ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 47



Hans yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Adaline terdiam, namun sedetik kemudian dia merasakan tubuh Adaline gemetar.


Dengan pelan Hans mencoba melepaskan pelukan mereka, namun Adaline tidak mau melepaskan pelukannya.


"Adaline lepaskan. Kau bisa membunuhku jika kau seperti ini." Ucap Hans.


Adaline tidak peduli dengan ucapan Hans, rasa takutnya terhadap hantu lebih besar di bandingkan rasa takutnya pada Hans.


Melihat tidak ada perubahan, Hans mencoba melepaskan pelukan mereka lebih kuat dan akhirnya pelukan mereka terlepas.


Hans melihat tubuh Adaline yang masih gemetar, sementara kepala Adaline menunduk.


"Katakan padaku, apa yang terjadi?" Ucap Hans.


Adaline tidak menjawab.


"Baik. Jika kau tidak mau menjawab, aku akan keluar." Ucap Hans lagi.


"Tidak, jangan pergi." Ucap Adaline sambil memeluk tubuh Hans lagi.


"Kalau begitu, katakan apa terjadi."


"Aku... Aku takut."


"Takut?"


Adaline mengangguk dengan cepat, "Aku takut sendirian di kamar."


"Takut kenapa?"


"Takut..... Ada hantu yang akan membawaku pergi."


Hans mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang Adaline katakan.


"Katakan dengan jelas, apa yang kau bilang tadi?"


Adaline perlahan melepaskan pelukannya dan duduk di atas ranjang.


"Tadi sore, aku..aku menonton film horor sendirian. Dan aku lihat han..hantu itu keluar dari bawah tempat tidur, dan.... menarik kaki manusia untuk di bawa ke..."


"Kau masih berani menonton film seperti itu, sementara kau takut di kamar sendirian?"


Adaline mengangguk pelan lalu menarik tangan Hans dan menatapnya.


"Te...Temani aku tidur malam ini. Bo.....Bolehkan?" Ucap Adaline.


Hans menatap Adaline dengan tajam, dia tidak mengerti apa saja yang ada didalam kepala wanita itu. Sudah tahu takut, tetapi masih menonton film horor.


"Aku akan meminta Alan untuk menemanimu." Ucap Hans.


Adaline menggelengkan kepalanya beberapa kali, "Tidak mau, aku ingin kau yang menemaniku. Aku mohon, Hans."


"Adaline!"


"Aku mohon temani aku, Hans."


Mata Adaline mulai berkaca-kaca, dan terlihat sangat ketakutan saat ini.


Hans mengusap wajahnya, karena tidak percaya jika dia harus menemani Adaline tidur malam ini. Walaupun mereka pernah melakukan hal itu sebelumnya, tetapi bagi Hans itu hanya sebuah pertolongan pada Adaline.


"Hans." Ucap Adaline.


"Baiklah, aku akan menemanimu. Kau tunggu disini, aku akan segera kembali."


Adaline mengangguk dan melepaskn tangan Hans.


Hans keluar dari kamar Adaline dan berjalan menuju kamarnya sendiri.


Tak berapa lama Hans kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa laptop dan gelas berisi air putih. Dia melihat Adaline duduk sambil memeluk lututnya yang di selimuti.


"Lihat saja, jika aku tahu kau menonton film seperti itu lagi, aku akan membiarkanmu tidur di ruang bawah tanah bersama para wine." Ucap Hans.


"Aku berjanji tidak akan menonton itu lagi."


Hans meletakkan laptopnya dan memberikan gelas berisi air pada Adaline, "Minumlah lalu tidur."


Adaline menerima gelas itu dan meminum airnya dengan cepat, seperti sudah beberapa hari dia tidak minum.


Hans duduk di samping Adaline lalu membuka laptopnya.


Adaline memperhatikan wajah Hans yang terlihat cukup serius itu.


"Cepat tidur. Jika tidak tidur juga, aku akan tidur di kamarku sendiri." Ucap Hans tanpa menoleh.


"Jangan! Aku akan tidur."


Saat ini jantung Adaline berdetak sangat cepat, dia tidak mengira jika malam ini dia akan meminta Hans untuk menemaninya tidur seperti anak kecil.


Hans yang fokus pada layar laptopnya tidak begitu peduli dengan Adaline yang diam-diam memperhatikan dirinya.


Tak berselang lama Adaline tertidur sambil memeluk gulingnya di samping Hans.


Mendengar dengkuran halus di sampingnya, Hans menoleh dan melihat Adaline sudah terlelap dalam tidurnya.


Perlahan tangan Hans terulur dan merapikan rambut Adaline yang jatuh menutupi sebagian wajahnya.


"Haahh, aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap mu." Gumam Hans.


Hans kemabli fokus pada layar laptopnya, karena dia tidak mau terus menerus memikirkan Adaline yang sudah di dalam alam mimpinya itu.


Satu jam kemudian, Hans yang telah menyelesaikan pekerjaannya, mematikan dan meletakkan laptop itu di atas meja yang tidak jauh dari ranjang.


Kemudian Hans kembali duduk di atas ranjang, "Kenapa aku harus mengiyakan keinginan wanita ini?"


Hans membaringkan tubuhnya lalu menatap wajah Adaline yang putih tanpa noda itu dengan lekat, hingga akhirnya dia tertidur.


...----------------...


Pagi harinta Hans terbangun karena tubuhnya terasa panas dan tidak nyaman. Dia lalu membuka matanya dan melihat jika tubuhnya tengah di peluk dengan erat seperti guling oleh Adaline, sementara guling yang tadi malam di peluk oleh Adaline entah pergi kemana.


Dengan hati-hati Hans mengangkat tangan Adaline yang memeluk tubuhnya dengan erat.


"Eung.."


Adaline memper-erat pelukannya, seperti tidak mau melepaskan Hans.


Hans memejamkan kedua matanya, dan mencoba untuk menahan agar tidak emosi. Di lihat wajah Adaline yang masih tertidur pulas di sampingnya.


"Sangat menggemaskan." Gumam Hans.


Sedetik setelah mengucapkan itu, Hans menggelengkan kepalanya seperti sedang menyadarkan dirinya atas apa yang dia katakan tadi.


Hans mencoba membangunkan Adaline karena dia tidak bisa melepaskan pelukan wanita itu pada dirinya.


"Adaline bangun, Adaline." Ucap Hans sambil menepuk-nepuk tangan Adaline.


Tidak ada reaksi apapun dari Adaline, dan itu membuat Hans sedikit geram.


"Adaline Wilson, bangun!" Seru Hans.


Mendengar seruan itu, Adaline mengerjapkan kedua matanya.


"Eung...Ada apa? Kenapa berisik sekali?"be Adaline dengan suara khas bangun tidurnya.


Hans tidak menjawab, dia menatap Adaline dengan tatapan elangnya.


Adaline yang baru saja bangun melihat Hans yang berada sangat dekat dengan dirinya, lalu merasakan jika tangannya sedang menyentuh sesuatu.


Dengan ragu-ragu Adaline melihat dirinya yang sedang memeluk tubuh Hans.


"Sudah puas memeluknya?" Ucap Hans.


Adaline terdiam sesaat, lalu menarik tangan juga kakinya yang berada di atas tubuh Hans dengan segera.


"Ma...Maaf, aku...."


"Cukup, sekarang bangun dan mandilah."by Hans menyela perkataan Adaline.


Adaline mengangguk dengan pelan.


Hans turun dari ranjang lalu berjalan keluar dari kamar Adaline sambil membawa laptopnya.


Baru saja keluar dari kamar Adaline, Hans bertemu dengan Alan yang akan pergi ke ruang makan.


Alan menatap Hans dan pintu kamar Adaline secara bergantian dengan heran.


"Bos, kenapa bos keluar dari...."


"Tidak usah ikut campur." Ucap Hans cepat.


Hans lalu berjalan ke kamarnya sendiri.


Alan yang masih berdiri disana merasa bingung dengan bosnya, lalu mencoba menebak apa yang Hans lakukan pagi-pagi keluar dari kamar Adaline.


"Jangan-jangan tadi malam bos tidur dengan nona Adaline."


Tidak ingin terus memikirkan apa yang bosnya lakukan dengan Adaline, Alan kembali berjalan menuruni tangga dan pergi keruang makan.