menggelengkan kepalanya. Di depannya saat ini berdiri seorang p3mbunuh dan spik0pat yang sangat di takuti.


Saat ini Ronald Lu mengerti kenapa para ketua mafia lainnya tidak berani menyinggung Hans.


"Alan! Bawa kedua s4mpah ini keruang bawah tanah. Aku akan perlahan bermain dengan mereka." Ucap Hans dengan aura membunuhnya.


"Baik bos."


"Satu lagi, hancurkan Black Tiger. Dan umumkan jika Black Tiger sudah musnah di tanganku."


"Dengan senang hati bos."


Ronald Lu menatap Hans dengan mata merahnya. Hidupnya pasti hanya tinggal beberapa hari saja, karena dia tahu Hans akan menyiksanya samoai dia mati.


"Tidak! Hans aku mohon...akh... Aku mohon ampuni aku... Aku... Aku akan membuat keluarga Wilson itu hancur." Ucap Ronald Lu mencoba untuk mengubah keputusan Hans.


Hans menatap Ronald Lu dengan tatapan tajamnya, "Menghancurkan lalat tidak perlu menggunakan kotoran. Itu hanya akan membuatku bosan."


Hans berjalan keluar dari ruangan itu dengan membawa pist0l milik Ronald.


Alan telah meminta anak buah Hans yang lain masuk untuk mereka membawa Ronald Lu, juga anak buahnya ke ruang bawah tanah, seperti keinginan Hans.


Club* itu adalah Club* dimana terjadi banyak transaksi gelap. Dan bagi Hans, Club* itu adalah tempat untuk menyiiksa para musuhnya.


Karena dia membuat dua ruang khusus di bawah tanah untuk bersenang-senang, sebelum dia melenyapkan para musuhnya itu.