
Di dalam Club*, Ronald Lu sudah datang dengan seorang anak buahnya. Dia sudah pernah datang ke Club* itu beberapa kali, jadi dia hanya membawa satu orang anak buah, karena dia tidak merasa curiga saat Alan mengundangnya ke Club* itu untuk melakukan hal yang bisa membuatnya celaka.
"Bos, tumben sekali Hans mengundang kita hari ini?" Ucap anak buah Ronald Lu.
"Mungkin dia ingin bekerja sama dengan kita."
Anak buah Ronald Lu mengangguk.
Tak berapa lama, Hans dan dua orang anak buahnya masuk, sementara anak buah yang lain dia tugaskan untuk berjaga di semua ointu Club*, lantai paling atas dan beberapa berbaur dengan tamu.
Walaupun Club* itu adalah miliknya, dia tidak ingin melakukan kesalahan dalam menangkap dan menghukum buruannya.
"Maaf aku datang terlambat." Ucap Hans saat sudah berada didepan Ronald Lu.
Ronald Lu sedikit mendongak dan menatap Hans dalam keremangan.
"Tidak apa-apa, aku tahu kau pasti sibuk." Ucap Ronald Lu dengan santai.
"Kita ke atas, akan lebih nyaman berbicara disana."
Ronald mengangguk, dia lalu berdiri dan berjalan mengikuti Hans dan dua anak buah Hans yang sudah berjalan lebih dulu didepan.
Mereka masuk kedalam sebuah ruangan yang terdapat empat buah sofa panjang yang di satukan, dan dua sofa kecil.
Hans duduk di salah satu sofa panjang itu, sementara Ronald duduk tidak jauh darinya.
Alan dan anak buah Ronald duduk tidak jauh dari bos mereka.
Di depan ada meja yang sudah tersedia anggur kualitas bagus dan beberapa gelas.
"Kita minum dulu sebelum mulai membicarakan hal yang ingin aku tanyakan." Ucap Hans.
"Tentu."
Hans menuang anggur yang sudah di buka oleh Alan sebelumnya.
Ronald dengan santai mengangguk, sebelumnya dia hanya bisa berbicara dengan Hans jika melakukan transaksi. Dan itupun terkadang Alan yang mewakili Hans.
Ronald meneguk anggur itu tanpa curiga sama sekali. Setelah beberapa saat, Hans meletakkan anggurnya yang belum dia minum dan menatap Ronald Lu.
"Aku ingin bertanya sesuatu, dan jika aku berminat aku ingin melakukan bisnis seperti mu." Ucap Hans.
Ronald menatap balik Hans, lalu meneguk lagi anggurnya sebelum meletakkan gelas berisi anggur yang tinggal sedikit itu diatas meja.
"Katakan saja, aku akan memjawabnya jika memang harus."
Hans mengangguk, dia menyenderkan tubuhnya ke belakang.
"Dulu kau pernah berkata, jika kau bekerja dengan keluarga Wilson. Apa itu benar?" Ucap Hans.
"Hmm, pekerjaan semacam pengawal atau pembunuh bayaran?"
"Kau pasti tahu aku dan anak buahku tidak akan mau menjadi pesuruh bukan? Jadi aku mengambil pekerjaan sebagai pembunuh bayaran keluarga itu."
"Iya, aku mengerti. Jadi pasti sudah banyak orang-orang hebat yang telah kau bunuh?"
"Kenapa Hans, kau seperti sedang mengintrogasiku."
"Hahaha, aku hanya ingin tahu cara kerja orang-orang yang berpengaruh di negara ini. Karena salah satu orang kaya ingin mengajakku bekerja sama."
"Ah, ternyata seperti itu. Mereka sangat mudah diajak bekerja sama, karena mereka tidak sulit untuk mengucurkan uang yang kita inginkan. Sementara kita hanya tinggal melakukan hal yang mereka lakukan."
"Jadi, bisa kua beritahu aku orang yang ada di belakang mu? Karena aku ingin tahu apakah kau termasuk musuhku atau bukan nanti."
Ronald Lu menatap Hans tajam.
"Kau tidak ingin berurusan denganku bukan?" Ucap Hans.
Hans mengusap tangan kirinya, memberi isyarat jika tangannya sudah tidak tahan ingin memukul seseorang.
Ronald Lu yang memperhatikan Hans menjadi sedikit tersentak.
Siapa yang tidak kenal Hans, ketua dari Red Dragon yang sudah mengalahkan lebih dari 6 kelompok mafia, dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan.
Hans juga orang yang mengerikan dalam menghukum musuh-musuhnya. Dan karena itu para ketua mafia lainnya memberi dia julukan 'King Psycho'.
"Tentu, tentu aku tidak ingin hal itu, Hans."
"Jadi?"
Ronald menghembuskan nafasnya dengan berat, sebagai pembunuh bayaran tentu identitas klien tidak bisa dia beberkan. Tapi dia juga seperti tidak punya pilihan lain di depan Hans.
"Dia.... Dia Max Wilson. Paman dari Adaline Wilson."
Hans mengangguk mengerti.
"Lalu,sudah berapa banyak orang yang sudah kau bunuh?"
"Sekitar... Ada 70 orang."
"Apa itu semua adalah musuh dari Max Wilson?"
"Iya, diantara mereka juga ada anak buah dan orang kepercayaan Adaline Wilson."
"Adaline Wilson? Bukankah mereka itu is masih bersaudara?"
"Hahaha ayolah, bersaudara? Itu hanya berlaku di depan publik. Di belakang layar Adaline selalu menjadi tujuan utama, orang yang harus di lenyapkan oleh keluarga Wilson yang ingin mengambil kekayaan keluarga itu, dan menggeser kedudukan Adaline Wilson saat ini."